
LONDON, INGGRIS.
Pengacara profesional keluar dari kantor Polisi setempat untuk membereskan berkas-berkas penting perkara.
“Apa aku mengganggu waktumu berkencan dengan Julian?”
“Hemmbb,” menggelengkan kepala.
“Aku sebenarnya merasa bersalah saat memintamu kemari. Jujur kau adalah patner yang bisa aku percaya.”
“Andreas, terimakasih sudah mempercayaiku.” Nada datar.
“Apakah kau menyindirku, aiya terimakasih Meghan atas bantuanmu. Begitukan?”
“Pria terkadang pakai logika, sedangkan wanita cenderung perasa.” Murung.
“Hai, ada apa dengan Meghan yang cerewet dan periangku?”
Meletakkan tangannya dibahu kiri Andreas yang berdiri tepat didepannya.
“Andreas, kepalaku rasanya sangat... Sangat pusing.”
Brughh... Tubuh wanita cantik itu menghantam keras Andreas. “Megh, bangun Megh!”kepanikan terjadi seketika.
Sejak pengurusan berkas Meghan sering memilin pelipisnya. Andreas pikir mungkin dia berpikir keras tentang dokumen kriminan. Karena dimata Andreas, Meghan wanita cerdas dan tegas.
“Selamat Tuan, wanita didalam sudah hamil 2 minggu.”
“Hah! Apa!” terjengat dari duduknya.
“Bukannya kehamilan itu hal Indah?”
“Tetapi aku bukann,” menoleh Meghan yang baru saja membuka tirai ruang periksa.
Wajahnya pucat pasi dan tatapan matanya kosong. Gadis itu tak kalah terpukulnya dengan Andreas bila tahu sekarang ia berbadan 2.
“Baiklah Dokter, terimakasih atas informasinya. Aku gugup karena kaget.”
“Hahaha itu hal wajar, aku sudah puluhan tahun menangani hal serupa. Jaga kandungannya, sepertinya dia kelelahan dan kurang asupan Vitamin.”
Meghan membenarkan penampilannya dan duduk disebelah Andreas. Pria ini menatap wajahnya penuh rasa kasihan dan matanya nanar.
“Apakah aku sakit parah, seolah akan mati saja.”
“Tidak, ayo kita ke apotek membeli obatmu.”
“Serius? Jangan bohong kepadaku Andreas. Kau tidak cocok untuk menipuku.”
“Hmmbb, kau anemia. Dasar Overthinking!” mengacak-acak kepala Meghan seperti yang ia lakukan sewaktu kecil.
Keduanya mencari tempat makan, karena Meghan merasa kelaparan. Andreas membelikan beberapa obat tambahan untuk Meghan agar kondisinya membaik.
“Aku ingin nasi goreng.”
“Hhheeeeehhh apa?”
“Nasi goreng pete pedas, sepertinya lezat. Minumnya es teh lemon, slurrpp ya Tuhan nikmatnya.”
“Megh, ini Inggris bukan Batam atau Malaysia. Kalau mau makan sosis banyak!”
“Andreasssss,” rengeknya.
Astagah, dirinya teringat dulu Frayza pernah menceritakan bila wanita hamil. Identik dengan nyidam makanan atau keinginan yang aneh-aneh. Mungkin ini bawaan janin Meghan kali ya, ah kali tidak ah. Andreas hanya menebak-nebak buah durian dalam karung. Artinya bisa jadi beruntung, bisa saja buntung.
Akhirnya Andreas tak menemukan satupun makanan tersebut. Bahkan mencari nasi goreng saja susah.
“Sudah aku putuskan!”
“Apa? Nasi goreng? Pake cumi? Pake irisan daging apa sosis?”
“Bukan, aku putuskan untuk memasak mie goreng Indomie saja!”
“Hah!”
“Tiada makanan senikmat mie goreng, akan aku tambahkan aneka macam toping. Kau cukup tekan hidungmu, dan bayangkan nasi goreng petemu!”
