
TOKYO, JEPANG.
Kegiatan di pagi ini akan diawali dengan latihan fisik para penjaga keamanan. Seperti biasa Matsumoto yang menjengkelkan dan keras kepala menjadi wasit di acara ini. Karena sifatnya wajib, maka seluruh staf yang bekerja harus ikut pelatihan fisik ini.
“Semuanya, hari ini sengaja aku akan menggembleng fisik kalian di musim panas ini. Untuk mengawali sesi latihan fisik, didepan kalian sudah disediakan sarapan. Dalam hitungan 2 menit, jika makanan di depan kalian tidak habis maka akan mendapat hukuman. Hukumannya berat makanan yang ditimbang yaitu jumlah lari memutari sekarang rumah ini! Jadi pastikan kalian makan dengan cepat dan lahap, jika aku menemukan kecurangan. Hukumannya ialah menjadi tukang sapu diseluruh komplek kediaman Tuan Hikashi. Apa kalian mengerti?”
“Ya... Mengerti Ketua!” mereka menjawab serentak.
“1-3 Mulai!” Matsumoto menghilangkan hitungan 2 agar pesertanya kelimpungan.
Dan benar saja triknya berhasil membuat pengawal tersendak, dan kebingungan menghitung ulang apakah sudah benar hitungan angka oleh Matsumoto.
“Hai Ramon, kau sedang apa. Ayo makan cepat sarapanmu!” Frayza mulutnya sudah penuh dengan makanan sambil bicara.
“Aku belum mendengar aba-aba tiba-tiba sudah 3. Lalu dimana hitungan ke 2?” Ramon kesal dengan hitungan acak Matsumoto.
“Nyammm.... Nyammm.... Nyammm.... Kau ini bodoh apa tuli, kalau ada kalimat mulai ya makan. Itu hanyalah trik tipuan agar kalian berpikir lebih lama. Aaaarrrrgggghhhhh SELESAI!” Frayza mengankat mangkuknya.
“Wah hebat, karena kau yang pertama menghabiskan makanannya. Maka kau harus lari keluar dan melewati rintangan!” Matsumoto lalu memerintahkan Frayza untuk berlari halang rintang.
“Aaaaaakkkhhhh apa katamu Ketua? Aku selesai makan kenapa kau menyuruhku lari halang rintang, kau ingin aku mengeluarkan isi perutku ini?” Protes Frayza yang tidak terima dikerjai Matsumoto.
“Waktumu hanya 5menit untuk melewati lari halang rintang, jika kau banyak bicara maka waktumu semakin sedikit dan hadiah uang dalam kantong itu akan berkurang!” Frayza yang semangat ketika mendengar uang langsung berlari ke arena lari halang rintang.
Sedangkan peserta yang lain bergegas makannya agar bisa menyusul Frayza mengambil hadiah uang diujung arena lari halang rintangan.
“Ciiiiiiaaaaaaaaa aku berhasil mendapatkan uangnya! “ Frayza berhasil melewati halang rintangan dengan mengangkat kantong.
“Wah hebat sekali dia, ayoo kita kejar hadiah yang masih tersisa!” ucap peserta lain yang masih berada di arena.
Kantong yang konon katanya berisi uang iti segera dibuka, dan ternyata isinya adalah foto uang saja.
“PAK KETUA! APA MAKSUTMU INI HHHAAAAA!!!” seolah berhasil mengerjai Frayza lagi, Matsumoto menjelaskan kalau demi keamanan uangnya disimpang di brangkas.
“Aku hanya mengantisipasinya, karena tindak kejahatan dan kecurangan sangat tinggi.” Dengan santainya dia pergi dan menuju arena pelatihan lain.
__ADS_1
“HAAAAHHHH KETUA MATSUMOTO, KAU INI BENAR-BENAR CURANG!” Frayza akhirnya ngomel-ngomel dibelakang Matsumoto yang berjalan santai seolah tk terjadi apapun.
Arena pelatihan selanjutnya ialah perlombangan renang, dengan membawa beban 30 kg di punggungnya. Selanjutnya mereka disurug panjat tebing dengan membawa ransel yang berisi bebatuan. Ketika sudah sampai dipuncak tebing latihan mereka harus terjun ke kolam air yang sudah disiapkan belut dan bebek. Jika mereka berhasil mengambil belut yang banyak artinya point tambahan.
