
Kedekatan Franda dan Karen sudah seperti menjadi sahabat. Mereka memiliki hobi dan selera yang sama. Bahkan secara terang-terangan Franda mengundang kedua orang tua Andreas di huniannya. Untuk menjamurnya makan malam bersama dan menunjukkan koleksi make up terbaru. Karen sangat terobsesi dengan penampilan Franda yang mantan artis.
Hal ini seolah menjadi masukan untuk Karen, bahwa Franda bisa menjadi referensi jika hubungannya tidak berjalan mulus dengan Frayza. Namun, keteguhan hati Andreas sang pengacara muda itu sama sekali tak bergeming. Bahkan ia nekat menemui Frayza ketika jam pulang kerja.
“Fray, aku mau bicara denganmu soal hubungan kita.” Ia mengejar wanita pujaannya itu yang mencoba berpaling dari hadapannya.
“Andreas maaf, aku sedang terburu-buru kembali kerumah. Seven sedang membutuhkanku.”
“Frayza, kau masih tunanganku. Dan kita belum sepakat mengakhiri hubungan kita. Aku akan melamarmu dan secepatnya menikahimu!”
Deg! Jantung Frayza bergetar saat ia mendengar Andreas ingin menikahinya segera.
“Andreas, aku tahu kau sedang panik dalam situasi ini. Dan kau belum bisa berpikir jernih dalam mengambil keputusan. Menikah itu harus dipikirkan masak-masak, apalagi aku pernah gagal sebelumnya. Dan Seven masih kecil butuh perhatian dan pengawasan lebih dariku.”
“Aku bisa menjadi ayah sambung yang baik Sayang, mau ya. Mau menikah denganku, aku akan segera mendaftarkan pengajuan pra-nikah kita.” Pria romantis itu memegang kedua tangan wanita pujaan hatinya.
“Andreas, aku minta waktu untuk memikirkan tawaranmu. Karena anak dan pengasuh sudah menungguku, aku harus segera kembali ke rumahku.”
“Naiklah, aku akan antar dirimu pulang.” Andreas membukakan pintu mobil untuk Frayza. Lalu bergegas mengantar pulang ke apartemennya.
Setibanya di huniannya, Frayza membersihkan diri dikamar mandi. Andreas mengetik pesan dari ponselnya, kemudian meminta Bibi Fang untuk pulang naik taksi. Andreas mengeluarkan beberapa lembar Dollar kepada bibi Fang. Sekarang ia mengasuh Seven menggendongnya melihat pemandangan malam dari gedung pencakar langit.
Frayza melihat Andreas berhasil menidurkan Seven hingga lelap. Ia yang baru saja keluar dari kamar mandi mengeringkan rambutnya memakai handuk.
“Kemana bibi Fang?”
“Aku menyuruhnya untuk kembali pulang dengan naik taksi. Dan itu makan malam untukmu sudah aku pesankan, makanlah. Aku mau meletakkan Seven kekamar.” Andreas masuk kedalam kamar dan mengambil selimut tebal. Ia mencium pipi bayi yang semakin hari tumbuh baik.
Hidangan yang dipesan Andreas tentu sangat enak. Frayza begitu menikmatinya dengan terus mengunyah hidangan lezat itu.
“Aku tidak melihat Julian, dimana dia?”
“Kemaren dia datang untuk mengambil barang miliknya, bahkan ia tak pergi ke butik. Aku tidak tahu ia tinggal dimana, tapi dia meninggalkan banyak pekerjaan dan tanggungan yang besar. Aku pontang-panting mengelola Butik agar tetap berjalan operasionalnya. Tetapi ia pergi seolah ini bukan tanggungjawabnya. Dan bulan depan, aku haru membayar cicilan apartemen ini dan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.” Frayza berhenti mengunyah makanan dimulutnya dan memejamkan matanya membatin kondisi hidupnya yang berat. Kondisi penjualan dibutik sedang menurun. Dan pesanan banyak yang dibatalkan karena sempat terbengkalai.