“An... Andreas, apa kau sedang manipulasi makanan? Hai aku ini mau nasi goreng pete pedas yang pakai krupuk udang. Hemmmbb nikmatnya sungguh tiada tara.”
“Aku benci aroma pete, baunya menusuk hidung. Tidak bisakah kau nyidam seperti Frayza yang mudah-mudah saja?” kenapa ia menyebut nama Frayza sih Andreas. Dia sudah bahagia sama suaminya. Mereka sedang bulan madu bersama keluar kecilnya. Apa kau ini belum bisa memalingkan hatimu hah!
“Aciaaaa ciaaaa yang gagal move on, yang masih terbayang-bayang wajah Frayza hahaha.” Ejek Meghan yang menunjuknya seolah mendapati kelemahan Andreas.
Dari arah belakang ada mobil sedan mengikuti mereka. Suara klakson menghentikan keduanya yang asik berjalan membawa barang belanjaan.
“Andreas!”
“Hai, gebetanmu memanggil.”
“Hissshh berisik!” menoyor kepala Meghan.
“Sialan, kau pikir kepalaku ini bola apa!”
“Bola bekel hahahaha.” Senyum Andreas benar-benar candu.
Diam-diam Meghan memperhatikan penampilan Franda yang memakai gaun warna merah terang. Memakai mantel bulu yang harganya jutaan Poundsterling. Pantaslah Franda dulunya seorang artis, aura Bintang masih membekas dalam dirinya. Meghan membawakan belanjaan yang rencananya akan mereka masak bersama. Tapi Meghan tahu jika Andreas tidak bisa menolak Franda.
“Meghan jika kau tidak keberatan kau boleh ikut makam malam bersama kami?”
“Tidak Franda, aku mau memasak mie goreng. Aku tunggu kalian di kastil Alexander ya.”
“Kau yakin, dirimu sedang tidak sehat begini mau ke Kastil besar itu. Oh tidak, walaupun disana ada beberapa pelayan. Lebih baik kau ikut makan bersama kami saja!” Andreas mendorong Meghan yang ogah mengganggu acara kencan yang direncakan Franda.
Dilihatnya Franda memutarkan bola matanya dan menghela napas kesal. Sepertinya ia jengah ada pengganggu di kesempatan makan berduanya.
Akhirnya Andreas, Franda dan Meghan duduk di meja makan. Mereka memesan makana dan minuman yang berkelas. Sedangkan Meghan yang merasa menjadi obat nyamuk. Terpaksa memesan makanan salad buah. Yang cepat disajikan dan butuh waktu sebentar untuk ********** dalam mulut.
“Hummbb,” merasakan mual.
“Ah kau ini, gaya makan salad salad. Ayo aku antar kau ke toilet!” Andreas memegang punggung Meghan yang kepayahan.
“Biar aku saja,” Franda menawarkan diri.
Andreas menerima tawaran Franda yang mengantar Meghan ke toilet. Akhirnya Meghan mengeluarkan seluruh isi perutnya. Sedangkan Franda menunggumu di luar toilet sembari menekan layar ponselnya. Ternyata ia sedang mengirim pesan kepada Julian adiknya, bahwa ia bersama Meghan kekasihnya.
“Maaf lama membuatmu menunggu Franda.”
“Oh,” terkejut dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
“Sepertinya aku mau kembali ke Kastil Alexander lebih dahulu. Kalian teruskan saja makan malamnya.”
“Baiklah, biar sopir mengantarmu kembali. Dan bolehkah aku bertanya hal pribadi dengan dirimu?”
“Apa-apa memangnya?”
Franda berjalan lebih dekat dengan Meghan yang tertegun. Sepertinya Franda memiliki sikap antagonis yang menyeramkan.
“Aku ingin kau pakai ini, hasilnya berikan kepadaku!”
“Tes kehamilan?”
“Seperti itu, masuk dan pakai!”
