
Pagi ini sesuai keinginan Frayza, seorang sopir pribadi sudah bersiap mengantarnya pergi.
“Apakah kau bisa mengantarku ke Helena House?”
“Dimana itu Nona?” sambil melihat jam tangannya.
“Tadi aku mendapat telepon bahwa sahabatku berada di London sekarang. Aku diterima bekerja disana hehehe.” Tampak kegirangan dengan kabar bahagia ini.
“Baiklah, ini masih jam 7 pagi. Apakah anda mau pergi untuk sarapan dahulu?”
“Ekh.. Tidak perlu, aku masih kenyang.” Sebenarnya Frayza hanya menahan lapar sedari semalam, tapi karena Helena berada di London ia ingin segera bertemu.
“Baiklah Nona, silahkan masuk. Saya akan mengantar anda.”
“Terimaksih, tapi bolehkah aku tahu siapa namamu?”
“Mohon maaf, saya tidak boleh memberitahu nama saya. Ini tanda pengenal saya, lencana ini adalah tanda resmi klan Alexander.” Menunjukkan pin berwarna emas dengan batua mengkilay warna biru.
Mobil itu mengantar Frayza ke gerai butik milik Helena. Suasana yang masih pagi ini, belum ramai pengunjung yang datang. Frayza menyangklongkan tasnya dan menarik napas panjang.
“Ckh,” Martino berdecit kesal melihat Frayza yang baru saja masuk. Ia melanjutkan merias menikin di etalase kaca.
Frayza langsung dibawa naik tangga untuk menemui Helena. Pintu kantor Martino yang sekarang diduduki Helena tampaknya menjadi alasan muka masam si pria kemayu.
“Frayza Lee...” Helena memeluk erat mantan asisten magangnya.
“Helena, aku tidak menyangka kau datang lebih cepat kemari.”
“Bagaimana aku tidak cepat kemari dari Perancis. Tuan Bohemian sangat senang dengan setelan tuksedo ubahanmu. Seharusnya kau tahu bakatmu memang harus dihargai sebagai mestinya. Kemarilah...” Helena menuangkan anggur ke gelas. Ia mengajak Frayza untuk bersulang, tapi perut Frayza yang kosong itu. Membuat lambungnya menjadi bermasalah.
Sepanjang pembicaraan konsep terbaru dengan Helena, Frayza lebih banyak mengelus perutnya. Dan sesekali memijit kepalanya yang berat. Ia merasa tubuhnya mulai dingin dan matanya berkunang-kunang.
Kursinya yang didudukinya oleng kebelakang, beserta tubuh yang ditopang diatasnya. Brughhhh!!! Dentuman keras itu terdengar. Martino yang menyibukkan diri dilantai 2 berlari naik keatas.
“Martino panggilkan ambulans!” teriak Helena.
Frayza sudah pingsan tak sadarkan diri, ia masih tergeletak dilantai. Helena panik menjaga Frayza didekatnya terbaring.
Martino kelabakan keluar gerai, ia berteriak kalau ada yang pingsan. Hari masih pagi, suasana orang masih sepi berlalu lalang. Sopir yang berjaga didalam mobil penasaran apa yang terjadi.
Sopir langsung masuk kedalam butik dan menyusul keberadaan Frayza sekarang. Ia memberikan pertolongan pertama dengan membuka sepatu Frayza. Menekan jempol kaki, lalu memeriksa denyut nadi yang melemah.
“Apakah kalian sudah memanggil Ambulans?” Helena menatapa Martino.
__ADS_1
“Ah belum, tadi aku panik!” gelojotan dengan kondisi yang genting ini.
Sopir itu membopong tubuh Frayza masuk kedalam mobil. Helena ikut bersamanya jugak, karena ia sangat menyayangi Frayza. Dan ingin tahu apa penyebab ia pingsan.
Setibanya di rumah sakit, dokter dan perawat memeriksa kondisi Frayza. Helena menangis, dan sopir itu memberikan sapu tangan untuk menyeka air matanya.
“Terimakasih,” Sopir itu hanya mengangguk dan diam. Tapi Helena tahu, jika pria bertubuh tegap ini bukan sopir taksi biasa. Dia lebih mirip pengawal pribadi dari penampilan dan perawakannya.
“Maaf Nyonya, apakah bisa saya ijin sebentar melapor atasan saya kalau Nona Frayza berada dirumah sakit?”
Apa tidak salah, sopir ini memanggil Frayza dengan sebutan Nona? Apakah Frayza tengah berkencan dengan pria tua kaya? Atau dia menjadi simpanan pejabat? Bisa jadi Frayza menjadi istri simpanan, mungkin kekasih gelap pengusaha kaya? Oh Helena, jangan berpikiran buruk dulu.
