
√LANJUTAN,
“Sampai kapan Fray! Kau akan terus mendiamiku!”
“....” berhenti berjalan.
Mereka berdua berhenti ditangga, tangan Hikashi memegang erat siku Frayza. Wanita yang rambutnya basah ini tampak lebih segar dan aromanta sangat memabukan.
“Aku merindukanmu Sayang, sangat.” Mengendus kulit Frayza yang Wangi khas sabun mandi.
“....” menepisnya dan menutup pintu kamar.
Malam ini Frayza tidur bersama kedua putranya di kamar Jade. Seven sudah tertidur dengan memegang krayon. Sedangkan Jade membereskan alat tulisnya. Selesai mengerjakan PR, tampaknya anak usia 6 tahun itu paham. Situasi orang tuanya sedang tidak baik-baik saja.
“Mama... “ mengusap pipi ibunya.
“....” tangan kecil nan lembut itu terasa nyaman saat menyentuh pipinya.
“Mama, aku benci.”
“Jjjaade, apakah kau mau pindah rumah?” memeluk putranya seolah rasa sakitnya dirasakan Jade juga.
“Hu’um.” Mengangguk pelan.
“Maafkan Mama ya Nak, sudah membuatmu ikut menanggung beban berat. Terimakasih sudah menjadi adikmu Seven dengan baik.”
“Sama-sama Mama.”
“Mama sama-sama,” Seven menimpali sambil mengigau.
“Hahahaha dia lucu sekali.”
“Seven bisa melawak juga hahaha.”
“Hhheeee.” Tersenyum walaupun matanya tertutup.
Mereka berdua memuluk Frayza sepanjang malam. Kedua putranya ini sangat merindukan kehangatan ibunya sejak terjadi perang dingin. Diluar kamar itu berdiri pria yang ingin mendobrak masuk pintu. Ia ingin menyeret keluar wanitanya.
“Aku akan tetap disini sampai pagi, Frayza!” mengepal kedua tangannya.
Keesokan paginya, Hikashi masih berdiri tanpa mengantuk sedikitpun. Jade terperangah saat keluar dari kamarnya. Tampak Frayza masih terlelap memeluk Seven.
“Papa...” Hikashi nyelonong masuk kamar dan masuk kedalam selimut.
“Ekhhh Jade, kau mandi dulu nanti giliran Mama mandiii ehhmmm.” Melenguh.
Tangan Hikashi merangsek masuk menerobos ke pinggang. Meraih perut rata istrinya. Sontak Frayza kaget dan matanya terbelalak. Bongkahan miliknya disentuh binal oleh tangan besar. Jrenngg... Jrenggg... “Astagah!” terkejut.
“Kenapa!”
“Mau apa kau?”
“Mau minta jatahku yang sudah karatan!” suami gila, ngomong begitu ada anaknya. Dasar mesum.
“Mama-Papa kalian sedang apa?” Seven bangun dari rebahannya.
“Nak, kau turun dan ikut mandi Jade. Sekarang!”
“Ah iyaaa Papaaaaa.” Anak penurut itu langsung ngacir turu kebawah mandi menyusul Jade.
Didalam kamar tinggal dua orang tua yang berselisih paham. Rasanya Hikashi sudah menahannya sampai ke ubun-ubun. Dirinya ingin bercinta dengan istrinya. Haus akan hal yang membuatnya basah dan meledak berkali-kali.
“Ayo bicara padaku!”
“....” berusaha mengurai dekapan kuat diperut.
Diakkkk... Kaki Frayza menendang belakangan milik Hikashi. Ia terpaksa memakai jurus itu sebagai jalan terakhir.
Setelah kejadian naas tadi pagi, Hikashi berjalan sambil tergopoh-gopoh. Itu tidak seberapa sakitnya Frayza cemburu. Rasakan itu wahai pria!
Dannis sengaja datang kembali ke kediaman Hikashi. Secara terang-terangan ia mengibarkan bendera perang.
“Hal pertama yang harus kau tahu, bahwa kau boleh pergi membawa kedua anakmu. Karena kelak kami akan memiliki anak sendiri. Tapi aku ingin menikmati masa-masa bercumbu lebih dahulu!”
“Cih!” tidak menggubris dan memilih pergi berangkat kantornya.
Hikashi keluar dengan sempoyongan, menahan sakit dibagian vitalnya.
“Hikashi, apa kau sakit magh?”
“Cepat ikuti wanita itu!”
“Siapa!”
“Jika kau tidak mau, maka pergilah!”
