TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
SUAMIKU YANG MENGGEMASKAN, BEGITU POLOS


__ADS_3

#LANJUTAN,


Dari atas Hikashi memperhatikan tubuh istrinya, kulitnya masih mulus tidak ada bekas gigitan darinya. Sesekali Hikashi memperhatikan pinggang ramping Frayza, membayangkan bila menggelambir berlemak.


“Ketawa apa, sudah apa belum uhhh assshh.” Tahu kalau mata suaminya nakal memelototi tubuh.


“Be-belum sayaaanggg ah ah ah ah.” Terus memacu dan mengasah hingga runcing dan tegap.


“Uhhhh.... Uhhhmmmm,” meracau tak beraturan, tubuhnya ikut bergerak seirama dengan gerakan Hikashi yang mendominasi permainan.


Perut datar Frayza ini masih kempes dan rata. Bahkan pusarnya sangat dalam, keisengannya memasukkan jari telunjuk kedalam pusarnya istrinya.


“Awh, jangan ah.” Protes istrinya kegelian.


“Akuuuu sukahhh hahahah,”


“Sayang, apakah kau tidak pegal melakukannya. Ini sudah hampir habis waktu makan siang, aku benar-benar lapaaarrr uhhhh.” Merintih lemas digempor serangan bertubi-tubi.


Seandainya saja Frayza bisa memiliki rahim yang sehat, mungkin Hikashi tidak perlu menyewa rahim wanita lain. Karena tekatnya yang kuat untuk memiliki Frayza seutuhnya, maka anak dihadirkan untuk mengikat hubungan. Namun, keinginan Hikashi ini sudah lebih dari cukup. Karena yanh terpenting sekarang keluarganya sudah utuh dan komplit.


“Aku peluk sebentar ya, nanti kita mandi bareng.” Frayza yang sudah diselimuti Hikashi mengangguk dan tertidur.


Tangan Hikashi mengelus rambut Frayza yang terurai. Nampak bekas ikatan yang membuat rambut istrinya ikal dan kusut. Sebenarnya Frayza memiliki rambut yang hitam dan lurus. Frayza pun tahu kalau Hikashi sangat menyayanginya, beberapa kali menciumi rambutnya.


“Sayang, kenapa kau meninggalkan pekerjaanmu yang penting di Paris?”


“Ada Matsumoto, dia tahu kalau aku tidak tahan tanpa tubuhmu.”


“Apa sebaiknya aku membekalimu bajuku saja?”


“Bodohnya istriku, mana bisa aroma tubuhmu menggantikan kenikmatan tubuhmu. Bodoh sekali istriku ini, kau sangat menggemaskan saat ingin keluar tadi hehehe.”


“A~~ aku jadi mau lagi kalau begitu Sayang,hehehe.”


“Ssssttt jangan nakal, biarkan juniornya tidur dulu. Kau sudah membuatnya bekerja keras, aku dari perjalanan jauh untuk ini. Nanti mal lagi ya tapi dipesawat, mau kan?”


“Sayang, kenapa fantasimu tidak aman sekali. Kau tidak sadar sudah merusak ranjang ini?”


Melihat sekeliling berceceran dilantai. Bahkan bantal dan guling entah lari kemana. “Hehehehe aku hanya sedikit bersemangat Sayangku.”


“Sayang, apakah kau menyesal karena menikahi wanita dari kasta terendah?”


“Iya, aku menyesali karena kau dari kasta terendah. Tapi mau bagaimana lagi, bagi pria menikahi wanita yang bisa membuat kecanduan diatas ranjang itulah yang utama.” Hal yang masuk akal bagi Hikashi yang mulai keranjingan Frayza. Dia menjulurkan tangan Frayza untuk diciumi per inchi. Rasa geli mulai menggeliati dirinya.


“Jangan teruskan ya Sayang, aku benar-benar lelah.”


“Aku hanya melakukan pendinginan agar tidak kram tubuhmu. Setelah pemanasan singkat dan inti yang panjang, kau harus dinetralkan seperti ini.”


Hikashi tahu betul bagaimana membuat Frayza betal berlama-lama di kamar. Padahal hari ini dia harus menyetorkan hafalan kosakata pada Patrick.


