
Semua makanan diatas meja yang selama ini dibenci Jade. Karena berbahan sayuran, rasanya menjadi enak. Anak kecil itu tersenyum melihat ibunya makan disebelahnya. Frayza mengelap bibir Jade yang belepotan ini membuat bocah itu semakin kalap. Ia sengaja meminta banyak makanan didalam piringnnya. Karena ia tahu ibunya lah yang akan menyuapi, memisahkan duri ikan dan mengelap bibirnya. Jade sangat bahagia karena ia memiliki ibu yang keren.
“Eeehhheeemmmbb,” Hikashi mengelap bibirnya dengan sapu tangan, ia mengisyaratkan untuk mengakhiri sesi makan bersama.
Tetapi lagi-lagi diujung meja ia harus melihat iri, anak dan mantan istrinya saling suap-suapan.
“Jade, sayur ini sangat baik untuk matamu. Apakah kau mau?”
“Mau Mamah, suapi aaaaa... “ Dasar Jade, padahal biasanya ia menyentuh saja tidak mau. Giliran ada ibunya yang menyuapinya ia lahap.
“Ini ada ikan segar, bagus untuk daya ingatmu. Apakah kau mau mencobanya sayang, Mama akan pisahkan dari durinya.”
“Aku sangat suka ikan Mama, mau tambah lagi.” Anak ini kenapa bisa berubah menjadi sangat manis. Padahal ia bisa marah ketika dipaksa makan ikan. Kenapa anak ini menjadi penurut seperti ini.
Lagi-lagi Hikashi berdehem meminta perhatian dua orang yang asik makan diujung meja. “Eeeeerrrrhhhheemmmmb,” kali ini deheman Hikashi lebih panjang sampai matanya melotot.
“Papa, jika kau sedang sakit biar Patrick. Memanggilkan Dokter untukmu. Tidak sopan bersuara saat makan.” Celoteh anaknya yang seolah mengusir Hikashi. Sepertinya Jade ingin berlama-lama dilayani Frayza.
“Jade, berhenti makannya. Papa tidak mau kamu semakin bengkak. Perhatikan perutnu yang sudah penuh!”
“Mama belum selesai menyuapiku Pah, jika aku menyisakan makanan. Berarti aku tidak menghargai uangmu dan para koki yang sudah bekerja keras. Lihatlah Pah, makanan sebanyak ini kalau tidak aku cicipi semua akan sia-sia bukan?” Apa-apaan kau ini Jade, jelas-jelas kau hanya menikmati kasih sayang dari ibumu. Tidakkah kau peka bila ayahmu juga cemburu!
Anaknya tak lagi memperdulikan nasehatnya, lebih asik makan dan makan terus. Hikashi menyelesaikan makan malamnya dan pergi. Sebal juga lama-lama melihat anaknya yang ganjen.
Untuk melampiaskan kekesalannya, Hikashi mendatangi kamar Seven. Berharap ada kesempatan bermain bersama si bungsu. Kali ini Hikashi mendapat ide, agar Jade cemburu padanya.
“Seven, ayo main sama Papaaa.”
“Sssttttt...” Bibi Fang menempelkan jari telunjuknya di bibir.
“Ups,” menutup kembali pintu kamar si bungsu yang telah tertidur pulas.
Pantas saja Jade super manja kepada Frayza. Karena adiknya sudah terlelap tidur lebih dulu. Jadi ia bisa bermanja ria dengan ibunya sekarang. “Dasar, kenapa aku tidak ikut bergabung mereka saja hih.” Hikashi menyeringai tersenyum mendapat ide.
Usai makan malam, Frayza mengajak ibunya kedalam kamarnya. Kamar anak seusianya ini tergolong mewah dan modern. Fasilitas ini diberikan Hikashi untuk mendukung program pembelajaran.
“Duduklah disini Mah,” menepuk ruang kosong diranjang.
“Jade apakah ini kamarmu?” Frayza tertegun melihat dekorasi kamar si sulung.
