TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
GEDUNG MELEDAK


__ADS_3

“Masakannya enak sekali, ini seperti makanan anak kost. Hanya tebakanku saja sih hehehe.”


“Sebanarnya aku memasaknya sendiri, aku teringat ketika sakit tidak ada yang bisa aku makan. Jadi seorang teman menyarankan aku untuk membuat mie instan.”


“Apakah kau pernah hidup susah?”


“Aku pernah hidup di Istana, kemudian terasingkan dijalanan. Kenapa, kau kecewa?”


Memegang pipi Hikashi dengan tatapan memelas. “ Jangan iba kepadaku, hidup ini berputar Fray. Jadilah Ibu yang baik untuk anak kita kelak. Hingga kita menua melihatnya berkeluarga.”


“Hehehehe kau lupa ya, bukannya kau dulu menolak keras menjadi tua Sayang.”


“Aku dulu begitu egois menentang takdir Tuhan. Setelah kau hadir dihidupku dan memberikan calon anak. Aku tidak perlu khawatir lagi mengenai hari tua bersamamu. Tapi, kita tidak boleh berdebat terus ya.”


“Haii mana pernah aku memulainya dahulu.”


“Iya, terserahlah. Nanti kalau kabur-kabur lagi ku pasang rantai.”


“Sejauh aku kabur dan berlari jika pria sesempurna dirimu menemukanku. Buat apa aku mendambakan yang lain.”


“Waw,” takjub mendengar ucapan Frayza baru saja yang merayu.


“Jangan terharu Sayang, kau harus biasa kalau mulutku sudah begitu lancar menggodamu.”


“Fray, ada yang ingin aku tanyakan padamu.” Pembicaraan mulai serius.


“Sepertinya ini menjurus hal yang penting.”


“Iya, jika kau tidak keberatan ayo kita diskusikan.”


Frayza sedikit tidak nyaman dengan perkataan Hikashi ini. “Baiklah,” menyeka keningnya tanda panik.


“Aku akan ada jamuan pesta di sebuah Resort. Disana akan dihadiri Robert dan Damora, apakah kau tidak keberatan jika aku mengajak Franda?”


“Apa?!”


“Sayang, tahan dulu emosinya. Dengarkan aku bicara dahulu ya,”


“Bagaimana aku bisa tenang, jika suamiku pergi berduaan dengan maduku!”


Brakkk, Hikashi menggebrak meja berisi makanan hingga menimbulkan suara gemuruh. “Fray, jadilah istri yang bijak. Dengarkan aku sebagai suamimu, jangan sampai aku murka!”


“Iya, maaf.”


Barulah Hikashi mengambil napas dan nada datar menjelaskan keinginannya tersebut. “Franda menjadi selir untuk menggantikanmu disetiap acara. Hal ini adalah trik yang biasa digunakan para elit. Untuk melindungi pasangannya dari musuh-musuhnya. Segala kemungkinan bisa terjadi Fray. Terlebih saat ini ada nyawa anakku dalam perutmu Sayang. Aku tidak mau menyesalkan kejadian seperti kemaren lagi. Tahukah kamu, betapa gilanya aku tahu kau mengalami hal buruk. Aku memberikan segalanya, tidak banyak pintaku. Turuti keinginanku ini yang menurutmu egois. Aku tahu kau akan cemburu dan mengingat-ingat hal ini selamanya. Tapi jika kau mengalami hal buruk, apa aku bisa? Aku sangat dan sangat mencintaimu, lebih dari yang kau tahu Fray. Aku mencintaimu sejak kau berada dalam bis menuju Singapura. Kau pasti tidak ingat hal itu, cukup aku saja yang ingat.”


“Serius?”


“Hemmmb, aku tidak pernah berbohong untuk hatiku. Aku sudah jatuh Cinta kepadamu sejak kau kabur dari Singapura.”