“Sayang, kenapa berhenti mendesahnya. Apak kau tidak suka, aku hentikan ya?”


“Aku teringat PR-ku, harus menyetor hafalan kosakata.”


“Owh, lakukan sekarang. Aku akan menyimaknya sambil bermain-main dengan lidahki. Mulai!”


Yang benar saja kau ini Hikashi, mana ada hafalan kosakata sambil bercumbu. Jika bukan karena perintahmu yang konyol ini, Frayza sudah berada di meja belajar. “Cepat ucapkan hafalanmu,” Hikashi ternyata tidak main-main untuk mengetes kemampuan belajar Frayza. Dan dengan tersengal-sengal mengatur napas. Memutar kembali ingatan kosakata yang ia hapalkan. Hanya separoh saja yang berhasil Frayza ucapkan.


“Ternyata kau malas belajar ya,” membalikkan tubuh Frayza dan menampol pelan boking kenyalnya.


“Awh Sayang, sakit. Aku sudah menghapalkannya, kau yang terus menggodaku sehingga tidak konsentrasi.”


“Kau membantah, harus aku hukum lagi.” Menghentakkan lagi dari belakang.


“Aihhhh ampun Suamiku awhhhh awhhh.” Lelaki itu menyeringai mengejari istrinya berkali-kali.


Hiroshi yang masih perjaka ini tersiksa mendengar suara bising dari kamar sebelahnya.” Mereka sengaja untuk mencemoohku!” mengapit bantal di sisi telinganya.


Setelah isi perutnya terkuras habis, tenaganya mulai loyo. Bahkan untuk turun ranjang saja dia mulai gemetaran. Hikashi sengaja memperlama permainannya agar Hiroshi tak berkutik didalam kamar. Ini adalah balas dendam ala Hikashi kepada sepupu usilnya.


Dan Ramon membawakan nampan berisi bubur dan obat. Sepertinya Hiroshi diare karena kehilangan cairan dalam tubuh. Suara di kamar sebelah sudah lenyap, mungkin mereka tertidur.


“Pangeran sejak datang kemari kan tidak makan apapun, kenapa bisa diare?”


“Hai Ramon, diare itu bisa menyerang siapa pun. Bisa jadi karena aku minum anggur atau mencium ara badan istri sepupuku yang dekil itu huh.” Kilahnya bohong.


“Apa sebaiknya saya panggilkan Dokter saja, karena lawatan anda masih banyak dibeberapa Negara.”

__ADS_1


“Tidak perlu!” tolak Hiroshi mentah-mentah.


Ramon keluar dari kamar, membiarkan Hiroshi yang masih kesakitan. Ketika melewati kamar yang ditempati Hikashi. Dirinya sempat memperlambat laju jalannya. Sembari menguping pembicaraan.


“Sedang apa kau?”


“Maaf Tuan Hikashi, saya mencari kamar Pangeran Hiroshi.” Jawabnya beralibi menutupi malu kepergok.


“Di kamar sebelah,” Hikashi mengencangkan tali pijamasnya. Rambutnya masih basah usai keramas disiang hari. Sepertinya perilaku Hikashi ini menimbulkan kecurigaan. Usai mengerjakan apa dirinya siang-siang begini. Ketika muncul niat untuk membuka pintu kamar, ia urungkan. Mungkin di dalam masih ada orang disana.


Patrick sudah menyiapkan menu makan siang. Beberapa pelayan tengah sibuk mengatur posisi dimeja.


“Antarkan makan siang untuk Nona Frayza di kamar. Dia sedang kesulitan berjalan uhuukk,” memerintahkan Pelayan wanita agar membawakan makanan.


“Tuan, apakah perlu saya panggilkan Dokter bila Nona sakit?”


“Tidak perlu, dia hanya keenakan saja hahaha. Patrick kau tidak tahu kalai pengantin baru itu sedang giat-giatnya begituan hehehe.”


Patrick hanya bisa membalas tersenyum saja. Karena Hikashi memanasi Hiroshi yang akan bergabung makan siang. Wajah Hiroshi mulai pucat, dan kehilangan nafsu makan.


“Pamer!”


“Ck,” seringai Hikashi acuh sambil memotong daging ikan.


“Istri tidak becus masak dinikahi,”


“Aku memiliki koki, bukan mencari tukanh masak.”