“Kau ditudirlah dulu biar aku cuci piringmu, dan aku rapikan meja makanannya.”
“Tidak bisa begitu, aku akan mencuci bajuku dan Seven. Agar besok ketika ia bangun aku tidak keteteran mempersiapkan sarapannya.”
“Pergilah mencuci kalau begitu,” baru memasukkan beberapa keranjang baju kotor, Frayza mengeluarkan buku seksanya yang untuk merangcang busana koleksi terbaru.
Andreas mengeringkan perabotan makan dan membereskan mejanya. Ia melihat Frayza menjemu pakaian di balkon. “Biar aku bantu menjemurnya, selesaikan tugasmu.” Andreas bisa melakukan pekerjaan rumah tangganya, karena dulu pernah hidup sebagai mahasiswa yang ngekost.
Frayza melanjutkan pekerjaannya, baru beberapa saat ia menggambar. Suara tangisan Seven merengek rewel. Ia memburu masuk asal suara bayi yang kehausan. Andreas menyelesaikan jemuran dan cucian Frayza. Ia juga membuatkan kopi untuk dirinya sendiri.
“Hemmbb harus sekali,” ia menghirup aroma kopi aceh yang terkenal nikmat.
Ia meletakkan coklat panas didekat meja dapur untuk menemani Frayza lembur. Ketika ia mengintip daun pintu yang sedikit terbuka. Ternyata Frayza ketiduran, ikut terlelap bersama Seven yang menyusu lewat dot.
Andreas menggulung lengan kemejanya, dan memunguti bekas mainan Seven dilantai. Kemudian ia mencucinya satu persatu agar bersih dari kuman. Karena Seven lagi tumbuh gigi hobi menggigit apapun. Setelah semuanya dilap dan kering, Andreas menatanya kembali di rak mainan Seven. Melihat kondisi rumah yang masih berantakan, Andreas mengambil lap dan penyedot debu. Ia bersih-bersih rumah Frayza yang berantakan menjadi rapi. Perutnya kelaparan, dan dilihatnya masih ada beberapa sisa makanan yang bisa pesan. Andrea memakannya dengan lahap, karena merasakan kelelahan usai mengerjakan tugas rumah tangga.
“Huffftttt capek,” Andreas melepaskan napas panjangnya dan merebahkan di karpet bulu tebal. Seluruh tubuhnya seperti remuk sampai ke tulang-tulang.
__ADS_1
Ketika tidur Andreas kelupaan melepaskan kacamatanya. Serta ia tidak sadar sudah ketiduran pulas dikarpet yang biasa menjadi alas bermain. Frayza yanh terbangun paling awal kaget melihat Andreas masih tidur dirumahnya. Ia ke dapur untuk membuat sarapan dan mendapati coklat panas sudah mendingin.
Kemudian ia menyiapkan sarapan pagi untuk mereka bertiga. Aromanya sungguh menggugah selera Indra penciuman.
“Kau sudah bangun?” Frayza melihat Andreas membuka perlahan matanya dari tidurnya.
“Errggghhh maaf aku ketiduran disini,” Andreas merentangkan kedua tangannya. Ketika ia tidur semalam tak memakai selimut, dan bersedekap untuk menghangatkan tubuhnya.
“Aku sudah menyiapkan menu sarapan kita, kau bisa mandi terlebih dahulu. Aku sudah menyiapkan baju milik Julian yang bisa kau pakai.”
“Tidak usah, aku ingin menyiapkan air panas untuk Seven mandi. Kalau kau mengurus Seven akan merepotkanmu. Setelah itu kau bersiaplah mandi dan sarapan. Aku mau...” tiba-tiba tangan Andreas ditahan oleh Frayza ketika berjalan.
“Mandilah, kau sudah kelelahan semalaman mengerjakan pekerjaan rumahku. Bahkan kau membuatkan coklat untukku semalam bukan?”
