
Sayangnya, Hikashi tidak menghendaki jasad Frayza untuk di otopsi. Untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hikashi bersikeras jika otopsi akan melukai dan merusak jasad wanita kesayangannya. Air mata mengalir begitu deras membasahi pipi Hikashi. Ia tak henti-hentinya memandangi tubuh yang sudah terbujur kaku, dan membiru. Hatinya sangat sakit dan terluka, wanita yang menjadi satu-satunya cinta sejatinya telah meregang nyawa. Penyesalan demi penyesalan kini mulai mengganggu pikirannya. Seharusnya ia tak mendeportasi Frayza dari Korea dan Jepang. Sehingga ia tidak kembali ke Singapura, jika akhirnya meninggal untuk selamanya.
Matsumoto meminta pihak rumah sakit untuk memproses jenazah Frayza. Selanjutnya akan dimasukkan peti, dan dibawa ke Bandara. Lalu bertolak ke Inggris Raya untuk di makamkan disana. Ini perintah khusus dari Hikashi, tak tanggung-tanggung juga. Satu unit pesawat kargo dicarter untuk memindahkan jenasah Frayza.
“Tuan muda Jade, segera bersiap untuk pulang ke Inggris!”
“Ada apa? Aku tidak membuat ulah, dan belajar. Ada masalah apa?”
Jade yang merasa kenyamanannya terusik dengan pengawal. Menanyakan perihal tentang keberangkatannya yang terkesan mendadak.
Hikashi yang sudah memakai jubah hitam panjang dan memangkas habis rambutnya. Sudah menunggu Jade didalam mobil. Ada yang berbeda dengan ayahnya yang biasanya diktator ini. Selain rambutnya yang dipangkas habis, tidak biasanya Hikashi memakai kacamata hitam. Biasanya Jade mendapatkan omelan dari ayahnya, yang terkadang menjadi pertengkaran.
“Papa, kenapa kita mendadak ke Korea?” tanya Jade sedikit penasaran.
Sambil mengusap pundak putranya, Hikashi menguatkan hatinya memberitahukan berita duka. Bahwa sekarang sosok Frayza sudah tiada untuk selamanya. Hikashi berkata dengan berat “Nak, kau harus siap ya. Setibanya di Inggris, tolong jaga sikapmu untuk menghormati wanita yang paling kita cintai.”
“Maksut Papa itu Mama sekarang sudah di Inggris ya?”
“Pesawatnya yang membawanya sudh diperjalanan. Nanti kita bertemu di Bandara.” Tambah Hikashi.
__ADS_1
“Baik Papa.”
Tak disangkanya, jika perkataan Hikashi ini ditangkap beda oleh Jade yang kegirangan. Ia berpikir bahwa orang tuanya rujuk, dan menjadi keluarga yang utuh. Jade tersenyum bahagia, namun berbanding terbalik dengan Hikashi. Pria itu menyembunyikan air matanya dibalik kaca mata hitam. Hatinya remuk dan tak percaya jika Frayza sudah tiada. Sampai akhirnya pesawat mereka mendarat lebih dulu.
“Papa, kenapa ada mobil jenasah disini?”
“Iya,” jawab singkat Hikashi.
“Siapa yang meninggal? Orang pentingkan?”
“Iya,” jawab Hikashi singkat lagi.
“Itu, Nak.”
Telunjuk Hikashi menunjuk pesawat abu-abu yang mendekati mobil jenasah. Beberapa karangan bunga besar sudah terpasang menghiasi mobil duka cita itu.
“Ayo Nak, kita sambut Mama mu.” Ajak Hikashi.
“Mama siapa? Mama yang mana Papa?”
__ADS_1
“Jade, itu Mama mu Nak hiks hiks hiks hiks.”
Runtuh sudah benteng pertahanan Hikashi, ia sudah tak mampu lagi menyembunyikannya. Ia berjalan mendekati peti jenasah istrinya. Peti warna putih bersih, dihiasi karangan bunga Mawar warna hitam. Hikashi memeluk peti dan menangis sejadi-jadinya. Ia menjadi tak terkendali kala mobil jenasah itu mengangkut dan membawanya pergi. Karena kesedihan yang begitu besar, Hikashi mengalami hilang kesadaran. Lalu dilarikan ke Rumah Sakit.
Sedangkan Jade, menangis seraya mendoakan mendiang ibunda tercintanya. Saat peti itu dibuka, Jade memastikan wajah cantik ibunya sudah menutup mata. Jade memukuki wajahnya dan memaki dirinya sendiri. Ia tak kuasa melihat wanita yang ia damba-damba sudah tak benyawa. Pantas saja ayahnya bersikap lembut, ternyata inilah yang menjadi penyebabnya. Jade mengutuh takdir dari Tuhan yang telah memanggil ibunya lebih dahulu. Belum sempat menyatukan keluarganya, kini ibunya pergi untuk selamanya.
Hikashi menolak dirawat, dan bersikeras pulang ke Kastilnya. Banyak karangan bunga dan ucapan bela sungkawa. Hikashi menangisi kekasihnya yang dilayat ratusan orang. Hikashi hanya bisa duduk lemas dan tak berhenti menatap peti warna putih. Matanya tak pernah lepas dari pantuang benda besar didepannya. Walaupu konyol, Hikashi ingin Frayza hidup sekali lagi. Jade melihat betapa terpukulnya Hikashi yang membatu, air matanya mengalir tak berhenti. Bahkan tamu yang menyapanya tidak ia gubris. Sampai pada akhirnya, Hikashi hendak berdiri untuk melihat wajah istrinya harus roboh kembali.
“Papa harus kuat, Pah. Mama sudah tiada, ikhlaskan ya Pa.”
“Menggelengkan kepalanya.”
“Papa duduk saja, kita doakan Mama bersama-sama.”
Hikashi mengangguk menuruti perintah Jade, sekali lagi Hikashi sudah kehilangan separuh jiwanya. Ia terus mengusap dan menciumi peti warna putih tersebut. Ia menuangkan seluruh perasaan terdalamnya kepada istri tercintanya. Jade sangat tersentuh dan kagum terhadap ayahnya. Ternyata cinta ayahnya sangat besar terhadap ibunya.
“Mama sudah pulang Papa, mari kita makam kan ditaman saja.”
“Iya, Papa akan buatkan makam yang bagus untuk mengenang Mama mu.”
__ADS_1
Dalam situasi berduka seperti ini, Steven yang masih remaja dianggap tidak perlu tahu jika Frayza tiada. Helena tidak siap jika Steven mengalami goncangan kejiwaan. Karena Steven memiliki sifat pemurung. Takutnya nanti membuat Steven semakin terpuruk. Atas permintaan Helena itulah, Steven tetap berada di Korea sampai proses belajarnya selesai. Sedangkan pemakaman Frayza tetap berjalan seperti jadwalnya.