“Tapi aku ti...” kau itu bodoh Meghan, bukannya kau ini belum datang bulan. Bahkan pembalutnya pun masih utuh belum dipakai.
Franda menelepon Frayza yang berada di Timur Tengah menayakan kabar Jade dan Seven keponakannya. Dapat diketahui keadaan Jade yang baik-baik saja. Ia terdengar memaki Kenzo yang bermain Sudoku. Permainan kuno yang digemari di Jepang. Ia menorehkan senyumannya, bahwa anak kandungnya dijaga baik oleh kakak tirinya tersebut.
“Franda, ini.”
“Sial, positiv!” gerutunya.
__ADS_1
“Hah!” kaget hasilnya positiv.
“Sebaiknya kau segera pulang dan tidur, aku tidak mau calon bayi adikku kenapa-kenapa.”
“Tapi aku kan sudah periksa ke Dokter bersama Andreas. Kalau aku tidak hamil, hanya anemia atau kurang tidur saja.”
“Kau hamil, dan didalam perutmu ada calon ponakanku dari benihnya Julian!”
Degh! Jantung Meghan rasanya mau copot. Dirinya seolah berdiri di tebing tertingggi, bagi orang yang putus asa. Cocoklah untuk mengakhiri hidup. Pikir pendeknya saja.
“Meghan mana?”
“Aku menyuruhnya pulang, dia hamil.” Menyesap anggur digelas.
“Hamil? Jadi ia tahu kalau ia hamil, dia kan masih gadis. Ini adalah pengalaman pertamanya mengandung.”
“Andreas, Julian menitipkan tes kehamilan untuk Meghan. Karena ia merasa kekasihnya berbadan dua.”
“Dia kan pria, mana ada pengalaman seperti itu hahaha.”
“Adikku sudah 2 kali berpengalaman dengan wanita hamil sebelumnya. Yang pertama dengan pelayan hotel yang menjual diri. Waktu itu dia dijebak untuk menjadi tameng. Kedua dia terjebak situasi hampa bersama Rose lalu lahir Cecilia. Dan ketiga Meghan saat...”
“Sudah, jangan diteruskan. Aku lapar dan kita cepat habiskan makanan kita.”
Andreas merasa kalah sebagai pria dewasa. Bisa-bisanya ia punya belalai tapi tak pernah seorangpun kecuali dirinya yang membelai. Sedangkan Julian, oh betapa beruntungnya dia. Kesal Andreas membayangkan dirinya yang masih perjaka ting-ting.
Franda tersenyum geli melihat wajah Andreas yang cemberut memotong daging panggang. Ia makan dengan mulut penuh seperti Hamster imut.
Ramon berada diruang tahanan bersama rekan kriminal lainnya. Mereka-merekalah jawara dalam sep jeruji besi ini. Mereka melihat Kedatangan Ramon dengan raut wajah kaku dan berdiri tegap. Salah seorang pria bertato, berambut gondrong berjalan ingin mengerjainya.
“Hai bocah, kulitmu mulus dan wajahmy sangat cantik. Garukan bokongku yang gatal ini hahahaha.”
“Hai pria tampan, ayo turuti kemauan bos kami. Bokongnya suka gatal kalau ada napi baru hahaha.”
“Sepertinya Sipir tahu kalau kita haus barang baru hahaha.” Dibawah kakinya seorang pria bertubuh kurus ceking menjadi tumpuan kaki pria gemuk.
“jika kau lebih nikmat dari gundik kami ini, ku persilahkan kau tidur diatas Sayang.”
Ternyata kehidupan penjara sangat mengerikan, Ramon ternyata akan dijadikan budak seperti pria kurus ceking. Matanya yang sayu, bibirnya yabg terus bergetar menggigil. Serta wajahnya yang pucat, seperti sedang kecanduan obat. Tidak salah lagi, meraka didalam sel masih bisa mengkonsumsi barang haram tersebut.
Saat Ramon meletakkan peralatan mandinya, ada kaki yang hendak menjaggalnya. Agar terjatuh, setelah dirinya roboh saat itulah dia akan disantap para Pria bejat didalam sana.
