TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
DALANG PERISTIWA ITU


__ADS_3

#HIKASHI,


“Tuan muda, cukuppppp!”


“Kau minta aku berhenti?” melotot.


“Jangan, tapi jangan keras-keras ya.” Merunduk.


“Jangan berlagak imut ya, kau itu lelaki. Aku tidak akan naksir dengan lelaki sepertimu. Mulai sekarang kau pakai rambut palsu. Pakai kumis juga, dan itu tahi lalat pasang di pipimu!”


Dikerjai habis-habisan sudah Matsumoto. Sebelum Hikashi meninjau tempat pembangunan Rumah sakit pagi ini. Hikashi menyempatkan diri untuk meluapkan amarahnya. Sebab jika dia melihat Matsumoto, dia teringat ucapan Frayza.


“Katakan pakaku, siapa yang akan menjadi Direktur Utamanya nanti?”


“Dokter Kelvin, tapi dia kan bekerja di Perusahaan Bioteknologi milik Pangeran Hiroshi ya bukannya?”


“Kau pikir, dia bisa masuk dan mendapatkan rekomendasi itu tanpa campur tanganku hhheee?”


“Dia memberikan pertolongan saat Pangeran Hiroshi keracunan bukan?”


“Lalu siapa yang memberikan nak n super itu kalau bukan aku? Apa kau pikir aku akan berdiam diri saja. Semua yanh terjadi antara orang tua kami, akan terus berlanjut sampai aku mendapatkan posisiku kembali.”


“Tuan muda, kedudukan anda memang tidaklah setinggi Pangeran Hiroshi. Tapi kekayaan anda lebih banyak daripada miliknya. Dia masih menjadi Pangeran, asetnta masih belum mutlak menjadi miliknya.”


“Kalau aku mau menjadi putra mahkota lagi, terus apa masalahmu?”


“Jangan sampai Tuan Muda ingin bermain bidak catur dengan Pangeran Hiroshi.” Tebak Matsumoto.


“Hiroshi menemui Damora di pacuan kuda, apakah itu kebetulan. Yah, itu kebetulan yang direncanakan. Tidak ada anak panah yang menyasar kurang satu jengkal dari kepala Fred. Kecuali orang terlatih, aku tahu hal itu. Kau tidak tahu bukan?” Matsumoto kaget bila Hikashi pengetahuannya lebih rinci daripada dirinya.


“Apakah Nona Damora sebenarnya sekutu Pangeran Hiroshi selama ini. Dia menggunakan alibi untuk mengelabuhi kita?”


“Kau pikir memang ada anak mafia main boneka? Sebenarnya mainan mereka adalah pistol dan pedang di malam harinya. Tidakkah kau perhatikan jika telapak tangan Damora penuh bekas luka. Dan semua bekas itu sama seperti yang aku miliki. Aku berhutang nyawa kepada Fred yang menjadi salah sasaran. Damora sebenarnya ingin mempercayaiku dengan menaklukkan hatiku, namun dia lupa bahwa aku suka menyiksa selir wanita. Lalu aku beralibi menyukai Fred yang notabenenya laki-laki. Dia menyuruh orang untuk membunuh Fred ketika bocah bodoh itu berteduh di bawah pohon Sakura.”


“Jadi Nona Damora ingin menghabisi orang-orang yang Tuan Muda sukai?”


“Lebih tepatnya, sehingga aku merekayasa kematian Fred. Agar Damora berhenti mengejar Fred dimanapun berada. Sekarang dengan bodohnya dia berlari ke Singapura mengejar Franda hahahahaha.” Hikashi tertawa puas mengerjai Damora.


“Ternyata Tuan Muda tidak pernah salah jika menyiksa selir-selir wanita. Lalu apa gunanya Kenzo di Singapura mengintai Nona Frayza?”


“Tidakkah kau lihat dengan teliti, jika baju yang dipakai Frayza itu bajunya Fred?”


“Astagahhhh!” Matsumoto menutup mulutnya rapat-rapat. Dan nomor ponsel yang masuk panggilannya ternyata milik Fred. Matsumoto adalah orang yang tahu bahwa Fred sudah berubah menjadi wanita seutuhnya. Dirinya tak menduga anak buah yang dia plonco ketika menjadi agen.


