TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
GADISKU KEMBALI


__ADS_3

Damora tampak tak senang karena dia makan di meja yang panjang dan mewah. Walaupun pelayan menyajikan hidangan terbaik, namun pemilik rumah belum juga menampakkan wujudnya.


“Pelayan, aku mau langsung istirahat.” Damora mengakhiri sesi makan malamnya.


“Tapi Nona, Tuan berpesan bahwa...”


Dan Hikashi muncul dengan tiba-tiba masuk keruangan dimana Damora menyantap hidangan makan malamnya. Sambil melepaskan mantel dibantu oleh pelayan setianya. “Jika dia tidak nafsu makan, makan jangan berikan sesuap makan kepadanya.” Pernyataan tegas Hikashi ini membuat Damora senang.


“Akhirnya kau pulang,” gadis itu gagal memeluk tubuh Hikashi yang dihadang oleh Ramon sebagai tameng.


“Maaf Nona, anda tidak boleh menyentuh tuan muda kami.” Bagiti perintah yang diberikan Hikashi setiap ada perempuan yang ingin menjamahnya.


“Aku adalah Nona keturunan bangsawan, kami manusia sederajat. Minggir!”


“Maaf Nona,” Ramon menangkis dan mengunci tangan Damora agar tidak sembarangan menyentuh tubuh Hikashi.


Ketegangan dari pertemuan pertama ini menyiratkan kesan berbeda yaitu Hikashi doyan memanggil wanita penghibur. Tapi enggan disentuh wanita yang terhormat. Hal ini sangat aneh, karena ini pertama kalinya, Hikashi menunjukkan penolakan yang secara gamblang.


Malam harinya, Damora tak bisa tidur. Dia keluar dari kamarnya, dan penasaran apa yang dikerjakan Hikashi selama ini. Dia berjalan mengendap-endap seperti kucing yang hendal menerkam tikus buruannya.


“Kembali ke kamarmu, tidak pantas jika seorang keturunan bangsawan mendatangi kamar pria lajang.”


“Aku hanya tersesat, karena haus. Jadi ini kamarmu ya? Bolehkah aku masuk?” Damora memegang gagang pintu dan menariknya.


Biiipp, Hikashi menekan tombol radio mengatakan agar Damora diantar kembali kedalam kamarnya. “Nona Damora tersesat dari kamarnya, tolong antarkan kembali ke kamarnya. Dan berikan dia air, serta obat tidur agar lelap tidak keluyuran lagi.” Begitulah Hikashi, mengusir Damora.


“Ck!” menatap sinis Hikashi yang menjauhinya.


Suasana kembali hening dan damai, begitu pula yang dirasakan Frayza di kamarnya. Usai minum obat dia tertidur pulang. Selimut dan guling dia tendang ke segela penjuru ranjang tidurnya. Dia sangat lelap dan sepertinya mimpi Indah. Kakinya yang masih terbalut perban kini perlahan dicopot lalu diolesi krim anti implementasi. Setelah itu dipasang plester agar mempercepat penyembuhannya. Guling yang sudah terpelanting jatuh dilantai didekatkan pada tubuh Frayza kemudian gadis itu dengan imutnya memeluk erat. Selimut yang sudah kumat mengonggok diujung dinaikkan lagi agar Frayza merasa hangat. Serta pendingin ruangan dimatikan, karena jendela kamarnya dia buka. Seseorang memperlakukan dengan baik Frayza ketika dia tengah terjaga. Dan mengusap rambutnya yang sudah tumbuh panjang.


“Chuuppss,” kecupan di pipi Frayza oleh bibir yang lembut dan basah. Sebagai doa pengantar tidur gadis yang malang dimasa lalunya.


Setengah jam sudah Frayza ia jaga, dan gadis itu sudah terlelap dalam dekap hangat balutan selimut. Udara Fajar sudah mulai dingin, sepertinya embun pagi sudah membasahi dedaunan. Hingga pagi tiba, Frayza bangun dengan keadaan yang lebih segar.


“Hoooooaaaaahhhh selamat pagi dunia, aku siap mencuci baju.” Dia terbangun dan meregangkan kedua tangannya lebar-lebar.


“Makan sarapanmu, aku mau istirahat dan tidur.” Ternyata Ramon membawakannya sarapan nasi gulung dan jus jeruk.


“Terimaksih Ramonku hihihi.” Dia kegirangan mendapatkan jatah makan paginya.


Sambil tersipu malu, Ramon pergi dan membenarkan dasinya yang kendor. Pria itu seperti salah tingkah dan gugup ketika Frayza tersenyum kepadanya.


