TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
JIKA SUDAH MENJADI TAKDIR SAMPAI AKHIR


__ADS_3

Frayza sudah tiba di Apartemennya, Bibi Fang sedang menyuapi Seven sambil menonton acara kartun.


“Kau sudah pulang?” tanya Bibi Fang yang menyambut Frayza datang.


“Bi, harga ponsel kenapa mahal sekali ya. Dimana ya kira-kira aku dapat ponsel bekas dengan harga terjangkau?”


“Apa kau tidak punya tabungan?” Frayza menggelengkan kepalanya.


“Sepertinya aku benar-benar harus bekerja lebih keras lagi, Bi. Biaya hidup disini sangat mahal, dan aku tidak bisa membiarkan Seven terlantar.” Memegang pipi tembem bayinya.


“Serahkan saja Seven kepadaku, kau bisa mencari pekerjaan mulai besok.”


“Bi, aku bukan orang yang berpendidikan tinggi. Paling jari pelayan atau tukang bersih-bersih.”


“Terkadang pekerjaan membutuhkan selembar kertas sebagai tiket masuk. Padahal Bibi tahu kau memiliki banyak bakat dan kepintaran.”


“Bi, apa aku bawa Seven ke Amerika saja ya?”


“Tidak boleh!” mukanya memerah.


“Hohoho aku bercanda lah Bi, jangan serius. Tapi, kalau Bibi mengijinkan aku membawa Seven hemmmb...” tangan Bibi Fang sudah membekap mulut Frayza yang meracau.


“Aku katakan tidak boleh, artinya ya tidak boleh!”


“Baiklah, tapi aku harus bekerja apa hufttt.” Merebahakn kepalanya dipunggung Bibi Fang.


“Bersantai sajalah dulu, sekarang ada Julian yang bekerja. Dia tidak akan membiarkanmu kelaparan.”


“Tapi Seven akan tumbuh besar dan masuk sekolah huft semakin berat saja beban hidupku.”


“Kau ini terlalu banyak mengeluh, pergilan mandi. Aku tidak mau Seven terkena polusimu!”


“Baiklah Bibi Fang jika itu maumu, aku mandi dulu.”


Tak berselang lama, Julian datang dengan membawa menu makan malam.


“Selamat malam Bibi Fang, hari ini Bibi Fang mampir ya?”


“Hai Julian, kau pulang lebih awal ya?”


“Iya Bi, karena hari masih sore dan cuaca mending. Aku tutup saja Butiknya, dan membeli menu makan malam. Hidangan laut, tarrraaa.” Mengangkat rantang makanan.


“Wah sepertinya lezat sekali, hemmmb. Seven, kau belum boleh makan itu ya. “ canda bibi Fang kepada Seven.


“Oiya, daritadi aku tidak melihat kak Frayza. Ada dimana dia?”


“Aku menyuruhnya mandi, karena baru dari luar.”


“Mencari apa?”


“Dia mencari ponsel baru, tapi harganya mahal-mahal. Jadi ia membeli popok dan susu, ini.” Melirik barang belanjaan Frayza.


“Ya Tuhan, kenapa dia tidak bilang kepadaku.”


“Mungkin ia sungkan, sedangkan ia tidak bekerja. Memikirkan kebutuhan Seven saja dia harus berhemat berpuluh-puluh kali.”


“Baiklah, tipe ponsel yang cocok untuk Kak Frayza. Tap tap tap... Ayo muncullah.” Julian membuka aplikasi jual beli on line.


Frayza keluar dengan handuk dikepala usai keramas. “Julian, kau sudah pulang. Kakak belum masak, kita makan mie instan saja ya.”


“Tidak perlu memasak Kak, aku sudah membeli makanan laut.” Matanya sibuk memilih ponsel.


“Benarkah?”


“Heem,” jawabnya singkat.


“Bibi Fang, kau pasti lelah menjaga Seven. Lebih baik Bibi Fang dan Julian makan terlebih dahulu. Aku mau menyusui Seven dulu dikamar.”


“Baiklah, ayo Julian.” Ajak Bibia Fang.


Ternyata Julian masih asik bermain dengan ponselnya mencarika ponsel untuk kakaknya. Bibi Fang yang menyayanginya sesekali menyuapi Julian seperti anak kecil.


“Apa kau serius membelikan ponsel untuk kakakmu?”


“Iya Bi,” mengunyah makanan.


“Frayza itu orangnya sederhana, dia akan merasa bersalah kau membelikan ponsel yang mahal. Bukannya terharu atau senang, justru ia akan memarahimu karena boros.”

__ADS_1


“Terimaksih Bi, sarannya.” Julian sudah menekan tombol dikirim. Berarti barang itu sudah berhasil terbeli.


Setelah selesai makan, Bibi Fang berencana pulang. Namun ditahan oleh Julian, dia ingin Bibi Fang lebih lama lagi untuk tinggal. Sampai Frayza keluar kamarnya.


Bippp... Bippp... Suara bel apartemen itu berbunyi, Julian meloncat dan membuka pintu. Seorang kurir mengantar barang sudah tiba membawa paketan barang.