*


*


*


Hikashi ikut meninjau langsung tanah yang akan dibebaskan untuk perluasan area pembangunan Rumah Sakit. Rencananya Hikashi akan membeli rumah dan tanah disekitaran lokasi. Baik dengan cara baik-baik atau memakai jasa preman. Matsumoto paham, ambisi Hikashi mendirikan Rumah sakit ini karena bisnisnya yang ilegal menjadi sumber dana. Rencananya Hikashi akan membangun bisnis yang legal untuk membangun citra positif dan baik.


“Tuan muda, apakah kita perlu membeli tanah lagi?”


“Beli saja!”


“Tapi Tuan Muda ...”


“Kalau aku bilang ‘beli ya beli’ kenapa kau menyesal? Urasankulah bila aku ingin membuat Rumah Sakit mewah dan megah. Urus saja kepalamu yang botak agar cepat tumbuh rambutnya. Kepala botak, seksi, gaya keren apaan.” Hikashi merembet mengomeli Matsumoto lagi.

__ADS_1


“Tuannnnn Mudaaaaaaaa...kau lebih tampan dariku, aku yakin Nona Frayza akam naksir kepadamu asal,”


“Asal kau tumbuhkan rambutmu!” potong Hikashi emosi.


Para pekerja bangunan yang bekerja menoleh dan bergumam pelan-pelan dengan kehadiran Hikashi yang memarahi Matsumoto. Orang-orang lokasi pembangunan Rumah Sakit selama ini tahunya Matsumoto Bos besar yang hobi marah-marah. Kini disemprot pria yang lebih muda darinya.


“Hai kau pemuda, jangan galak-galak dengan orang tua. Bos Matsumoto memang suka memarahi kami kalau malas. Tapi kau tidak boleh marah karena kepalanya yang botak bukan, andai anak gadisku memiliki pacar sepertimu yang mengandalkan fisik. Pasti aku suruh putus, kau suka marah-marah dan memaki Bos kami!” protes pekerja bangunan.


Matsumoto melotot ada pekerja yang berani protes kepada Hikashi. Sebenarnya yang diprotes Pekerja itulah Bos besar mereka.


“Hahahaha hai kau, apa putrimu cantik? Maaf aku tidak tertarik terhadap anak gadismu, sekalipun dia bidadari tak bersayap. Aku sudah punya calon pacar, jadi jodohkan saja pada si botak ini.” Balas Hikashi enteng meladeni ocehan pekerja.


“Hai kau pemuda sombong sekali ya.”


“Aku sombong, aku hanya bilang apa adanya.”


Matsumoto menggiring pergi pekerja yang debat dengan Hikashi. Pasalnya jika tidak berhenti, dirinyalah yang akan kena getahnya. Saat ini Hikashi sedang mencari sumber masalah dengan Matsumoto, dia mengintil kemana Matsumoto pergi. Padahal biasanya Hikashi duduk diruangan, tidak mau turun ke lapangan langsung.


“Tuan Muda, sebaiknya kita kembali saja. Cuaca mulai naii dan terik, tidak bagus untuk kulit anda. Bukannya Tuan muda sedang perawatan kulit agar lebih kenyal ditowel calon pacar?” Matsumoto menjilat Hikashi dengan kata-kata manis.


“Biarin, biarin hitam lebam sepertimu. Bukannya dia bilang kalau menyukai apa yang ada pada dirimu. Jadi kalau aku menyerupaimu dia akan menyukaiku juga bukan?” jawab Hikashi dengan memainkan bibirnya judes.


Matsumoto sudah kehabisan akan agar emosi Tuan Mudanya mereda. Namun berakhir sia-sia, dirinya lagi yang kena dampak cemburunya dari percakapan lewat telepon. Tahu begini jadinya, lebih baik Matsumoto tak mengangkatnya saja. Hal ini justru tidak baik bila terjadi terus menerus menimpanya. Malam harinya ketika Hikashi mandi, Matsumoto mengundang empat selir peghibur yang cantik-cantik rupanya.


“Kalian harus membuat Tuan Muda bahagia, gunakan kesempatan ini agar merayunya. Puji rambut Tuan Muda Hikashi, dan kau harus yakinkan kalau warna rambutnya yang merah coklat adalah warna istimewa. Puji juga bekas luka dijari jemarinya kalau itu tanda ksatria yang perkasa.”


“Ketua Matsumoto, biasanya Tuan Hikashi akan menyiksa kami. Kenapa kau cerewet menceramahi tentang hal yang tak kau miliki. Aku tahu kau naksir dengan Tuan Hikashi, makanya kau membuat aturan Hikashi marah besar kepada kami bukan. Ayo jawab jujur saja, kau sedang mengumpan kami untuk disiksa. Kau kan ikut senang kalau dia puas menyiksa kami, dasar orang aneh!”