“Aku sudah terbiasa begitu ketika hidup diluar negeri, dan aku ingin merawatmu dengan baik.”
“Terimakasih Andreas.” Frayza manatap dalam Andreas yang tidak memakai kacamata ternyata pria itu lebih tampan.
Saat Andreas di kamar mandi, Frayza mendapati kacamata Andreas retak kacanya. Mungkin tertindih ketika ia tidur semalam.
“Fray, aku sudah selesai.” Andreas keluar memakai celana kolor dan kaos longgar warna putih. Rambutnya yang lurus serta alis tebalnya mempertegah wajah maskulin pria pintar mengalungkan handuk dilehernya.
“Kacamatamu retak, semalam kau menimpahinya ya?” Frayza tersenyum mendapati benda yang dipakai Andreas rusak.
“Wah iya, hemmb. Aku akan minta Megham memesankan kacamata yang baru kalau begitu.” Andreas panik karena pandangannya membutuhkan alat bantu.
“Apakah kau akan mengendarai mobil?”
“Kenapa?”
“Tenang saja Sayang, mobilku sudah autopilot jadi aku tinggal menekan lokasi yang aku tuju.”
“Oh iya yaya, aku tidak tahu secanggih itu tekhnologi itu sekarang.” Frayza malu karena ia terlalu khawatir kepada Andreas. Ternyata Andreas tidak sekolot dirinya.
Tunggu dulu, tadi Andreas bilang Sayang kepada dirinya. Waw, ternyata Andreas bisa menasi itu bibirnya. Hihihi Frayza seolah ingin melunak karenanya. Bayangkan saja, dengan sekejap saja ia melihat Andreas melakukan pekerjaan rumah tangga. Dan ia rela tidur beralaskan apapun setelah mengerjakan pekerjaan berat.
“Kalau begitu aku akan mandi bersama Seven, kau sarapanlah dengan tenang.”
“Sana pergi mandi,” Frayza mengacak-acak rambut Frayza yang dicepol.
Andreas membuatkan pesan manis diatas piring Frayza yang menyatakan perasaannya. Kemudian Andreas membukakan pintu untuk bibi Fang yang datang.
“Tuan pengacara?” wanita paruh baya ini kaget penampakan santai Andreas. Biasanya ia melihat Andreas berpakaian rapi dan rambut klimis.
“Pagi bibi Fang, silahkan masuk. Seven sedang dimandikan mamanya. Sarapan dulu gih, tadi Frayza masak banyak.” Andreas dengan ramah mempersilahkan bibi Fang masuk. Wanita itu meletakkan tasnya digantungkan dinding. Melihat kondisi rumah Frayza yang masih rapi dan bersih.
“Apakah semalam Frayza melakukan ini semua?”
“Hehehe iya,” menggaruk belakang kepalanya.
“Tidak mungkin, sudah lama q bekerja disini dia melakukan ini dalama waktu semalam saja. Dan itu jemuran dibalkon, astaga rapi sekali. Aku yakin pasti ada peri yang membantunya.” Bibi Fang menyindir orang yang sudah bersusah payah, yaitu andreas.
__ADS_1
Usai mempersiapkan dirinya dan bayinya, Frayza berangkat bekerja. Bibi Fang tersenyum bahagia melihat kebersamaan Andreas yang membuatnya tenang. “Sekarang bermain bersama nenek ya, Seven.” Ucap pengasuh yang menjadi nenek sambung Seven.
Ketika Frayza didalam mobil Andreas, tiba-tiba ia mendapat telepon dari Kenzo. Ia tampak begitu serius dan tidak memberikan jawaban lain hanya ‘hemmm’ saja.
“Sayang, apa kau baik-baik saja?” Andreas menanyai Frayza yang mengalami perubahan mimik wajah.
