
-LANJUTAN,
Nathalie mengetuk pintu ruang kerja Hikashi, saat Kenzo hendak mengatakan bila Frayza dirawat. Hikashi memotong perkataan Kenzo dan memintanya untuk menundanya. Karena Nathalie datang untuk menyapa Hikashi. Akhir pekan biasanya Nathalie berkeliaran di kastil. Entah mencari perhatian Jade saat libur, atau pergi mengekori Hikashi. Wanita ini memang sangat cantik dan cerdas. Oleh karena itu Hikashi menyukai, serta penurut tidak membangkang.
“Tuan William,” Nathalie menahan langkah kakinya yang hendak mendekati kursi singgasana Hikashi.
“Nathalie, dia adalah Kenzo. Staff senior di kantor, dia akan menjabat sebagai Manajer Umun. Ku harap kalian bisa mengakrabkan diri dengan baik.”
Baik Kenzo dan Nathalie saling bersalaman satu sama lain. Karena Nathalie sudah ingin menerkam Hikashi. Kenzo lebih baik keluar saja, dan mengurungkan niatnya.
*
*
*
-RUMAH SAKIT,
Helena membesuk Frayza yang sudah mulai siuman. Wanita ini begitu rapuh hingga sulit bergerak.
“Apa kau merasa sakit dibagian perut bawahmu?”
“Hisssshhh tidak begitu, terimakasih Helena. Kapan aku bisa keluar dari Rumah sakit ini?”
“Kau harus tinggal beberapa hari lagi, dan tidak boleh mengangkat benda berat. Itu berbahaya!”
“Aku merindukan anakku, sekarang mereka tinggal di kediaman suamiku?”
“Apa kau mau aku menjemput mereka untuk kemari?”
“Aku tidak begitu yakin, karena kedua putraku pasti tidak diijinkan oleh mantan suamiku untuk kemari. Kau tidak tahu betapa disiplinnya mantan suamiku itu hihihi.” Terkekeh mengenang sikap Hikashi yang protektif.
“Kau pasti sangat merindukannya bukan? Berikan aku alamatnya, aku akan mencoba membujuknya.”
“Saat ini mantan suamiku berada diluar negeri. Aku belum tahu kapan ia akan kembali.” Menaikkan kemiringan bangsarnya agar nyaman ia rebahan.
“Aku akan pergi bersama sopir itu, sebaiknya kau istirahat saja. Karena usai operasi kau pasti kehilangan banyak tenaga.” Frayza mengangguk dan memejamkan matanya.
__ADS_1
Helena berbicara dengan sopir tersebut, bila ia ingin menjemput anak-anak Frayza. Namun sayang, si sopir tidak bisa meloloskan keinginannya. Dia akan terus berjaga didepan pintu Frayza secara bergiliran dengan rekan pengawalnya.
Akhirnya Helena membujuk pria plotons yang mengenyot permen loli. Pria bermata sipit ini dengan gaya perlentenya mengibaskan jas. Agar kesan sangar tersirar di kedatangannya. Si sopir itu membisikkan ditelinga Matasumoto, bila Helena ingin menemui anak-anak Frayza.
“Tolong pertemuakan Frayza dengan anak-anaknya. Dia sedang sakit, dan sebagai ibu dia tersiksa jauh dari putranya!” Helena memohon kepada Matsumoto.
“Tidak bisa!” melotot.
“Ku mohon?” mengatupkan kedua telapak tangannya.
“Apa begitu!” Tatapannya sinis.
“Kau manusia berhati batu, aku akan mengutukmu tidak akan seorang wanita yang bersedia menjadi pasanganmu barang sedikit saja!” Helena mengutuk Matsumoto yang tidak pernah merasakan debaran dalam hatinya. Terlebih lagu kepada wanita.
“Dia bicara apa?” tanya Kenzo yang datang membawa buket bunga.
“Dia pacarku, sumpahmu tidak berlaku wweeeekkk!” mengejek Helena.
“Cihhh dasar manusia sampah tidak berguna!” menendang pot bunga, menumpahkan kekesalannya.
Marsumoto pergi melewati Helena begitu saja, dan mengabaikan Kenzo yang baru tiba. Dia pergi seorang diri tanpa pengawal yang membuntutinya dari belakang.
“Sebenarnya Nona Frayza sudah bertemu dengan putra sulungnya. Dan bocah itu sangat nakal, ups keceplosan.” Ternyata Kenzo memiliki dendam kesumat juga kepada Jade.