“Tuan Hikashi yang terhormat, uangmu kan banyak. Informan mana yang kau bayar untuk menyelidikiku secara detil begitu ha?”


“Muacchhh,” mencium pipi Frayza dalam-dalam.


---- Flash back on,


Hikashi,


(Gadis ini kenapa sih, menangis tapi tidak bersuara. Dan jaket, yang benar saja ah suhu panas begini memakai jaket setebal ini? Hah benar wanita aneh. Jika ingin menangis ya jangan ditahan, rasanya aku ingin pindah tempat duduk. Tidak nyaman duduk disebelah wanita ini).


Akhirnya Bis itu berhenti disebuah halte, Hikashi melihat gadis yang berkudung jaket tersingkap oleh hembusan angin. “Itukan dia.” Ia takjub melihat wajah Frayza yang sedari tadi duduk disebelahnya tertutupi.


Lalu ia nekat turun dari Bis juga, ia mengejar gadis itu. Sampai ia melihatnya disebuah konter ponsel. Hikashi mengawasi Frayza yang bertransaksi disana. Setelah memperoleh uang, gadis itu pergi.


“Apakah ponsel ini milik gadis yang memakai jaket?”


“Oh iya benar Tuan, ada yang bisa saya bantu?”


“Saya mau ponselnya, berapa harganya.”


“Serius Tuan, ini ponsel bekas dan tidak komplit.”


“Tidak masalah, aku beli 3x lipat. Apa kurang?”


“Silahkan bawa Tuan, bayar saja harga yang sewajarnya.”


“Tidak usah, aku membelinya 3x lipat.” Hikashi berhasil membawa pulang ponsel milik Frayza.


Setelah kembali ke Hotel, ia mengecek isi ponsel Frayza. Datanya ia pulihkan semua yang sudah terhapus. Dari ponsel inilah Hikashi mengenali Frayza. Beberapa hari ia mendalami isi ponsel gadis misterius itu, ia meminta Matsumoto untuk mencarinya. Sampai akhirnya ia membuat kesepakatan dengan Dokter Kelvin dan Ramon. Mereka diminta Matsumoto untuk membantu mencari Frayza bagaimanapun caranya.


Dan pertemuannya itu membuahkan hasil, sehingga kisah mereka terjadilah seperti ini. Awalnya Ramon menolak menyerahkan Frayza ke Hikashi, yang memiliki kelainan terhadap wanita. Makanya ia memalsukan jenis kelamin Frayza. Tapi sudah menjadi jodoh, akhirnya Hikashi dan Frayza bisa dipersatukan lagi.


----Flasback off,

__ADS_1


“Hai, jangan bengong!” mengibaskan tangan diwajah.


“Aku tetap tidak ingat, kapan ya?”


“Kau menangis sampai mau lepas bola matamu mana bisa kau melihatku!”


“Mulai kan, mengungkit-ngungkitku.”


“Fray, jika aku bermain-main denganmu. Sudah pasti aku memilih Franda seperti Frank.”


“Jangan sebut nama itu,” Frayza bergetar ketakutan.


“Tidak akan, sekarang kau mau mengerti kan?” menyelipkan rambutnya dibelakang telinga dan mencium lagi.


“Sayang, berjanjilah.”


“Iya, sabar ya Sayang.” Memeluk istrinya.


Akhirnya Hikashi memperoleh ijin dari Frayza untuk membawa Franda. Dia tidak mau berdiskusi lebih banyak lagi. Jika memang jalannya begini, maka Frayza merelakan Hikashi pergi membawa Franda.


*


*


*


--- LOMBOK,


Matsumoto ikut bersama mereka untuk mengawal. Sedangkan Kenzo bertugas menemani Frayza di Rumah Sakit. Disela-sela persiapan pesta, Hikashi masih menyempatkan diri untuk berkomunikasi dengan Frayza. Ia tidak ingin melewatkan waktunya walau sebentar saja. Dikamar lain, Franda yang didandani semirip Frayza diawasi oleh Matsumoto. Dia memberikan arahan apa saja yang boleh dan dilarang ketika bersama Hikashi.


