TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
MATSUMOTO DAN PEDANG


__ADS_3

Pengawal Matsumoto melepas jas dan mengendorkan dasinya. Dia mengambil pedang Katana yang sudah berada di sangsak.


“Hyaaaattt...” langkah Matsumoto lincah menyerang Ramon yang masih duduk termangu.


Dug... Dug.. Crattt... Crattt...sreeeettttt “Ah,” suara Ramon terkapar di lantai.


“Aduh sakit sekali,” tangan Digna dlteriris pisau buah.


“Meleng sih, kan ada pengupas buah. Kenapa pake pisau, benda setajam ini jika tidak hati-hati akan melukai dirimu sendiri.” Frayza mengisap darah yang menetes dari jari Digna.


“Fred,” tertegung dengan perilaku baik Frayza.


“Hemmmb,” masih menyesap darah hingga tak mengucur.


Mata Digna tak beralih dari Frayza yang memuntahkan darah ke bak cuci tangan. Sebelumnya Digna hanya memiliki Ramon, kini ada Frayza yang menyamar lelaki. Tidak bisa dipungkiri, Frayza sekarang jauh lebih baik saat pertama kali datang menjumpai dirinya.


“Apa masih sakit?”


“Hemmmmbb,” dehem Digna.


“Apa kita perlu ke Rumah Sakit, agar diperiksa Dokter?” mengusap kening Digna.


“Fred, yang terluka itu jariku bukan keningku. Cuppp muaccchhhh, “ dengan spontan Digna mencium pipi Frayza yang duduk disebelahnya.


“Ukh, kau kenapa? “ Frayza terperanjat mendapati pipinya basah bekas bibirnya Digna.


Keduanya saling bertatapan tapi beda makna. Frayza merasa jijik, sedangkan Digna merasa nyaman bisa mencium pipi Fred. Entah posisinya bagaiamana, tapi Frayza pernah depresi karena pria. Dan Digna juga tengah depresi dengan hubungannya dengan Ramon yang tak kunjung membaik.

__ADS_1


Tuing, Frayza menoyor kenong Digna agar mereka saling menjauhkan diri. Keduanya duduk diujung sofa saling beradu punggung.


Kalau begini terus nanti aku bisa beralih orientasi seksual. Duh, Digna jangan pancing-pancing aku terus. Aku sedang menyamar jadi lelaki. Kamu harus menjauh dariku Digna. Guman Frayza dalam hati.


“Fred, ayo kita keluar cari makan?” bujuk Digna.


“Tidak usah, aku mau belajar membuat sistem pelacak lewat satelit!”


“Fred, aku janji tidak akan melakukannya lagi. Ayolah kita pergi mencari angin segar!”


Blassss, pintu kamar dibanting keras oleh Frayza yang menolak tanpa kata tapi lewat perbuatan. Namun dasar keras kepala, Digna menggedor pintu berulang kali. Dana membawa wajan penggorengan sebagai alat musik. Namun dasarnya Frayza yang bebal, dia memakai alat bantu pendengar telinga. Volume suara di naikkan sehingga dia tidak bergeming sedikitpun.


“Hoam, mengantuk.” Setelah 3 jam mempelajari sistem alat pelacak lokasi melalui satelit.


Frayza masih terduduk di kursi pegas yang nyaman. Sambil memutar-mutarkan kursinya seperti ayunan bayi. Dan dia tertidur pulas sampai ileran. Dan diluar pintu ada Digna yang tertidur dilantai. Gadis itu tak putus asa menunggu Frayza yang bersembunyi du dalam kamar. Sepertinya Digna mulai tertarik dengan Frayza. Kalau yang dimatanya Fred adalah lelaki yang hangat dan baik.


“Cepat bereskan orang itu, “ perintah Matsumoto.


“Baik,” ucap mereka menggotong tubuh Ramon.


Pedang yang tajam dan panjang itu ternyata masih memakai sarung pedang. Ternyata sarung pembungkusnya sangat tajam, bagaimana dengan mata pisaunya.


Sling, pedang Katana yang dipersembahkan Matsumoto itu diunus oleh Hikashi. Warnanya agak keemasan, kedua sisinya sangat tajam dan sangat ringan. Pedang yang sangat Indah, karena ada ukiran nama Hikashi dan gambar ular naga mencengkeram bunga teratai dibawah rembulan yang berawan.


“Tuan Hikashi,” sebutnya.


“Aku hanya merasa manusia tidak ada yang Setia, oleh karena itu. Aku memilih benda mati sebagai sahabat terpercayaku.”

__ADS_1


“Walaupun demikian, Tuan muda jangan pernah menolak takdir jika sebenarnya andalah yang berhak me jadi putra mahkota.”


“Hanya karena ibuku berasal dari Barat, mereka menyepelakannya. Bahkan ketika ayahku mangkat sebagai putra mahkota. Ibuku tidak diijinkan melihatnya untuk terkhir kalinya.”


“Tuan muda, saya ikut berduka atas kejadian itu.”


“Matsumoto, apakah kau tahu rasanya menjadi orang terbuang?”


“Saya tidak tahu tuan muda, yang saya lakukan ialah menjalakan perintah tuan muda.”


“Aku bersumpah tidak akan jatuh Cinta kepada wanita Asia. Akan aku buat mereka merasakan sakit hati, seperti yang dilakukan oleh bibiku.”


Slriinggg crlart, seekor kunang-kunang yang lewat di bawah sinar lampu berhasil ditebas menjadi 2 bagian. Matsumoto tak menyangka jika Hikashi sangat terampil memainkan pedang.


“Sucikan pedang ini, aku mau bermeditasi.” Hikashi meletakkan pedangnya ditangan Matsumoto yang menengadah.


Sementara itu, Ramon yang pingsan usai ditebas gaya bebas oleh Matsumoto tengah terbangun dan siuman. Ada dokter yang sedang menjahit lukanya, dan beberapa tim medis yang membantu proses penyembuhannya.


“Anda masih hidup, tuan muda kamu menginginkan anda untuk menjadi perisai.” Ucap Matsumoto yang hadir diruangan rawat darurat.


“Aku pikir kalian akan membunuhku, aku memiliki orang yang ku sayang. Setidaknya ijinkan aku membahagiakan mereka terlebih dahulu.”


“Jika tuan muda kami menghendaki kau untuk hidup. Artinya hidupmu masih lama, setelah kau cukup baik gunakan pakaian yang sudah disiapkan.”


“Hah?”


“Kau sudah diterima bekerja menjadi pengawal tuan Hikashi kami.”

__ADS_1


__ADS_2