Krakkkk! Dengan satu jali injakan kaki, pria bertubuh kekal itu menjerit kesakitan. Orang-orang didalam sana terpancing amarahnya. Karena mangsa baru mereka mematahkan kaki salah satu diantaranya.
“Jiaaaaaa... Lepaskan... Lepaskan aku keparat!”
“Masih berani bicara kotor kepadaku! Kubuat rontok semua gigimu. Dan rahangmu patah menjadi krikil.”
“Ampunn... Ampunnn... Tolong.. Sipir penjara selamatkan kami.”
“Maafkan mulutku ini yang kotor, plakk plakk plakkk.” Menampari pipinya sendiri menyesali perbuatannya.
“Cuih, dasar sampah tak berguna. Berani-beraninya kau mau menjadikanku gundik.”
Orang-orang yang satu sel dengan Ramon dihajarnya memakai alat apapun didalam sana. Mereka bertubub kekar, tapi ketrampilan bela diri Ramon diatas rata-rata. Jadi mudah saja bagi Jendaral bintang 3. Sekaligus mantan kepala keamanan kerajaan ini menghajar bandit-bandit sialan. Mereka akhirnya sekarat dan dilarikan ke rumah sakit.
“Terimaksih sudah meringankan tugas kami Tuan. Mereka sering membuat ulah dipenjara. Semakin parah kau menyiksanya, maka beban negara memberi makan narapidana berkurang.” Ucap Sipir penjara yang mengunci kembali sel penjara.
Sekarang tinggal Ramon dan pemuda yang menjadi bulan-bulanan bandit sialan. Dia menggigil kedinginan, sepertinya kecanduan. Byurrr, disiramkannya air dingin agar pemuda itu tidak ingin mencandu barang haram tersebut.
“Namaku Make, umurku 19 tahun.”
“Ramon,” menjabat berkenalan.
Make membuka mulutnya kenapa bisa sampai ditempat terkutuk ini. Ia adalah pria yang berasal dari keluarga baik-baik. Semuanya berawal dari ayahnya yang berselingkuh dengan sekertaris pribadinya. Dan akhirnya ibunya depresi karena perceraian. Ia menjadi dendam dengan prilaku ayahnya, sampai ada kesempatan datang. Ia mencari tahu semua kegiatan sekertaris pribadi ayahnya. Kemudian melakukan pendekatan, sampai akhirnya Make bercumbu dengannya.
Hubungan mereka terbilang aman dan lancar, sampai pada akhirnya. Wanita itu meminta Make untuk bertanggungjawab atas bayi yang dikandungnya. Namun make berkeras hati bila itu bukan anaknya.
“Kau bahkan membuka paha untuk pria tua bangka. Kenapa harus aku yang mengakuinya, gugur kan saja atau katakan jika itu bayi pria tua itu!”
“Make, aku hamil buah Cinta kita.”
“Persetan dengan Cinta, aku masih kuliah. Mau ditaruh mana mukaku kalau teman-teman tahu aku memiliki anak dari wanita simpanan bandot tua. Aku sudah bosan dengan tubuhmu jadi, maaf saja.”
“Lakukan saja semaumu, aku tidak akan iba apalagi peduli. Kau telah melakukan hal yang lebih buruk kepada ibuku.”
“Aku tidak pernah jahat kepada siapapun Make.”
“Aku adalah anak dari pria bau tanah yang tiap malam kau buat mendesah!”
“Astagah!”
“Sekarang kita impas, nikmatilah pria hasil curianmu itu. Sekarang aku bisa tertawa lepas hahaha.”
“Sialan kau Make, ternyata kau menggunakanku untuk alat balas dendam!” menghunus pisau dapur.
“Apa yang akan kau lakukan murahan!”
Mereka berdua saling dorong adu kekuatan. Pisau itu hampir mengenai lengannya sedikit lagi. Dan bresss... Perut wanita murahan itu tertanam pisau diperutnya.