“Kau jangan berpikir dirimu adalah Nona, kau hanya bayangannya saja. Jangan bicara, jangan tersenyum, dan jangan sampai menyentuh bagian tubuh Tuan Hikashi William.”


“Lalu aku harua merangkul dan menggandeng siapa?”


“Aku, aku yang akan menjadi pasanganmu ketika tiba dijamuan. Tuan Hikashi berjalan didepan, kita mengekor dibelakang. Ketika Tuan Hikashi berbincang cengan rekannya, kau tidak boleh berkecimpung. Ingat, lehermu bisa terbakar kalau melanggarnya!”


“Iya,” mengusap kalung besi yang terpaaang dilehernya.


Setelah menyempurnakan penampilannya yang menawan dan menggoda. Franda sudah dijemput mobil limosin yang didalamnya sudah ada Hikashi. Saat memasuki mobil mewah ini, Franda berharap memperoleh pujian dari Hikashi. Namun sayang, Hikashi menatapnya biasa. Iya, karena Hikashi sudah biasa melihat wanita cantik selama hidupnya.


“Kau duduk disini,” perintah Matsumoto menekan bahu Franda.


“Iya, baik.”


“Jadi kau masih berpikir untuk menggoda suami kakakmu?”


“Ti-tidak Tuan,”


“Aku bisa membelimu, karena mencintai kakakmu. Selebihnya kau hanya sampah yang kugunakan sebagai kain lap!” Hikashi keluar dari mobil dan membenarkan tuksedonya.


Kemudian Matsumoto keluar menggandeng Franda dengan proaktif. Semua orang yang datang memiliki aura yang kuat dan beda. Inilah perkumpulan para senior dan elit pemimpin bisnis multi regional. Ketika Matsumoto memberikan kode, Hikashi tahu kalau yang menghampirinya adalah Damora dengan wajah barunya.


“Hai,” menyapa membawa gelas berisi minuman.


“Wajah yang tidak asing menghampiriku, Damora.”


“William, aku tahu kau sangat membenciku. Jadi maukan kau berdamai saja denganku.” Berbisik ditelinga Hikashi menggoda.


“Apa yanh akan ayahmu tawarkan padaku, dia sudah bangkrut bukan?”


“Ayahku belum sepenuhnya bangkrut, dia memiliki ladang ganja dan kokain. Itulah sebabnya, aku masih memiliki nyali menyapamu disini.”


“Karena kau sudah bersusah payah mengganti wajahmu itu, lantas kau bisa lepas dari jeratan hukum?”


“Cih, kau pendendam ya rupanya. Tidakkah wanita itu hanya merepotkanmu saja, kita kn menjadi pasangan yang seimbang. Bukan begitu?” menelusuri lengan Hikashi dengan liar.


“Kau mau berubah menjadi apapun, tidak akan pernah bisa masuk dalam kriteriaku Damora. Jadi, aku sarankan agar kau hilangkan semua bukti kejahatanmu sebelum aku menyeretmu ke Pengadilan.”


“Aw, aku takut sekali. Tapi sayangnya, wanita yang kau bawa kemari sudah bersusah payah menyamar wanitamu. Aku terlalu jeli untuk dikelabuhi William, dia hanya selirmu. Dimana kau sembunyikan Frayza!”


Mata Hikashi memerah kala Damora mengetahui penyamaran Franda. Dia mencekik leher Damora dan mengancam rivalnya. “Jika sehelai rambut Istriku kau sentuh, sampai tulang belulang pun kau akan aku hancurkan!”


