
Beberapa hari ini di Afrika Selatan Hikashi benar-benar dibuat sibuk oleh kedua saudara sepupu dan kedua orang putranya. Pagi hari ia pergi mengajari putranya memberi makan satwa di kandang. Siang hari ia bersama Matsumoto dan Kenzo untuk membahas bisnis. Malam harinya sampai larut malam Hikashi bersama Takeshi dan Hiroshi. Entah untuk sekedar makan dan bermain billiard. Mereka sepertinya asik membahas banyak hal. Bahkan Hikashi merasa menjadi pria lajang lagi. Ia tak lagi memusingkan hal berat menjadi seorang pria. Apa yang ingin ia kerjakan, maka ia lakukan. Tidak perlu merasa tertekan karena tugas dan kewajiban.
“Mama apakah kau tidak sibuk?”
“Aku sedang menggambar desain baju Jade. Ada apa?”
“Aku bosan disini, apakah kau mau menemaniku naik unta?”
“Hewan itu tinggi sekali Jade, dan udara diluar begitu terik.”
“Jade, kau bisa pergi nanti sore dengan Matsumoto jika kau mau.”
“Hufffttt...” merunduk lemas berjalan.
“Jade, bagaimana kalau mengajak Papamu saja?” ucap Frayza menenangkan putranya.
“Papa sudah ada agenda berburu dengan Paman Takeshi dan Paman Hiroshi.”
“Begitu ya, sekarang waktunya sudah mulai terbagi hufftt...” Menggulirkan layar ponsel suaminya. Ia mengirim pesan kepada Matsumoto agar mau pergi naik unta bersama Jade.
Sedangkan itu ketiga pria dewasa ini naik mobil kap terbuka. Membawa senapan laras panjang mengarungi padang sabana yang luar terbentang. Mereka melepaskan binatang sebagai buruan untuk dijadikan target.
“Apa kau tahu jika ini sangat menyenanhkan?”
“Ini jauh lebih menegangkan sekali.”
“Lihatlah Hikashi, ia sudah beberapa kali menembak jitu hewannya.”
“Kau benar, dan kita hanya memperoleh kelinci beberapa ekor hahahaha.”
“Hai Papa muda, kau berburu seperti akan beri makan anak-istrimu daging rusa!” teriak Takeshi.
“Kak, jangan ejek dia. Salah-salah bicara ia yang akan menodongkan di kepala kita.” Telak Hiroshi.
“Aku hanya bercanda hehehe.” Melepaskan sarung tangannya. Takeshi mengakhir sesi perguruannya.
“Dia cukup stres selama masa pengasingannya jadi wajar. Jika begitu bergairah kembali, nalurinya sebagai darah bangsawan tidak bisa membaur dengan orang biasa.” Hiroshi mengangkat senapan laras panjangnya menargetkan rusa yang tengah minum di kubangan air.
__ADS_1
Dooorrrr.... Dooorrrt... Tembakan pertama dari peluru Hikashi, kemudian disusul oleh peluru Hiroshi. Rusa gemuk itu terkapar bersimbah darah di tanah tandus. Mobil mereka berjalan mendekat mengambil binatang buruannya. Kenzo yang ikut agenda berburu itu menyuruh anak buahnya untuk menguliti rusa. Dan para pangeran muda itu duduk dikursi lipat. Mereka melepas dahaga dan penak.
“Apinya sudah siap, dagingnya mau dimasak apa?”
“Aku ingin makan rusa panggang, bagaimana?”
“Tidak buruk, bagaimana dengan Hikashi”
“Aku ikut dengan selera kalian saja.” Hikashi mencopoti rompi dan perlengkapan yang menempel dibadannya.
Sambil menunggu hidangannya siap, mereka membahas lagi kehidupan mereka masing-masing. Hikashi sangat rindu dengan kedua saudara sepupunya. Perasaan mereka saat ini tidak lagi menjadi pesaing menunjukkan siapa yang terbaik. Melainkan bahu-membahu saling mendukung yang lain.
“Beberapa hari yang lalu tunanganmu datang ke Butik istriku.”
“Apa dia mencari ribut?”
Plakkk! Dengan keras Takeshi memukul paha Hiroshi yang penasaran. “Dengarkan dia cerita dulu, jangan memotongnya!”
“Cih, ternyata wanita itu sulit dimengerti ya. Aku hendak membawa pergi istriku, dia malah menahannya disana. Ia ingin bajunya dibuat oleh perancang busana yang sama. Dan ia datang ke Butik Frayza, lalu kami bertemu lagi.”
“Apakah itu bisa disebut kebetulan?”