Para peserta yang sudah compang-camping bentukannya tampak setengah mati untuk berdiri. Mereka kesal dengan latihan fisik yang diatur oleh Matsumoto.
“Ketua, kami sudah lelahhhh.”
“Ketua, tubuh kami mulai gatal-gatal. Ijinkan kami mandi untuk membersihkan diri.”
“Hohoho... Tentu saja, kalian aku beri waktu 10 menit untuk mandi dan ganti pakaian. Dan berkumpul lagi dilapangan dengan membawa tas ransel yang sudah kami siapkan disana.”
“APAAAAAAAAA???!!!” kali ini para pengawal benar-benar dibuat kesal oleh Ketua Matsumoto yang keterlaluan mengerjai mereka.
“Pada hitungan mundur aku hitung, 3-3½-1 hahahahaha.” Sontak para pengawal yang masih kelelahan itu kocar-kacir kembali mencari kamar mandi.
Dari balik dinding kamar mandi ini Matsumoto tertawa mengerjai pengawalnya yang berebut untuk mandi. Sedangkan dirinya asik-asik memengat pengeras suara sambil menunjukkan sisa waktu.
“Kalian jangan malas! Anak muda itu harus gerak cepat, yang gerak lambat itu otak kalian saja.”
“Tau begini aku memilh dihukum selama sebulan ah.”
Sambil mandi dan mengganti baju bersih, Ramon tak melihat Frayza. Sampai kamar mandi itu kosong pun tak nampak Batang hidung Frayza.
“Ramon, ayo kita berkumpul di lapangan sekarang. Tempat ini sudah dipasang Bom oleh ketua Matsumoto. Ketika waktu habis maka akan meledak!”
“Apa dia sudah gila?!
“Jika dia waras mana ada pelatihan fisik seperti ini. Ayo keluar!”
Bersama Ramon mereka berlari lalu meloncat keluar dan tiarap ketanah. Dan Booommmm suara ledakan kamar mandi.
“Benar-benar gila Ketua Matsumoto!”
“Apa kau melihat Fred?” Ramon khawatir kalau Frayza masih tertinggal. Dikamar mandi.
__ADS_1
“Tidak, coba kau tanyakan kepada Ketua Matsumoto saja.”
Ramon berjalan kesal dan melemparkan handuk ke perut Matsumoto.
“Hai Ketua, tindakanmu ini sangat tidak manusiawi. Bagaimana kalau tertanta ada agen yang masih disana lalu mati?”
“Apa maksutmu ketinggalan? “ Matsumoto mencopot kacamata hitamnya.
“Fred kawanku masih berada didalam sana, kalau dia mati apa kau mau bertanggung jawab!”
“Maksutmu Fred yang itu?” jari Matsumoto menunjuk Frayza berdiri dengan menggendong ransel.
“Apaaaaaaa????” Ramon semakin kaget melihat Frayza masih utuh hidup.
“Kenapa kau lambat sekali, huh dasar lambat.” Ramon tercengang melihat keada Frayza yang baik-baik saja, padahal dirinya memikirkannya hpir mati konyol dalam kamar mandi yang terpasang Bom.
“Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri ketimbang temanmu yang sudah bersiap.” Ramon bergidik kesal mendengar ocehan Matsumoto.
Semua anggota pengawal keamanan di kediaman Hikashi ini terus diangkut Bis ke sebuah pegunungan. Masih di dalam Bis yang sama, Ramon terus menatap tajam Frayza yang asik menghisap permen loli.
“Kau kenapa?”
“Hheerrrrggggghhhh!!! “ giginya menggeretak.
“Apa kau mau minta permanku?”
Tuingg... Ramon menjitak kepala Frayza yang bebal.
“Aku setengah mati mengkhawatirkanmu, ternyata kau santai-santai saja. Aku hampir mati meledak bersama Bom tadi, tahu tidak sih. Semua gara-gara kamu!!!”
“Ouwhhh,”
“Kau ini aku cari diseluruh kamar mandi tidak ada, lantas dari mana kau membersihkan tubuhmu ini Fred!”
“Daripada aku harus berjubel mengantri, lebih baik aku menceburkan diri di kolam renang. Beres bukan?” Ramon pingsang mendengar jawaban enteng dari Frayza yang seolah tak mempermasalahkan insiden kamar mandi yang di sudah dipasangi Bom.
__ADS_1