
Sudah sebulan sejak kepindahannya di kediaman Dokter Kelvin. Frayza diperlakukan dengam baik, dia mulai beradaptasi dengan matanya yang sudah buta. Mulai dari tempat perabotan yang sebagai penanda tempat. Kelvin mendatangkan seorang terapis mata, bernama Fujiro. Pria berkamata ini telaten memberikan pijatan di sekitar syaraf mata Frayza. Terkadang dia membawakan ramuan obat herbal yang berasal dari China untuk menompang percepatan kesembuhannya.
“Kak Fujiro? Apakah itu kau?”
“Maaf, aku tidak tahu kalau kau sedang mengganti pakaianmu.” Lelaku itu lantas menutup rapat pintu yang sedikit terbuka celahnya.
Frayza memang kadang lalai kalau di rumah ini ada Fujiro yang selalu merawatnya.
“Astagah, apa yang baru saja aku lihat tadi. Ini tidak mungkin, aku yakin aku salah lihat.”
Gerutu Fujiro saat melihat tubuh Frayza yang sedang mengganti pakaian. Dia selama ini mengira kalau Frayza adalah pria. Karena Dokter Kelvin memperkenalkannya sebagai Fred lelaki keponakannya.
“Kak Jiro,” panggil Frayza menggerayangi sekitarnya.
“Eh iya, kau perlu apa Fred?”
“Aku jenuh berada dirumah selama ini, apa aku sudah diperbolehkan keluar rumah. Walaupun aku tidak bisa melihat matahari. Tapi aku ingin merasakan senja.”
Kasihan sekali gadis yang berdiri didepannya ini, hanya berbekal tongkat panjang sebagai penuntunnya.
“Baiklah, ayo kita keluar.”
Fujiro menyutujui ide Frayza, kali ini Fujiro membawa Frayza pergi dengan mengendarai sepeda. Menyusuri sungai yang airnya beriak tenang. Ikan yang berenang bebas di air berwarna-warni yang cantik.
“Fred, ayo kita kasih makan ikannya.”
“Bagaimana caranya Kak?”
__ADS_1
Perlahan Fujiro meraih tangan Frayza, jarinya menyentuh jemari Frayza yang halus dan kenyal. Perasaannya semakin tak karu-karuan menenut karena dia berdebar semakin kencang.
“Kak?”
“Eh maaf, aku hanya terpesona dengan bulu matamu Fred. Kau lelaki tapi memiliki bulu mata yang lentik. Serta kulit yang lembut.” Tangan Fujiro menyusuri dari ujung kepala hingga mengusap pipi Frayza yang kedinginan.”
“Tanganmu hangat sekali kak,”
“Aku seorang pria, jadi wajar kalau suhunya lebih tinggi daripada wanita.”
“Apakah tadi Kak Fujiro melihat tubuhku? Katakan yang sejujurnya!”
Mimik wajah Frayza mulai murka kala Fujiro sedikit menyinggung soal suhu tangan pria dan membandingkan dirinya yang lebih mirip wanita.
“Tenang dulu Fred, kau salah paham. Sebenarnya aku sudah tahu kalau kau seorang wanita, ketika aku datang sebagai terapis pribadimu. “
“Hu’um, maafkan aku.”
“Aku mau pulang!” berteriak karena kesal.
“Fred, awas hati-hati jangan sampai terpeleset bahaya...”
Dengan mata yang buta, Frayza berkeras kepala dan berlari menjauh. Fujiro terus memanggil dan meraih tubuhnya namun sia-sia. Dan keduanya terguling di bedengan sungai hingga tercebur ke air. Byuuuuurrr... Keduanya kuyup di sungai.
“Hulllppp blebep... Blebeppp...” Frayza tenggelam kedasar sungai.
Secapat kilat Fujiro menyelamatkan Frayza yang sudah termakan kedalaman sungai. Dia sangat kesakitan menahan nafasnya, apalagi sekarang dia buta. Saat ini dia lemah dan panik dengan kondisinya.
__ADS_1
“Hap... Happp.... Fyuuuhhh...”Fujiro memberikan nafas buatan.
Awalnya dia tidak begitu yakin saat melakukan ini, padahal bisa saja Fujiro memiringkan badannya dan menepuk punggungnya untuk mengeluarkan air.
“Uhukkk... Uhukkk...” Frayza akhirnya berhasil. Melewati masa krisisnya.
Kemudian mereka memeras baju memakai tangan telanjang seadanya agar tidak basah, dan dapat pulang ke rumah lagi.
“Pegangan yang erat, aku tidak mau kau celaka.” Perintah fujiro kepada Frayza yang enggan memegang pinggang terapisnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Fujiro hanya mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang. Karena baju mereka sama-sama basah. Frayza tak tahu kalau tanganya sudah berpindah ke dada ketika ban menabrak kaleng minuman soda. Dia merasakan degup jantung Fujiro yang memang sudah tak beraturan. Frayza tersenyum, karena terapisnga sangat manis. Perlakuan fujiro selama merawatnya tak bisa dilupakan. Bahkan Fujirolah yang berhasil menggeser posisi Ramon yang sudah entah hilang kemana.
Setelah tiba di rumah, Fujiro menyiapkan baju ganti untuk Frayza dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Dia berganti baju dan membaringkan tubuhnya. Sembari memegangi bibirnya yang telah ******* seorang gadis. Dia kemudian terlelap dan hanyut dalam perasaanya yang sudah berkembang.
“Ke-kenapa kepalaku menjadi pusing ya setelah minum obat ramuan. Sepertinya aku masuk angin tadi, sebaiknya aku tidur juga.” Frayza mulai terlelap dalam tidurnya.
Setelah dia merasa cukup segar, dia bangun dan tak sengaja tengannya menjatuhkan gelas diatas nakas. Prang... Suara itu menimbulkan kebisingan, dia segera terbangun. Sayup-sayup matanya mulai melihat bayangan yang bergerak-gerak. Dai mencoba menutup dan membuka matanya kembali, terkahir. Ia teteskan obat mata cair, sehingga keadaan sekitarnya mulai nampak berwarna.
“Tidak mungkin...”suatu keajaiban terjadi ketika matanya bisa melihat kembali.
Mungkin ini buah dari ketelatenan Fujiro dan ramuan-ramuan yang di berikan. Frayza lalu bergegas mencari dimana Fujiro berada. Ternyata Fujiro tidur dikamarnya, pintu kamarnya tidak dikunci. Frayza berpikir untuk masuk saja dan tidak usah mengetuk pintu. Karena sesama lelaki pikirnya, kemudian dia melihat wajah tampan Fujiro yang berambut abu-abu muda. Pria ini memang manis dan tampak lucu.
“Ternyata kalau kacamata dilepas manis juga hihihihi...”
Saat Frayza mau menjahili rambut abu-abu Fujiro, tanpa. Dia ketahui ternyata rambut itu hanyalah rambut palsu yang lupa ia copot sebelinya. Benar, ternyata rambut asli Fujiro kecoklatan. Dia menarik rambut palsu Fujiro dari kepalanya. Hingga terpampang nyata, bahwa sebenarnya Fujiro inilah orang yang dikenal Frayza selama ini.
“TERNYATA KAU ADALAH...” terperangah mengetahui fakta bahwa pria dihadapannya ternyata orang yang memiliki bibir yang sama persis ketika berciuman di Rumah Sakit.
__ADS_1