“Sayang, aku pulang membawa anggur pesananmu.”
“...” Make panik melihat ayahnya datang melihatnya.
Dengan pisau yang masih menancap diperut wanita simpanan. Ia menariknya dan menghujamkan beberapa kali ditubuh ayahnya. Perempuan simpanan itu meregang nyawanya dengan pesakitan.
Setelah memastikan ayahnya meninggal, ia kembali menusuk dan menghujamkan pisau di wanita. Tersadar dari tindakannya yang tak bermoral ini. Ia bertegas pulas dan mandi, lalu menulis surat pengakuan dosa kepada ibunya. Setelah ia sadar perbuatannya salah, Make menyerahkan diri dan dipenjara menjadi pemuas nafsu. Dengan imbalan heroin, karena ia memang sudah menjadi pecandu.
“Mulai sekarang aku akan membantumu berhenti kecanduan. Kau berhak mendapatkan hidup yang baik.”
“Hahaha kau pikir hidup dipenjara ini baik?”
“Penjara hanya mengurung jiwamu, daripada kau hidup bebas. Tapi hatimu mati dan tiada semangat hidup. Itulah yang dinamakan penjara sebenarnya.”
“Aku khawatir dengan ibuku,”
“Setiap wanita akan menjadi buruk ketika diuji. Mereka lebih lama sembuhkan luka batin daripada luka badan.”
“Aku takut, ibuku menjadi pecandu berat dan melakukan tindakan bodoh.”
“Semoga saja ibumu tidak gegabah.”
“Tolong bantu aku agar bisa lepas dari ketergantungan Tuan.”
“Pasti, kau akan sembuh.”
Didalam sel inilah Ramon memiliki teman baru bernama Make. Pria muda berusia 19 tahun yang menyesali perbuatannya. Ternyata Make memiliki cita-cita sebagai pengarang buku-buku fiksi. Dia mentato bagian tubuhnya dengan nama pengarang terkenal. Ramon menyadari bakat Make yang terpendam. Dan ia bertekat untuk menyembuhkan Make dari ketergantungan obat. Lalu mengarahkannya menjadi penulis lagi.
Kedekatannya dengan Ramon berdampak positif, perlahan Make mulai mengobati trauma buruknya. Ramon menstimulasi Make agar melupakan kenangan buruk yang ia lewati. Tanpa terasa persidangan memutuskan Jika Ramon akan diadili di Thailand secara militer. Mengingat Ramon adalah seorang Jendral muda. Make tentu saja bersedih karena ini, karena ia masih mendekam dipenjara untuk waktu yang lama.
*
*
*
ARAB SAUDI.
Beberapa koper bawaan mereka sudah dikemas. Kenzo dengan telaten mendandani Seven diperhatikan Jade.
“Kenapa kau menatapku begitu? Kau iri ya, bilang saja!”
“Jelek sekali!”
“Haiii aku menyisir Seven karena dia memiliki rambut yang Bagus. Apa masalahmu hah!”
“Kau merubah gaya rambut Seven menjadi kakek-kakek.”
“Lalu kau ingin aku menyisir Seven sepertimu, ujur es krim!” mengejek rambut Jade yang menjambul keatas.
__ADS_1
“MAMAAAAAAA, orang tua itu mengejek rambutku huaaaaa.” Merengek.
“Dasar cari muka, minta perlindungan cih.”
“Uweeekkk,” menjulurkan lidahnya.
Frayza keluar dari kamarnya dan melihat percekcokan putra bungsunya. “Apalagi Jade?” mengusap kepala anaknya.
“Lihat itu Mama,” menunjuk Kenzo.
“Memang kenapa, kan Paman Kenzo menyisir rambut adikmu.”
“Mama aku tidak suka Kenzo menyisir kepala Seven ditengah. Mirip semangka!”
“Hahaha baiklah... Baiklah Mama ganti lagi, sesuai keinginanmu Sayang.” Menyisir rambut Seven mirip Jade.
