
Andreas masih diukur badannya dengan Frayza, sedangkan ibunya dikawal ajudannya. Seorang pegawai butij berjaga bila tamu itu menemukan barang yang cocok untuk dirinya.
“Apakah kau canggung?” tanya Andreas yang tak nyaman dengan kedatangan ibunya.
“Tidak, kenapa?” padahal ia sadar sedang diperhatikan oleh ibunya Andreas.
“Fray, usai mengukurku jangan menyapanya. Langsung sembunyi di kantormu, oke.”
“Baik, jangan khawatir.” Menyimpulkan senyuman kecilnya.
Frayza membereskan perkakas kerjanya dan naik ke kantornya. Tak berselang lama Julian turun menggantikan posisi kakaknya tadi.
“Tuan Andreas, tadi kak Fray bilang seminggu lagi setelanmu akan jadi.”
“Oh iya, sampaikan padanya aku berterimakasih. Oiya maukan nanti malam kau pergi bersamaku ke pusat kebugaran?”
“Aku?” Julian terkejut mendapat tawaran pergi keluar bersama pengacara muda dan berwibawa.
“Iya, aku ingin lebih akrab denganmu. Mari kita berteman mulai sekarang Julian.” Jabatan tangan Andreas disambut oleh Julian dengan tangan terbuka.
Ajudan ibu Andreas sudah memborong beberapa stel baju. Rupanya desaij baju di butik ini masuk dalam seleranya.
__ADS_1
“Andreas di mana ibu bisa membayarnya?” datang menghampiri putranya yang sedang berbincang dengan Julian.
“Ibu apa-apaan ini memborong baju banyak sekali?”
“Ini untuk ayahmu ketika ada pesta, ada kongres, kegiatan amal dan sedang berkumpul keluarga. Apakah ada yabg masih kurang?”
“Buuuuu, ini sudah keterlaluan banyaknya. Apa ayah akan memakainya semua?”
“Kau pikir ayahmu ini bukan orang penting apa? Penampilannya selama ini ternyata kuno dan tidak menarik. Untuk tadi ibu melihat barang bagus. Sepertinya aku cocok dengan pakian yang dijual di butik ini.” Nyonya Karen mengedipkan mata pada putranya.
Andreas lalu mangambil dompetnya mengambil kartu.”Julian, aku bayar semua belanjaan ibuku dan bajuku.”
Dibantu karyawannya mengepak belajaan milik nyonya Karen yang banyak. Nyonya Karen seperti menungg seseorang dengan gelisah. Yah siapa lagu yang ia tunggu kalau bukan wanita yang bersama putranya tadi.
“Bu, sudah.” Tegur Andreas yang tahu ibunya menatap tangga dimana Frayza menaikinya.
“Ibu hanya ingin berkenalan dengan anita tadi, siapa tahu dia mau membuatkan baju untuk ayahmu juga kan. Aku butuh nomor teleponnya kalau perlu.”
“Bu, sudah ya... Ayo kita pulang.” Dorong Andreas agar ibunya mau diajaj pergi dari Butik.
“Terimakasih atas kunjungan dan belanjanya.” Julian mengantar pelanggan barunya.
__ADS_1
“Jangan lupa ya nanti malam kita pergi bersama,” bisik Andreas ditelinga Julian.
“Oke, heheheh.” Balas Julian.
Ketika menutup pintu mobil ibunya, Andreas bilang jika kelak ibunya tidak perlu menguntitnya lagi. Tetapi ibunya bergeming kalau tadi iseng saja, karena melihat mobil putranya terparkir dihalaman sebuah butik.
Andreas kembali ke kantor bekerja seperti biasanya. Ia sedang mengurus helar perkara kasus besar. Tak lama lagi dia akan bersidang di pengadilan. Ketika hari sudah sore, Meghan berpamitan dengannya untuk pulang lebih dulu. Dan Andreas baru saja terlupa jika ia memiliki janji bersama Julian. Ia segera merapikan pekerjaannya dan pulang. Setibanya dirumah ia mengirimkan lokasi tempat kebugaran. Andreas menyiapkan segala kebutuhannya untuk pergi. Tak lupa ia mandi dan membiarkan rambutnya acak-acakan seperti anak remaja.
Mereka menghilangkan kecanggungan dengan berolahraga bersama. Lalu mandi sauna agar lebih nyenyak lagi tidurnya waktu malam.
“Tuan Andreas apa ada hal yang ingin kau sampaikan padaku?”
“Tidak ada,” menggeleng.
“Ini terlalu mencolok jika untuk berteman saja. Jadi membuat tebakanku meleset karena ini hanya pendapatku.”
“Pendapat soal apa?”
“Saudari perempuanku, apakah ini ada hubungannya dengan kak Fray?”
“Baiklah, aku akan berterus terang kepadamu. Sejak awal aku sudah menaruh hati kepada kakakmu. Aku tidak bisa sehari saja hidup tak melihatnya. Dan jujur harus aku akui, bila kedatangan ibuku ke butik karena ia sudah tahu kalau aku mengejar kakakmu. Oleh karena itu Julian, sudikah kau memberikan aku restu untuk mendekati kakakmu?”
__ADS_1