“Baik, masuklah kedalam mobilku.”
“Aku yang menyetirnya, kau duduk dibelakang.”
“Hai, apa tidak kebalik! Ini mobil milikku, kau jangan semena-mena tauk!”
“1...2...3.” Dannis masuk dan duduk dibelakang dengan mulut cemberut.
Hikashi berhasil mengikuti kemana Frayza pergi. Ternyata wanita itu pergi ke Butik seperti biasanya. Tapi tunggu, itukan mobil istana dan pengawal khusus.
“Pangeran Hiroshi!” teriak Dannis dama mobil.
“Kau tahu dia?”
“Tentut saja, dia kan calon penerus kerajaan Jepang. Wah untuk apa dia datang ke Butik itu ya? “
Sementara itu didalam butik tak kalag gugupnya kedatangan orang penting istana. Tidak ada pengunjung lain, karena tempat ini sengaja dipesan khusus.
__ADS_1
“Senang sekali kita bertemu kembali Kakak sepupu ipar Frayza Lee.”
“Pangeran Hiroshi, jadi tamu istana yang disebut itu dirimu ya?”
“Betul sekali, aku minta buatkan baju yang membuatku tampan dihari pertunanganku. Tolong.” Merentangkan kedua tangannya agar diukur.
“Baiklah pertama-tama aku akan ukur panjang lenganmu.” Meletakkan garisan diujung pangkal tangannya.
Slluttt... Penggaris badan itu direbut Hikashi. Melemparkannya ke sembarangan tempat. “Hemmmmmmbbh uuhhh.”
“Itu akibatnya kalau membuatku marah!” mengelap bibirnya yang basah.
“Maafkan aku Pangeran Hiroshi, seharusnya kau tidak melihat kejadian memalukan ini.” Mengelap bibirnya.
“Kau istriku jadi aku bebas melakukan apapun dan kapanpun!”
“Hai hai hai berhenti, apakah kalian tidak menghargai aku?” mencoba melerai.
“Sekali lagi aku minta maaf Pangeran Hiroshi. Ini diluar kebiasaannya dann...” tak pakai lama Hikashi menyeret Frayza pergi dan masuk kedalam mobil Dannis.
“Kenapa kau membawa wanita ini kedalam mobilku? Turunkan dia!”
“DIAM! KAU YANG TURUN DARI MOBIL !” bentak Hikashi.
Matanya merah dan rahangnya mengeras, giginya bergerak. Ini tandanya Hikashi sangat murka. Diam-diam tangan Frayza menarik pintu agar bisa kabur.
“Hemmmbbb... Emmbbb.” Ia memukul dada bidang Hikashi.
“Kau mau menjauhiku, mau menantangku hah hemmmmmbbb eeemmmbb ahhh.” Menyesap kasar bibir Frayza yang menolak untuk berciuman.
Hikashi begitu bergairah dan bernafsu, sedangkan dirinya sudah puluhan kali menyodorkan dada, paha, dan mulutnya. Tapi tak pernah sekalipun membuat Hikashi setegang itu miliknya. Frayza tak kuasa menahan birahi Hikashi yang sudah memuncak. Milik Dannis berdenyut-denyut merasakan gatal seperti jalan yang ingin disetubuhi juga.
“Kalian mau apa didalam mobilku?”
“Ehhmmbb emmbbb ahhh...” sekuat tenaga Frayza menolak serangan paksa Hikashi.
“Jika kau mau manjadi tolol didalam mobil ini, sebaiknya turun dan berangkatlah bekerja. Ini urusan suami-istri!” peringatan Hikashi untuk Dannis pergi saja. Namun gadis itu alih pergi dia malah mengatakan hal yang mencengangkan.
“Setubuhi juga milikku Hikashi, aku serahkan semuanya setelah dia!”
Plakkkk!!! Sebuah tamparan melayang dipipi Dannis. “Aku tidak akan sudi, kalian berdua sangat menjijikkan!” Frayza seolah dilecehkan mendengar ucapan Dannis.
“Ckckckckck murahan!” menggeleng-geleng.
“Hiks... Hiksss.. Hiksss...” Dannis menutup wajahnya dan menangis, dirinya sudah sangat rendah menawarkan diri untuk bercinta.
Hari ini Hikashi tak bisa lagi bermain tunggal. Ia terpaksa memakai cara kasar untuk menyeret Frayza. Yah memaksa istrinya sendiri yang ngambek tak kunjung reda.