“Hai jangan mengatai anak majikanmu, itu tidak baik!” tegur Helena.
“Fiuhh apa ya, habisnya dia menguras emosiku. Dan benar-benar membuat dadaku mau meledak. Dia benar-benar anak yang berbeda dari bayi yang aku pelihara.” Kenapa Kenzo menjadi curhat masalahnya pribadi. Kan selama beberapa tahun dia dan Jade kan tidak bersama. Jadi wajar jika karakter Jade tidak ia kenali.
“Pffftttt kau ini seperti ibu kandung yang ditolak anaknya saja.” Helena menertawakan Kenzo yang kelepasan.
Mereka menghibur Frayza yang terbaring sedih. Tak banyak yang dapat mereka lakukan kecuali meminta Frayza untuk bersabar. Karena kesembuhannya juga sangat penting. Helena memberikan semangat kepada Frayza agar tidak setres selama tidak bertemu anak-anaknya.
“Nona, kalau boleh tahu setelah keluar dari sini mau tinggal dimana?”
Inilah pertanyaan yang seharusnya Frayza pikir terlebih dahulu. Tidak mungkin kan dia tinggal selamanya di motel murah dan jauh dari kota. Salah satu solusi ialah ia memperoleh pinjaman uang untuk menyewa hunian yang dekat dengan kastil dan tempat kerjanya nanti.
“Bagaimana kalau kau tinggal di butik saja, aku akan menjebol salah satu ruangan khusus untuk kau tinggali?”
__ADS_1
“Tidak Helena, aku sangat gila kerja. Aku tidak mau menjadi penghasil uangmu hahaha.”
“Hah kau tahu kalimat yang tepat untuk menolakku. Lalu kau mau tinggal dimana? Kau tidak punya siapapun di kota besar ini.”
“Ah bisa, kalau Nona mau silahkan tinggal bersamaku saja.”
Plakkk! Kepala Kenzo dipukul koran oleh Matsumoto yang baru saja masuk. Pria plontos itu ternyata pergi keluar membayar biaya administrasi. “Jaga bicaramu, kau sedang berhadapan dengan siapa Kenzo!” ini antara Matsumoto cemburu atau mengingatkan Kenzo kalau mengajak tinggal mantan istri Bosnya.
“Apa salahnya menampung Nona Frayza, lagipula aku senang-senang saja.”
“KAU INI!!!” mengepalkan tangannya hendak memberikan bogem mentahnya.
“Sudah, jangan ribut!” pecah Helena kesal melihat kedua pria aneh yang berselisih. Mereka layak disebut pasangan kekasih, karena sikapnya aneh!
“Heheheh, biarkan saja Helena. Kalau mereka baku hantam setidaknya ada hiburan gratis.” Kekeh Frayza.
Mereka semua tersenyum geli, kecuali Matsumoto. Iya, si botak dan tangan kanan Hikashi ini wajahnya seperti porselen. Kaku tanpa ekspresi.
*
*
*
Beberapa hari kemudian,
Kehidupan di Kastil ini tak beda jauh dari asramanya. Setiap pagi hingga sore, jade berada di ruang baca. Ia belajar dengan guru privat terbaik. Anak seusianya tidak menerima materi pembelajaran umum. Ia mempelajari pendidikan khusus, karena Jade disiapkan menjadi penerus kerajaan bisnis Hikashi.
Sampai pada suatu saat Seven deman dan rewel. Mungkin ikatan batin dengan ibunya yang kuat. Tengah malam Hikashi ketahuan menyusui Seven. Sampai-sampai bibi Fang menjadi sakit akibat kurang tidur.
Diam-diam Jade bangun, ia penasaran dengan hal yang terjadi. Ternyata ayahnya kedapatan menggendong bayi. Dengan penuh kasih sayang Hikashi menciumi dan menimang bayi Malang itu.
“Papa, apakah itu anak Nathalie! Aku membencimu!” tanpa rasa takut dan hormat, Jade menerobos masuk kamar Seven.
“Jade?” terperangah kaget.
“Aku tahu kenapa Nathalie selalu datang kemari dan suka membujukku ternyata Papa memiliki anak lagi ya!”
__ADS_1
Hikhasi yang sedianya kalut mendiamkan Seven kini tersulut amarah. Sudah susah payah mendiamkan Seven yang rewel, eh datanglah si sulung yang emosian. Hikashi benar-benar kewalahan dengan dua orang anaknya.