Sembari merebahkan kepalanya dipangkuan ibunya. Jade meraih tangan ibunya untuk mengusap punggung dan kepalanya. Perlahan-lahan Frayza mengerti, seperti inilah Seven kalau mengantuk. Ia mengusap-usap bagian kepala Jade, rambutnya sangat halus dan Wangi.
“Sayang, Nak kau tidur?” ternyata Jade sudah terlelap dalam dekapannya. Frayza menyelimuti Jade, dan mengapitnya kiri-kanan dengan guling.
Ia mencium kedua belah pipi putranya dan terakhir keningnya. Frayza menuliskan pesan manisnya kepada Jade, jika esok ia membacanya.
Didepan pintu sudah ada pelayan wanita yang menunggunya keluar. Ia diperintahkan oleh Patrick membawakan tas Frayza. Sekarang ini sudah selesai waktu kunjungan Frayza. Setelah seharian ia menemani anak-anaknya.
“Fray, bisakah kita bicara sebentar.” Kalimat ini terlontar saat Frayza masuk kedalam lift.
Tentu saja, pelayan wanita yang bersamanya keluar. Dan Hikashi masuk kedalam lift yang sama. Ia menutup lift itu menuju lantai 1.
“Maaf, ketika kau sakit tidak menjengukmu. Dan terimakasih kau bersedia meluangkan waktumu disini.”
“Sama-sama,” menyelipkan anakan rambutnya dibelakang telinga.
“Fray, soal kejadian di meja makan tolong jangan diulangi lagi. Itu bukan cara mendidik anak yang baik. Saat makan anak harus memiliki etika dan sopan santun.”
“Maafkan aku,” merunduk.
“Hmmmb,” Hikashi menahan pintu lift agar tidak terbuka. Dan Frayza sontak mendongakkan wajahnya.
“Tolong bukakan pintunya, aku ingin keluar.”
“Aku belum selesai bicara.” Tersenyum picik.
“Apalagi?”
__ADS_1
“Soal kejadian di kamar Seven, kita sudah bukan suami istri lagi. Tapi kita sudah berpisah, ku harap kau mengerti maksudku.” Memperagakan Frayza yang asal membuka bajunya, lalu menyusui Seven.
“Itukann upss.” Dirinya lupa jika Hikashi adalah pria normal, sekalipun waktu kejadian di Singapura mereka sudah melakukan hal lebih.
“Hihihi,” menekan tombol pintu terbuka lift. Tanpa malu, Hikashi seolah mengintimidasi Frayza yang mulai berpikiran macam-macam.
Ia teringat saat bercumbu begitu panas dengan Hikashi. Rasanya Frayza merasa dirugikan sebelah pihak. Tapi tubuhnya menerima perlakuan tidak seronoh Hikashi. Bahkan setiap malam Frayza merasa haus akan sentuhan Hikashi. Ia benar-benar bingung mengatasi situasi ini.
“Selamat malam Tuan William,” pamit Frayza sebelum bergegas berlari, takut diterkam lagi oleh mantan suaminya.
Patrick menunggu Frayza diteras, berdirilah sopir dan pelayan wanita yang membawa tasnya. Patrick mengatakan jika besok pagi sopir akan menjemputnya kembali.
*
*
*
Setelah menempuh perjalan yang tidak begitu lama, tibalah Frayza di kamar studio kecil yang disewakan Helena untuk dirinya.
Frayza melihat kamar ini lengkap isinya, ada lemari pendingin kecil, dapur bersih, kamar mandi dan ranjang kecil. Frayza merasa sangat bahagia tinggal di kota ini. Ia akan menetap disini dan bekerja dengan baik. Karena yang menjadi tujuan hidupnya adalah anak-anaknya.
Pagi-pagi sekali Frayza pergi ke binatu umum untuk mencuci pakaiannya yang kotor. Ia belum sarapan dan hanya minum susu. Sedangkan untuk meminum obat, ia harus sarapan terlebih dahulu. Frayza tidak mendapati penjual nasi, ia tidak terbiasa sarapan dengan roti. Ini sungguh menyiksa dinegara orang. Lalu ia memutuskan kembali ke huniannya, dan merapikan isi lemari.
