
Setelah tinggal dan beradaptasi dengan baik. Frayza mulai diberi kepercayaan oleh Helena untuk meninjau beberapa gerai butik miliknya. Tak jarang Frayza harus beberapa minggu untuk pergi berdinas. Ritme kerja yang tinggi membuatnya setres dan hidup dibawah tekanan kerja yang tinggi. Tapi, saat ia menjelang tidur ada malaikat kecil yang menjadi penyemangatnya. Berkat Ramonlah, hubungannya dengan Julian mulai terbuka dan membaik. Hubungan kakak-adik yang sempat kritis kini terajut kembali. Dikala Julian menjenguk Seven, ia tak jarang membagikan momen indahnya. Inilah yang menjadi jimat bagi Frayza. Saat ini ia belum bisa memeluk dan berjumpa dengan putranya. Oleh karena itu Frayza harus banyak-banyak bersabar.
Usai dari kerja dinasnya Frayza memiliki beberapa data yang harus ia serahkan kepada Helena. Dan dirinya harus mempertanggungjawabkan peninjauannya disaat rapat terbuka.
“Pagi, Helena.” Sapa Frayza yang masuk kedalam ruangannya.
“Pagi, Fray. Bagaimana perjalananmu selama di Los Angeles?”
“Tidak begitu santai dan sangat padat, hehehe.” Menyodorkan beberapa berkas laporannya dalam pc tablet.
“Sepertinya penjualan disana mulai menurun, apa resolusimu?”
“Kita tidak bisa menanggung banyak kerugian lahi Helena, selain pajak yang semakin tinggi. Juga ketersediaan barang import mulai sulit dan langka. Aku harap kita tidak memperbanyak lagi cabang di Amerika.”
“Ayolah Frayza, Eropa sudah penuh dengan merk-merk yang mapan. Aku tidak bisa jika ekspansi kesana. Aku menginginkan hal yang baru, terobosan yang luar biasa. Ini ( sebuah catatan dari klien) seorang klien baru. Beberapa kali kita mengadakan pameran selalu memborong koleksi kita. Dia minta kita secara khusus untuk membuat baju untuk balita, hahahah lucu sekali.”
Frayza membaca keinginan desain dari kliennya. “Dia terlalu mustahil, baju adalah pakaian. Dan ia meminta kita untuk membuat keajaiban dalam sehelau baju?”
“Hahaha kau pikir gila kan obsesinya, kau pun sama. Tapi aku tidak enak hati jika harus menolaknya, dia sangat royal dan menolak apapun yang aku berikan. Bahkan tak jarang juga, aku mendapatkan hadiah ketika anaknya ulang tahun. Lucu bukan?” mengangkat pergelangan tangannya. Melingkar seutas gelang yang cantik.
“Orang ini memang memiliki selera yang bagus, hanya demi menyenangkan ambisinya.” Frayza melihat detil gelang yang dipakai Helena.
“Hemmm (melepaskan gelang yang baru saja ia kenakan) aku pikir kita bisa sependapat soal ini tapi aku rasa kau harus mencobanya. Buatkan desain baju anak-anak untuk klien kita ini.”
“Helena, mungkin alasanku akan terdengar sentimentil dan kuno. Tapi, aku memiliki anak yang belum aku jumpai sejak ia lahir. Aku tidak bisa membuatkan baju untuk anak orang lain. Sedangkan aku sendiri tidak memberikan apapun untuk anakku.”
“Fray, apa aku sedang mendesakmu?”
“Oh tidak begitu Helena, aku teringat kepada anakku. Ini adalah sebuah naluri seorang ibu kepada anaknya. Ketika aku membuat desain ini, pasti hatiku rasanya sangat sakit. Setiap goresan yang aku buat, seperti sayatan pisau dihatiku hiks hiks... Helena, aku merindukan putraku.”
Tiba-tiba airmata mata Helena ikut menetes mendengar curahan hati Frayza yang terpendam selama ini. “Kemarilah Frayza, maafkan aku yang hanya memikirkan klien kita saja. Kau adalah senimannya, seharusnya aku tahu batasanku.” Memeluk erat Frayza yang lemah hatinya.
