TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
MASIH MILIKMU SEUTUHNYA


__ADS_3

Dengan tatapan yang merendahkan, petugas Resepsionis menyeretnya keluar dengan kasar. Bahkan ia hingga terjatuh dilantai dipelataran Hotal. Seperti yang Frayza ingat, setiap tanggal 5 Hikashi pasti akan datang di Kondominium pribadi miliknya. Tempat yang menjadi sarang terapi kejiwaan suaminya. Tapi sekarang yang datang ialah Patrick bersama staff khususnya. Frayza langsung berteriak “Patrick!”.


Suara yang tak asing dan sangat ia ingat, begitu jelas memanggil namanya. Tapi pihak keamanan Hotel segera menyeret pergi keluar area depan.


“STOP!” Patrik memerintahkan agar kedua orang yang mengusir Frayza berhenti.


Benar-benar mukjizat yang ia lihat dihadapannya ini. Ialah Frayza, nyonya besar Alexander. Patrick ialah satu-satunya orang yang memeriksa teliti dan mengetes keabsahan jasad dalam peti mati itu. Dia yakin seyakin-yakinnya bahwa tiada satu tanda yang dimiliki ditubuh Frayza. Hal yang membuat Patrick yakin jika jasad itu bukan Frayza, ialah bekas luka robekan. Dulu Franda melahirkan dengan operasi, ada ada bekasnya.


“Nyo-nyonya, inikah kau? Apakah kau nyata masih hidup?” memegang kedua pipi dingin Frayza.


Wanita malah itu menitikan airmata bening yang mengalir bak berlian jatuh. Wajahnya memerah seketika, akhirnya ada orang yang mengenalinya juga.


“Patrick... Aku...” frayza tak sadarkan diri dalam kondisi lemah.


Setelah dibawa di kastil Alexander, ia sudah 3 hari tidak makan dan kelelahan. Beruntungnya Patrick membawa kembali nyonya, dan dapat tertolong.

__ADS_1


Sementara itu, di Hotel yang sama yang menjadi tempat kejadian pengusiran Frayza. Jade mengurungkan niatnya untuk menemui Sava. Ia melihat Patrick di lobi Hotel membawa wanita kedalam mobilnya. Setelah ia mendengarkan penuturan langsung dari Dokter yang ia cecar pertanyaan. Jade terduduk lemas, ia merenung di ruang kerja milik ayahnya. Lampu sengaja ia matikan dan menyalakan musik klasik menemaninya.


Setelahnya Frayza sadarkan diri, ia mendapati Patrick mengganti handuk basuh. Pria paruh baya itu hanya tersenyum sopan saja. Kemudian menutup pintu, sepertinya para pelayan wanita membawakannya baju ganti. Gaun warna gading dengan aksen emas dikancing. Dibantu penata rias yang profesional, sekarang penampakan nyonya besar itu sudah kembali auranya.


Pada ruangan kerja Hikashi inilah kedua putranya menunggu Frayza. Steven si bungsu tidak tahu jika kejutan besar tengah menantinya. Dan Frayza masuk, terjadilah pertemuan yang mengharukan diantara ketiganya. Jade meminta maaf karena ulahnya yang tidak mau membantu Frayza kala itu ia tak mengenali Frayza yang dalam kondisi buruk. Sedangkan Seven bahagia dan menangis haru, ibunya sudah kembali. Sekarang Frayza sudah bersama kedua jagoan hebat.


Tap... Tap... Suara derap sepatu yang beriringan mengikuti langkah orang terpenting. Hikashi muncul melihat Frayza untuk sekian lama waktu. Pria itu membatu dan memiliki tatapan kosong. Hatinya seketika berdetak kencang seperti goncangan gempa. Tahu jika kedua orang tuanya membutuhkan waktu untuk bicara. Jade dan Steven memberikan ruang agar privasi orang tuanya berjalan rahasia.


“....” menggigit bibirnya.


Hikashi lantas bersujud dan merunduk dan menjatuhkannya pandangannya kebawah. Semberi berkata “Hukumlah Aku sepuasmu, Frayza!” pintanya.


“Aku yanh menyebabkan hidupmu sulit, seluruh malapetaka yang kau alami. Akulah sumber deritamu, ambil nyawaku jika Kau menghendakinya.”


“Hikashi, Aku datang bukan untuk menyakitimu. Aku kemari ingin bersama kedua putraku, tidak ada maksut lain.” Frayza meyakinkan Hikashi yang masih merunduk.

__ADS_1


“Aku memang pantas untuk Kau buang sejauh mungkin, pria yang gagal menjaga belahan jiwanya. Frayza, betapa gilanya Aku menganggap bayanganmu seolah dirimu. Rasa penyesalanku atas dosa-dosaku begitu besar. Hingga Aku berimajinasi Kau ada dan masih hidup, jika Kau tak inginkan hidupku lagi. Aku siap menjadi pijakan api neraka mu. Biar aku yang menanggung seluruh dosaku, dan Kau pergilah ke surga.”


Hikashi masih berpikir jika wanita yang dianggapnya bicara ini merupakan arwah imajinasinya. “Aku masih menjadi manusia, peganglah tubuhku!”


Mata yang sudah memerah itu menatap penuh makna. Tangannya bisa menyentuh bagian pucuk milik Frayza. Badan yang hangat, aroma tubuh yang Wangi, dan begitu nyata.


“Aku masih hidup Hikashi, Mau kah kau menerima ajakan rujukku?”


Tanpa pikir panjang lagi, Hikashi menggendong depan Frayza. Ia menangkup wajah cantik istrinya. Dihujani ciuman rinda dan agresif pria yang haus wanita. Tanpa perlawan yang kuat, sekarang Frayza sudah berada diatas meja Hikashi yang isi diatasnya sudah berserakan dilantai. Pria itu segera melucuti setelan jas dan tautan benang yang dikulit. Ia segera melancarkan aksinya yang lembut hingga brutal, dari dalam ruangan kerja ini dia bisa merasakan miliknya begitu nikmat. Entah berapa kali ia dijambak oleh Frayza. Wanita itu sepertinya sudah meledak berkali-kali akibat serangan rutin yang Hikashi berikan.


Tiba waktu makan malam, penjaga yang berdiri didepan sisi pintu masih melarang orang untuk mengganggu aktifitas didalam. Sebelum ada pe2rintah untuk membuka pintu, maka akses siapa pun ditolak.


“Apa sakit?” Hikashi menanyakan jika permainannya tadi kasar.


“Hmmmm tidak, aku menikmatinya.” Kepalanya berada diatas paha Hikashi yang berotot.

__ADS_1


Pria gagah itu sengaja duduk dilantai usai bercumbu seharian. Frayza hanya memakai kemeja putih sebagai penutup tubuhnya. Hikashi menciumi seluruh jengkal kulit Frayza, ia membelai lembut helai demi helai rambut. Dipeluknya erat hingga keduanya terlelap tidur diatas sofa.


Cukup sekian dulu ya, nanti Author sambung lagi besok. Sekarang Author sudah masuk tahap pemulihan mata. Terimakasih atas do’a Readers.


__ADS_2