
××× BATAM,
Bayangan wajah tampan pria di Bandara Bali terus meracuni iai kepala Digna. Dirinya seolah terhipnotis oleh pesona saat pertemuan pertama kalinya.
“Cih, tampannya sudah diluar batas aman.”
“Sejak tiba sampai sekarang kau selalu saja memuja pria khayalanmu itu. Apa kau lupa sudah ada Ramon?”
“Aku sudah bubar dengannya, malam ini dia akan bertanding. Semoga dia kalah dan tidak bersikap egois terhadap wanita.”
“Bukannya pria itu egois, terkadang dia tidak tahu sikap mana yang benar jika itu salah diterapkan untuk menghadapi emosi wanita Digna.”
Ocehan Frayza tak didengarkan oleh Digna, saat ini ia sedang berbunga-bunga. Rasa penasarannya yang tinggi terhadap pria yang dikawal pengawal itu. Membuka situs data penumpang yang mendarat di Bandara Bali.
“Astagah... Upsss!”
“Apa kau membuat tagihan meledak sehingga terkaget seperti itu?”
“Lihatlah lukisan Tuhan yang Indah ini diwajahnya.”
Wajah pria tampan itu berhasil ia dapatkan informasinya. Sudah bukan hal sulit bagi Digna yang notabenya hacker komputer itu meretas data orang.
“Setampanh apapun lelaki bagiku tetaplah lelaki.”
“Hai, kau bicara seolah perempuan yang pernah dikecewakan Fred.” Tegur Digna.
“Menurutku, semua lelaki itu sama. Hanya saja beda pembungkusnya saja his.” Frayza sudah mati rasa dengan pria.
“Dasar tidak waras.”
__ADS_1
*
*
*
××× BALI,
Sementara itu Ramon yang bertanding di arena ilegal ini menunggu penantangnya masuk ring.
“Hah?” ternyata lawannya adalah pelatih Tat yang kemarin bertanding dengannya.
“Apa kau takut?” tanya pelatihnya.
“Kenapa dia bisa yang maju bertanding, apa dia sudah memiliki atlit lagi?” bisik ke telinga pelatihnya.
“Mana ada yang mau dilatih oleh buronan dan kriminal. Terlebih lagi, catatannya buruk dalam menangani anak didiknya, sehingga tewas karena over dosis.” Membicarakan kematian Tat yang naas.
Teng... Teng... Wasit membunyikan loncengnya dan menyampaikan kalau pertandingan akan segera dimulai.
“Sebelum kita memulai acara pertandingan ini, mari kita sambut tamu istimewa kita yaitu Tuan Hikashi...”
Prokkk... Prokk.... Rius gemuruh sambutan yang diberikan kepada tamu kehormatan yang datang menyaksikan pertandingan seni bela diri ini.
“Karena Tuan Hikashi sedang baik hati, maka total hadiah yang bisa diraih sebanyak 10x lipat dari hadiah sebelumnya. Dan berkesempatan untuk memperoleh hadiah liburan naik kapal pesiar.”
Seluruh penonton yang hadir berdecak kagum dengan sosok tuan Hikashi yang duduk di ruangan paling atas dengan lapis kaca. Para pengawal yang senantiasa Setia menjaganya tak pernah luput berada disekelilingnya.
“Aku akan dapatkan uang itu semua, aku tidak boleh kalah dari Mr. X itu.” Ucap pelatih yang sudah mulai merasakan tubuhnya terbakar energinya.
__ADS_1
Dari ronde pertama Ramon kalah telak dibanting habis-habisan oleh lawan mainnya. Sehingga dirinya mengalami cidera dan mulutnya robet, terus mengucurkan darah. Pelatih yang sudah menyuntikkan serum peningkat stamina itu merasakan jantungnya mulai berdegub kencang dan semakin panas. Nafasnya yang mulai tersengal-sengal saat melanjutkan ronde kedua. Ramon yang bisa membaca situasi ini hanya melakukan trik pengecoh lawan. Dan membuat Pelatih itu terjungkir dan tersungkur karena pukulan dan tendangan yang meleset.
“Mataku, ada apa dengan mataku?”
Bukkk... Craaatttt... Bukkk... Berulang kali Ramon menyerang disegala arah hingga Pelatih itu tumbang dan dinyatakan K.O oleh wasit. Nasibnya yang Malang tak bisa dihindarkan lagi, tidak ada tim medis yang mau mengurusnya. Karena ini pertandingan gelap, jadi pertolongan seadanta saja dari timnya.
“Mr. X selamat atas kemenangan anda. Ini hadiah kontan dari Tuan Hikashi, dan untuk tiket liburannya diperuntukkan untuk tiga orang. Silahkan diterima.” Ucap pengawal yang memberikan hadiah kepada Ramon.
Seluruh tim yang membantu Ramon sangat bersuka ria. Karena atlitnya memenangkan hadiah yang sangat besar. Ramon yanh bersuka cita melihat Pelatih dipapah oleh seorang tim setianya. Dirinya berjalan dengan terhuyung-huyung menahan sakitnya.
“Tunggu sebentar,” Ramon menghentikan langkah Pelatih yang kalah bertarung dengannya.
“Selamat atas kemenanganmu Mr. X.” Ucap Pelatih dengan terbata-bata.
“Karena aku menang dari mu maka, terimalah sedikit uang ini untuk berobat.”
“Ini... Banyak sekali.”
“Tak apa, anggap saja itu ganti rugi atas sakit yang aku sebabkan.”
Uang yang masih Wangi dari koper itu diberikan beberapa gepok untuk berobat si Pelatih. Tujuan Ramon sebenarnya bukan memberikan uang itu secara Cuma-Cum. Karena sebelumnya Ramonlah yang menyamar sebagai petugas kebersihan di tempat latihan Tat. Dan menukar obat perangsang tenaga yang sudah ia siapkan. Karena obat yang diberikan itu efeknya sangat tinggi bila dipakai dalam dosis yang tidak disarankan. Maka bisa menyebabkan serangan jantung dan kelumpuhan otak.
“Kenapa kau royal sekali dengan lawanmu, apa kau sudah jadi Biksu yang dermawan hah?”
“Sudahlah, lagipula aku menerima uang banyak. Kalian semua akan dapat jatahnya masing-masing. Jadi jangan cemburu, ayo kita rayakan kemenangan kita.”
Mereka kembali bersorak gembira dalam kebahagiaan Ramon yang menang pertandingan. Dan Hikashi melihat talenta Ramon yang sepertinya cocok untuk menjadi teman duelnya bermain pedang.
“Berikan salinan lengkapnya padaku,” perintah Hikashi kepada pengawalnya.
__ADS_1
“Baik Tuan,”
Siapapun pasti akan terkecoh dengan wajah malaikat Hikashi. Namun, sangat menyukai hal yang mengundang adrenalin.