“Kau ini!” teriak Matsumoto geram.


“Yang dia katakan itu benar, kau terlalu rendahan menyuruh kami mengatakan hal itu. Tuan Hikashi tidak akan mempan dipuji seperti itu. Jika kau mau melakukan itu, lakukanlah sendiri jangan menyuruhku dalam masalah.”


Selir-selir cantik ini berlutut di kamar Hikashi. Mereka memancarkan senyuman manis untuk Tuannya yang usai mandi.


“Sejak kapan kalian disini?” kaget mendapati empat selirnya.


“Bukankah sudah jadwal rutin kami untuk datang kemar Tuan?”


“Kenapa bisa berempat sekaligus, apakah kalian sedang akur satu sama lain?” curiga dengan kedatangan selirnya.


“Katua Matsumoto yang mendatangkan kami.” Mendengar pengakuan selirnya, Hikashi mengeringkan matanya. Dia mendapat ide seketika untuk menyuruh selirnya melakukan pekerjaan yang diluar kebiasaanya. Awalnya selir-selir Hikashi menganggap candaan.


“Aku akan membebaskan kehidupan kalian dari Selir, jika kalian bisa mengambil hati Matsumoto, ah bukan. Kalian sudah bisa membuat Matsumoto bersenang-senang. Buat video dan fotonya yang bagus, lalu berikan kepadaku!”


Selir-selir Hikashi saling bertatapan kebingungan, sebenarnya ada apa dengan Matsumoto dan Hikashi. Mereka seolah sedang melemparkan serangan secara diam-diam. Faktanya malam ini Matsumoto dirayu dan digoda para selir yang ingin bebas dari jeratan siksa Hikashi. Awalnya Matsumoto menolak dan kabur-kaburan, karena dia kelelahan dikejar-kejar selir-selir Hikashi. Hingga akhirnya dia tak berdaya dicekoki minuman. Mereka berhasil mengerjakan tantangan dari Hikashi. Betapa senangnya Hikashi berhasil membuat Matsumoto dibuat tak berdaya empat selir.


“Jangan harap kau akan menang melawanku, sekarang kau sudah tamat Matsumoto hahahaha.” Betapa senangnya Hikashi melihat Matsumoto bersenang-senang bersama selirnya. Dengan begini, Matsumoto pasti akan dibenci Frayza karena bersikap buaya.


*


*


*


#SINGAPURA,


Kenzo pergi lari pagi sebelum memulai kegiatan hariannya. Dia mengelilingi taman dan menikmati musik kesukaanya. Pagi yang masih buta ini digunakan Frayza untuk merekap jadwal harian Julian dan Franda. Karena dia tidak memiliki agenda apapun selain mengawasi Julian lewat Rose. Rose mengatakan jika hari ini tidak ada agenda bersama Julian. Dan Julian juga tidak mengatakan apapun mengenai kesibukannya hari ini. Frayza meminta alamat tinggal Julian, namun yang diberikan adalah alamat rumah lamanta dulu. Frayza berpikir, kenapa julian memilih tinggal dirumah lama mereka. Seharusnya Julian bisa tinggal di rumah mewahnya yant baru. Atau mengambil hunian seperti Franda. Frayza berangkat kerumahnya terdahulu untuk mengecek kebenarannya. Dan benar, pagi ini Julian keluar rumah membuang sampah. Saat lamunan Frayza kembali berputar dimasa lalu, Julian melihat dirinya yang berdiri mematung melamun.


“Apa yang kau lakukan sepagi ini, Fray?” tegur Julian.

__ADS_1


“Hah apa?” gugup ditegur.


“Kenapa kau bisa sampai disini?”


“Oh itu, aku menjadi kurir pengantar susu dipagi hari hehehe.”


“Oh kau bekerja sebaga kurir susu langganan ya?”


“I-iya, kau mau mencoba susunta?”


“Emmmbb tidak, ibuku melarang membeli susu kemasan pabrik. Aku hanya diperbolehkan minum susu segar dari peternakan.”


“Hufttt... Kalau begitu aku mau berkeliling lagi. Dah...”


“Fray, jika selesai berkeliling datanglah kerumahku. Temani aku sarapan pagi ini, aku tinggal di rumah sendirian. Aku mengundangmu untuk sarapan bersama, sebagai perkenalan. Apakah kau bersedia?”


