
“Dokter Kelvin, ada yang terluka!”
“Apa?” sedang sibuk membuka paketan ikannya yang baru saja tiba. “ Hisss mengganggu kesenanganku saja.” Menggerutu kesal.
“Dokter Kelvin, Nona Frayza terluka!” Patrick membopong Frayza yang sudah pucat pasi wajahnya.
“Apa? Dia pendarahan lagi?” segara siapkan tindakan medis, siapapun yang tahu dasar medis bantu aku melakukan operasi.”
“Dokter Kelvin, kau jangan gegabah! Sebelum Tuan Hikashi tiba, tidak ada yang berhak atas diri Nona Frayza.”
“Bedebah itu yang menyebabkan Frayza sekarat begini, sekarang dia ada dimana.”
Tangan Frayza meraih jas Dokter Kelvin, “Bantu aku selamatkan bayi ini, jika aku mati beritahu Hikashi kalau ini hadiahju yang terakhir.” Menitikan air mata.
“Nonaaaaa bagaimana bisa kau bicara seperti ini, Tuan Hikashi hanya menginginkanmu!”
“Pengurus Patrick, jika aku tiada tolong rawatlah bayiku seperti Jade hiks hiks.” Menahan sakit yang luar biasa.
“Fray, dengarkan aku.” Dokter Kelvin mencium tangan Frayza. “Kandunganmu baru menginjak 7 bulan, segala kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Aku tidak siap bila kehilangan salah saru dari kalian.”
“Dokter Kelvin, cepat selamatkan bayiku. Tidak apa jika aku mati secepat ini, setidaknya aku sudah tenang.”
“Nonaaaaaaaa, hentikan bicara ngawurmu!” Pengurus Patrick terguncang dengan kalimat menyayat hati. “Aku akan mencegat Tuan Hikashi, bertahanlah sementara waktu. Aku mohon!” Patrick keluar ruangan yang sudah diubah menjadi ruangan bedah.
Suasana Villa ini begitu genting usai helikopter mendarat semua orang kalang kabut. Mengurus segala keperluan yang dibutuhkan, di Villa ini Patrick sibuk menunggu Hikashi kembali.
“Tunggu, kau siapa?”
“Saya adalah pelayan disini Pengasuh Patrick. Saya memiliki ilmu medis yang diperlukan Dokter Kelvin.”
“Saya segera kesana Pengurus Patrcik,” tersenyum picik berjalan.
Patrick dengan perasaan yang kacau dan tidak karuan. Di dalam ada yang meregang nyawa, diluar entah apa yang dikerjakan. Silau lampu mobil terlihat menyinari mata pengurus paruh baya. “Apa kau mau mati berdiri di depan pintu gerbang!” kepala Hikashinkeluar dari jendela mobil.
Sambil merentangkan kedua tangannya dia memberhentikan laju cepat Hikashi. “Nona dalam keadaan darurat, hendak dibedah!”
“Apa?” Hikashi merasa dunianya runtuh mendengar Patrick bicara demikian gentingnya Frayza.
“Cepat Tuan Muda,” ucap Kenzo menahan pendarahan pada lengannya.
“Tapi kau tertembak Kenzo,”
“Aku bisa mengurusnya sendiri, aku pernah dididik secara militer. Aku bisa menangani ini, percayalah.”
“Patrick, kau bantu Kenzo, aku akan melihat Istriku!”
Kenzo yang sudah banyak mengeluarkan banyak darah ini, mengajak Patrick di dapur. “Ambilkan aku kotak P3K.” Patrick pergi mengambilnya di gudang dari stok cadangan.
Berjalan sempoyongan melawan kesadarannya yang sudah menurun, Kenzo mencarinya gunting. Lalu ia mencari baskom, dan memotong kemejanya. Bekas tembakan itu masih mengeluarkan darah segar. Patrick datang dan membantu Kenzo untuk duduk dikursi. “Ambilkan pisau yang ujungnya paling pajam, lalu panaskan dengan api!”
“Hah?” Patrick tidak nyambung.