Tak lama setelah sopir klemis itu bicarall lewat ponselnya. Datanglah staff medis lain yang datang, bersama pria plontos bermata sipit. Siapa lagi kalau bukan Matsumoto, orang kepercayaan Hikashi.
“Apakah kau pacarnya Frayza?” Helena manarik tangan Matsumoto yang alergoli terhadap wanita. Apalagi disentuh wanita paruh baya dan sudah tua. Matanya melotot dan bibirnya komat-kamit seperti baca mantra.
“Maaf Nyonya, dia adalah kepala keamanan dan tangan kanan tuan kami.” Sopir itu mencoba menjelaskan kedudukan Matsumoto.
“Dasar betina tua!” ketus Matsumoto mengatai Helena yang memang tak menarik baginya.
Staff medis dan perawat yang datang bersama Matsumoto diijinkan masuk. Mereka melakukan tugasnya untuk menyelamatkan nyawa Frayza.
*
*
*
Pagi ini Jade sudah berada dimeja makan yang sama dengan ayahnya. Pria ini lebih banyak terdiam saat menelan sarapannya. Ia menatap tajam putra kecilnya yang sudah tidak patuh kepadanya. Hikashi mengelap bibir manisnya, tandanya ia selesai makan. Tenggorokan Jade sulit menelan makanannya. Dan ia menyelesaikan sarapannya, itulah aturan saat makan. Jika Tuan besar selesai makan, artinya semua yang makan harus berhenti.
“Jade, temui papa di ruang kerja!” mampus lo Jade, bakal kena pasa apa kamu sama Hikashi.
“Baik Papa,” ia mendelik menelan potongan roti terakhirnya. Ia berjalan sedikit berjinjit ketakutan menghadap ayahnya.
Sepertinya Patrick tidak bisa menutupi kenakalan Jade. Hikashi sudah kepalang tahu rahasia putranya. Saatnya Jade menerima konsekuen dari tindakannya yang fatal.
Bocal kecil itu berlutut membungkuk, ia merunduk ketakutan. Ketika ayahnya mengeluarkan penggaris dari kayu. Satu pukulan melayang dibokong bocah kecil itu. Plakkkk!!! Terdengar dari luar, Patrick sudah bersiaga dengan obat-obatan.
“Maafkan Jade Papa huaaaa.” Anak kecil itu mengeluarkan suaranya disertai isakan tangisan.
“Kau tahu akibatnya menjadi pembangkang dalam keluarga ini!”
Plaakkk... Pukulan kedua diterima bokong Jade. Hikashi marah besar dengan putranya ini, sepertinya ia bertindak terlalu keras.
__ADS_1
“Papa... Aku menyesal sudah bolos dari asrama sebelum hari libur tiba. Dan aku kabur dari pengawal yang menjagaku, maafkan aku Paaa-Paaaa huaaaaaahuaaaa...” Jade terus memohon ampun kepada Hikashi, padahl ayahnya hanya memikul pelan. Itupun ia menggertak Jade agar lebi patuh padanya. Karena Jade adalah anak lelaki, jadi harus dididik dengan cara yang berbeda pula.
“Kau tahu betapa paniknya Papa ketika turun dari pesawat. Kau kabur dari asrama dan berkeliaran diluar. Apa yang kurang dari Papa untukmu Jade. Katakan!”
“Maafkan aku, Papa. Hal itu tidak akan terulang lagi, hiks hiks hiks.” Merogoh sakunya dan mengeluarkan black card milik Hikashi.
“Mulai sekarang, kau akan bersekolah dirumah selama 1 semester. Dan kau dilarang keluar rumah kecuali untuk pemeriksaan kesehatan. Mengerti!” Hikashi kesal dengan putra sulungnya yang sudah berani kabur-kaburan. Mirip seperti seseorang yang tidak lain ialah Frayza. Hikashi tersenyum licik, karena sikap nakal itu menurun ke putranya.
“Papa, apa kau tahu bahwa yang menyelamatkan aku adalah Mama.”
Hikashi mengangkat satu alisnya, heran mendengar pengakuan putranya. “Darimana kau tahu ada wanita asing adalah Mama mu?”
“Aku membuntutinya pakai taksi, dia akrab dengan pria yang datang bersama Mama. Dia yang bilang sudah mengasuhku dari bayi!” Ditempat yang lain tiba-tiba Kenzo tersendak ketika minum air putih. Dirinya sedang dibicarakan oleh musuh kecilnya, Jade.
“Jadi kau kabur dari asrama sekolah, mencarter taksi untuk menguntit begitu?” anaknya mengangguk, Hikashi meninju kepalanya. Selain punya bakat kabur, Jade juga meniru sifatnya yang hobi menguntit.