“Terimakasih Pak,” menerima paket barang dari kurir.


“Apa itu?” Bibi Fang penasaran.


“Nah, mari kita buka bersama-sama.”


Julian menggunting paket barang tadi yang ia beli. Dua buah unit ponsel baru ia beli saat itu juga.


“Satu ini untuk Bibi Fang yang baik dan satu ini untuk Kak Frayza yang cantik.”


“Apa? Untukku?” Bibi Fang terenyuh bahagia.


“Tentu saja, aku selalu merindukan Bibi Fang. Tanpa Bibi Fang, aku tidak akan sanggup merawat bayi. Terimalah kado dariku ini Bi,” bujuk Julian menyodorkan kardus ponsel baru.


“Terimakasih Julian,” memeluk Julian karena haru.


Frayza yang selesai menyusui Seven heran, kenapa Julian dan Bibi Fang berpelukan. “Kalian sedang apa?”


“Kak, kemari!” perintah Julian.


“Ada apa?” penasaran juga jangan-jangan ada hal buruk nih.


“Julian memberikanku ponsel baru, hiks.” Mengusap air mata harunya.


“Wah selamat ya Bibi Fang, hehehe.” Ucap Frayza menyelamati Bibi Fang, dirinya tidak tahu kalau ia juga dapat kejutan dari adiknya.


“Ini untukmu Kak, terimalah.”


“Hai adikku yang nakal, kakak tidak minta apapun darimu.”


“Kak, Seven adalah keponakanku. Aku tahu kau tidak punya ponsel karena Seven sering membantingnya. Pakailah Kak, aku ikhlas memberikanmu ponsel ini.”


“Tapi Julian, kakak tidak bisa menerima ini secara cuma-cuma.”


“Oh iya!” teriak Bibi Fang.


“Jika Kak Frayza tidak keberatan aku tidak masalah sih. Tapi, butikku mayoritas memproduksi pakian pria.”


“Tidak masalah, selama aku bekerja magan di perusahaannya Helen juga membuatnya.”


“Nah,kolaborasi yang cocok itu. Soal Seven biar aku yang merawatnya sebagai kesibukan,bagaimana”


“Bibi Fang serius? Aku mana mampu menggajimu Bibi Fang.”


“Sudahlah Kak, kalau untuk Seven akan selalu aku upayakan; Bibi Fang, mulai besok kau boleh bekerja disini; Dan untuk kakakku tersayang ini, besok silahkan bergabung ditempat kerjaku.” Menggelayut manja dipundak Frayza.


“Iya,terimaksih ya.”


“Sama-sama...hahhaha” mereka tertawa lepas dan bahagia.


Julian mengantar pulang Bibi Fang, sedangkan Frayza menyiapkan perlengkapannya untuk besok bekerja. Tak lupa pula, ia memompa sumber kehidupa untuk Seven. Agar nutrisi bayinya tercukupi.


*


*


*


Hari terus bergulir dengan cepat, Frayza berhasil membuat karya yang banyak diminati oleh klien butik mereka. Tak jarang, pula ada pesanan khusus dari orang penting mereka kerjakan.


“Kak, untuk mendapatkan bahan ini aku harus mencarinya kemana?”


“Emmmb, bahan ini mahal kalau dari Cina dan Jepang. Kakak sarankan saja kau mencarinya ke India saja. Disana harganya sangat terjangkau dan kwalitasnya juga baik. Dengan sedikit menambahkan aksen pada pakaian. Maka klien tidak akan peduli bahan kain ini berasal dari negara mana.”


“Apa kau bisa terbang ke India?”


“Apa kau sedang bercanda denganku?” tanya balik Frayza.


“Hohoho jangan tersinggung Kak, soalnya aku belum pernah ke India juga.”


“Apalagi aku, tapi aku punya catatan beberapa toko langganan Helena. Kau bisa menuju kesana langsung, ini dia alamatnya.”

__ADS_1


“Kak Frayza yakin tidak mau ikut?”


“Aku tidak bisa, ada Seven yang membutuhkanku. Kau bisa pergi sendiri kan,”


“Yaaahh,” mengeluh lagi.


“Jika Seven sudah sedikit besar, mungkin aku bisa mewakilimu kesana. Seven sedang tumbuh gigi, dia sedang rewel-rewelnya kalau bengkak gusinya.”


“Baiklah... Baiklahhh.” Kesal Julian harus mengalah.


“Sebaiknya aku buatkan kau beberapa daftar kain yang bisa kau beli. Rencananya aku mau menbuat baju berpasangan. Jadi kita butuh inovasi baru, agar tidak monoton produknya.”


“Itu ide yang bagus Kak, titip butik ya Kak selama aku di India. Jangan capek-capek ya, dan kalau perlu suruh Bibi Fang menginap saja untuk menemanimu.”


“Terimakasih banyak atas nasehatnya adikku yang bandel.” Mengacak-acak rambut Julian.