“Wanita pasaran begitu tidak istimewa.”


“Dia tidak suka berdandan dan tomboi, aku tidak tertarik dengan wanita glamor.”


“Terus saja bela istrimu yang payah, dasar!”


“Dasar apa? Kau yang sudah keterlaluan memperlakukan istriku. Aku saja tidak pernah menyuruhkan memasak. Bahkan kau sudah membuat jari-jemari terluka. Masih untung kau hanya diare, masih begitu kejam mengomentasi istriku.”


“Lebih baik aku melajang daripada menikahi wanita yang khusus menghangatkan ranjang saja.”


“Aku beritahu ya, aku dan Fray sudah memiliki anak bayi. Sedangkan kau apa, menikah hanya lewat jalur perjodohan. Sangat tradisional sekali hidupmu hahahaha.”


“Aku mengundang tamu spesial,” senyum licik.


“Bukan urusanku.”


“Urusanmu, dia adalah wanita yang spesial untukmu.” Sengaja memperkeras suaranya karena melihat Frayza turun membawa buku pelajaran.


Siapa wanita yang dimaksut Hiroshi? Kenapa begitu spesial? Apakah ada wanita lain selain dirinya yang belum ia ketahui. Wajah Frayza kecewa ketika mendengarnya. Ketika ia berada diruangan baca bersama Patrick hatinya gelisah tak menentu. Ingin tahu siapa wanita tersebut. Karena alasan lelah, Frayza meminta sesi belajarnya diakhiri lebih cepat. Dia termenunh didalam ruangan baca ini. Merasa ada hal yang disembunyikan darinya. Ia pikir selama ini sudah mengenal dekat Hikashi namun ternyata belum sedalam itu.


“Sayang, kenapa kau tidak melanjutkan belajarmu. Apa kau sedang tidak sehat?” mengusap kening Frayza. Namun ditepis tangannya seolah tak mau menjawab pertanyaan Hikashi.


“Aku mau menghafal Bahasa Perancis dulu. Keluarlah,”


“FRAY!” teriak Hikashi lantang.


“Heppssshhh,” terkaget dengan suara lantang suaminya yang tak puas.


Slang... Mengambil pedang yang terpajang didinding. “Katakan, kau ada masalah apa kepadaku sehingga tidak sopan!” Hikashi tahu jika dirinya tak dihargai sebagai suami. Jika sudah begini, mau tidak mau Frayza harus berlutut untuk memohon ampun.


“Aku cemburu,” sambil memalingkan wajahnya dengan nada yanh rendah.


“Cepat katakan Frayza! “ Hikashi semakin geram karena Frayza seolah mangada-ada alasan yang tak penting. Cemburu, kepada siapa wanitanya ini harus cemburu. Sedangkan Hikashi tak mampu hidup tanpa Frayza.


“Apa kau lupa kalau Pangeran Hiroshi bilang jika tamu istimewa diundang kemari.”


“Itu tamunya, aku meninggalkannya dan menemuimu kemari Sayang. Kau seolah menuduh jika aku tidak Setia, ini menyakitkan.”


“Hikashi...” memanggil suaminya yang memilih keluar ruang baca dan membawa pedang yang masih terhunus tanpa sarung.


Frayza mengejar Hikashi dan membujuknya untuk bicara baik-baik. Namun, Hikashi sudah buruk suasana hatinya. Dia memilih acuh terhadap istrinya yang terus mengiba kepadanya.


“Waw, seperti pengemis.”


“Aku pikir yang menjadi istrimu seorang artis atau bangsawan. Ternyata hanya kaum rendahan begini.”


“Kalau kaki kalian tidak ingin pincang, segera angkat kaki kalian dari lantai rumahku!” Kali ini reaksi Hikashi begitu berlebihan karena pertengkaran dengam Frayza yang cemburu dengan sosok Damora yang berdandan lain. Damora mengecat rambutnya menjadi lebih gelap. Semirip mungkin dengan tampilan Frayza. Hanya saja baju yang dikenakan Damora lebih seksi dan menggoda.


“Hikashi William, kau sangat menggairahkan ketika sedang terbakar amarah.” Mengusap tangan Hikashi dengan menggoda.