“Maafkan aku Kenzo, kau harus banyak bersabar. Kelak ketika ketika memiliki anak, selera kita harus berubah hahaha.”
“Setidaknya anakku penurut seperti Seven, bisa pecah kepalaku kalau mirip Jade.”
“Husstt jangan begitu, dulu kalian sejoli saat di Swiss bukan.”
“Jangan ingatkan itu lagi Nona, itu bayi yang tertukar. Sekarang dia lebih mirip Matsumoto yanh menyebalkan.”
Masuklah Hikashi usai dari ibadahnya, “ Ngomong-ngomong tadi waktu sholat berjama’ah. Sepertinya aku melihat pria memakai baju hitam miriip sekali dengan Matsumoto.”
“Yang benar Tuan William?”
“Iya.” Penuh penekanan.
“Mungkin mirip saja Sayang, kemari sajadahmu aku lipat.” Frayza melayani suaminya.
“Sayang, aku yakin jika itu Matsumoto ya. Tapi bisa jadi sih, disini kan jutaan orang. Mungkin hanya kebetulan saja ya, pas ada yang mirip wajahnya.” Hikashi mulai bingung karena benar-benar mirip.
“Assalamualaikum...” muncullah sosok Ammar si guru spiritual masuk.
“Heh siapa itu?” Kenzo menunjuk pria dibelakang Ammar.
“Matsss... Sumoto!” Frayza menjatuhkan sajadah Hikashi.
“Hiaaahhh dia tadi!” Kaget.
“Assalamualaikum semuanya, Namaku Muslimim Matsumoto.”
“Beliau sekarang sudah menajdi mualaf, mari kita sambut saudara kita.”
“APAAAAAA!!” jawab mereka serentak. Harusnya kalian itu bilan Alhamdulillah kek, ini seriusan woiiii!
“Hehehe,” cengengesan.
Ternyata yang dilihat Hikashi benarlah Matsumoto. Jadi bukan orang yang mirip, ya memang dialah si botak lolipop itu. Si tangan kanan Hikashi kini ikut kepercayaan Bosnya. Yang sebelumnya ia tidak percaya Tuhan. Kini menjadi orang yang paling tekun belajar agama. Kagiatan ini akan segera berakhir, itu artinya Matsumoto dan Kenzo akan disibukkan pekerjaan mereka masing-masing.
Sedangkan Hikashi yang sudah bangkrut ikut diboyong ke Jepang. Ia mengikuti Frayza dan kedua anaknya kesana.
“Apakah Tuan Hikashi yakin, ini terlalu lama bagi kami.”
“Ayolah, kalian orang yang sudah ikut denganku selama bertahun-tahun. Apa susahnya setahun memberiku waktu bercuti ria?”
“Tuan, ini bukan masalah cuti. Setahun ini mini pensiun bagiku.”
“Muslimin Matsumoto, aku ingin menebus waktuku yang hilang. Anak-anakku dalam masa pertumbuhan. Aku ingin mereka mengingatku sebagai ayahnya. Bayangkan jika mereka ditanyai, seperti apa sosok ayahnya?”
“Uang,” jawab Kenzo nyeletuk.
“Nah benar, jawaban Kenzo. Aku mau anak dan istriku memilikiku sepenuhnya, hanya setahun aku mohon.”
“Sungguh berarti bagiku mengemban tugas ini. Aku lebih suka kau maki dan lembur kerja. Daripada menjadi pimpinan perusahaan. Ini konyol.”
“Walaupun konyol, kapan lagi kita dipanggil Bos kan?”
“Nah benar lagi tuh Kenzo bilang.”
“Tuan Hikashi jika kau memujiku, bisa-bisa aku minta naik gaji hihihi.”
“Atus sendiri saja, jika sampai perusahaanku bangkrut. Ku... Kuuu bun...”
“Astaghfirullah... Tobat Bos!” tegur Matsumoto.