“Mana mungkin, dia sudah 10 tahun bersamaku. Dan kami akan segera meresmikan pertunangan secara terbuka. Lalu rencana pernikahan kami akan dilaksanakan 3 bulan lagi!” pikir Hiroshi.
“Bukannya aku menilai tinggi diriku, hanya saja terlalu kebetulan dan mencolok. Istana pasti sudah menyiapkan perancang terbaiknya bukan. Untuk apa ia datang menemui istriku dan menahannya.”
“Aku setuju dengan pendapat Hikashi, sebaiknya menyesal menghabiskan waktu 10 tahunmu daripada sampai akhirn hayatmu.” Takeshi mencoba menasehati adiknya. Yang tampak berpikir keras mengerutkan dahinya.
“Dagingnya sudah matang, ayo kita makan!” pecah Hikashi agar suasana hati keduanya melunak.
Mereka menyantap hasil buruannya dengan suka cita. Berganti topik pembicaraan mengarah ke politik dan bisnis. Ranah ini sangatlah rahasia, sehingga ponsel mereka dinonaktifkan. Kenzo berjaga-jaga supaya tidak ada mata-mata yang mengintai. Obrolan yang sangat rahasia ini.
Sepulang dari berburu, Hirosi bertolak ke Mesir untuk melanjutkan lawatannya ke negara Timur Tengah. Sedangkan Takeshi kembali ke Hotel ia menginap. Karena esok harinya ia akan bertolak kembali ke Jepang. Tugasnya di Indonesia sudah selesai dan cukul. Sekarang ia bisa kembali ke Jepang, mengingat Hiroshi adiknya akan melepas masa lajangnya. Tentu Takeshi ikut andil menyukseskan perhelatan besar ini.
Hikashi tiba dirumahnya yang mewah ini, ia hanya mendapati Seven yang berada dikandang Xirion. Bocah kecil itu didampingi oleh pawang hewan.
“Kau suka dengan Xirion?”
__ADS_1
“Xirion hewan yang mengesankan Papa.” Jawab anak kecil itu.
“Kau sama sekali tidak takut binatang buas ini.” Mengacak-acak rambut Seven bangga.
“Apakah aku boleh membawa Xirion pulang?”
“Haaaaa...”tercengang.
“Aku rasa dia bisa menjadi hewan piaraanku di Jepang.”
“Seven tapi kau akan masuk sekolah Asrama, Nak.”
“Papa bisa memberi Xirion kandang dirumah.”
“Kalau Papa sih setuju-setunu saja, tapi bagaimana dengan Mama mu? Apakah ia bisa hidup berdampingan dengan Xirion?”
“Tolong bujuklah Mama, Papa.”
“Papa tidak yakin Nak, Xirion begitu besar. Butuh persiapan ekstra agar ia bisa beradaptasi di Jepang.”
“Papa...” menarik celana ayahnya.
“Seven, tidak semua apa yang kau inginkan dapar Papa berikan kepadamu. Xirion adalah hewan yang Papa temukan ketika berburu. Waktu itu ia masih bayi, mungkin Papa akan melepaskannya ke alam bebas lagi. Karena sejatinya ia hewan liar yang tidak boleh dipelihara.”
“Bagaimana kalau nanti Xirion mati dan tidak terawat seperti sekarang?”
Menarik napasnya sebentar dan berpikir sejenak. “Seven, nikmatilah liburanmu disini dulu. Jangan berpikir yang terlampau jauh. Xirion adalah binatang liar, naluri berburu nya pasti akan muncul secara alami. Setelah kau kembali ke Jepang akan sibuk dengan kegiatan sekolahmu. Mama mu pasti tidak setuju jika kau mengurus hewan piaraan.”
“Kenapa Mama begitu?”
“Karena Mama mu ingin mempersiapkan masa depanmu dengan baik. Biarkan Xirion berada disini, sesekali setiap liburan kita bisa melihatnya. Setuju?”
“Huffttt...” melengos kecewa.
“Seven? Nak? Hai, Steven?” Hikashi memanggilnya beberapa kali. Nampaknya Seven kecewa.
Didalam kamarnya, Hikashi mendapati ponselnya yang baru saja dipakai Frayza. Ia mengernyitkan dahinya, membahasa apa dengan Helena hingga berjam-jam lamanya. Mungkin Frayza tengah berkonsultasi dengan Helena tentang desain pakian Hiroshi dan Aiko nanti.
__ADS_1
Beberapa lembar contoh gambar berserakan diatas kasur. Membuat ranjang itu kotor, sehingga membuat Hikashi enggan rebahan. Ia memakai handuk kimono, mencari kamar lain yang rapi. Setelah berburu seluruh badannya sangat capek. Ia tidur dengan lelap sambil memeluk bantal.