“Papa kenapa?” Jade berdiri memegangi kaki jenjang ayahnya.
“Tak apa Jade, kau keluarlah dari ini. Patrick akan memeriksa lukamu, Papa baik-baik saja Nak.” Memberikan senyuman ampunan untuk putranya terkasih.
Jade keluar, mendapati Patrick yang membawa obat-obatan untuk dirinya. “Papa tidak memukul bokongku dengan keras, santai saja. Dia hanya pura-pura galak hehehe.” Berjalan sambil mengusap bokongnya, Patrick mengekor karena tahu Jade hanya gengsi.
Didalam ruangan ini Hikashi menerima laporan dari para pelayan dan staff penjaga. Mereka memberikan kesaksian dan bersumpah berkata jujur. Di kastil ini, sekalipun ada Nathalie yang bersikap sepertinl Ratu. Tetaplah dia hanya bayangan, kekuasaan mutlak masih ada apda Hikashi.
Datanglah Kenzo dengan wajah memerah karena ia berlari seperti dikejar anjing. “Tuan Hikashi, Nona Frayza terbaring di rumah sakit. Sekarang sudah menjalani operasi usus buntu!”
“Eheemmmb,” Hikashi berdehem. “Ulangi lagi caramu masuk kemari, jangan asal menerobos masuk. Apa kau tidak tahu aku sedang mendisiplinkan pekerjaku?” Hikashi bersikap sok acuh dengan kabar buruk mantan istrinya. Padahal dalam hatinya, ia ingin meloncat berlari. Tapi ia tahan-tahan, karena mulai sekarang ia akan jual mahal.
Kenzo mengetuk pintu, meminta ijin masuk. Memutar knop pintu setelah mendapat ijin dari Hikashi. Dikiranya ini adegan reka ulang apa, seenaknya saja begitu. Disaat lagi genting dan penting Hikashi seenaknya saja memerintahanya. Kenzo menjadi kesal dikerjai Hikashi yang kekanak-kanakan. Sebenarnya memang iya, Hikashi mengerjai Kenzo karena cemburu. Jade mengatakan baru saja kepadanya bila Kenzo bersikap manis didepan Mamanya. Ini hanya pembalasan kecil dari Hikashi. Termasuk pengawal keamanan yang merangkap sopir itu, dia dilarang menyebut namanya. Hikashi bisa sakit telinga kalau Frayza memanggil nama pegawainya. Dia hanya mau Frayza mengeluarkan suaranya yang merdu untuk memanggil namanya. Mungkin Hikashi sudah tidak waras kali ya, kan mereka sudah bercerai. Dasar lelaki gagal bangkit dari masa lalu.
Nathalie datang membawa banyak mainan mobil-mobilan dan robot. Ia berniat menyogok Jade yang masih kecil.
“Kau pikir Papaku tidak pernah memberikan mainan jelek seperti ini. Turun dan masuklah ke garasi dan lihat ada koleksi mobil asli. Cih miniatur mobil ini, lebih baik kau berikan saja ke panti asuhan. Aku tidak butuh!”
Nathalie mengepal tangannya, ia ingin sekali mencekik leher anak kecil yang sudah meremehkannya. “Jade sayang, bibi sangat merindukanmu muaaccchh.” Ia mencium pipi Jade dengan ekspresi bohongnya, padahal ia sangat jijik menyentuh darah daging Hikashi. Nathalie hanya mencintai Hikashi saja, dia berencana akan membuang Jade ketika sudah menikah. Tapi ia harus bersabar, demi kelancaran rencananya.
Karena Hikashi pernah bilang jika dia hanya berkencan dengam wanita yang baik kepada anaknya. Inilah mengapa Nathalie yang bersikap manis dan keibuan ini menjadi pendamping Hikashi dibeberapa acara penting. Bahkan rumor mereka berpacaran sangat santer terdengar.
“Pergi dari kamarku! Jika kau kemari karena Papa temui saja dia diruang kerjanya!” Jade melempar bantal kebawah Nathalie. Wanita itu mundur beberapa langkah, Jade menjadi pemarah sejak Nathalie mencuri perhatian ayahnya.
“Baiklah sayangku, aku akan pergi.” Nathalie mengalah dan keluar dari kamar Jade. Ia membenarkan riasannya kembali agar terlihat cantik dimata Hikashi.
Saat ia hendak menyusul Hikashi, beberapa pelayan menatapnya penuh kebencian. Mereka sambil berbisik menggosipkan Nathalie dengan terang-terangan dihadapan wajahnya.
__ADS_1
“Awas saja, ketika aku menjadi nyonya Alexander. Akan ku pecat kalian semua hah!” sumpah Nathalie. Ia kepanasan karena darahnya mendidih panas.