“Kau terlambat William sayang, sekarang anak buahku sudah berpencar mencari keberadaannya. Di Rumah sakit.... “


Matsumoto yang melihat Hikashi naik pitam segera memanggil pilot helikopter untuk menjemput Hikashi secepatnya. Keadaan sudah mulai darurat, ternyata Damora tidak bisa disepelekan begitu saja.


“Hahahaha bersamakulah, kita akan menjadi pasangan yag kuat.”


“Tidak sudi puihhh,” meludahi Damora dihadapan umum.


Hikashi mempermalukan Damora menjadi buah bibir. Namun, hal itu segera dialihkan sebagai salah paham. Hikashi pergi seorang diri menuju Rumah sakit dengan helikopternya tadi. Kemudian Matsumoto menggelandang Franda masuk ke mobil. Mereka kalah pasukan, Damora sudah menyiapkan pengawalnya lebih banyak. Akhirnya Matsumoto terpaksa mundur dan menyelamatkan diri.


*

__ADS_1


*


*


Lampu rumah sakit beberapa kali padam, saat para pasien hendak istirahat malam.


“Aneh sekali, Rumah sakit inikan terhitung baru. Kenapa buruk sekali konstruksinya.” Komentar Kenzo yang heran listrik konslet.


“Mereka sudah datang,” begitu ucap Frayza menutup saluran teleponnya. Baru saja Hikashi memberitahunya jika Robert bersama anak buahnya menyerang Rumah sakit.


“Siapa?” tanya Kenzo penasaran.


“Sudah tidak ada waktu lagi Kenzo, kita harus keluar dari gedung ini. Kau cari mobil untuk membawaku kabur, aku akan alihkan mereka.”


“Apa ini improvisasi?”


“Bawa pistolku ini, jika mereka menyerang tembak saja.”


“Lalu bagaimana denganmu Nona?”


“Aku tidak mungkin mengotori tanganku ini menjadi pembunuh Kenzo.” Mengambil pisau buah dan garpu sebagai alat pertahanan diri.


“Tidak Nona, ini keadaanya mendesak. Aku akan keluar membawamu, jika aku harus mengorbankan diriku! “


“Jangan membantah!” Frayza mencabut selang infusnya. Kemudian menguncir rambutnya yang panjang. Ia merobek kain gorden jendela untuk dikaitkan menjadi tali tambang. Dia memakai pisau buah tadi untuk memotongnya. Kemudian ia meminta kenzo mengunci pintu kamarnya dari luar, sedangkan bangsar dan perabot lainnya digunakan untuk mengganjal pintu tersebut.


Terdengar beberapa kali adu tembak diluar, Frayza dengan segenap kekuatannya yang masih lemah keluar dari jendela. Ia merambat ditepian dinding dengan hati-hati. Anak buah Robert mulai mengepung gedung Rumah sakit dan menyandera pihak keamanan. Mereka tidak bisa meminta pertolongan keamanan setempat.


“Hai, itu dia!” ucap salah satu pasukan Robert yang melihat Frayza melalui jendela. Dua orang berbadan tegap dan tinggi itu mendatangi Frayza dan. Jleb, pisau buah itu dilempar tepat mengenai dadanya.


Dorrr, tembakan dilepaskan hampir mengenai tubuh Frayza. Ia berhasil mengelak, dan bersembunyi dibalik tubuh pengawal yang sudah berhasil. Ia lumpuhkan. “Sial, kenapa tinggal garpu ditanganku!”


“Kau wanita keparaattt,” sambil mencabut pisau buah yang menancap didadanya.


Blesss, ditekannya lebih dalam lagu pisau itu hingga darah tersembur ke wajahnya. “Akhhhh,” erang kesakitan.


Dorrr... Doorrrr... Dorrrr... Pengawal itu berhasil tumbang setelah satu tembakan mengena kepalanya, saat ambruk ada Kenzo yang baru saja melepaskan timah panas. “Nona, naiklah ke atap gedung. Tuan Hikashi sudah dekat kemari. Aku akan hadang pasukan mereka yang menuju kemari.”


