
“Oh Bali___”
Desir pasir pantai yang diiringi gelombang ombak, menyapu pasir putih. Bekas jejak kaki tersapu menghilang oleh gerusan air laut. Ramon menikmati senja ini dengan sebotol bir ditangannya.
“Sayang sekali Tuan X menolak jamuan wanita, padahal kami sudah menyediakan mereka khusus untuk melayani Tuan.”
“Lupakan soal wanita, aku mau tahu tentang stretegi kemenangan melawan Tat besok malam.”
“Tat adalah petarung jalanan yang berbakat, dia kemudian dilatih di sanggar yang dibiayai mafia Hong Kong. Oleh sebab itu, kemampuan bela diri Tat perlu diwaspadai. Ini adalah rekaman video Tat saat bertarung.”
Gerakan dan tendangan Tat yang akurasinya sangat presisis membuat lawan bertarungnya mudah roboh. Sepertinya Ramon ini segera berlatih fisik agar tidak kaku saat pertandingan.
“Jangan menggagu malam ini, aku mau beristirahat total. Mengerti!” gertak Ramon pada pria yang bicara dengannya.
Usai dari pantai, Ramon berenang beberapa jam dan membasuh tubuhnya hingga bersih. Dan mengambil celana kolor untuk latihan bela diri. Dirinya merasa keterampilannya sedikit menurun karena jarang berlatih, banyak merawat kekasihnya yang sakit parah yaitu Digna.
Bug, jedag bug. Bag dug bag dug begitulah suara berisik dalam kamar Ramon yang sudah tersedia alat latihan. Dia tidak melakukan latihan duel, karena khawatir terjadi cidera saat berlatih. Keringatnya mulai bercucuran dan dan darahanya sudah bergejolak panas. Dirinya semakin semangat mengingat hadiahnya berupa uang Dollar.
*
*
__ADS_1
*
ADEGAN TAT,
Berkali-kali Tat sudah berhasil menendang, membanting dan mengunci lawan latihannya. Bahkan ada yang terluka karena giginya patah. Tat memang luar biasa, selain masih muda. Staminanya memang sedang dipuncak yang Bagus.
“Tat, sudah aku berikan suntikan jadi dia akan mudah melawan Mr. X” ucap pelatih kepada Bos Mafia Hong Kong.
“Bila perlu tambahkan lagi dosisnya, aku ingin dia menjadi pengawal yang disegani.”
“Tapi akan berakibat fatal pada organ tubuhnya Bos,” ucap sang Pelatih Mua Thai khawatir.
“Apa aku membayarmu untuk membahas hal ini? Jangan lupa, kau mampu bernapas diatas tanah karena kemurahanku, jika kau sudah bosan. Pilih dimana kau mau bersemayam!”
“Ingat pesanku, jika besok Tat menang. Maka kau bisa berjumpa dengan putrimu di Bangkok.” Pelatih itu mengangguk.
Pelatih Mua Thai dulunya seorang atlit Nasional yang menjadi juara dalam kompetisinya. Karena ambisinya yang tinggi pada uang dan judi, akhirnya dia menjadi bangkrut. Dia memiliki seorang anak yang diasuh oleh mantan istrinya di Bangkok. Karena terjerat hutang, makanya dia menjadi tukang pukul dan terakhir dia membunuh mertuanya sendiri karena menghalangi dirinya untuk menjenguk putrinya. Karena tak ingin di Penjara pula, Pelatih meminta permohonan kepada Bos Mafia dari Hong Kong untuk menjadikannya budak.
“Baiklah, kau bisa mencicil hutang dan bunganya dengan menjadi pelatih Mua Thai di Klub ku,” itulah yang diucapkan Bosnya.
Pelatih Mua Thai itu bersyukur, karena dirinya masih ada kesempatan kabur dari jeratan hukum. Dan tinggal di Bali sebagai pendatang ilegal, dibawah perlindungan Bos Mafia Hong Kong yang sebenarnya adalah Frank.
__ADS_1
Sreeekkk.... Sreeekkk.... Sreeekkk petugas kebersihan tak sengaja menyapu sepatu Pelatih yang melamun.
“Kau mau mati!” bentak Pelatih yang kesal.
“A-ampun Pelatih, maafkan aku yang sudah mengotori sepatumu. Mari aku lap,” petugas kebersihan itu mengelap dengan handuk yang berada di lehernya.
Jeduakkk, kaki Pelatih itu menendang pemuda tersebut. Dan sapu yang masih dia genggam akhirnya terpental.
“Kau pikir sepatuku ini sama derajatnya dengan kelapamu apa, jangan kau lap pakai handuk murahanmu!” pemuda itu sedih mendengar ucapan Pelatih yang merendahkan harga dirinya.
Pemuda itu hanya bisa menahan sesam di dadanya, hidung dan telinganya memerah menahan emosi jiwanya. Dia kembali memunguti alat kebersihannya yang berserakan.
“Dasar kacung murahan, makananmu dari tong sampah, keringatmu lebih kotor dari air kencengku!” maki Pelatih itu lagi.
Pemuda yang tertindas itu berdiri dengan kepala menunduk. Wajahnya tak mampu ia tegakkan karena banyak orang-orang yang melihat kejadian ini.
Di dalam kantornya, Pelatih memeriksa ampul vaksin penambah stamina untuk Tat. Vaksin-vaksin tersebut banyak jumlahnya dan beraneka kegunaan. Sang Pelatih sudah menanda mili Tat yang akan disuntikkan besok menjelang pertandingan. Lalu pelatih memasukkannya lagi kedalam lemari pendingin agar tidak rusak kandungan dan komposisinya.
“Siapa itu!” pelatih menyadari kalau ada yang mengikutinya secara diam-diam.
Dibukanya pintu kantor pribadinya, tak ditemukan seorangpun. Dan masih digelayuti rasa penasaran, dia mengecek rekaman CCTV lagi. Dan ternyata benar, itu hanya firasatnya saja kalau hanya delusinya.
__ADS_1
“Hufff... Sepertinya aku terlalu khawatir dengan kandangku sendiri, mana ada yang berani memata-mataiku!” ujar Pelatih sambil mengelus dadanya.