
Seluruh penjuru negeri matahari terbit turut larut dalam kegembiraan. Sang calon pemimpin negara hari ini bersanding dengan istrinya. Semua doa dan harapan terbaik dipanjatkan untuk kebahagiaan pasangan baru.
Mulai dari pesta rakyat untuk kalangan umum, hingga pesta di istana untuk para tamu penting dan para pejabat. Semuanya berbahagia dan menikmati jamuan pesta. Hanya ada dua kecil yang murung ngobrol dipojokan. Lagi-lagi pria muda dari klan Alexander tengah berbincang-bincang masalah serius.
“Mama tidak bisa membantuku Seven.”
“Jadi Papa tidak terpengaruh?” nyemil kue coklat.
“Iya.” Mencomot kue coklat adiknya.
“Aku jadi prihatin Jade, pasalnya jika kau dikirim ke luar negeri. Otomatis setelah ini aku juga.”
“Apa Papa memasukkanmu di kelas akselerasi?”
“Iya.”
“Huffftttt... Orang tua kita memang mau berduaan terus sepertinya.”
“Aku ingin cepat dewasa dan memiliki wanita.”
“Kau masih kecil Seven, aku dulu. Baru kemudian kau.”
“Masa kecilku kurang kasih sayang Mama.”
“Masa kecilku direnggut oleh Papa.” Timpal Seven menyatukan kepalanya.
“Anak Mama sedang apa disini?”
“Makan.” Menunjukkan camilan yang mereka nikmati.
“Tidakkah kalian ingin memberikan kado kepada Pangeran Hirosho dan Putri Aiko?”
“Kau seven, duluan.”
“Kenapa mesti aku duluan?”
“Kau yang kecil, dan aku saudara tuamu.”
“Aihhhh...” berjalan lesu.
“Hehehe Jade, jangan mengumpankan adikmu ini. Kau juga harus berikan kado dan ucapan untuk Pangeran Hiroshi.”
“Baiklah Mama.”
Hari ini Hiroshi mendapatkan banyak ucapan dari siapa pun. Satu ruangan untuk menampung kado saja tidak cukup. Ia kelelahan dengan ritual pernikahan adat. Rasanya ingin mencari angin diluar sebentar. Tubuhnya begitu letih dan pikirannya sangat penat. Asisten pribadinya datang, memperlihatkan jam berapa sekarang. Ia mengangguk dan pergi bersama asisten pribadinya. Mempelai wanita memberikan ijin kepada suaminya untuk undur sejenak.
“Sekarang kau boleh tinggalkan aku sendiri di taman ini.”
“Baik yang mulia.”
Hiroshi melonggarkan pakaiannya yang berlapis-lapis. Ia berjalan mengitari taman yang diterangi sorot lampu yabg temaram. Langkah kakinya berjalan lurus mendekati kursi kosong.
“Huftt...” duduk bersandar.
“Akhirnya Pangeran tiba juga. Selamat atas pernikahanmu.”
__ADS_1
“Jangan katakan itu!” menepis jabatan tangan, tapi merengkuh tubuh wanita yang baru saja muncul dari kegelapan.
“Hiks hiks hiks... Aku harus ucapkan ini, karena ini adalah hari pernikahanmu Pangeran.”
“Kau tahu, semakin kau berkata begitu. Rasanya hatiku kesakitan seperti tersayat-sayat!”
“Pangeran, kau harus bahagia.”
“Aku menikahi wanita yang tak mencintaiku. Kenapa bukan dirimu saja hah!”
“Aku cukup mencintaimu saja, dan memandangmu dari kejauhan. Sudah cukup hiks hiks...”
“Kau terlalu berharga untuk ku abaikan.”
“Aku akan terus mencintaimu, walaupun kau sudah sah menjadi miliknya.”
“Hatiku untukmu...”
Keduanya berciuman dikegelapan malam, nuasa yang sepi ini membuat keduanya larut. Perasaan yang kuat dan menggebu-gebu menaikkan gairah.
“Jadilah selirku, akan ku berikan segala yang kau butuhkan.”
“Aku ingin sekali, tapi aku tidak bisa menyakiti hati istirmu. Sama artinya aku menodai kesucian ikrar kalian Pangeran.”
“Aku akan membungkam mulut siapa pun agar tidak ada yang tahu.”
“Tidak. Jangan lakukan itu.”
“Kau harus menyetujuinya Yuki.”
“Jadilah wanita keduaku, tapi kau yang utama dihatiku.”
