TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
AKU LAKUKAN DEMI KALIAN


__ADS_3

Hikashi sudah menyiapkan bekal makan siang yang benar untuk anak dan istrinya. Dia memandikan Jade selagi Seven tidur di keranjang bayi. Ternyata semalam memakaikan penutup telinga mempan juga. Bayi itu masih terhipnotis dalam tidurnya.


“Papa, apakah aku tidak perlu menunggu Mama untuk mengantarku naik kereta?”


“Tidak usah, kau duduklah dan habiskan sarapanmu ini. Jika ada suara klakson bis, keluarlah.”


“Suara Klakson? Bis? Apa?”


“Mulai hari ini kau berangkat naik bis antar jemput sekolah. Karena Mamamu Mamamu harus bekerja, jadi Papa ingin kau belajar mandiri. Mengerti?”


“Baiklah,” mengunyah roti bakar isi telur mata sapi.


“Jade ini bekal makan siangmu Nak.”


“Tidak usah, bahkan anjing penjaga sekolahku pun tak sudi memakannya.”


“Hai Pemuda! Jangan meremehkan kwalitas seorang Alexander ya! Bawa dan makan saat jam makan siang. Papa tidak suka dibantah, mengerti?”


“Baiklah Papa, jangan salahkan aku jika akan memberikannya kepada ikan diselokan. Lalu mereka akan mengapung memakan bekal makan siangku.”


Bimm bimmm... Suara klakson bis jemputan berbunyi didepan pintu gerbang rumah mereka.


“Itu jemputanmu sudah tiba, belajar yang tekun ya Nak. Jadi anak yang membanggakan.”


“Biasanya orang tua pada umumnya menginginkan anaknya pintar, kenapa Papa bilang begini?”


“Karena anak pintar cenderung memakai logika. Dan Papa merawatmu dengan segenap perasaan. Papa sangat mendambakanmu menjadi anak kebanggaan Papa.” Mengusap kepala Jade yang memakai topi.


“Papaaa...” melelehlah hatinya dirayu ayahnya. Anak itu naik ke bisa, dan matanya menempel dikaca jendela. Melihat ayahnya melambaikan tangan. Masih memakai celemek kebanggaannya, huft.


Hikashi sangat senang pagi ini melihat Jade berada di bis sekolahnya. Semoga Jade menjadi anak yang mudah bergaul. Mengingat dulu dia tinggal di asrama khusus. Ia hanya mengenal temannya dalam hitungan jari saja. Oleh karena itu, sifat Jade amat kaku.


“Wah kau tampan sekali, walau memakai celemek begitu.”


“Oh selamat pagi Bibi.” Sapa Hikashi kepada tetangganya.


“Hahahah apakah aku terlalu tua untuk dipanggil Bibi. Anakku baru masuk perguruan tinggi. Umur kita mungkin selisih beberapa tahun saja.”


Lebih tepatnya puluhan tahun Nenek-nenek ganjen, hah.


“Baiklah kalau begitu aku panggil saja kau Nyonya saja. Bagaiamana?”


“Huhuhuhu aku terharu, tapi aku suka. Tau siapakah namamu wahai pemuda tampan, apakah tadi itu keponakanmu?”


“Oeekkkkk.... Oeekk...” suara Seven bangun tidur. Hikashi langsung bergegas masuk mengabaikan tetangganya.


Tap... Tapp... Hikashi buru-buru naik tangga masuk kedalam kamar Seven.


“Sssttt...” Frayza menyusui anaknya yang ternyata kehausan.


“Biar aku saja, kau pergi mandi.”


“Sayang, maksutmu aku melepaskan sumber asi ini dari dadaky begitu?”


“Aihh bukan begitu, berhenti menyusui Seven. Biar aku buatkan susu formula untuknya. Kau bisa terlambat berangkat kerja kalau menyusui.”


Hikashi merusak suasana tentran Seven yang asik mengenyot sumber asinnya. Lagi-lagi bayi itu harus menangis berontak meminta susu ibunya. Ternyata Hikashi sudah menyiapkan satu botol dot susu dilemari penyimpanan.


Lelaki itu sudah berubah menjadi sigap dan siaga. Semuanya ia kerjakan dengan sempurna, kesalahan kemaren sudah menjadi cambuk baginya.