Dibalik partisi, Frayza tersenyum mendengar percakapan pria-pria insaf ini. Dia menitikan airmatanya karena Hikashi ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya. Memulai kehidupannya di Jepang.
Menjelang tidur, Hikashi menciumi kedua putranya yang sudah terlelap. Ia bersiap untuk tidur setelah seharian capek.
“Sayangggg...” suara menggoda itu terucap kala tangannya membuka pintu.
Matanya melotot, tenggorokannya naik turu, darahnya mendidih dan tubuhnya mendadak prima. Bagaimana tidak terpancing, seorang wanita memakai baju tidur. Berbahan tile dan renda-renda seperti baju belum jadi.
“Fray-Frayzaaa.” Tangannya dibelakang mengunci pintu.
“Anak-anak sudah tidur ya?” rambutnya tergerai dan menyemprotkan minyak Wangi dikulit mulusnya
Ia berhasil menggoda hasrar Hikashi yang sudah rasanya keluar masuk, melesak menerobos didalam sana.
“Ayo kita tidur, aku lelah.” Menarik selimut.
“Hai, kau membangunkan yang disini.”
“Hmmbb,” sudah membelit tubuhnya dalam selimut.
Oh jadi Frayza hanya memancing tapi tisaj menarik kail. Okelah kalai begitu, Hikashi tak kekurangan akal. Sudah barang tentu ia yang harus menuntaskannya. Satu persatu pijamasnya ditanggalkan. Ia minum madu dan beberapa butir buah kurma. Staminanya sudah membara siap bergadang semalaman.
“Uhhh... “ melenguh.
“Enak Sayang? “
“Kau selalu membuatttkuuh keglojotan uuhhh.” Menarik rambut Hikashi yang mengaduk-aduk miliknya.
“Panggil namaku Sayang, aku milikmu!”
“Hikashi, aku mau lebihh cepat laggiihhh...” menggigit bibirnya yang meracau.
“Kuberikan semuanya untukmu Sayaaaangg terimalaaahhh ahhh ahhh. “ ia mengerang menghabiskan pelepasannya dia dalam.
“Aku mau lebih lagi Sayang, hehehe.”
“Sebentar, aku lihat jam dulu?”
Alih-alih melihat jam, Hikashi memaki celananya dan menarik gagang pintu kamarnya. Bruuughh!!! Dua orang yang menguping baru saja tersungkur bersamaan.
“Sudah ku tebak, mana dokumennya. Akan aku tanda tangani.”
“Terimakasih Tuan,” keduanya lari terbirit-birit malu ketahuan.
Hikashi menandatangani beberapa berkas laporan dan meneliti pekerjaan. Frayza bersandar dikepala ranjang, melihat suaminya bekerja lagi.
“Sabar ya Sayang, mereka membutuhkan ini. Muaacccchh.”
“Kau menyebalkan!” tengkurap ngambek.
“Jangan begitulah, nanti setibanya di Jepang aku berikan waktu kita yang berharga. Muaaccchhh muaaaccchh.” Menciumi punggung istrinya yang penuh bekas gigitannya.
“Kau selalu begitu.” Menahan kesal karena ingin melanjutkan ronde kedua tapi tertunda.
Hikashi menyeringai gemas, istrinya sudah berada puncak birahinya. Tampak gelisah berguling-guling diatas ranjang.
“Aku berikan berkas ini sebentar, lalu bersiap masuk ke sangkarnya yang nikmat dan sempit. Muaaachhh.” Hikashi mencium leher Frayza yang jenjang.
“Sayang, jangan lama-lama yakkk.”
“Tentu Baby muaachh,” ia menyapu habis bibir ranum agar tak merengek minta diterjang.
__ADS_1
×××××
Halo, maaf ya Auhtor telat setor bab barunya. Hehehe iya, Author tahu kok kalau pada rindu ceritanya kan. Ini Author buat panjang ceritanya biar pada puas oke. Jangan lupa selalu dukung Author kasih Like dan Komentar. Terimakasih