TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
KU MASIH HIDUP


__ADS_3

Robert akhirnya membawa pergi Damora ke luar negeri guna melakukan operasi bedah plastik. Damora ingin mengubah wajah semirip Frayza. Namun Dokter ahli kecantikan di Korea sangat kesulitan menirukan lekukan konter wajahnya. Selain itu bentuh wajah Frayza yang tidak familiar seperti artis dan model contoh. Amat sulit bagi Dokter untuk mencocokan kemiripannya.


“Lalu untuk apa kita jauh-jauh kemari jika tidak satupun Dokter bedah becuh mengurusku!”


“Apakah kau mau mencoba contah wajah wanita lain yang jauh lebih cantik dari wanita yang kau bicarakan?”


“Dokter! Aku berani membayarmu mahal untuk membuat wajahku sesuai wanita yang aku inginkan!”


“Damora, tenangkan dulu dirimu. Kau tidak memiliki foto terang wanita itu. Sangat sulit mengidentifikasi jenasah yang sudah hangus terbakar!”


“Ayah, aku mohon gantilah wajahku menjadi mirip Frayza toloooonggg.”


Wajah Damora sudah terbungkus perban, dia sangat frustasi karena ingin memiliki wajah mirip Frayza. Sejak kedatangannya di Korea belum ada satupun Dokter yang sanggup menanganinya.


“Aku sudah mengirim surel di Asosiasi Dokter Bedah. Semoga ada Dokter yang bisa direkomendasikan.”


“Berapa lama waktu yang ku butuhkan untuk menunggunya?” tanya Damora tak sabaran.


“Saat ini Dokternya sedang dalam perjalanan wisata. Dokter ini sangat unik, ia terkenal suka mendesain wajah pasiennya sesuai imajinasinya. Mungkin dia bisa membuat sketsa wajah wanita yang kau inginkan. Sementara waktu kau memulihkan kulitmu ini.” Dokter menyarankan agar Damora fokus untuk pemulihan kesehatannya sembari menunggu kabar baik balasan Dokter bedah plastik.


Sementara itu, Pangeran Hiroshi sudah membawa rombongannya tiba di Jepang. Kedatangannya ini tak puput dari pemberitaan. Beberapa wartawan menfoto keadaan Hikashi yang duduk di kurai roda. Para pengawal mencoba untuk mengurai gerombolan pencari berita mengenai keadaan Pangeran Hikashi yang memprihatinkan.


“Ambil kamera yang berhasil menfoto Hikashi, jangan sampai mereka memilikinya.” Perintah hiroshi untuk melindungi Citra baik Hikashi.


Pengawal dengan sigap menyabet kamera-kamera yang terus menyorot mereka. Kedatangan mereka seolah menjadi bahan berita yang patut dijadikan trending utama. Karena masyarakat selama ini berasumsi jika hubungan kedua Pangeran ini tidak harmonis karena tahta Kerjaan.


*


*


*


---JEPANG---


Pengurus Kerajaan sudah menyiapkan tempat peristirahatan untuk kesembuhan mental Hikashi yang terguncang. Setiap petang dan malam Hikashi selalu berhalusinasi dengan peristiwa buruk yang melukai ingatannya. Hanya Matsumoto lah yang telaten merawat Hikashi sampai saat ini. Walaupun terkadang dirinya juga kerepotan mengurus kakinya yang masih sakit. Hikashi mengalami trauma yang berat, sehingga tubuhnya semakin kurus dari hari kehari. Beberapa pekerjaan terpaksa diambil alih Matsumoto kala Hikashi sudah tenang. Untung ada Kenzo sebagai kaki tangannya bisa diandalkan saat genting seperti ini.


“Tuan Muda, aku mohon jangan menyiksa dirimu seperti ini.” Matsumoto menyembah Hikashi yang duduk di sudut kamar yang gelap. Ia memegangi senter untuk penerangan.


“Jangan mendekat, ada api. Pergiii... Cepat pergiiii, bawa pergi istriku nanti dia terbakarrr. Pergiii, bawa pergi istriku!!!” kalimat inilah yang diucapkan Hikashi terus menerus.


Sampai akhirnya tim medis yang ditunjuk Kerajaan datang untuk mendiagnosa gejala Paranoid Hikashi. Jika Paranoidnya kambuh, inu artinya Hikashi tidak ada harapan untuk kembali menjadi normal kembali. Akan sulit menyembuhkan luka batin daripada cidera badan.


“Kami sudah berusaha semampu kami, dan melakukan beberapa tes. Hasilnya belum menunjukkan kemajuan, beri kami waktu lebih lama lagi.” Dokter sudah mulai kehilangan cara untuk menyembuhkan Hikashi.


“Dokter, apakah Pangeran Hikashi bisa gila?” Hiroshi mulai khwatir dengan kejiwaan sepupunya.