“Pisau?” Patrick menyerahkan pisau yang sudah bersih.
“Tolong bongkas isi kotak P3K, berikan aku obat anestesi.” Patrick memberikan sebuah pil untuk ditelan Kenzo.
Langsung diminum tanpa air, Kenzo memanaskan pisau itu hingga benar-benar berubah warnanya. “Sekarang congkel perlurunya!” Patrick tidak berani dan mundur satu langkah.
“Sial, orang ini penakut.” Gerutunya menahan sakit dan kesal. Ia meraih lobak putih untuk digigit, pisau sudah siap untuk mengambil peluru.
Patrick jelas menutup matanya dengan rapat, ia begitu ngeri melihat Kenzo yang mengerang kesakitan. Beberapa kali ia salah menorehkan pisaunya, kini ketiga kalinya dia berhasil mengeluarkan isi pelurunya. Klunting, suara pantulan benda kecil itu terlempar dilantai. Masih terbalut darah dari Kenzo.
Karena efek obat anestesinya sudah bereaksi, Kenzo mulai kehilangan kesadaran dan ambruk. Patrick membalut luka tembak Kenzo yang masih menganga dengan membersihkannya terlebih dahulu. Ia melilitkan perban agar lukanya tidak infeksi. Ada beberapa baju koki, apron dilemari dapur ia gulung menjadi bantalan. Masih terbaring dilantai dapur, Kenzo tidak menyadarkan diri setelah operasinya dirinya sendiri.
“Fiuhhh...” Patrick menyeka keringatnya. Setelah napas Kenzo sudah normal ia pergi keluar lagi. Ia mencari keberadaan Hikashi yang baru tidak tadi.
Dilihatnya Hikashi mencari-cari ruangan operasi. Patrick mendekati dan membawanya keruangan tersebut. Tampaknya Frayza sudah didalam ruangan ditangani Dokter Kelvin.
“Sepertinya Tuan terlambat, Dokter Kelvin tidak mau menunggu persetujuan anda.”
“Hiks hiks bagaimana dengan Frayzaku tadi?” Hikashi menutupi wajahnya yang menangis.
__ADS_1
“Tadi Nona berpesan bila memprioritaskan bayinya saja.”
Hikashi terperangah dan menarik kerah Patrick, “Apa kau bodoh Patrick, aku sudah memberinya anak. Apa yang mau dia berikan padaku lagi!”
“Non, Nona bilang bila bayi ini selamat adalah kado terakhirnya untuk Tuan.”
“Yaaahhh!!” melepaskan kerah Patrick.
“Tadi aku menyuruh Dokter Kelvin untuk menunggu persetujuan anda terlebih dahulu. Tapi Nona sudah tidak bisa menahan sakitnya akibat pendarahan hebat.”
“Ja-jadi Frayzaku pendarahan lagi?” Hikashi merayap meraih gagang pintu kamar operasi. Dia mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut dengan sesenggukan tangisan.
“Tuan, anda tidak boleh membuat kegaduhan disini. Dokter Kelvin bisa terganggu karena ulah anda. Mohon kerjasamanya demi Nona.”
“Patrick, jika Frayzaku mengalami hal buruk bagaimana bisa aku mati dengan tenang? Sedangkan dulu janjiku menjaga dan melindunginya, sekarang ia meregang nyawa untuk melahirkan anakku hiks hiks. Tuan Adamson, aku menantu yang tidak berguna hwaaaaa.”
Didalam ruangan ini tidak kalah panik, Frayza sudah mulai kehilangan banyak darah. Sedangkan golongan darah yang dibutuhkan ada pada salah satu perawatnya. Dengan keadaan terdesak, akhirnya Dokter Kelvin menyepakati kesepakatan. Agar nyawa Frayza terselamatkan. Transfusi darah itu berhasil menyelamatkan Frayza dari pendarahan. Sekarang Dokter Kelvin melaser bagian perut yang sudah ia robek dengan pisau medis. Wajah Frayza mulai berwarna tak pucat lagi.