Setelah selesai dengan kegiatan beres-beresnnya. Frayza merias dirinya di kaca, ia melihat bahwa wajahnya layu dan pucat. Ia membandingkan dirinya dengan Nathalie yang muda dan cantik.
“Cih, aku tidak ada sekukunya dengan Nathalie. Aku hanya wanita bodoh, rela bercerai tanpa aku ketahui alasannya.” Menertawakan dirinya sendiri, Frayza menyisir rambutnya yang panjang.
Terdengar suara bel berbunyi dari luar, ternyata sopir pribadi sudah tiba untuk menjemputnya. Frayza keluar dengan pakaian sederhana. Kaos dibalut sweater dan celana jins belel. Ia mengenakan sendal slop yang nyaman baginya. Sungguh tidak feminim sekali, pikirnya. Sebenarnya Frayza malu mendatangi rumah mantan suaminya yang megah. Tapi demi anak-anaknya, Frayza mengabaikan hal itu.
Pagi ini Jade bangun lebih awal, ia menendang guling yang mengapit tubuhnya. Ia meloncat dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Bahkan pelayan yang mengasuhnya baru saja membawakan handuk. Jade mandi sendiri, dan memilih bajunya. Anak kecil itu tampak ceria pagi ini. Sebelum ia mengambil air putih diatas nakas, ada sepucuk pesan cinta dari Frayza. Ia mengatakan bila ibunya sangat mencintai dirinya. Dan minta maaf tidak mengenalinya karena mengalami trauma hilang ingatan.
“Tidak masalah Mama, asal kau kembali lagi. Mari kita buat kenangan lebih banyak lagi.” Jade memasukkan suratnya kedalam laci.
Ia keluar kamar dengan wajah yang cerah dan sumpringah. Ia tahu bahwa hari ini ibunya akan datang. Jade sudah berdiri di teras, tapi menurutnya teras dengan pintu gerbang sangat jauh. Jadi ia pindah lokasi menunggu di pos penjagaan dekat pintu gerbang.
“Tuan kecil, sebaiknya anda kembali kedalam saja ya. Ini masih pagi.”
“Tidak, aku sedang menunggu Mamaku.”
“Aku ingin menjadi orang yang melihatnya datang hehehe. Kau santai sajalah, abaikan aku.” Tumben sekali Jade bicara ramah, biasanya ia ketus dan marah-marah tidak jekas bila diatur selain ayahnya.
Dari kejauhan terlihat mobil sedan berwarna hitam dengan simbol milik klan Alexander. Pintu gerbang terbuka dan Jade berlari menghadang mobil. Sehingga hampir terjadi kecelakaan.
“Astagah!” teriak si sopir yang mengerem mendadak.
Frayza keluar dari mobil mendapati Jade sudah tersungkur. Anak kecil itu mengalami luka ringan. Frayza dan pengawal panik, kalau-kalau Jade mengalami luka dalam.
“Jadeeee,” mendekap putranya.
“Aku tidak apa-apa Mama, aku terlalu bahagia menyambutmu datang.” Memberikan senyuman manisnya.
“Tapi kau terluka Nak, lihat sikumu berdarah.”
“Aku anak laki-laki ini tidak apa-apa Mama. Sudah biasa bagiku mendapat cidera kecil ini.” Padahal ia menahan rasa perih dan pedih kulitnya yang tegores.
Pengawal melaporkan hal ini kepada Patrick. Dan benar saja, berita ini sampai ditelinga Hikashi yang sedang olah raga pagi. Raut wajah Hikashi menjadi merah dan menghentikan kegiatan paginya.
Frayza tampak panik dengan kejadian pagi ini. Ia mengetahui kalau Jade sebenarnya menahan rintihannya. Namun, Frayza mendekat lalu mendekap putranya.
