
Prang... Piring diatas nampan terjatuh. Menu sarapan pagi untuk Nathalie sudah berserakan dilantai.
Gadis itu melihat berita menyiarkan tenan pengunduran diri Hikashi sebagai pimpinan grup perusahaan besar. Hal ini diikuti rumor panasnya yang pindah keyakinan. Sentimen pasar menjadi buruk dan menjual sahamnya secara sparatis. Semua reporter dan kanal berita heboh berisi berita bangkrutnya grup.
“Kenapa semuanya terjatuh?”
“Ini tidak benar kan ?!”
“Apanya?”
“Berita Tuan William ini!” menunjuk layar televisi.
“Ini benar, sepertinya hari ini aku tidak bisa berada disini lagi. Karena baru saja aku mendapatkan surat pemutusan hubungan kerja.” Menutup sambungan teleponnya.
Nathalie yang terguncang jiwanya mendorong Matsumoto hingga pria botak ini terpelanting ketembok.” Seharusnya aku tidak dirumahkan, dan kau berada didekatnya! Untuk apa dia menyuruhmu disini!”
“HENTIKAN NATHALIE!” menyibak tangan wanita arogan.
“Matsumoto, jika sampai Tuan William jatuh miskin. Aku tidak akan memaafkanmu.”
“Wanita bodoh! Ya kau wanita bodoh, berani-beraninya melimpahkan semua kesalahan kepadaku. Kau pikir dirimu tidak andil peran dalam kehidupan pribadinya apa! Lihat dirimu sekarang yang tak berguna ini!” menunjuk dada Nathalie sehingga ia berjalan mundur.
“Kau orang yang tidak berguna, aku berada disini karena kau keparat!”
Plaaakkk, sebuah tamparan mendarat dipipi Nathalie. Sudah sabar-sabarnya lelaki menghadapi sikap sok absolutnya. “Kau pikir semua orang buta dan tolol bisa kau bodoh-bodohi!” menarik rambut Nathalie dan bicara tegas tepat didaun telinga.
“Hissshhhh... Hisshhh...” Nathalie mendesis kerakitan sakit dikepalanya.
“Dengarkan aku wanita mata duitan, jangan wanita seperti yang hanya agen biasa. Seorang Putri keturunan bangsawan mati sia-sia karena ambisinya. Kau sudah selesai!”
Matsumoto pergi mengemasi barang-barangnya Nathalie. Memasukkannya kedalam tas, kemudian melemparkannya ke dekat gadis itu.
“Pergi dan angkat kaki dari Rumah Sakit ini. Sudah selesai tanggungjawabku mengurus wanita sepertimu!”
“Aku mohoooonnnn.” Bergelantungan dikaki Matsumoto.
“Lepaskan tanganmu ini ular betina!”
“Bawa aku ikut bersamamu!”
“Jika kau menangis agar aku iba salah, karena aku tahu isi kepalamu ini!”
“Bawalah aku bersamamu Matsumoto! “
“Hatimu busuk dan sikapmu buruk, aku tidak sudi berurusan denganmu. Mulai detik ini, kita tidak ada sangkutan apapun. Biaya rumah sakit sudah dilunasi, jangan mengganggu kehidupan orang lain.”
“Ajak aku bersamamu, aku butuh orang yang melindungiku. Dan kau orangnya.”
“Ck, nyalimu besar juga ya. Setelah kau tahu Bos ku bangkrut. Lalu mencoba merayuku? Bermimpi!”
Ternyata Matsumoto sudah bisa menebak jalan pikiran Nathalie yang picik. Karena ia tahu, Matsumoto memiliki kekayaan yang mumpuni. Setidaknya ia bisa berlindung dibalik nama Matsumoto. Tapi ia harus kecewa, tangan kanan Hikashi ini bukan orang bodoh.
“Hahahahahahaha... Hahahahahaha... “ Nathalie tertawa sendirian seperti orang depresi.
__ADS_1
Suaranya yang keras menimbulkan kericuhan dan ketidaknyamanan. Para perawat dan keamanan memberikan suntikan penenang. Dan menyatakan Nathalie mengalami gangguan kejiwaan. Nljadi keinget jamannya Franda dulu lagi yach. Hemmmmb.
*
*
*
Setelah merayakan program acaranya disebuah stasiun televisi. Seluruh karyawan menghadiri jamuan makan malam. Semuanya menikmati makanan dan hiburan pada malam hari. Helena menceritakan jika ia masih tidak percaya didapuk sebagai pembawa acara.
“Selamat Helena,”
“Oh Fray, terimakasih kau telah hadir. Aku sempat berpikir kau lebih tertarik pulang kerumah. Ternyata kau mau mampir kemari.”
“Inikah hari bersejarahamu hehehe. Tentunya aku hadirlah.”
“Penjilat!” cibir Martino
“Jaga ucapan lemesmu banci!” senggol Helena.
Mimik wajah Frayza menjadi malas, ia segera beralih ketempat yang sepi. Ia duduk seorang diri dimeja bar. Memesan minuman bersoda, karena ia sedang menyusui. Tidak mungkin mengkonsumsi minuman berakhohol.
“Cuaca di Inggris begitu dingin ya, kenapa tidak mencari kedai terdekat?” suara pira disebelah Frayza yang baru saja datang.