“Terimakasih Helena, aku akan mencoba mencari inspirasi dahulu. Dan menanyakannya pada tim penjualan. Karena mereka lebih paham keinginan klien itu seperti apa.”
“Pergilah, aku masih banyak pekerjaan.” Kemudian Frayza menutup pintu kantor Helena. Setelah Frayza sudah pergi, Helena menelepon Ramon untuk membicarakam hal pribadi.
“Halo Ramon, apakah kau sedang sibuk?” percakapan mereka dimulai lewat saluran telepon.
*
*
*
Sibuk dimeja kerjanya dengan beberapa kali membuat sketsa gambar. Akhirnya Frayza keluar dari gedung perkantoran mencari kedai kopi. Ia gagal membuat desain baju anak-anak sesuai permintaan klien dari Helena. Dia berjalan seorang diri, dan beberapa kali memperhatikan anak kecil dengan pakaian yang ia kenakan.
“Wussss,” tangan Dokter Kelvin menyapu tatapan mata Frayza dari samping.
“Kau, cepat sekali.” Terperangah dengan kedatangan Dokter Kelvin.
“Sore-sore seperti ini kenapa mau minum kopi, sedang lembur?”
“Iya, Helena memiliki klien unik. Dia ingin aku mendesain baju untuk anak-anak. Dan lucunya sekali, kedua tanganku ini belum pernah memondongnya. Kenapa aku harus membuat baju anak orang lain.” Mengangkat kedua telapak tangannya kelangit.
“Haisshh kau gila apa, diperhatikan banyak orang.” Dokter Kelvin men gelandang nya pergi berjalan.
Suasana sore di New York ini masih sepi, belum terlalu banyak orang berlalu lalang pulang dari bekerja.
Setelah memilih beberapa kedai kopi yang menurut mereka nyaman, akhirnya Dokter Kelvin memilih kedai yang tidak banyak dikunjungi orang.
“Kenapa memilih kedai yang sepi dan terpencil seperti ini?” keluh Frayza sembari melepas mantelnya.
“Karena aku mencari cita rasa kopi, bukan penikmat tempat ngopi.” Jawabnya diplomatis.
“Tunggu,” tangannya memegang benda yang terpasang diwajah Dokter Kelvin.
“Ada apa dengan matamu?”
__ADS_1
“Oh, aku memang harus memakai kacamata. Dengan begini pekerjaanku sedikit terbantu, hehehe.”
“Apa sebaiknya menggunakan mata yang normal saja?”
“Ohh itu, terapinya memakan waktu yang lama. Lagi pula ini sudah wajar bukan?” ia membenarkan memakai kacamatanya.
“Dokter Kelvin, aku bersedia menemanimu untuk berobat.”
“Fray, ini hanya penurunan fungsi saja. Bukan hal yang perlu kau khawatirkan. Ayolah kenapa kau menjadi melankolis seperti ini sih. Hai, aku tidak apa-apa.”
“Kau menjadi aneh didepanku, memakai kacamata begitu. Seperti orang tua saja, huft.”
“Oh jadi kau tidak suka ya, baiklah aku akan lepaskan saja kacamatanya. Begini?”
“Pakai lagi, jangan menuruti perasaanku. Jangan begitu saja melepaskan kacamatamu. Aku harua terbiasa dengan wajahmu sekarang, hemmb.”
Pesanan kopi mereka sudah tiba, ditemani kue manis yang lembut. Membuat perasaan keduanya kembali melumer. Dokter Kelvin sudah memiliki karir yang baik di sebuah rumah sakit. Yang khusus merawat lansia dan anak-anak. Dirinya tak lagi melakukan tindakan medis dan penelitian seperti waktu dulu. Baginya, hidup damai dan mengabdikan diri untuk kesehatan adalah pilihan terakhir hidupnya.
“Fray, aku berencana mau mengajukan ijin tinggal disini.”
