
BALI, INDONESIA.
Kepada pelayan kebersihan yang merapikan kamarnya. Julian berpesan bila menemukan barang yang mirip dengam di foto ponselnya, agae segera mengirimkannya kepada dirinya.
“Baik Tuan, nanti kalau saya menemukannya akan saya berikan.”
“Kau tenang saja, aku akan berikan imbalan yang besar. Karena baran itu sangat berharga dari orang yang istimewa.”
Mendengar iming-iming dari Julian, pelayang itu mulai mengerjakan tugasnya lebih teliti dari hari biasanya. Saat Julian pergi, seorang pelayan datang membawakan sarapan untuk Julian.
“Kemana perginya tamu kamar ini?”
“Seperti biasa, dia pergi berjoging di pantai.” Jawab rekannya yang sibuk merapikan tempat tidur Julian.
“Apakah kamar mandinya sudah kau bersihkan?”
“Oh belum, aku sedang membersihkan area ranjang ini sambil mencari gelang.”
“Gelang seperti apa?”
“Gelang Naga emas, dengan mata giok. Seperti...” dia melihat pergelangan tangan gadis itu memakai barang yang mirip dengan milik Julian yang hilang.
“Bendanya seperti apa?” tanya gadis itu lagi sambil menyiapkan makanan diataa meja.
“Bukankah kau sedang kesulitan keuangan? Akhir-akhir ini kau selalu mengeluh tentang biaya pengobatan ibumu yang mahal bukan?”
“Emmmb, iya.”
“Tantri, jawab jujur pertanyaanku. Dikama ini hanya ada kita berdua, bahkan aku bisa membantumu mendapatkan uang yang banyak asal kau mau bekerja sama denganku.”
“Tidak, aku tidak mau lagu melakukan hal kotor seperti itu lagi. Aku tak mau ibuku memakan uang haram dari hasil pekerjaan kotorku.” Gadis itu meracau tak karuan.
“Tenang dulu, aku tidak akan menjualmu kepada tamu hidung belang lagi. Kau cukup ikuti perintahku saja, maka semua akan beres.”
“Kau yakin tidak akan menjebakku lagi?”
“Maafkan tindakanku yang dulu pernah menjerumuskanmu kejalan pintas untuk memperoleh uang. Tapi, bekerja sebagai petugas kebersihan Hotel tidaklah cukup untuk kita yang hidupnya miskin.”
__ADS_1
“Pekerjaan apa yang ingin kau tawarkan?”
“Kemari, aku bisikan kepadamu akxnhemjchwiabdhian-#-%;%+¥?@*.” Tantri yang seksama mendengarkan arahan itu mulai mencerna tugasnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tapi aku takut,” Tantri tidak yakin untuk melakukannya.
“Kau butuh uang, dan ini pekerjaan yang tidak memalukan. Daripada kau menjual diri kepada tamu hidung belang. Lebih baik kau memakai cara ini untuk mendapatkan lebih banyak uang.”
“Aku sedang bingung karena sudah telat datang bulan.” Mengelus perutnya perlahan kebawah.
“Apa? Jangan katakan jika kau mengejar bayaran yang tinggi lantas mau mengabaikan perintahku untuk memakai pengaman!”
“Maafkan aku Wayan, aku tidak bermaksud teledor. Waktu itu Tuan James menolakku untuk dilayani, bila memakai alat kontrasepsi. Dia berjanji akan membayarku 3x lipat dari harga biasanya. Sedangkan dirimu selalu bilang akan meminjamkan uang kepadaku setiap terima gajian. Tapi kau selalu berbohong dan pergi berjudi.” Wayan mengunci rapat mulutnya saat Tantri menyudutkannya.
“Maafkan aku, sebagai pacar memang aku tidak berguna. Tapi aku janji, ini yang terakhir kalinya kita melakukannya. Setelah kita dapatkan uangnya, kita bisa pergi dan membesarkan anak kita.”
“Jangan dustai aku lagi, sudah jelas janin ini bukan benihmu. Tak perlu kau bersusah payah, aku akan berkata jujur kepada Tuan James. Bahwa aku mengandung benihnya.” Tantri melenggang pergi keluar kamar Julian.
“Dasar perempuan bodoh! Sudah diberi umpan, ada ikan tangkapan besar tapi memilih meladeni di James keparat itu!” Wayan mengamuk dengan membanting bantal kelantai.
Kesempatan ini digunakan Wayan untuk terus membujuk Tantri agar berhenti melayani nafsu bejat James. Dia ingin Tantri berhenti manjadi pemuas nafsu tamu yang sudah menginap selama dua bulan di Villa dan Hotel mereka bekerja.
“Kau mau kemana?” menghadang Tantri yang hendak keluar menemui James.