“Melihat kondisinya yang seperti ini, hanya dorongan dari dirinyalah yang mampu menyadarkan dirinya. Kami akan mencari terapi terbaik agar Pangeran Hikashi bisa menerima kejadian ini.

__ADS_1


“Saya mohon Dokter, apapun syaratnya katakan asal Tuanku bisa pulih.” Untuk pertama kalinya Matsumoto memohon kepada manusia lain.


“Ketua Matsumoto, rasa cintanya yang mendalam kepada istrinya inilah yang mendorongnya semakin dalam trauma. Maafkan kami jika mengecewakanmu.” Menguatkan Matsumoto yang selalu bersedih ketika membicarakan kesehatan mental Hikashi.


Para tim medis kerajaan dan Pangeran Hiroshi keluar dari kamar Hikashi. Kini tinggal Matsumoto yang terus setia berada bersama majikannya.


“Berikan air es!”


“Ba-baik Tuan Muda.” Mengambil baskom berisi air dan es batu.


Byurrrr... Hikashi mengguyur tubuhnya mulai dari kepala sampai basah kebawah. “Berikan lagi!” pinta Hikashi kepada Matsumoto.


“Iya, saya ambilkan Tuan Muda.” Hal ini terjadi berkali-kali ketika Hikashi merasa udara panas. Tubuhnya merasa terbakar ketika hawa mulai panas, dirinya seperti terkepung kobaran api.


“Sayangkuuuu... Kapan kau hidup kembaliiii, ajak aku bersamamu huhuhu. Tidakkk, kalian semua yang membunuh istriku. Kalian semua ya g membakarnya hidup-hidup bukan? Kau, kau yang bertanggung jawab karena menyelamatkankuuuu. Harusnya kau biarkan aku mati bersamanyaaaa, tidakkkkkkkk. Jangan kau bunuh istrikuuuuuuu, kembalikan diaaaa. Tuhannnnn, bunuh dia untuk gantikan istrikuuuuuuu!!” menggelandang Matsumoto yang sudah kepayahan dengan kambuhnya Paranoid Hikashi. Tak jarang dirinya harus terluka-luka karena tindak kekerasan. Matsumoto menyadari kesalahannya ini fatal, bahkan sangat fatal.


Teriakan Hikashi ini membuat Pelayan Kerajaan ketakutan. Dan Perawat yang sigap mengambil obat penenang untuk disuntikkan. Hal ini akan terus dilakukan hingga Hikashi turun emosinya. Saat Hikashi tertidur, bibirnya digigit kedalam. Napasnya tersengal-sengal seolah sesak napas. Dan diberikannya alat bantu pernapasan yang terhubung dengan tabung oksigen. Pernah suatu ketika Hikashi mengeluarkan busa dari mulutnya karena tidak makan. Namun mengalami kumat yang parah, karena dia melihat lilin menyala.


“Pangeran Hiroshi, jika keadaan Pangeran Hikashi memburuk dalam minggu ini. Ada wasiat yang ia berikan saat tersadar beberapa waktu lalu.”


“Katakan apa itu?”


“Beliau bersedian disuntik mati jika sudah tidak sanggup dengan keadaan ini.”


“Apa?”


“Saya sebagai Dokter bersumpah atas nama profesi saya. Beliau mengatakan hidupnya sudah tidak berharga lagi, semuanya yang ia miliki bisa habis dan hancur. Tapi dirinya memilih mati bila istrinya sudah tiada.”


*


*


*


----HARI SAAT TERJADI MALAPETAKA----


Frayza terkunci dari segala penjuru ruangan yang sudah mulai menyala apinya. Dia melepaskan lilitan tali yang membelit tubuhnya, ia melemaskan bagian tubuhnya yang kebetulan badah karena berkeringat.


“Hahh, akhirnya lilitan ini bisa terburai.” Melepaskan ikatan dikaki dan membuka plester dimulutnya. Tangannya meraba punggungnya untuk mengambil pistol kecil dari Ramon sebelumnya.


Frayza mencari celah mana yang bisa jebol, ia melihat lubang angin. Tapi itu makan waktu yang lama, ia ingat ada satu tempat yang aman. Yaitu lewat cerobong asap perapian. Disana ia menarik rantai besi lampu yang ditanam ditembok. Seingat Ramon peluru karet ditembakan ke 3. Artinya tembakan pertama dan kedua bisa memutuskan rantai besi. Dorrr... Dorrr... Akhirnya patah juga rantai besi itu. Dia menarik rantai besi itu agar turun kebawah, dan menjadi pengait tubuhnya naik keatas cerobong. Sebelum api semakin membesar dan melahap tubuhnya yang sudah basah karena siraman bensin. Frayza mencobot bajunya hingga tersisa baju anti peluru. Ia terpaksa melucuti baju itu hingga tersisa pakaian dalamnya saja. Dengan cepat ia menaiki cerobong asap. Namun sialnya lagi, ada besi penutup. Lagi-lagi Frayza harus menembak agar besi itu lepas dari pengait kunci. Dor.. Dorr... Akhirnya besi itu bisa dibuka.