“Habiskan sarapanmu Istriku, kau tidak perlu tergesa-gesa.” Meletakkan jus buah disebelah mangkuk nasi.


“Lalu Jade bagaimana?”


“Dia sudah pergi naik bis sekolah, lihat kau makan belepotan. Sampai lipstikmu cemong. Kemari aku bersihkan.”


“Hemmbb,” ia tersentak kaget, Hikashi menyapu pinggiran bibirnya. Kemudian melumay habis bibir istrinya. Dan menyeringai nakal.


“Jangan memancingku, untung dirumah tinggal Seven. Coba kalau ada Jade, bisa-bisa aku bingun mencari alasan.”

__ADS_1


“Kau...” memukul bahu Hikashi karena tersipu malu.


“Berangkatlah dengan hati-hati, dan jangan mau diajak makan siang rekan kerjamu. Suamimu ini sudah susah payah membuatkan hidangan dengan sentuhan Cinta.”


Cuphhh ahhh ...lagi-lagi Hikashi mencium bibir Frayza yang sudah mematunh. Sedangkan Seven bermain diatas karpet busa. Bayi itu seolah mengabaikan ayahnya yang mencumbui ibunya.


“Sudahh sudahh... Kau nanti bisa membuatku berubah pikiran lagi.” Mendorong tubuh Hikashi mundur.


“Cepat pulang Istriku Sayang, aku ingin minta jatah nanti malam.”


“Hikashiiiiiikkkk,” suara parau itu tertahan karena malu. Ia meletakkan sumpit dan sendoknya. Menyudahi sarapannya.


“Sayang habiskan sarapanmu?”


“Aku terlalu kenyang Suamiku.”


“Hati-hatilah berangkat kerja, ini pakai jaketmu. Jangan berdandan berlebihan kalau keluar rumah. Kau wanita yang sudah bersuami!”


“Iya Suamiku, terimaksih atas sarapannya. Sedikit keasinan,” bisik Frayza ditelinga Hikashi.


“Masa’? “ ia tercengang.


Mengantar Frayza sampai depan pintu rumah. Ia kembali menyantap habis sarapan sisan istrinya. Ia makan dengan lahap hasil olahan tangannya sendiri. Terasa nikmat makan dimangkok bekas istrinya makan. Ternyata masakannya hambar, bukan keasinan. Ia tersenyum puas, karena Frayza dan Jade sudah berangkat membawa bekalnya.


“Hai anak baru, kenapa kau mendekap bentomu?”


“Tidak untuk dimakan manusia.”


“Kau pasti menyembunyikan sesuatu kan? Coba beritahu kami apa isinya.”


“Jangan, aku bilang jangan!”


Klak, kotak bento itu terbuka isinya. Jade sangat malu dan menutupi wajahnya.


“Wah daging bakar saus barbeque, dengan taburan jagung manis dan buah apel. Mewah sekali bekalmu Jade.”


Mata katarak apa, biasanya Dikasi membuat bento roti hangus, telur ceplok se angka nge cangkangnya dan susu rasa tepung.


Eh tapi tunggu, ternyata isinya benar seperti yang diucapkan teman-temannya. Menu makan siang yang spesial dibuat Hikashi. Jade rasanya ingin menangis dan pulang memeluk ayahnya. Ia sudah jahat mencela masakan ayahnya. Walaupun sedikit alot dagingnya, tapi gigi Jade masih bisa mengoyak dagingnya. Ia makan siang dengan haru sekaligus bahagia.


Ditempat kerja, Frayza mencari tempat aman untuk makan siang. Bagaimanapun pula, ini adalah bekal makan siang buatan suaminya. Mau tidak mau ia harus menghormati bentuk kasih sayangnya.


Klak, dibukanya bento yang isinya sama dengan milik Jade. Ia rasanya ingin berteriak memamerkan masakan suaminya ini kepada siapa pun. Tapi ia terlalu naif dan serakah, ingin menyicipi rasa makanan ini.


“Uwahhhh rasanyaaa nikmat sekaliiiii.” Ternyata seleranya sudah disesuaikan dengan lidah Frayza. Hikashi memang lelaki hebat, ia mampu memanjakan lidah istrinya.