“Eh iya, mari kita berangkat. Kau harus berangkat ke kantor juga kan. Dan tidak mungkin memakai pakaian santai ini juga kan.” Maksutnya kaos dan celana kolor.
*
*
*
Andreas keluar dari lift, menenteng tas berisi pakaian kotonya. Ia berjalan dan tak sengaja berpapasan dengan Julian.
“Kau, kenapa kau berkeliaran disini?” tangan Andreas menahan dada Julian yang berjalan memainkan ponsel.
“Kak Andreas, aku tinggal disini bersama kak Franda.”
“Benarkah?”
“Iya,” jawabnya polos.
“Jika kau ada waktu datanglah nanti malam jam 9 di hunian nomor ****. Aku mengundangmu kesana.”
“Ada apa Kak?”
“Ini penting, kau harus datang pokoknya. Aku akan menjamumu dengan baik.” Pancing Andreas yang tak ingin Julian lepas daei jeritannya.
“Baiklah kalau begitu,” jawab enteng Julian yang menyumbat telinganya dengan alat bantu pendengaran.
Sepertinya Julian tidak menyadari bila baju yang dipakai Andreas itu miliknya. Ia masuk kedalam lift dan turun untuk pergi keluar bertemu dengan Cecilia dan Rose.
Sejak pengumuman kematian Frank, Rise langsung angkat kaki dari hunian Franda. Ia kembali ke rumah yang ia tinggali bersama Frank. Dan seluruh kekayaan milik Frank otomatis dikuasi olehnya. Sekarang Rose tidak perlu takut lagi nasibnya kedepan seperti apa. Julian pun lebih banyak menikmati waktu bersama Cecilia. Karena Rose sibuk bekerja dan meneruskan perusahaan milik Frank. Sekarang posisi mereka sama-sama diuntungkan dengan kematian Frank.
Meghan datang membawakan kacamata untuk Andreas ke Royal Golden. Ia melihat Julian tengah bermain bersama anak perempuan di taman. Ia berjalan untuk memastikan bila itukah kekasihnya.
“Julian, itu anak siapa?” Meghan melihat jelas apa yang dilakukan julian itu.
“Oh dia anak tetangga hunian kak Franda. Kau kenapa bisa kebetulan ada disini? Apakah kau tinggal disini?”
“Tidak, rumahku ada di kawasan lain. Aku kemari untuk membawakan kacamata cadangan untuk Bosq Andreas.”
“Oh kak Andreas ya, aku juga tadi pagi bertemu dengannya. Dia terlihat berbeda tanpa kacamata dan baju santai. Terlihat lebih muda dari biasanya hehehe.”
“Oh begitu ya, baiklah kalau begitu. Aku mau ke kondominium Andreas dahulu. Kau lanjutkan saja bermainnya.” Meghan merasa jika anak yang bersama Julian itu sangat mirip kekasihnya. Terlebih lagi, akhir-akhir ini Julian tidak berkomunikasi dengan baik. Ada saja alasannya untuk menyibukkan dirinya.
Meghan hendak masuk kedalam lift, dan tak sengaja bertemu Franda. Mantan artis terkenal itu keluar sambil berbicara lewat ponselnya.
“Aku sedang menuju kerumahmu Bibi Karen, hari ini biar aku saja yang menjemputmu.”
__ADS_1
Apa Meghan tidak salah dengar, Franda dengan lancar menyebut nama Karen yang merupakan ibu Andreas. Ada hubungan apa Franda dengan Karen. Mungkin itu nama yang kebetelan saja. Tapi lagi-lagi Meghan harus kaget karena Franda bicara menyebut nama Andreas begitu jelas.
“Nanti malam aku akan datang bersama adikku di hunian Andreas. Dia mengundang kami disana. Katanya ingin menjamuku, pasti ada sesuatu hal mengejutkan hahaha.” Franda berjalan terus dan bicara lewat ponsel. Sampai Meghan bisa mendengar jelas perkataannya tanpa menguping.