“Kenapa?”
“Aku merasa negara ini lebih cocok dengan diriku.”
“Apa tidak ingin memiliki anak?”
“Uhukkk...” tersendak.
“Maaf,” memberikan tisu.
“Jangan bahas itu dulu, aku terkejut. Aku ingin memberitahumu kalau akan menetap disini. Bagaimana denganmu?”
“Aku,” terlihat gamang berpikir.
“Jika kau mau, aku akan membantumu mengurusnya. Dan membawa bayimu kemari tinggal bersama?”
“TIDAK BOLEH!” tolak Helena.
“Kenapa?”
“Apa kau pikir aku bercanda? Frayza dengarkan aku baik-baik. Jika kau ingin membawa bayi Seven kemari, aku jelas menentangnya.”
“Tapi Dokter Kelvin bersedian membantuku untuk memperoleh tinggal disini.”
“Hooo tidak semudah itu sayang, kau harus tahu. Dia melajang sampai usianya matang karena apa? Ya jelas karena ia ingin melegalkan status kewarganegaraanmu. Dengan cara mendatangkan bayi Seven kesini. Otomatis kau mau tidak mau mempunyai 1 kewajiban yaitu menikah dengannya. Sebagai pernikahan politik, hoo tidak.. Aku tidak akan ijinkam hal itu terjadi, bisa-bisa Ramon memarahiku.” Helena naik pitam.
“Aku rasa Dokter Kelvin tidak sepeti itu,”
“Baca ini (sebuah formulir prosedur pindah warga negara) dan teliti dengan cermat. Ohhh sepertinya kepalaku pusing, aku harus minum alkohol lebih banyak.” Helena menuju bar mini dirumahnya yang mewah.
Frayza yang berada diruangan tengah membaca formulis resmi tentang pindah warga negara. Ternyata salah satu syarat yang dikatakan Helena itu benar. Pikirannya kacau, dia tidak bisa mengambil keputusan yang tepat. Otaknya sudah buntu karena pekerjaan dan anak. Didepan tungku perapian ia merenung dan menghangatkan diri.
Setelah beberapa jam ia merasa kantuk sudah datang, dan Helena sempoyongan datang membawa botol bir.
“Hikkkk...hikkk errr, Fray besok kita berkemas pergi liburan.” Helena bicara ngelantur dengan berjalan sempoyongan.
“Helena kau ini sedang mabuk, aku bantu ke kamarmu.”
“Heeehh kau pikir aku ini wanita tua yang menyedihkan apa?”
“Tidak, kau wanita hebat kok. Aku hanya khawatir kau berjalan ngawur. Benda dirumahmu inikan mahal, jika kau tidak sengaja memecahkannya bagaimana?”
Setelah merebahkan Helena, Frayza menyalakan lampu tidur. Dan meninggalkan kamar Helena. Rumah ini begitu besar dan luas, Frayza berjalan dan melihat beragam piagam dan piala yang dicapai Helena semasa karirnya. Wanita itu waktu muda sangatlah cantik jelita. Mungkin jika ada pria yang beruntung, dia pasti memiliki keluarga dan tidak kesepian.
---- mimpi Helena.
“Cukup kau, cukup!” bentak laki-laki yang main tangan.
__ADS_1
“Ampuni aku George, hentikan ini.” Helena muda melindungi dirinya yang teraniaya.
“Dasar wanita murahan, seharusnya kau pergi melayani tamu hidung belang. Bukannya pergi sekolah dan belajar, bantu aku mencari uang!”
“Hentikan ini Goerge, kau menyakitiku. Hentikkkaaaannn!”
Helena terbangun dan matanya sudah sembab, ia meraba sekujur tubuhnya. Tidak terasa sakit atau ada darah yang mengalir karena tindak kekerasan. Ia turun dari ranjang, dan segera membasuh mukanya.
Dari cermin ini, wajahnya yang keriput dan rambutnya yang beruban tampak. Jelas. Bibir yang dulu ranum sekarang kisut dan pucat. Waktu sudah melewatkan banyak hal tentang kehidupannya yang berjalan terlalu cepat.
