TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
MAIN CURANG


__ADS_3

Kedua saudaranya membawa Hikashi ke kamar mandi. Sepertinya Hiroshi mengalami masalah yang serius tentang menjadi suami.


“Kenapa kau tidak periksa ke Dokter sebelumnya?”


“Aku tidak tahu, makanya aku bertanya padamu.”


“Takeshi urus adikmu, aku tidak bisa meninggalkan istriku lebih lama sendirian.”


“Aku tidak percaya dengan Takeshi, makanya aku minta pertimbanganmu.”


“Apa selama ini kau tidak pernah belajar hal itu lewat film atau artikel?”


“Tidak.” Benar-benar payah.


“Takeshi, untuk hal ini aku serahkan masa depan adikmu. Terimakasih dulu kau sudah mengajariku.”


“Sama-sama Hikashi, pergilah susul istrimu.”


Sejak kecil para pangeran di istana sangat tabu membicarakan atau belajar tentang ilmu reproduksi. Bisa dikatakan, bahwa Hiroshi tidak memiliki ketertarikan sehingga miliknya tak bisa berfungsi. Dan dengan bantuan Dokter pribadi Takeshi, Hiroshi akan membuat janji pengobatan.


Pesta masih berlanjut, Frayza berada di toilet wanita. Sedang menyapukan riasannya yang sudah luntur. Dalam bayangannya tadi, inilah pertama kalinya menghadiri pesta. Dan ia sebagai wanita bersuami.


“Kenapa kau lama?” Hikashi sudah berada didepan pintu keluar kamar mandi.


“Astaga, kau mengagetkanku!” mengelus dadanya.


“Ayo kita duduk dimeja jamuan makan.” Menggandeng tangan istrinya erat.


“Jalannya jangan cepat-cepat, sepatuku terlalu tinggi.”


“Mau aku gendong sampai tangga?”

__ADS_1


“Jika kau tidak keberatan hehehe.” Senyuman menggoda.


“Baiklah.” Sekali ayunan tubuh wanita itu sudah terangkat.


Awalnya Hikashi ingin makan bersama para tamu. Tapi ia memutuskan untuk kembali ke istana peristirahatan. Didalam istana itu hanya ada mie instan dan beberapa makanan beku dalam lemari pendingin. Mereka lantas berbagai tugasnya masing-masing. Frayza didapur menyiapkan makanan, masih lengkap memakai gaunnya yang cantik. Sepatunya ia lepas, diganti dengan uwabaki yang lebih nyaman.


“Sayang, aku sudah lapaaarrr.” Teriak bayi gedenya.


“Makan malamnya siappp.” Membawa sepanci mie dengan aneka toping diatasnya.


“Kemari, aku suapi mulut kecilmu.” Menyodorkan mie dari sumpitnya.


“Haemmbb, terimakasih Suamiku hihihi.”


“Kau manis sekali istriku, menggemaskan.” Hikashi tergelitik melihat sikap imut istrinya ini.


Mereka makan diatas karpet yang dilapisi kasur empuk. Merasakan kehidupan sebagai sepasang suami istri tanpa gangguan. Selesai makan, Hikashi menyiapkan air hangat untuk berendam bersama istrinya. Karena Frayza sibukdi dapur mencuci peralatan makan. Ia membopong istrinya masuk kedalam bak. Tanpa sempat mencopot gaunnya terlebih dahulu. Akhirnya gaun itu menjadi basah, lelaki yang tidak bisa sedikit bersabar untuk sekedar melepas gaun.


Setelah usai mandi, Hikashi tidak mengijinkan Frayza memakai baju tidur panjang. Ia mau istrinya memakai lengire super tipis dan kurang bahan. Padahal malam ini akan turun salju, bayangkan saja bagaimana dinginnya.


“Kita seperti mengulang masa lalu ya.” Memeluk istrinya dibawah selimut yang sama.


“Iya, tapi ini dingin sekaliiii.” Menggigil.


“Kemari, biar ku rapatkan lagi pelukanku.” Mendekap dari belakang.


“Sayang, bolehkah aku ke Korea sekalian mengajak berlibur Jade.”


“Tidak boleh, bulan ini aku sibuk tidak bisa keluar negeri.”


“Tapi,” membalikan badannya.

__ADS_1


“Hemmbb jangan pasang muka memelasmu, aku tidak bisa mengijinkanmu pergi.”


“Ada bangunan tanah bangunan dijual Sayang. Aku ingin sekali menyewanya untuk beberapa tahun saja.”


“Kau mau membantu Helena buka cabang Butiknya disana?”


“Hu’um,” mendusal kepalanya kedadanya.


Hikashi bernapas berat, usai kejadian penculikan Jade. Ia masih trauma jika kepergian istrinya tanpa pengawasannya dapat mengundang bahaya. Terlebih lagi, ia tak bisa jauh dari aroma tubuh istrinya. Hikashi sangat rindu wajah istrinya saat ia bangun tidur. Memakaikan baju saat berangkat kerja, melayani makannya. Serta hal lebih yang hanya Frayza kerjakan membuatnya puas.


“Sayang, Dokter Thomas bilang bila terapi liburan sangat baik untuk menghilangkan trauma.”


“Jangan percaya omongan Dokter, dia bilang begitu agar terus memakai jasanya.” Mulai kesal dengan istrinya yang menyebut nama pria lain.


“Aku akan bawa Seven juga kesana.”


“Kau mau membawa putra kedua kesayanganku juga? Hooo tidak aku ijinkan, jangan kau pergi bersama Jade. Kau pergi seorang diri pun tidak aku ijinkan!”


“Tapi kan ada Helena.”


“Helena tidak akan pergi meninggalkan rumah Matsumoto. Sampai aku memberikan ijin melepaskannya.”


“Kenapa kau menyita Helena di rumah Matsumoto?”


“Agar Matsumoto tidak memikirkan wanita lain. Helena wanita yang sepadan untuknya!”


“Hehehe apa kau cemburu dengan Matsumoto yang menyukai si Da...”


Hikashi mencium bibir istrinya dengan kasar, ia merobek baju tipis yang dipakainya. Lalu melakukan hubungan suami-istri saat salju turun. Hikashi sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Lebih baik ia melepaskan setresnya dengan melakukan hal yang menyenangkan.


Pagi harinya,

__ADS_1


Wajah Frayza mulai memucata dan bibirnya memutih. Hikashi menyentuh tubuh istrinya yang dingin dan menggil. Astaga, ia lupa bahwa istrinya tidak memakai sehelai benang apapun. Usai bercinta ia tertidur pulas, bahkan Frayza hanya selimutan kemeja tidur suaminya. Benar-benar suami tidak tahu balas Budi! Sudah dikasih enak, eh giliran istrinya minta selimut dia tarik semuanya. Dasar Hikashi, curang!”


__ADS_2