“Lain kali, biar Mama saja ya yang mendatangi. Ini berbahaya, Mama tidak mau kau terluka seperti ini. Papamu sudah menjaga dan merawatmu dengan baik. Di pasti akan maraha kalau kau nekat begini. Berjanji ya jangan diulangi?” Frayza menangkup wajah putranya agar menyetujui permintaan.
“Baiklah Mama,” jawabnha polos.
Ternyata Hikashi sudah membawa penggaris untuk menghukum Jade. Frayza melihatnya dan disembunyikan kembali dibalik badannya. Sempat terjadi kontak mata yang cukup lama. Seolah Frayza mengatakan “Jangan sakiti anakku, ini semua salahku. Hukumlah aku!”
Dan Hikashi pergi dengan penggarisnya, dalam hatinya ia berkata. “Jika tidak ada kau, sudah aku tertibkan anak nakal itu. Tidak aku, bahkan anakku seolah menjadi budakkmu. Selalu bertekuk lutut terhadapmu. Baiklah, kali ini aku berikan peringatan!”
__ADS_1
Pagi ini Frayza dan Jade sarapan bersama, sedangan Hikashi berada dikamar Seven. Ia menyuapi anak keduanya yang lucu dan menggemaskan. Seven pagi ini bisa diajak kompromi dibawah pengawasan ayahnya. Bibi Fang menyiapkan Seven untuk menemui Ibunya. Tapi Hikashi melaranganya, meminta Frayza sendiri yang datang.
Hal ini disampaikan Frayza yang usai sarapan bersama Jade. Awalnya Jade mau ikut bersama Frayza menemui adiknya. Tapi Patrick mengatakan kalau ia sedang terluka. Tidak boleh banyak bergerak. Jadi Jade memutuskan untuk melihat dari kejauhan saja. Rasa cemburu dan iri terhadap kasih sayang ibunya mulai tumbuh. Bibir Jade menggulunh dan matanya tak berkedip.
Didalam kamar ini hanya ada Hikashi bersama Jade, mau tidak mau Frayza harus menyapa mantan suaminya. Situasi ini lebih mencanggungkan, karena Hikashi seolah ingin mengatakan hal yang sempat tertunda tadi pagi.
“Mengenai tadi pagi, itu kesalahanku jadi. Hukumlah aku saja, jangan Jade anakku?” Frayza meraih tangan Hikashi secara reflek.
“Apa aku bilang? Hukum? Iya! Aku memang berencana menghukummu Fray! Apa kau tidak sadar bahwa putraku menjadi penurut kepadamu. Dan pembangkang kepadaku!”
Mengetahui Hikashi dan Frayza beradu pendapat, maka bibi Fang membawa Seven keluar kamar. Mereka berdua dibiarkan menuntaskan masalah yang tengah dibicarakan.
Patrick berjaga diluar, agar tidak ada seorang pun yang menguping. Padahal dirinya sendiri juga menguping tanpa sengaja. Kan dia mendengar obrolan mereka berdua didalam kamar.
“Tuan William, maafkan aku yang sudah merubah sifat Jade. Aku adalah ibu yang sudah lama merindukannya.”
“Apa rindu? Kau pikir butuh berapa lama aku membuatnya patuh padaku. Mengetahui kedatanganmu saja, dia bolos dari sekolah. Bahkan kau tahu, demi menyambutmu ia rela menghadang mobil. Apakah kau mau menguasai anak-anakku!”
“Tid-tidakk, aku benar-benar minta maaf Tuan William. Aku juga tidak memintanya melakukan hal itu. Jade sudah aku nasehati agar aku saja yang mendatanginya. Baiklah, ini kesalahanku. Hukumlah aku kalau begitu.” Mempererat cengkraman tangannya di lengan Hikashi. Pria itu menoleh dan menyeringai kesal.
“Cih kau! Hemmmbbb...”
Hikashi mendorong tubuh Frayza sampai Mentok ke dinding. Ia mengunci tangan Frayza dan mencium dalam-dalam. Setelah ia rasa tubuh wanita itu lemas, Hikashi memeluk erat tubuh wanita yang dalam dekapannya.