“Terimaksih Kenzo,” merogoh pistol dari balik punggung pengawal yang tersungkur. Ia melemparkannya kepada Kenzo untuk tambahan amunisi tembak.


“Cepar masuk lift Nona, mereka semakin dekat!”


“Kenzoo,” Frayza harus segera pergi dan masuk lift. Didalam lift ini perutnya ia pegangi terus agar tidak terjadi pendarahan. Tapi sayang, raaa keram ini mulai menjadi. Frayza berjalan tertatih untuk mencapai atap gedung, belum tampak helikopter Hikashi. Kepalanya sudah berat, dan perutnya semakin keram. Dia merasakan kesakitan yang luar biasa setelah berhasil mencapai atap gedung. Pilot segera mendaratkan helikopter karena sudah sampai.


“Sedikit bergeser, itu Istriku terbaring disana!”


“Tidak bisa Tuan muda, posisinya berbahaya.”


“Keluarkan tali, aku akan meraihnya!”


“Tapi ini berbahaya,”


Bip, Hikashi menekan tombol dan tali darurat terurai kebawah. Ia menuruni tali dan mengikatkan tubuh Frayza agar ditarik naik keatas Helikopter.


“Cepat tarik dan bawa Nona kembali ke Villa!”


“Tapi bagaimana dengan Tuan muda?”


“Tidak penting, bawa pergi ia dari sini!” begitu perintah Hikashi kepada Pilot.


Sebelum Pilot membawa Frayza, Hikashi menenangkan istri dan janin dalam kandungannya. “Sayang, bertahanlah. Pejamkan matamu, kita pernah begini sebelumnya.” Memakaikan tuksedonya ketubuh Frayza.


“Hikashiiii,” tangannya menjulurkan.


“Aku janji akan pulang dengan selamat,” Hikashi melepaskan Frayza untuk dibawa pergi dari gedung rumah sakit yang sudah bahayan.


Kedua tangannya sudah ada pistol, dan rompi anti peluru. Ada tambahan amunisi untuk pistosnya yang sudah ia siapkan. Ia masuk kedalam gedung, menuruni tangga, Kenzo masih terhubung dan kewalahan menghindari serangan baku tembak.


“Tuan Hikashiii, mereka semakin banyak kita kalah personil. Kapan bantuan datang.”


“Biar aku sapa dulu mereka,” ia menarik kunci granat dan melemparkannya. Terdengar suara gemuruh ledakan. Karena Hikashi melempar 5 granas sekaligus untuk menghadang kejaran anak buah Robert.


“Awas Tuan,” Kenzo menubruk Hikashi dan lengannya tertembak oleh peluru Robert.


“Kenzo, kau tertembak.” Pistol itu mengarah Robert menembak kedua kaki pria paruh baya hingga tersungkur.


“Aku tidak akan mati, huuuffftt.” Mulai kehilangan kesadaran. Hikashi memasang bom yang memakai sensor panas. Dia membawa Kenzo masuk ke lift menuju lantai rahasia yanh hanya Hikashi tahu. Ternyata itu lantai bawah tanah ketika keadaan darurat. Disana sudah ada mobil super cepat yang bersiaga.


“Bertahanlah, kau tidak boleh lemah!” memakainkan sabuk pengaman.”


“Tuan muda, kita harus segera pergi aakkkhhh,”


Menginjak gas dan mengebut, seluruh anak buah Robert sudah berkumpul dilantai atas. Ketika mereka lewat, bom itu aktif karena memperoleh sensor panas. Duaaaarrrrrr, bagian gedung rumah sakit itu meledak. Hikashi sudah berada dijalan Raya bisa melihat kobaran besar api melahap gedung. Gedung yang masih baru notabenya kini rusak parah.

__ADS_1


“Semoga kalian suka hawa panasnya,” cibir Hikashi melajukan kendaraannya.


__ADS_2