Bagi Hikashi, membuat bekal harian untuk Jade dan Frayza sudah menjadi tugas penting hariannya. Ketika Jade tidur, ia melihat siaran acara memasak. Setelah Jade makan siang, ia berangkat ke pasar untuk belanja. Ketika Jade pulang, Seven bermain bersamanya. Saat itu ia mengangkat jemuran baju dan selimut. Saat petang tiba, ia memasak untuk makan malam. Dan kedua anaknya sudah tidur sampai jam makan malam. Saat itu biasanya Frayza pulang kerumah.


“Aku pulang, Jade-Seven Mama pulang. Dimana kalian Nak?” melepas sepatunya


“Ehembb!” muncul dari dapur menghadang Frayza.


“Sayang, kau sedang apa?”


Memegang spatula penggorengan di tangannya.”Bagus ya, pulang kerja yang dicari anaknya dulu. Kemari!” istrinya mendekat dengan polosnya.


Cupphhh, ia menempelkan bibirnya dikening istrinya. “Ingat ya Istriku, pasang diingatanmu bahwa yang pertama kau cari itu aku. S-U-A-M-I baru setelah itu anak-anak. Aku adalah prioritasmu, karena yang menjaga dan merawat kalian. Harus tahu Budi kepadaku!” oh ternyata Hikashi sudah menunjukkan tabiat posesifnya kawan-kawan. Baiklah-baiklah, mungkin ini sindrom kalau sindrom bapak-bapak terlalu lama mengurus rumah dan anak.


“Hihihi,” tertawa.


“Jangan memancingku seperti itu Fray! Sekarang kau membangkitkan si ular dalam celanaku! Kau harus aku mandikan, dasar istri nakal! Plakkk! “ memukul bokong istrinya kemudian membopongnya masuk kekamae mandi. Mereka berdua mandi bersama-sama sebagai mendekatkan ikatan batin suami-istri.


“Pijat yang benar Fray, punggungku sangat sakit. Sekarang Seven semakin berat bobotnya uhhh.”


“Begini?”


“Iyaya begini, pijatanmu enak.”


Frayza berterimakasih kepada Tuhan karena ia memiliki suami Hikashi. Rasanya ini masih seperti mimpi, ia mandi bersama seorang yang memiliki tahta dan harta. Namun, pria itu melepaskan semua atributnya untuk hidup sebagai manusia normal.

__ADS_1


“Biar aku yang urus anak-anak, kau pasti lelah mengurus rumah tangga.”


“Baiklah, aku akan menyiapkan meja makan untuk makan malam.”


Mereka membagi tugas masing-masing, tidak ada yang namanya siapa yang lebih tinggi dan rendah. Didalam rumah ini, Hikashi merupakan kepala keluarga yang cukup baik merawat dirinya.


“Kau kenapa Fray?”


“Saldo tabungan kita semakin menipis setiap hari, sedangkan gajiku hanya cukup untuk keperluan sehari-hari. Belum untuk biaya sekolah Jade ean lesnya. Bagaimana ini Suamiku?”


“Hembb begitu ya Sayang?”


“Apakah kau akan mencari pekerjaan?”


“Seven masih kecil, aku tidak tega meninggalkannya diasuh orang lain.”


“Apa aku saja yang keluar bekerja dan merawat mereka?”


Plethakkk! Jemari tengah Hikashi menyentil kening istrinya. “Bicara apa kau! Mendesain baju dan menciptakan busana yang luar biasa adalah bakatmu! Aku tidak akan se egois itu membunuh cita-citamu! Kau harus terus berkarya, karena itu jiwamu! Aku tidak suka mengurungmu dirumah ini. Mulai sekarang aku akan memangkas biaya rumah tangga kita. Diam dan jangan protes!”


Sejak saat itu, Hikashi benar-benar merombak habis-habisan skema pengeluaran rumah tangga. Tapi kenyataannya tidak bisa. Alhsil ia harus mencari pekerjaan untuk membantu ekonomi keluarga kecilnya ini. Ditambah lagi Seven yang sudah masuk sekolah taman kanak-kanak. Waktu berjalan dengan cepat. Tanpa terasa, bocah-bocah kecil itu tumbuh menjadi anak-anak yang setiap hari bikin ramai rumah.


