
“Huekkk... Huekkk... Huekkk... “
Frayza sepertinya mendengar suara orang muntah di pagi hari. Kebetulan sekali, pagi ini kedatangan tamu bulanan.
Yuki keluar menyeka bibirnya yang basah, gadis muda itu tampak pucat. Tubuhnya kelihatan lebih kurus dan wajahnya pucat putih. Perawakannya seperti bunga yang layu.
“Yuki?”
“Nona Fray.” Jawabnya lemas.
“Apa kau tidak enak badan?”
“Hmmmb entahlah, setiap kali aku berada di gudang penyimpanan bahan. Kepalaku pusing dan perutku mual, aromanya begitu menyengat. Aku tidak tahan.”
“Nanti aku cek kondisi gudang bagaimana, tempat itu seharusnya dibersihkan. Sudah lama sekali tempat penyimpanan itu terabaikan.”
“Mungkin debunya banyak atau saja bahan dari kain itu yang aromanya beda.”
“Oh bisa jadi, karena setiap kain memang beda-beda aromanya. Oh iya, apakah kau bisa meminjamkan aku pembalut?”
“Untuk apa?”
“Aku kedatangan tamu bulanan pagi ini hehehe.”
“Yah jadi kecewa nih, Tuan Hikashi harus lebih berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan putra lagi.”
“Yuki... Jangan memprovokasiku ya!”
“Nona, kalian masih sehat dan pantas memiliki momongan lagi. Putra sulungmu saja sudah di Inggris. Dan putra keduamu beberapa tahun lagi pasti dikirim ke luar negeri juga kan?”
“Aku rindu Jade,” tertunduk.
“Nona...” dengan manjanya Yuki memeluk Frayza.
“Tidak apa-apa, cepat atau lambat putra-putra ku pasti akan pergi mengejar cita-citanya. Aku senang Yuki hihihi.” Matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
“Tapi kenapa Nona bersedih?”
“Dulu aku tidak sempat mengenyam pendidikan yang layak.” Menyeka air matanya yang meleleh.
“Tidak mungkin, kau bercanda.”
“Aku serius Yuki,” Frayza mengangkat wajahnya agar airmatanya tak menetes terus.
“Nona, bagaimana bisa kau tidak mengenyam pendidikan yang layak. Jika karyamu semuanya Bagus.”
“Aku bekerja keras agar bisa sepadan dengan orang yang mengenyam pendidikan formal. Semua informasi yang penting aku serap. Jangan sampai aku menjadi wanita yang bodoh, bagaimanapun juga. Aku masih memiliki orang tua, namun sayang.”
“Mereka pilih kasih?”
“He-em,” Frayza terhenti membicarakannya.
Yuki mengambil pembalut dari dalam tasnya. Ternyata ia memiliki cukup banyak stok pembalut.
“Ah syukurlah masih ada.”
• Hikashi : Sayang?
• Frayza : Iya, suamiku.
• Hikashi : Inggris sedang musim semi, mau aku jemput?
• Frayza : mau ngapain?”
• Hikashi : minum teh di kastil Sayang.
• Frayza : Hah?
• Hikashi : Aku akan menyuruh Matsumoto menyiapkannya. Kau beresi pekerjaanmu!
• Frayza : Tidak bisa Suamiku, perutku sakit sekali.
__ADS_1
• Hikashi : APA? KAU SAKIT! PANGGIL AMBULANS!
• Frayza : Hadeuhhh... (Memilin pelipisnya merasa kalau sikap suaminya mulai berlebihan).
• Hikashi : Aku pulang ke Jepang sekarang ya. Tunggu aku ya Sayang!
• Frayza : Tidak perlu, tetaplah di Inggris. Kasihan Jade jika kau menemaninya beberapa hari saja Suamiku.
• Hikashi : Ada Patrick, kau sendirian di Jepang. Aku suamimu, apapun kesakitanmu. Itu adalah kesakitanku juga, aku pesan tiketnta sekarang.
• Frayza : Sayang... Tidak perlu. Aku hanya datang bulan saja. Kebetulan maju 2 hari dari jadwal biasanya.
• Hikashi : HAH ?
• Frayza : Hahahaha kau pikir aku sakit serius. Tenang saja, ini hanya nyeri dan kram suamiku.
• Hikashi : Fray, dengarkan aku. Jangan sepelekan sakit nyeri haidmu. Aku harap kau ingat apa yang pernah terjadi pada rahim mu. Oh maaf, buka maksutku mengungkitnya kembali. Kau tahu kan kalau di dunia ini hal yang paling aku takutkan ialah kehilangan dirimu?
Yuki yang menguping pembicaraan suami-istri ini sangat tersentuh. Ia membayangkan kelak mendapatkan suami sebaik Hikashi. Ia membayangkan kalau nanti memiliki keluarga yang bahagia.
*
*
*
Seusia pulang kerja, Yuki memilih mampir di pusat perbelanjaan. Di sebuah etalase toko terpajang kereta bayi. Ia mendekati kereta bayi yang Indah itu. Perasaan Yuki menjadi aneh, saat tatapannya terganggu oleh siaran berita.
“Berita bahagia, kabar dari Istana menyebutkan jika Pangeran Hiroshi dan Putri Aiko akan segera memiliki momongan. Pasangan yang baru saja menikah ini sengaja tidak menunda memiliki buah hati. Disela-sela kesibukan tugas Negara keduanya. Konon rencananya akan diadakan bulan madu susulan yang sempat tertunda. Diketahui usia kandungan Putri Aiko sudah memasuki 6 minggu. Sekian kabar bahagia yang dapat Saya sampaikan.”
Yuki tidak tuli, siaran berita itu cukup keras suaranya. Bahkan seluruh pengunjung disana bersorak bahagia dengan kabar baik ini. Hanya Yuki seorang lah yang sedih atas pemberitaan ini. Ia merasa kesal oleh Hiroshi yang sudah mempermainkannya. Ia. Pergi dan berjalan secepat mungkin meninggalkan tempat keramaian itu.
Sampai pada akhirnya, Yuku berhenti didepan sebuah Apotek. Ia mengusap perutnya dan memberanikan diri. Jika ia tidak hamil, seharusnya isi pembalutnya berkurang. Dia mencoba mengingat kembali kapan ia datang bulan.
“Tidak mungkin,” Yuki dengan wajah kelamnya.
__ADS_1
Ia seharusnya dapat menebak, jika pembalut daruratnya tidak berkurang. Jadi selama ini Yuki baru menyadari jika sudah telat datang bulan.