Ia tak bergeming dan minum sampai habis, meninggalkan uang dimeja bar. Bukannya Frayza tidak peka, ia tak ingin berlama-lama ditempat hiburan malam. Karena ia masih harus mengunjungi kedua putranya di kastil Alexander.
“Fray, tidakkah kau membalas teman lamamu.” Mengangkat gelas.
“Aku mencarimu kemana-mana akhirnya bisa bertemu lagi,” memeluk Frayza karena rindu.
Brughhh brang, seorang pria dari arah lain datang mengundang Ramon.
“Apa yang terjadi?”
“Ada perkelahian!”
“Memperebutkan seorang wanita sepertinya.”
“Apakah ada yang mati!”
Orang-orang berhamburan mendatangi lokasi perkelahian. Sopir pribadi Frayza menghajar Ramon dengan membabi buta. Jangan salah, Ramon juga bisa ilmu bela diri. Perkelahian ini menjadi sengit dan brutal. Pihak keamanan klub mengeluarkan mereka berdua.
“Ramon, dia sopir pribadi dari keluarga Alexander. Dia tidak tahu kalau kita berteman, sebaiknya aku pergi dulu.”
“Cuih,” mengeludah darah sempoyongan.
Sopir itu membawa pergi Frayza dan berlalu begitu saja. Sedangkan Ramon menulis pesan di ponselnya. Ia bersandar pada ban mobil diparkiran. Menunggu seseorang datang menjemputnya.
“Dasar berandalan, cari mati ya kau!”
“Cepat bantu aku berdiri dan bawa pulang!”
“Beban Negara!”
__ADS_1
“Cerewet!”
“Tak bermoral! “
“Bawel!”
“Tikus got! “
“Jenderal kimcil!”
“Germo landak!”
“KAU!” keduany saling menunjuk hidung masing-masing.
“Sudahlah, aku akan obati dirimu. Payah!”
“Cih,” menyeringai.
Keduanya tiba di Inggris bukan karena sebab dan tujuan. Hal pertama yang membuat Ramon datang kemari karena Nathalie adalah tunangannya yang kabur. Gadis itu cemburu karena menemukan cincin berukir nama Frayza dan tanggal lahir wanita itu. Lalu keduanya bertengkar hebat saat usai merayakan malam pertunangan.
“Dia sudah menikah dan cincin itu hanya benda mati.”
“Jika itu benda mati, lalu bagaimana perasaanmu terhadapnya? Kenapa masih saja menyimpannya!”
“Nath, tolong hentikan ini!”
“Aku tidak mau meneruskan pertunangan ini ini, ku kembalikan cincin sialan ini!” melemparkannya keatas ranjang.
“Nath!” menarik tangan.
“Cukup Ramon!”
“Itu hanya masa lalu, sekarang dan seterusnya hanya kau dalam hidupku!”
“Jika kau bilang melupakan Digna, maka aku bisa percaya. Tapi siapa Frayza!”
Terpaksa Ramon menceritakan siapa latar belakang Frayza. Pantas saja Ramon memuji wanita itu yang memiliki bakat. Karena harus diakui juga, bahwa Nathalie iri.
“Jangan cari aku, mulai sekarang kita orang asing.”
“Nath, tapi kita sudah bertunangan. Keluarga sudah menentukan tanggal pernikahan kita!”
“Jangan khawatir akan hal itu Jendral Ramon. Aku tahu, kau tidak usah panik. Pernikahan itu tetap terjadi jika aku gagal memiliki William!”
“Kau gila! William Hikashi itu seorang berdarah dingin. Kau bisa mati karenanya! Nath! Berhenti Nath!”
Sekarang semuanya sudah jelas, bahwa Nathalie gagal mendapatkan Hikashi. Terlebih lagi pengumuman ditutupnya harga saham karena mengalami penerosotan tajam. Nathalie tidak mungkin bisa mengembalikan kondisi keuangan secara singkat. Butuh waktu bertahun-tahun untuk kembali stabil. Itupun harus memperoleh suntikan dana yang besar dan pinjaman Bank.
Melalui nomor ponsel milik Frayzalah, Ramon melacak keberadaan Frayza sekarang. Ditemani sahabat karibnya Dokter Kelvin, ia membawa satu ampul serum vaksin. Sebagai langkah terakhir tahap penyempurnaan pengobatan Frayza. Keduanya memang selalu mengitari hidup Frayza dan Hikashi. Sekarang Dokter Kelvin tidak perlu sungkan. Karena Hikashi sudah jatuh miskin. Inilah kesempatannya menikung keadaan. Karena saingannya Ramon datang menjemput Nathalie, tapi malah menemui Frayza di klub.
*****
Hallo, berhubung Author masih punya 2 Novel baru yang statusnya On Going. Kemungkinan besar Author tidak up date bab baru dulu ya, fokus ngejar bab di Novel baru. Bagaimana kalau sembari menunggu up date sambil membaca 2 Novel terdahulu 'Lepaskan Aku, Bos 1 & 2 ' ceritanya lebih menguras emosi. Dan tentunya kamu akan menemukan sosok unik disetiap karakternya. Mungkin beberapa hari kedepan Pangeran Hikashi tidak up Bab baru. Sabar ya...
__ADS_1