“Jangan membuatku gamang Pangeran.”
“Waktuku tak banyak, jawab sekarang. Pengawalku akan memindahkanmu di villa rahasia kita.”
“Tapi bagaimana dengan kehidupanku setelahnya?”
“Kau tidak perlu bekerja, tinggalah di villa. Jika ada waktu, akan aku kunjungi dirimu. Soal keluargamu, aku akan menanggung semuanya.”
“Pangeran, jangan membuatku jadi wanita yang tamak.”
“Cukup kau selalu ada untukku saja, dan buatlah aku bahagia. Akan lebih baik jika kelak kita memiliki anak.”
“Pangeran Hiroshi...”
Percakapan itu disaksikan oleh Takeshi yang mencari adiknya berada. Ia bergegas dari Korea untuk menghadiri pesta adiknya. Namun, ada wanita lain yang menjadi duri dalam pernikahan ini. Takeshi tak begitu memperhatikan sosok gadis itu. Ia marah dan kecewa terhadap adiknya. Seharusnya ia tak melihat perbuatan curang Hiroshi di hari pernikahan ini. Jika kedua orang tuanya tahu, tentu saja akan menimbulkan masalah baru. Terlebih lagi, sekarang Pamor Hikashi naik berkat kinerjanya. Dikhawatirkan dukungan terhadap mantan putra mahkota naik menduduki tahta lagi.
“Ada apa dengan wajahmu itu?”
“Temani aku minum.”
“Hanya temani saja ya.”
“Ya ikut minumlah, masak aku sendiri yang mabuk.”
__ADS_1
“Hohoho tidak... Aku sedang program kesuburan.”
“Program pertanian yang digalakkan pemerintah ya?”
“Kepalamu itu! Aku sedang program punya momongan lagi, Jade akan ku kirim sekolah. Kasian Seven si bungsu kami kalau tidak punya teman bermain.”
“Heleh, lagunya gegayaan untuk teman Seven. Padahal memang kau dasarnya maniak dengan istrimu bukan?”
“Bukan, bukan begitu tapi emang benar sih aku suka melihat istriku hamil.”
“Tuh kan benar kan, kau ini memang kecanduan dengan tubuh istrimu. Temani aku minum sini, sedikit saja.”
“Haih tidak, aku tidak mau Frayza marah lagi. Kemarin malam aku tidur disofa gara-gara meletakkan handuk dikasur.”
“Ya Tuhan, harusnya kau tidur di kamar mandi saja Hikashi.”
“Seenakanya bicara!”
“Hahaha... Hari ini adikku menikah dan payahnya lagi. Aku belum menemukan calon yang tepat untukku.”
“Memangnya kau mau menikah?”
“Ya maulah, kau pikir aku tidak ingin memiliki anak?”
“Tapi kau kan pemain wanita, sudah berapa wanita yang kau permainkan?”
“Dirimu juga begitu kan.”
“Eh masa iya seperti bukan aku deh.”
“Ck...malah kau menyiksa mereka sampai sekarat.”
“Iyakah, hohoho kejam sekali. Takuuuttt.”
“Berhenti bergurau Hikashi, kau itu lebih parah dari kami.”
“Aku mana tahu yang kalian kerjakan, bisa jadi kalian lebih tragis.”
“Kami memperlakukan wanita sebagaimana mestinya. Kau malah menyiksa mereka, dasar aneh.”
“Cukup minumnya Takeshi, kau sudah mabuk berat. Pergilah tidur, besok kita berangkat mengantar Hiroshi bulan madu.”
“Aku tidak ikut.”
“Ikut saja, anggap saja kita berlibur cuti kerja.”
“Tidak mau, aku maunya tidur seharian dikamar.”
“Kau ini.”
“Pergi sana temui istrimu, dan ajak ia bulan madu lagi.”
“Dia tidak akan mau, pasti pikirannya terpecah anak dan kerjaan. Kadang aku cemburu ia tidak memperdulikan diriku ini yang butuh kasih sayangnya.”
“Mulai berbohong lagi kau, Jade keluar negeri itukah rencanamu. Sedangkan Seven tahun depan dikirim keluar negeri juga kan. Kau ini hanya mau berduaan saja dengan Frayza bukan? Potong rambut ketiaku jika salah.”
__ADS_1
“Aku tidak mendengar, aku tidak tahu bahasamu, aku bukan siapa-siapa. Selamat mabuk Pangeran Takeshi...”