“Kau mengundangku sarapan bersama?”


“Iya, tidak bisakah ya? Maaf kalau kau sibuk.”


“Oh tidakk, tidaaakk begitu. Aku bisa kok, nanti aku datang kerumahmu. Tinggal beberapa unit rumah yanh belum aku antarkan pesanan susunya.”


“Baiklah, aku tunggu ya.”


Frayza tak menyangka bila Julian mau mengakrabkan dirinya lebih cepat. Frayza cepat-cepat mengantarkan susu ke pelanggannya. Pagi ini dia menyamar sebagai kurir susu agar memiliki alasan menemui adiknya. Didalam dapur, Julian kebingungan hendak memasak sarapan apan. Karena dia setiap pagi sarapan susu dan sereal. Persediaan beras tidak ada, roti tinggal beberapa potong. Slai habis, susu juga sudah habis belum beli. Julian benar-benar kebingungan mencari bahan makanan untuk sarapan.


“Masak sarapan menunya mie rebus sih hemmm.” Hanya mie kemasan yang berhasil ia temukan di lemari dapur.


Dia membaca cara memasakanya pada balik bungkus kemasa. Aroma khas harum mie instan ini menyeruak hingga kehidung Frayza saat membuka pagar rumah. Dia disambut Julian yang memakai celemek. Baru kali ini Frayza melihat adiknya yang memasak mie instan untuknya sarapan. Mereka berdua menikmati sarapan sederhana ini dengan tertawa kecil. Julian memasak mie sampai mengembang, karena telat mengangkatnya dari panci.


“Fray, apakah kau mau menemaniku pergi jalan-jalan dengan mobil kakakku?”


“Untuk apa?”


“Aku ingin kau merasakan berkendara mobil mewah bersamaku. Mau ya temani aku, kumohon ya mau ya.” Bujuk Julian.


“Tapi mobil kakakmu sangat mahal, lebih baik jangan. Karena mobi mahal itu beda pemakaiannya dengan mobil umum.”


“Kau tak perlu khawatir, kemaren aku sudah menjajalnya. Lajunya paling cepat dijalanan, kau pasti akan berdebar kencang.”


“Jangan mengebut dijalanan, pinjam saja area sirkuit untuk ngebut. Jalan Raya banyak pengguna jalannya,sangat beresiko.”


“Ckckckckck, dasar wanita. Tidak percayaan sama aku, ayo kita berangkat sekarang saja.” Julian menarik Frayza untuk uji coba naik mobil Franda.


Julian menggeber gas mobil dengan kencang dijembatan. Dibawah ada sungai yang membelah daratan.


“Jul-Juliaaan bisakah kau mengurangi kecepatannya. Kita berasa diatas jembatan yang anginnya berhembus kencang. Kau bisa kehilangan keseimbangan.” Frayza ketar-ketir dengan gaya menyetir Julian yang doyan ngebut.


“Tenang Fray, kemaren aku sudah melakukannya.”


Julian memang keras kepala dan menantang adrenalin. Dia memacu laju mobil super cepat itu, tiba-tiba ada burung menabrak kaca depan. Tubuh burung itu hancur terhantam keras. Julian yang kaget mendapati burung tewas, membanting setir mobil. Menabrak pembatas marka jalan, beruntungnya mobil itu tidak masuk ke sungai. Jika itu terjadi maka habislah Julian dimarahi Franda karena merusak mobil kesayangannya yang baru.


“Aduhhh baret catnya lagi ahhh.”


“Kita harus membawanya ke bengkel untuk diperbaiki. Karena luka baretnya menggores badan mobil dalam.”


“Aku tidak punya kontaknya, sebaiknya aku hubungi Franda bila mengalami kecelakaan. Karena dialah yang punya mobil ini, kau jangan khawatir.” Julian menenangkan keadaan agar tidak panik. usai kecelakaan kecil.


Tak berselang lama, kemudian pihak kepolisian datang. Mobil derek diikutkan serta guna membawa mobil super cepat ini. Frayza panik, karena dirinyalah yang pasti disalahkan. Julian nampak tegang saat berkomunikasi dengan Franda. Dia berkali-kali menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya. Mobil Franda penyok dan catnya tergores dalam di bagian depan kanan. Julian tampak panik karena Franda akan marah besar. Niat hati Julian pamer ketangkasan menyetir harus berakhir penyok-penyok.

__ADS_1


__ADS_2