__ADS_1


“Jauhkan tanganmu dari tubuh Suamiku!” Frayza mendorong Damora yang mulai menggoda Hikashi.


“Haiii kau wanita rendahann!” menjambak rambut Frayza dari belakang. Hiroshi bermaksut untuk melindungi Damora dari kemarahan Frayza.


Hikashi menggoreskan pedangnya ditangan Hiroshi hingga berdarah. Tak disangka ternyata Hikashi bisa melukai Putra Mahkota dengan pedangnya.


“Hikashi,” Damora tak menyangka Hikashi berubah menjadi monster yang menakutkan.


Isakam kecil menahan tangis akhirnya tak tertahan, Frayza merasa dirinya seperti beban dan bahan cemoohan di Kastil suaminya. Ia berjalan merunduk memegangi kedua lengannya. Kepalanya menggeleng-geleng dengan perlakuan buruk yang terjadi padanya. Ia pergi menyusuri lorong-lorong panjang dan sepi, tak tahunya dia tersesat. Ia menangis sejadi-jadinya di pojokan bawah tangga. Ramon berhasil menemukannya, lalu menyeka air mata kesedihan Frayza.


“Tempatmu bukan disini Fray, menjadi wanita bangsawan tidak akan mengubah pandangan orang rendahnya kasta wanita biasa.”


“Aku mengerti Ramon, hiks hiks hiks.” Frayza menangis meringkuk. Sedangkan Ramon berdiri mengawasi tempat mereka berada sekarang.


Sementara itu pengawal Hiroshi datang untuk mengobati goresan pedang. Damora tak beranjak dari tempatnya, dia masih membuat perhitungan dengan Hikashi. “Sejak awal kau sudah ditakdirkan menjadi tunanganku. Suami masa depanku, harusnya kau jadikan dia budak. Atau posisi tertinggi adalah selir!”


“Kau kejar saja Hiroshi, dia yang layak bagimu bukan? Aku bukan lagi putra mahkota, dan perjanjian antara orang tua kita sudah batal. Aku bebas menentukan siapa milikku, aku tidak tertarik sedikitpun dengam dirimu Damora. Apa perlu aku beritahu, bahwa pembunuh Digna dan Margareth ialah kau dalangnya? “


“Cih,”


“Damora,” menghunuskan pedang dipundak wanita yang pernah menjadi tunangan masa kecilnya. Hikashi menghentikan langkah Damora yang mendekati Hikashi.


“Aku akan melakukan apapun, sekalipun harus dibenci olehmu seumur hidup.”


“Ketahuilah, aku akan melepaskan segala atributku. Jika kau berpikir aku berniat mengambil alih gelar Putra Mahkota kembali. Aku sarankan kubur dalam-dalam obsesimu. Kau lihat bukan, betapa. Antusiasnya Hiroshi kepadamu? Sebaiknya kau pindahkan haluanmu kepadanya, aku sudah bosan kepadamu!” bisik Hikashi penuh tekanan.


“Hikashiiii,” Damora geram menggerakan giginya.


“Pergi!” usir Hikashi.


Dan Damora pergi sesuai perintah Hikashi. Kejadian ini akan bertambah buruk bila dirinya tidak segera pulang. Pasti Hiroshi sudah merencakan kedatangannya untuk merundung Frayza. Itu terlihat dari kedatangan Damora yang sepihak dengan Hiroshi. Mereka berniat untuk menjatuhkan mental Frayza. Agar membuat Hikashi kesal dengan kecemburuan Frayza.


“Dimana istriku?”


“Dia berasa di bawah tangga museum pribadi Tuan Muda.”


“Bersama siapa?”


“Tidak dengan siapa pun, Nona menangis seorang diri. Mungkin dia ingin meluapkan kesedihannya.”


“Aku akan menemuinya, persiapkan Jade untuk menghibur Frayza. Sepertinya hanya Jade yang bisa memperbaiki kemurungannya.”


“Baik Tuan Muda.” Patrick melaksanakan perintah Hikashi.


Sebenarnya Patrick tahu kalau Ramon berada disana. Namun, ia mengunci rapat rahasia ini. Karena bila Hikashi tahu Ramon yang menemukan frayza dan menjaga istrinya. Maka akan muncul kecurigaan baru, Hikashi saat ini sedang dalam penuh amarah. Dan tangga menuju museum pribadi didatangi Hikashi. Ia membawa setangkai bunga Mawar ditangan.