Selain menyiapkan barang bawaannya, Julian juga mengecek daftar belanjaan yang Frayza tulis tadi. Ini adalah kali pertama Julian pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Di India pula lah, pesawat Hikashi sudah mendarat. Pria gagah itu membenarkan jasnya sembari menuruni tangga pesawat. Ditemani Matsumoto yang selalu Setia menjadi bayangannya.


“Tuan muda, Nona Franda sudah menempati salah satu unit The Royal Golden.”


“Hemmb,” jawabnya dingin.


“Dan, sepertinya ia sudah muka menyukai kehidupan barunya. Ini laporan transaksi keuangan dari kartu yang anda berikan.”


“Cih,” sindir Hikashi.


Pria sinis itu sudah hapal tabiat wanita jika sudah belanja. Mereka membeli segalanya tanpa melihat harga dan fungsinya.


*


*


*


“Bijaklah berbelanja kebutuhan disana, jangan lapar mata.” Pesan Frayza.


“Kak, aku akan segera pulang ketika selesai urusannya. Aku akan merindukanmu dan Sevenku muaaccchhh.” Menciumi keponakannya yang semakin hari menggemaskan.


“Hamberrrrsss... Bursssss.” Celoteh bayi imut menggemaskan dikereta bayi.


“Uwww lucu sekali sih keponakanku, kalian aku bawa saja ya ikut ke India. Kita naik gajah disana.”


“Eh tidak bisa, peraturannya sudah jelas. Kau yang inisiatif, aku hanya memberikan saran. Sana masuk ke pemeriksaan, jangan banyak alasan. Daaa daaaa paman Julian fusss fuusss cepat terbang hahaha.” Mengajari Seven untuk mengusir Julian pergi.


“Dasar kakak kejam, awas saja. Kalian pasti merindukanku nanti hiks.” Julian berat melepas kedua orang yang paling berharga dalam hidupnya untuk saat ini.


Seperti akan pergi untuk waktu yang lama, itulah sifat Julian yang manja dan masih kekanak-kanakan. Ia begitu nyaman dan bahagia saat tinggal bersama Frayza dan Seven.


Bugh, ponsel Kenzo jatuh ketika sedang menelepon Matsumoto. “Apa mataku ini tidak salah lihat.” Menyeka berkali-kali matanya. Kenzo melihat Frayza dan Seven di bandara saat mengantar Julian pergi.


Buru-buru ia mengambil ponselnya dan mengambil rekaman gambar. Dia begitu bermetaran merekamnya, karena bisa termasuk tindakan ilegal. Kemudian ia mengirim video tersebut, bahkan plat mobil yang dipakai Frayza ia tangkap photonya. Tak hanya itu, Kenzo juga mendeteksi keberangkatan Julian ke India. Semua data base manifes segera ia terima. Dan benar, Julian tengah menuju ke India.


“Apa yang membuatmu begitu serius? Apa saham perusahaan anjlok?”


“Ti-tidakk Tuan muda, maaf saya harus permisi dulu. Kenzo sedang butuh bantuan, saya hendak mengaktifkan leptop.”


“Hemm,” Hikashi kembali berjemur ditepi kolam renang.


Matsumoto berulang kali memperbesar video yang baru saja Kenzo kirim. “Astagah, ini benar!” Matsumoto keceplosan.


“Sekali lag kau berisik, minum sampai habis air kolam ini!” Hi kash murka.


“Ma-maafkan saya Tuan muda.” Matsumoto menutup kembali leptopnya.


“Matsumoto, tidakkah kau lupa untuk menyiapkan wanita untukku?”


“Oh iya, baik Tuan Muda. Segera saya jemput wanitanya.”


Matsumoto tidak menutup dengan benar layar laptopnya. Dalam keadaan menyala terlihat siluet gambar wanita dari layarnya. Sepertinya wanita itu spesial bagi Matsumoto. Jad Hikashi tidak pedulikan hal itu.


“Kita lihat, secantik apa wanita rahasia Matsumoto itu.”


Ternyata Hikashi sudah menggandakan akun email Matsumoto. Jadi ia bisa membobol akses pribadi milik Matsumoto, termasuk video kiriman dari Kenzo.


“Fray!” menyebutkan nama wanita yang terekam.


Mata Hikashi memerah dan wajahnya meradang. Ternyata selama ini ia sudah ditipu habis-habisan oleh Ramon dan Dokter Kelvin. Mereka mengatakan kalau Frayza tidak akan siuman dan sadar kembali. Tapi, ada bayi digendongan Frayza. Mustahil, wajahnya sangat mirip dengan dirinya ketika bayi. Ia meminta Patrick untuk mengirimkan photo bayinya. Dan hasilnya, presisis mirip.

__ADS_1


“Tidak mungkinnn.” Lutut Hikashi lemah bertumpu pada tanah. Ia tak bisa lagi mengelak jika anak yang digendong Frayza itu diyakini olehnya. Dia mencocokan usia si bayi dan kemiripan wajahnya. Hikashi tidak bisa menahan diri lagi untuk segera mengorek informasi lebih dalam tentang tabir kelam.


__ADS_2