Setelah berada ditempat yang agak aman barulah Ramon bereaksi “ Dia bilang terimaksih, ya ampun imutnyaaaaa hihhhhhh.” Dia seolah gemas membayangkan wajah Frayza yang imut dipagi hari.

__ADS_1


“Sudah aku tebak, sepertinya kalian ini tidak normal.” Kenzo lewat disebelah Ramon dengan baju yang sudah rapi.


“Kau!” mengepalkan tangannya.


“Jika kau berani menghajarku, maka ku buat jerawatmu itu meletus, mau?” ancam Kenzo yang melihat jerawat di kening Ramon tumbuh.


“Ini akibat aku jarang memperhatikan kesehatan kulitku,” dengan nada rendah dan mengelak.


“Kau terlalu sibuk mengurusi kekasihmu yang sedang sakit, sampai kau lupa membasuh wajahmu. Sehingga tumbuhlah jerawat di keningmu.” Kenzo dengan sengaja menekan jerawat yang menonjol.


“Auwhhh, ku hajar kau! Ini jerawat kebaikan, awas kalau kau berani menyentuhnya lagi. Kubuat bibirmu sariawan.”


“Hahaha jerawat Cinta itu.” Kenzo tertawa karena Ramon tersipu malu diledekinya terus.


Keduanya berpatroli pagi mengelilingi kediaman Hikashi. Karena Damora adalah Putri bangsawan yang berpengaruh dalan bisnis ilegal yang dilakukan Hikashi.


Setelah menyantap habis sarapannya yang disediakan khusus untuknya, Frayza mengabadikan emotikon senyum pada makanannya.


“Ramon manis sekali, aha aku mau buat kejutan khusus untuknya. Lumayan dapat cuti kerja lama, enaknya ngapain ya hmmmmm.” Frayza menerka-nerka kejutan apa yang sekiranya cocok untuk Ramon.


Selama ini Ramon membelikan dirinya apapun, bisa dikatakan kalau dia memiliki banyak uang. Dia bekerja kepada Hikashi agar memperoleh dukungan dan sumber informasi mengenai penyerangan di Pulau pribadi.


“Pikirkan hadiahnya sambil melakukan kegiatan yang menyenangkan, cihuiiii.” Frayza menggaet tasnya dan memakai topi.


“Sudah ditentukan, ini ide bagus. Lebih baik nonton film dibioskop daripada berdesakan melihat pertunjukan kembang api.” Pikirannya berubah lagi, kebiasaan wanita yang labil dalam mengambil keputusan.


Beberapa toko memasang model pakaian yang sedang trendi saat ini. Frayza melihat dirinya seperti lelaki seutuhnya. Dengan tekat kuatnya dia masuk kedalam toko dan membeli baju berwarna merah muda. Kulitnya yang selama ini memakai setelah jas dan celana panjang tampak putih berseri. Setelah mengenakan baju yang cantik, kini pelayan toko baju tersebut menyarankan dirinya untuk pergi ke Salon untuk memperbaiki tatanan rambut dan riasan wajahnya.


“Tapi aku tidak yakin bisa menjadi cantik.” Ucapnya ragu.


“Nona, kau memiliki kulit alami yang Bagus dan kenyal. Sayang sekali jika kau tk merawatnya. Aku rekomendasikan salon tempat gadis-gadis merawat dirinya. Harganya sangat terjangkau dan kwalitasnya sangat Bagus. Percayalah padaku, aku sudah merekomendasikan banyak pengunjung Toko ini.” Akhirnya Frayza mau menuruti saran pelayan untuk mendandaninya.


Setelah mondar-mandir seperti setrikaan baju kusut, Frayza dengan mantap masuk dan dilayani dengan baik. Dan hasilnya sangat luar biasa, Frayza akhirnya bisa menjadi wanita lagi.


“Nona, kau sangat cantik. Dimanakah kekasihmu, dia pasti akan terkejut melihatmu berdandan seperti ini.”


“Sayangnya aku tidak memiliki pacar, hanya seorang teman yang baik. Aku mau mentraktirnya nonton film yang Bagus malam ini. Karena sejak sakit, aku sudah dirawat olehnya. Lihatlah, plester ini dia yang memasangkannya saat aku tidur.”


“Wah manis sekali temanmu itu, apakah dia tampan? “


“Jangan sampai dia mendengar dia tidak tampan, tapi dia sangat berkharisma hahahah.” Disaat itulah lidah Ramon tergigit.


“Sepertinya temanmu itu akan jatuh jika melihatmu menjadi cantik seperti ini, aku saja sampai iri.”