“Sayang, untuk apa kau menangis. Aku sudah mengusir pengusik itu, mari.” Membujuk istrinya yang masih menangis.


“Hikashiiiiii,” memeluk suaminya histeris.


“Husssssttttt sssstttt cup cup sayang, maafkan aku sudah membuatmu sulit. Aku tidak berniat menutupi ini semua. Dulu saat aku kecil, Ibuku pernah mengenalkanku kepada Damora yang merupakan kerabat keluarga Ibuku. Mereka dari kaum bangsawan Inggris. Karena tingkatan mereka lebih tinggi dari marha Ibuku, inisiatif ini muncul jika aku gagal menjadi putra mahkota. Dan benar, saat kedua orang tuaku tiada. Gelarku diambil oleh adik Ayahku yang sekarang menjadi Kaisar. Sebenarnya perjodohan waktu kecil itu hanya omong kosong. Tapi Damora menganggapnya serius, sampai sekarang dia masih berpikir di fantasi masa kecilnya.”


“Apa kau pernah mencintainya?”


“Cinta? Apa itu Cinta?” Hikashi bingung makna Cinta sebenarnya.


“Cinta itu perasaan suka kepada seseorang yang mendalam.”


“Aku tidak pernah merasakan hal konyol itu, aku hanya ingin melakukan hal semauku saja.”


“Lalu apa perasaanmu kepadaku?”


“Kau selalu muncul di otakku, mengganggu konsentrasiku ketika bekerja. Bahkan suaramu menjadi alarm untukku bangun pagi. Aku masih menyimpan rekaman suaramu,menjada nada alarmku hehehe.”


“Sayang, kau bercanda ya?” heran suaminya bisa bertingkah aneh.


“Tidak, aku pernah tidak sengaja merekan suara dan tiba-tiba muncul suaramu. Dengarkan coba” Hikashi menempelkan ponselnya ditelinga Frayza. Dan terdengar suara Frayza yang mengumpat kesal saat latihan menjadi pengawal.


“Haaaa, itu suaraku.”


“Hehehe,” Hikashi tersenyum.


Mereka duduk beralaskan lantai,dan saling berbincang-bincang. Hikashi menceritakan tentang siapa saja wanita dalam hidupnya. Termasuk para selir-selirnya, dalam kehidupan ini tiada lelaki yang hidupnya lurus-lurus saja tanpa campur tangan wanita. Kepala Frayza bersandar dipundak Hikashi, menciumi kelopak bunga Mawar putih. Hikashi tahu sakit hatinya Frayza masuk dikehidupannya. Seorang gadis biasa, menjadi istri Hikashi William Alexander.


“Walaupun aku tidak tahu apa itu cinta, tapi aku tahu kalau menikahimu harus memberimu hal yang menjadi kekuranganmu. Aku membeli rahim adikmu, agar kita memiliki anak yang lucu. Aku memberimu rumah yang mewah dan besar ini sebagai tempat tinggal kita bersama. Kelak kalau kita menua tinggal di Villa Swiss. Dan aku memiliki pekerjaan yang menghasilkan pundi-pundi uang jika kau ingin membeli apapun. Bahkan aku merelakan separuh waktuku untuk mengejarmu dipelarian, rasanya kau ini sangat mengesalkanku Sayang. Kau tahu, nyawaku ada bersamamu. Sungguh tidak tahan jika harus kehilangan dirimu, aku mohon cintailah aku. Biar aku tahu bentuknya seperti apa?”


Dari pernyataan inilah Frayza tahu jika Hikashi lebih polos dari yang ia bayangkan. Ternyata Hikashi tidak tahu apa bentuk perasaan cinta, padahal segalanya yang ia sebutkan tadi adalah bukti nyata dari mencintai seorang wanita. Hoammmbbb Abang ngantuk nih, besok yang mau puasa jangan lupa sahur ya. Kalau Abang ini tim tidur lupa sahur, karena Abang ya Buka ya Sahur diringkas jadi atu. Karena pencernaan Abang ini suka rewel kalau sahur hehehe.

__ADS_1


__ADS_2