“Nyonya Helena, koper dan tiket anda sudah siap.”
“Beritahu Frayza untuk berkemas juga,” perintah Helena.
Pelayan itu pergi dan memberitahukan perihal rencana liburan Helena yang mendadak.
“Apa?” Frayza tengah sarapan dibalkon kamarnya.
“Nonya Helena meminta anda untuk berkemas.”
“Tapi hari ini aku harus membuat desain baju?”
“Anda akan menemani Nyonya Helena pergi berlibur dikapal pesiar. Ini adalah kegiatan rutin Nyonya Helena, jadi ikuti saja.” Membisikkan kalimat itu ditelinga Helena.
“Sungguh aneh.” Menggerutu kesal.
*
*
*
Beberapa jam berada dipesawat, lalu melanjutkan perjalanan darat berjam-jam. Frayza sibuk membuat desain baju yang sudah buat datanya. Disamping itu Helena menikmatinya dengan minum anggur.
“Bekerjalah dengan rajin, biar aku cepat kaya.” Sindir Helena.
“Aku pikir kau bercanda semalam, ternyata benar-benar kita liburan.” Menggerutu karena banyak desain baju yang sudah masuk tenggat setor produksi.
“Ayolah, kau sendiri yang menolak untuk menjadi pekerja tetapku dan memilih magang. Jadi bekerjalah dengan gaji separoh karyawanku hehehe.”
“Ck,” mengabaikan ocehan Helena yang asik bersantai.
Tibalaa mereka didermaga, sebuah kapal pesiar mewah tengah bersandar. Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan. Frayza kerepotan dan kewalahan mengeluarkan barang bawaannya dan milik Helena. Dari belakang Helena Frayza menenteng tas dan koper. Sehingga ia mengacuhkan penampilannya yang berantakan.
Mereka berada di kamar yang berbeda tentunya, Frayza dengan kamar yang sempit dan kecil. Dan Helena dikamar bak putri raja. Malam harinya Helena melakukan jamuan pesta dan diakhiri permainan judi. Kehidupan yang sangat candu bagi Helena yang bergelimang harta.
Disisi lain, Frayza yang sudah menyelesaikan puluhan desain pakaian. Merasa mulai mual karena kekurangan udara segar. Ia mengambil jaketnya dan mencari udara segara. Di dek belakang kapal ini ia melihat air beriak karena turbin kapal.
“Nona?” seorang awak kapal memanggilnya.
“Iya?”
“Jangan disitu berbahaya!”
“Oh baiklah, terimakasih. Aku hanya mencari udara segar saja.”
“Beradalah di area yang aman, kau bisa membahayakan jiwa dan keselamatanmu.”
Tiba-tiba kepala Frayza sakit seperti tertusuk paku. Dalam kepalanya tiba-tiba ada seorang wanita yang tengah berdiri. Dan terjung kelaut, disertai teriakan pria yang memanggil-manggil wanita tadi.
“Apa kau sakit?”
“Eh tidak, aku merasa seolah ada wanita yang pernah mencoba bunuh diri. Dan seorang lelaki mencoba menolongnya.”
“Tidak ada kejadian itu disini, pergilah mencari Dokter. Mungkin kau mabuk laut,” Saran awak kapal.
“Hemmb, baiklah. Terimakasih.”
__ADS_1
Sebuah seluet masa lalu muncul diiingatannya kembali. Ia melihat bayangan tadi seperti nyata, tapi wajah itu samar. Kapal ini berlayar dari Laut China menuju Singapura. Helena menyiapkan kejutan ini, sebagai hadiah kejutan untuk Frayza. Helena ingin memberikan persembahan untuk Frayza atas dedikasinya. Terlebih lagi, Dokter Kelvin sudah mulai agresif mendekati Frayza. Dia tidak mau gadis yang ia kenal ini mengalami nasib buruk seperti dirinya waktu muda.