“Hhhssshhhh...” Frayza mendesah tersengal-sengal.
Lagi-lagi ia mendapatkan apa yang sudah ia inginkan. Bibirnya masih basah dan merasakan hangatnya bagian kenyal. Mata Hikashi masih menatap kepada dirinya.
“Jangan palingkan wajahmu, lihat aku.”
“Tuan William, kita sudah bercerai dan kau memiliki Nathalie.”
Mendengar nama Nathalie, Hikashi menjadi loyo dan mengusap bibirnya kasar. Ia keluar kamar Seven dengan membanting keras pintu tersebut. Hingga Jade yang mengintip kaget berkedik.
“Patrick, siapkan mobil untuk menjenguk Nathalie.”
“Baik Tuan,” mengekor majikannya.
Kesempatan ini dimanfaatkan Jade untuk menghibur ibunya. Ia mendapati ibunya menitikan airmatanya.
“Mama...” Jade melihat Frayza yang masih bersandar di tembok.
“Kemarilah Nak,” merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Jade.
Keduanya berpelukan, Frayza mengatakan bila ayahnya menegurnya saja. Tidak memberikan hukuman apapun, tapi Jade tidak percaya begitu saja.
“Mama, kenapa kau tidak tinggal disini saja. Aku tidak suka Papa bersama Nathalier itu. Ayolah ma,” bujuk Jade memelas.
“Tidak bisa sayang, Mama dan Papa punya rumah sendiri-sendiri. Jadi kami tidak boleh tingg ditempat yang sama.” Frayza tidak menjabarkan secara gamblang bahwa mereka sudah bercerai.
“Tapi aku mau Mama dan adik.” Jade memeluk erat ibunya seolah ingin bersama selalu.
“Mama memiliki tempat yang kecil, sedangkan kau disini memiliki segala Nak.”
“Tapi aku maunya Mama, biarlah Papa bersama Seven. Jadi rumah Mama muatkan kalau hanya aku saja yang itu?”
“Jade...” Frayza mengusap kepala putranya. Ia tak bisa menahan harunya, bahwa Jade mencintainya.
Bibi Fang masuk membawa Seven ditengah-tengah mereka. Frayza memperkenalkan Seven sebagai adiknya. Awalnya Jade menolak, karena dulu Nathalie mengatakan jika Seven anaknya. Dan ayahnya lebih sayang kepada bayi gempal ini. Karena selama ini ayahnya menghukumnya pakai penggaris.
“Jade, ini adalah Seven adikmu. Lihatlah betapa miripnya kalian. Coba pegang adikmu ini, dia sepertinya ingin menyapamu juga.”
Tangan gempal Seven itu mencoba meraih pipi Jade. Namun Jade jual mahal, setelah Seven tersenyum. Bayi itu juga berceloteh seolah mengatakan ‘hai kak, ayo kita main’.
“Kalian berdua adalah milik Mama, tidak ada yang lebih atau kurang kasih sayangnya. Jika kau menyayangi Seven, berarti kau menyayangi Mama. Begitu sebaliknya, kita adalah keluarga.”
“Iya, kita adalah kelaurga. Kecuali Papa!” Jade marah, karena tahu Hikashi pergi menemui Nathalie.
__ADS_1
Bibi Fang ikut tersentuh dengan kebersamaan Frayza merawat anak-anaknya. Mereka akhirnya berwisata dilingkungan sekitaran kastil saja. Dihalaman luas nan hijau itu, Jade melempar bola dengan Patrick. Sedangan Seven dipangku bibi Fang sambil belajar mengigit, karena tumbuh gigi. Frayza mengambil gambar kegiatan hari ini untuk membuat kenangan. Karena sesuai perintah Hikashi, setiap akhir pekan adalah waktu penuh anak-anak memilih bersama siapa. Sedangkan senin-jumat anak-anak dibawah pengasuhan Hikashi. Dan ini disetujui Frayza, mengingat fasilitas yang diberikan Hikashi sangat layak. Karena besok dia akan mulai debut kerjanya di galeri butik.