“Seperti biasa, aku butuh uangnya James. Kenapa? Kau ada uang?” tantang Tantri.
“Bukankah aku menyuruhmu untuk berhenti dan mulai menjalankan aksi kita?”
“Jangan coba-coba menjualku pada orang asing lagi. Atau aku laporkan dirimu karena menjadi mucikari untuk tamu hidung belang! “ Wayan terdiam lagi.
Sifat keras kepala Tantri ini sudah tidak bisa diobati lagi. Walaupun Wayan sudah menyuruhnya berhenti melayani James yang maniak. Sepertinya Tantri sudah sanget menikmati kegiatan binalnya bersama James.
“Ini salahku, sudah menjerumuskanmu kedalam pekerjaan yang kotor.” Wayan menyesali perbuatannya yang sudah mengubah Tantri menjadi wanita pemuas nafsu pria.
Di dalam kamar James sudah menunggu kedatangan Tantri, dia sudah duduk diatas sofa. James pria berumur 40 tahunan. Masih melajang, karena pekerjaanya sebagai investor di Negara berkembang. Dia berada di Bali untuk keperluan investasi juga.
“Hooo Darling, akhirnya kau tiba juga.” Ucap James menyambut Tantri.
__ADS_1
“Siap melayani sepenuh hati My Lord James,” menjulurkan lidahnya agar lebih nakal.
“Woohoooo,” James kegirangan dengan kenakalan Tantri yang mulai melucuti bajunya dari atas sampai bawah.
Tak hanya itu, Tantri juga pasrah saja saat James mencekokinya minuman berakhohol supaya lebih liar lagi aksinya. James benar-benar dibuat melayang-layang diangkasa saat mendapat kenikmatan yang luar biasa dari Tantri. Gadis itu begitu mahir memanjakan kenikmatana milik James yang sudah terbiasa dilayani Tantri. Saat ini Tantri menjadi oemuas nafsu yang sangat menikmati gelora dalam darahnya. Hingga dia mengerang begitu kuat dan mengulanginya lagi hingga akhir.
Setelah melakukan adegan yang cukup menguras energi dan birahi, akhirnya Tantri bangun dan membenarkan dandanannya. Dia mengambil sejumlah cek dan uang tunai yang sudah disiapkan James sesuai kesepakatan sebelumnya.
“Thank you Mr. James muaaaccchhh.” Tantri mencium pipi James yang masih tertidur lelap.
Saat membuka pintu kamar Villa yang disewa James, sudah berdiri Wayan didepannya dengan melempar celemek.
“Kau!” Tantri kaget diperlakukan kasar oleh Wayan.
“Ikut denganku!” Wayan mendorong troli makanan menuju kamar Julian.
Mereka sudah tiba di kamar Julian menginap. Dan terdengar musik yang mengiringi Julian mandi. Tantri yang masih kelelahan itu merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
“Kau gila ya, minggir!” Wayan menegur Tantri yang seenaknya saja.
“Ahhh aku masih lelah, lagipula tamunya masih mandi. Kau bereskan dulu bekas sarapannya, biarkan aku terlelap sebentar.”
“Bangun, nanti kita bisa dapar masalah kalau tamunya mengadukan kita berbuat tidak baik.” Tantri tidak menggubris wayan yang ketakutan.
Ketika Julian membuka pintu kamar mandi, barulah Tantri mau bangkit dan pura-pura merapikan ranjang.
“Oh kalian ya? “ sapa Julian kepada Wayan dan Tantri.
“Selamat siang tuan, ini makan siang tuan Julian sudah siap.” Wayan dengan ramah mempersilahkan tamunya untuk menyampat hidangan.
“Hemmb sepertinya enak hidangannya.” Ucap Julian antusias.
Baru kali ini Tantri mendengar suara penghuni kamar ini. Tenyata dia masih muda dan memiliki tubuh yang berotot, bahkan lebih Bagus dari James yang selama ini dia layani. Mata Tantri terus melototi area pribadi milik Julian yang sedang asik makan. Tanpa disadari bibir Tantri digigit, seolah ingin bermain dengan Julian. Hasratnya yang sudah padam dan dingin kini bergejolak lagi dan panas. Geloranya seolah tersulut melihat sosok pria tinggi nan gagah ini.
“Kami sudah selesai tuan, selamat menikmati pelayanan di Hotel kami.” Wayan yang tahu kalau Tantri menahan air liurnya untuk menyeret keluar kamar.
Namun, Julian tidak bergeming saat itu kalau ada perempuan yang begitu bergairah kepadanya. Dia hanya menikmati hidangan makan siang, sambil berpikir dimana dia kehilangan barang berharga itu. Dia hanya mengingat-ingat kembali kalau saja jatuh atau lupa disuatu tempat saja.
__ADS_1