__ADS_1


“Ah kau jangan terlalu memujiku, aku hanya rindu rambutku yang panjang. Makanya aku ingin kau memasangkan rambut sambung untukku. Terimakasih ya, berkatmu aku kembali merasakan dipuji cantik hihihi.” Frayza lalu membayar uang jasa perias salon yang sudah merubah penampilannya.


Tiket bioskop sudah dia dapat, kini Frayza berjalan melihat-lihat etalase penjual camilan. Banyak pria yang melihatnya dengan tatapan yang tak biasa yah, itu karena Frayza masih memakai santai dengan gaun yang dia kenakan.


Tiba-tiba ada suara sirine kebakaran yang membuat pengunjung kalang kabut dan berhamburan pergi.


“Oh tidak apinya menjalar semakin besar, kita harus pergi ke jalur evakuasi.”


“Apa, api?” Frayza panik dan menjatuhkan minuman ringan dan jajanannya.


“Hai Nona, jika kau tidak ingin mati terpanggang sebaiknya kau cepat lari!” perintah petugas bioskop yang menyuruhnya mengungsi.


Ini adalah kali pertama Frayza pergi seorang diri ditempat umum. Dan dia tidak tahu harus berbuat apa, dia melihat orang-orang berlari menuruni tangga. Namun lift tampak kosong, dia masuk didalam lift untuk meloloskan diri. Tapi sayang, liftnha macet dan mogok. Asap mulai masuk kedalam lift, sehingga Frayza sesak nafas dan akhirnya tak sadarkan diri. Petugas kebakaran berhasil memadamkan api, sehingga tidak terjadi kebakaran yang lebih besar. Saat petugas kebakaran menyisir lokasi, sia melihat lift yang angkanya menyala namun tak bergerak. Setelah kemara pengintai diperiksa, ternyata seorang korban tergeletak.


“Siapkan ambulan secepatnya, korban pingsan!”


Setibanya dirumah sakit, Frayza masih belum sadarkan diri. Dan kebetulan dia tidak membawa kartu identitas diri, sehingga berita tersebut disiarkan melalui TV Nasional.


“Telah terjadi kebakaran disebuah gedung bioskop, dan korban yang berhasil diselamatkan ialaha seorang gadis perempuan tanpa identitas. Berikut inilah foto gadis tersebut yang mejadi korban.”


Wajah Frayza ditampilkan di hadapan umum, dan Ramon tidak mengenali Frayza yang sudah berdandan cantik sebagai wanita.


“Tunggu!” Ramon teringat jika Frayza hendak mentraktirnya menonton film di bioskop dengan memberikan kejutan karena sudah merawatnya ketika sakit.


“Apa kau mengenalnya?” tanya Kenzo.


“Sejak kapan Fred pergi meninggalkan kediaman ini?”


“Sejak kapan aku tidak tahu yang jelas dia terekam kamera ya pagi tadi lah.”


“Dasar bocah ceroboh!” Ramon membelandang pergi membawa mobil yang terparkir dan menuju rumah sakit dimana korban dirawat.


Dalam hatinya semoga bukan Frayza, yang dilaporkan dalam berita itu adalah seorang gadis. Sedangak saat pergi, Frayza menjadi Fred. Mobil berhenti dan Ramon mencari dirumah sakit mencari nama dan ciri-ciri yang disebutkan ialah Fred.


“Maaf tuan, kami hanya menemukan korban hanya seorang gadis yang terjebak di dalam lift. Dan dia memakai ikat rambut ini,” ikat rambut yang ia berikan kepada Frayza. Seketika juga, Ramon menuju kamar yang ditujukan.


Dan seorang gadis tengah lemah tak sadarkan diri usai kejadian itu. Dia masuk dan perlahan meyakinkan diri bahwa orang itu ialah Frayza.


“R-a-m-o-n?” Frayza memanggil nama Ramon dengan lirih.


Dia langsung memeluk Frayza yang terkulai lemas dan memakinya. “KAU GILA APA SUDAH TIDAK WARAS! KALAU ADA KEBAKARAN TURUN LEWAT TANGGA BUKAN LIFT, KAU MAU AKU GILA KEHILANGANMU, TOLOL!” Ramon memeluk Frayza dengan erat. Dan gadis itu menitikan air mata, karena Ramon sangat menghargai hidupnya. Dia membalas pelukannya Ramon dengan lembut.


“Aku baik-baik saja, sudah marahnya.” Tutur Frayza karena Ramon terus mengomelinya.

__ADS_1


Tak ingin melepaskan pelukannya, Ramon akhirnya menyatakan agar Frayza tidak boleh bertindak bodoh lagi. Sekarang ini, Ramon hanya memiliki Frayza. Dia hampir saja gila, kehilangan pegangan hidupnya.


__ADS_2