“Sayang, ada kiriman sarapan dari tetangga sebelah.”


“Oh ya benarkah?”


“Iya, jadi aku tidak perlu lagi repot memasak. Dan kita bisa berhemat uang hihihi.”


“Suamiku sangat hebat muaachhh.”


“Mama, apa yang baru saja kau lakukan dipipi Papa!” Jade melihat adegan itu baru saja.


“Mama... Mama!” Seven menunjuk-nunjuk ibunya.


“Haii kalian ini, tidak bisakah duduk dan tenang sambil sarapan? Mama kalian adalah istri Papa. Dia begitu karena berterimakasih! “ alibi apalagi ini Hikashi! Kau membuat anak-anakmy memusuhimu apa?


“Seven, ayo kita pergi menunggu jemputan Bis sekolah kita. Bisa pecah gendang telinga kita kalau Papa mengomel.” Adiknya menurut saja dengan ajakan kakaknya.


Hikashi mendudukan Frayza di pangkuannya. Seraya menciumi leher istrinya yang penuh tanda kemerahan.


“Istriku, bulan depan ada ujian pegawai sipil. Bagaimana menurutmu?”


“Apakah kau sudah siap ikut tes.”


“Tentu, aku sudah berlatih giat selama sebulan ini. Terkadang aku kasihan melihatmu bekerja banting tulang seorang diri. Rasanya aku tidak rela memakan hasil jerih payahmu. Lagipula Seven sudah masuk taman kanak-kanak. Kita bisa bergantian menjemput anak-anak kita kan?”


“Tapi aku sudah terbiasa kau manjakan setiap hari sayang. Itu artinya kau tidak akan membuatkan kami bekal lagi.” Masuk kedalam ceruk leher suaminya.


Ia terkekeh karena Frayza begitu manja di pangkuannya. Dibalikkan tubuh istrinya, sehingga kakinya melingkari pingganya.


“Kalau kau takut, aku bisa mundur demi dirimu Sayang.”


“Jangan, ikutlah tes itu. Lagipula kan kau sudah tua, sainganmu anak-anak muda.”


“Begitukah? Kau mencoba mensabotase suamimu ya Sayang hahaha.”


Kiiittt... Menggigit bibir bawah Hikashi.”Awh... Aku akan menghukummu nanti malam sampai minta ampun!”


“Lakukan itu Sayang, besok aku libur kerja. Buat aku sulit berjalan sampai-sampai kepayang heheh.”


“Nakal!” ******* bibir Frayza yang begitu Indah dan lembut.


Lagi-lagi tinggal Hikashi seorang diri dirumah. Ia melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Sembari membereskan isi rumah. Ia menyimpan semua baju-baju usang karena kelunturan warna. Atau gosong disetrika. Sudah hampir setahun ia melakoni tugasnya menjadi suami, ayah, saudara dan sahabat bagi istrinya.


Inilah hidup yang ia damba-dambakan sejak dulu. Menjalani kehidupan sebagai manusia normal biasa. Waktunya tak terbatas untuk anak-anaknya. Jade sudah tidak membangkang dirinya. Dan si bungsu Steven mirip sekali dengan ibunya yang penurut. Inilah kebahagiaan Hikashinyang dapat ia wujudkan.


Titttt... Sebuah pesan singkat masuk. Ia bergegas mengganti pakaiannya dan mengunci rapat rumahnya. Sudah beberapa minggu ini Hikashi pergi secara diam-diam menemui seseorang. Setelah jam pulang Seven ia sudah ada dirumah lagi. Hingga akhirnya Hikashi telat pulang, dan Frayza terpaksa bolos kerja karena Seven menangis didepan pagar rumah. Tetangga memberitahukannya bahwa Hikashi pergi sejak siang hingga sore.


Sampai akhirnya Frayza bersama kedua anaknya menunggumu Hikashi diteras rumah. Berharap suaminya ingat pulang, karena keluarganya menunggunya.

__ADS_1


“Hikashi, kau dimana?” ucap Frayza mulai frustasi. Suaminya ternyata diam-diam memiliki perangai rahasia dibelakangnya.


__ADS_2