“Ramon cepat tangkap aku, sekarang aku berada diatas cerobong asap gedung ini.” Ia bicara lewat alat interkom.


“Baik Fray aku akan kesana!” Ramon sigap dan berlari sekuat tenaganya. Saat Ramon menuju cerobong asap inilah. Damora dan anak buahnya dilempar granat. Dan Hikashi sudah dibawa pergi menggunakan helikopter menjauh. Ramon berlari dengam cepat, untung saja dia memakai baju anti peluru. Jika. Tidak mungkin dia juga sudah tewas tertembak.


“Fray, lompat!” mengarahkan tangannya menangkap Frayza.

__ADS_1


“Tinggi Gengs... Ngeri ah.”


“Lompat apa mati!” gertak Ramon kesal api semakin besar berkobar.


“Lompaaaatttttttt,” Frayza meloncat gaya bebas dari atas cerobonh.


Bugh ahhhhh, “Rasanya ah mantap beratnya uhhhh.” Ramon gepeng terlindas Frayza.


“Uhukk... Uhukkk...”


Akhirnya Ramon berhasil menyelamatkan Frayza dari kobaran api. Dia melihat tubuh Frayza yang tanpa baju dan aroma bensin. “Pakai jaketku, naik ke punggungku! “ dia menggendong Frayza sambil berlari masuk kedalam hutan. Ramon terus berlari sekencang mungkin dengan beban dipunggungnya. Frayza yang sudah lemas dan pasrah menutup matanya karena pedas oleh asap.


“Oiiii, sebelah sini Sopirnya?” Dokter Kelvin melambai diatas perahu karet.


“Fray, buka matamu. Bala bantuan datang.” Ramon gembira karena pelariannya membawa Frayza akhirnya terselamatkan.


“Cepat naik, sebelum ada yang melihat .fiuwiitttt (bersiul melihat tubuh Frayza yang tertutupi jaket Ramon.”


Pletak! Pukul Ramon karena Kelvij oleng konsentrasinya. “Cepat nyalakan mesinnya Dokter Gadungan!” menendang pinggang Dokter Kelvin.


“Haih, Aku Dokter sungguhan!”


“Masa bodoh, tarik tuasnya kecepatan penuh. Kita harus menyelamatkan Frayza. Dia sudah banyak menghisap gas.”


“Fray, apa kau baik-baik saja?” dibalas dengan acungan jempol yang mengartikan kalau dirinya baik-baik saja.


“Hisap inheler ini, mungkin bisa sedikit membantu ppernapasanmu.” Ramon merawat Frayza yang sudah lemah. Tubuhnya hitam lebam. Karena keluar dari cerobong perapian.


“Jangan menoleh terus, lepaskan celanamu!”


“Kenapa dengan celanaku!”


“Apa mau buta melihat wanita tak memakai baju bisa menimbulkan kecurigaan!”


“Iya-iya... Huh dasar!” mencopot celananya untuk dipinjamkan pada Frayza.


“Pffftttt gambar Spongebob,” motif kolor Dokter Kelvin.


“Hai jangan menertawakan seleraku ha, daripada kamu tidak meminjamkan celanamu!”


“Aku tidak memakai ****** ***** kolor konyol sepertimu.” Frayza ikut tersenyum melihat tingkah konyol dokter Kelvin.


“Hiiiih mengesalkan,” cemberut ngambek.


“Hehehe, aku pikir seorang Dokter mafia tidak memiliki cita rasa humoris.”celetuk Frayza yang mulai membaik kondisinya berkat bantuan inheler.


Ketiganya pergi mencari dermaga agak terpencil. Dan mencari rumah paling terpencil untuk disinggahi mereka. Beruntunglah mereka mendapat rumah kosong yanh listriknya masih bisa menyala normal. Frayza mencari baju yang pas untuk dirinya. Selanjutnya mereka tidur untuk memulihkan stamina untuk esok harinya. Ramon yang sudah terbiasa siaga berjaga-jaga dan mengatur strategi selanjutnya. Dokter Kelvin sudah tidur lelap diatas kursi goyang. Dan Frayza tidur disofa dekat dirinya duduk.

__ADS_1


“Jangan khawatir Fray, aku akan membantumu menghukum orang-orang jahat kepadamu, aku bersumpah.” Mengusap kaki Frayza yang membujur disofa.


Ramon adalah seorang Jendral muda yang terlatih secara militer. Dirinya merasa Frayza adalah anak buah dibawah tanggungjawabnya. Jadi dia ingin Frayza hidup baik tanpa luka dimasa lalu. Ia ingin Frayza hidup tanpa beban layaknya manusia normal. Makan, kerja dan tidur yang biasa tanpa beban apapun.


__ADS_2