Napas menderu Dokter Kelvin yang menangani operasi ini menguras banyak tenaga. Dirinya terkulai lemas tak berdaya, dan Frayza sudah mendapat pertolongan. Perawat menyuntikkan cairan kantung infus. Lalu beberapa orang yang berada didal ruangan itu mengambil alih tugasnya masing-masing. Keadaan yang genting dan kacau balau ini orang-orang sudah tidak peduli dengan aktifitas orang lain.
Keesokan paginya, Dokter Kelvin sudah mendapati dirinya duduk di sofa. Dan Frayza sudah pindah dikamar utama. Kekacauan tadi malam sudah berakhir.
“Dokter Kelvin, jika kau sudah siap silahkan mengecek keadaan Sekertaris Kenzo.”
“Dia hamil juga?”
“Emb bukan, dia semalam mencongkel timah panas sendiri.”
Baru bangun tidur sudah dapat berita buruk lagi, Dokter Kelvin segera bergegas mengambil peralatan medisnya lagi. Ia bersama Patrick melihat kondisi Kenzo yang lemah.
“Jadi bocah tengik ini bergaya koboi?” menekan kening Kenzo yang panas.
“Dia memang keras kepala dan sedikit liar.”
“Aku akan mengganti perban dan menjahit bekas lukanya. Tolong siapkan air hangat Pengurus Patrick.”
Kabar tertembaknya Kenzo membuat Matsumoto kelabakan mencari keberadaanya. Setibanya di Villa dia tidak peduli dengan Franda yang menjadi tanggungjawabnya. Dia hanya berpikir keadaan Kenzo yang tertembak.
“Apa kau?” tanya Dokter Kelvin membalut perban.
“Apakah lukanya parah?”
“Untung dia mengeluarkannya sendiri, jadi aku hanya bagian penutupnya saja. Aku sudah siapkan obat penahan sakit, demam dan multivitamin. Kau bisakan membujuknya untuk mentaatiku?”
“Tentu saja,” jawab Matsumoto duduk disebelah Kenzo.
Setelah selesai dengan Kenzo, Dokter Kelvin meminta ijin untuk tidur sejenak. Dia akan menemui Hikashi ketika tubuhnya sudah segar. Dan otaknya sudah berfungsi dengan baik.
“Kebetulan sekali, Tuan Hikashi sedang bersama Tuan Takeshi diruang kerjanya.”
“Apakah dia sudah melihat kondisi istrinya?”
“Sudah, Nona belum sadarkan diri dikamar utama.”
“Apa ada lagi?”
“Tidak ada,” menggelengkan kepalanya.
Dokter Kelvin merasa aneh kenapa Hikashi tidak heboh menanyainya. Seharusnya kan dia tidak begitu santai, ini malah bertemu dengan Pangeran Takeshi segala. Mereka entah membahas apa, sepertinya sangat penting.
Diruangan kerja ini, Takeshi membuat skenario kejadian semalam sebagai ledakan gas. Mayat Robet dan anak buahnya sudah diamankan ditempat penyimpanan mayat. Lokasi kejadian sudah diblokade, selanjutnya membuat berita bila kejadian semalam adalah akibat kesalahan teknis. Petugas kebersihan yang anak buah Hikashi membersihkan darah dan sidik jari. Agar tidak menimbulkan kecurigaan Polisi dalam pemeriksaan.
“Aku juga menggelontorkan uang agar mereka datang 8 jama lebih telat. Agar anak buah kita bisa mensterilkan tempat kita.”
“Apa semuanya sudah mati?”
“Yah, mereka semua mati karena ledakan granat dan tembakan.”
“Aku membunuh lagi,” mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Hikashiiii,” memeluk sepupunya yang frustasi.
__ADS_1
“Ini adalah balasan yang setimpal dari Tuhan, ia sudah menghukumku.” Memukul-mukul kepalanya.
“Hentikan menyakiti dirimu sendiri Hikashi, ini adalah serangan dadakan. Tidak ada yang tahu bila Robert dan Damora merencakan rencana cadangan.”
“Bagaimana dengan istrimu?”
“Dia masih lemah usai operasi, belum sadarkan diri.”
“Dan, bayimu?” nada rendah.
“Sssstttttt,” Hikashi tak mau membicarakannya. Ia benar-benar tidak mau membicarakan hal menyangkut bayinya.
Melihat ekspresi Hikashi yang menolak membahasa bayinya, ia mengajak Hikashi agar menjenguk Frayza.
“Tuan,” berpapasan dengan Dokter Kelvin.
“Kau sudah bekerja kerasa semalam,” puji Takeshi memegang pundak Kelvin.
“Iya, sama-sama.”
“Apakah Frayza mengalami trauma bila tahu keadaan yang sebenarnya?”
“Hah? Soal apa?”
“Ehheerrrmmb,” Takeshi berdehem dan membisikkan ditelinga Dokter Kelvin. Matanya melotot dan mulutnya menganga.
“Tidak mungkin,”
Jiiittt, Takeshi menginjak kaki Dokter Kelvin agar memperbaiki kondisinya yang terkejut.
Didalam kamar ini Frayza terbaring, walupun dia masih belum sadarkan diri. Dia masih kelihatan cantik dan rapuh. Ujian ini begitu berat untuk dilewatinya bila seorang diri. Hikashi memandang wajah Frayza dengan baik-baik penuh makna. Dahulu, pasti Frayza kesepian menjalani kehidupannya yang kelam. Beberapa kali Hikashi menciumi wajah dan tangan Frayza yang masih terpasanhan selang. Perawat barusaja mengganti kantong infusnya. Dan menyerahkan laporan medisnya, untuk dipelajari lebih lanjut.
“Sayangku, istriku... Bangunnn.” Mata Hikashi sudah sembab dan basah. Sedari malam hingga terik matahari ia tak tidur.
“Hikashi, yang tabah ya.” Takeshi menguatkan sepupunya yang dirundung musibah besar.
“Terimakasih Kak,” bibirnya berucap ke Takeshi, tapi matanya masih terus tertuju pada Frayza.
“Aku sangat mencintainya Kak, aku tidak butuh apapun darinya. Bagiku, dialah nyawa-hidupku hiks hiks.”menciumi jari jemari Frayza.
“Aku tahu, kau sudah berusaha memberikan segalanya yang terbaik darimu. Kau mirip seperti ayahmu, mendiang Pangeran Naruhitho.”
“Kak, apakah dulu Ibuku sesakit ini ketika Ayah tiada?”
“Iya, sangat sakit. Bahkan ia memilih mengakhiri hidupnya, karena Ayahmu yang selama ini menjadi napas dan detak jantung Ibumu.”
“Aku mencintai Istriku, Kak. Aku sangat, sangat mencintainya dalam-dalam.” Memukuli dadanya yang terasa sesak dan sakit.
Dari celah pintu yang terbuka ada sepasang mata melihatnya. Seorang mata wanita yang tersentuh sanubarinya.
“Aku pikir kau kabur semalam, saat keadaan genting.” Matsumoto datang membuyarkan lamunan Franda.
“Ketua Matsumoto,” memberi salam.
“Sedang apa kau?”
“Didalam sana ada seorang Kakak yang dulu kematiannya sangat aku dambakan. Sekarang kehidupannya sangat aku harapkan, melebihi hidupku sendiri.”
Menempelkan telapak tangannya dikening Franda.” Kau demam?”
“Kak Frayza adalah Kakakku, walaupun bukan saudara sedarah. Tapi kami seibu.”
“Kau, tidak sedang menarik simpati dari kekacauan ini bukan? Maksudku yaitu kau berencana mendapatkan muka.”
“Ketua Matsumoto!”merasa dihina mentah-mentah.
“Awas saja kau menggoda Bos kami, kupastikan wajah terakhir sebelum menutup matamu adalah wajahku. Ingat itu!”
“Aku tidak serendah itu Ketua Matsumoto. Benar, masa laluku jahat. Tapi masa depanku adalah penebusan dosaku!”
“Jangan menciptakan neraka bagi orang lain, jika tidak ingin menjumpai nerakamu sendiri.”
__ADS_1