“Mastumoto, kau datanglah ke Butik. Bawa dia kembali kerumah utama!” mengakhiri perintahnya. Hikashi berdiri didepan Butik tepat dipintu utama keluar-masuk.
“Tuan.”
“Masuk dan seret dia, ikat dengan kuat jangan sampai lepas.”
“Padahal aku belum selesai diukur istrimu, kau sudah terbakar saja sepupuku.”
“Pergi!” usir Hikashi.
Mobil iring-iringan Hiroshi pergi meninggalkan Butik. Sekarang Frayza harus sembunyi sebelum si tangan kanan Hikashi menemukannya. Ia takut dan sembunyi di ruang penyimpanan. Namun, ia berhasil temukan Matsumoto akhirnya.
“Aku tidak mau ikut kalian!”
“Maafkan saya Nona, anda harus menurut kali ini.” Membekap kain agar Frayza pingsan.
Setelah melihat wanitanya masuk mobil, Hikashi menuju kantornya. Ia menemui pimpinan yang mencarinya sejak pagi. Karena Dannis masih berharap memilik peluang dengan Hikashi. Ia membela Hikashi agar tidak ditegur atau mutasi.
“Maafkan aku yang memang tidak berniat bekerja disini. Mulai sekarang aku keluar dari pekerjaanku.”
“Banyak orang ingin bekerja kantoran sepertimu. Kenapa kau memilih keluar hah!”
“Dannis benar, Hikashi kau pegawai baru yang kompeten. Pikirkan lagi aku akan memberikanmu peringatan. Bukan surat pemecatan.”
“Sayang sekali aku sudah tidak minat. Mulai sekarang aku akan keluar dan berhenti.”
“Kau tidak bisa berhenti sesuka hatimu Hikashi.”
“Tentu aku bisa berbuat semauku. Jika ada yang mempersulitku. Kupastikan skandal atasan dan bawahan akan tersebar luas.”
Kedua pasang mata itu saling beradu tatap. Sepertinya Dannis melupakan satu hal, bahwa dirinya kini hamil dan tidak tahu benih milik siapa. Karena Dannis sebenarnya adalah simpanan atasannya. Tapi gemar bermain Batang singkong dengan rekan kerjanya juga. Tapi dia menargetkan Hikashi yang paling diinginkan. Ia ingin Hikashi memasukinya dengan menjebak kehamilan. Yang bukan benihnya, ternyata Hikashi sudah tahu terlebih dahulu. Bagaimana tidak tahu, orang-orang kantor sering bercerita jika mereka bergiliran bercinta dengan Dannis. Mantan pemeran film dewasa yang banting setir jadi pegawai kantoran.
*
*
*
DANNIS POV,
Proses syuting film dewasa ini memakan waktu lama dan berhari-hari. Ia harus meminum obat perangsang untuk membangkitkan gairahnya saat beradegan ranjang. Dannis sudah 3 tahun melakoni profesi ini. Selain cara cepat memperoleh uang dan ketenaran. Cara ini bisa mendongkrak dirinya memperoleh koneksi.
“Dannis kau harus mendesah dan berteriak lebih hebat lagi!”
“Apa kau pikir biji kacang bisa membuatku meledak wahai Sutradara?”
“Kau bisa berpura-pura orgasme Dannis. Ayolah ini hanya film bila ini terjual laris, kontrakmu akan diperpanjang.
“Hufffttt...” mengebulkan asap rokok kewajah sutradara.
Walaupun pekerjaannya ini dipuja kaum pria. Namun banyak wanita yang menghujatnya habis-habisan. Sampai pada titik dimana Dannis ingin mencari suami kemudian menjalani kehidupan normal. Matanya tertuju pada pria yang menenteng belanjaan berisi sayur. Berdiri didepan toko buku.
Dannis melihat pria itu lagi, kali ini berada didepan perpustakaan dan masuk kesana. Ia mengekori Hikashi yang kala itu mencari buku untuk materi belajarnya. Dannis tak melepaskan matanya dari pria gagah berwaha campuran. Dirinya mendesir membayangkan berada dibawah pria tampan.
“Kau mau masuk ujian pegawai sipil?” membaca judul buku yang dibaca Hikashi.
__ADS_1
“Hemmm,” membaca buku-buku panduan.
“Aku juga mau ikut ujiannya. Apakah kita bisa belajar bersama?”
“Tentu saja, aku sedikit tidak paham karena ini terlalu asing bagiku.”
“Oh begini cara pemahamannya.”
Kedekatan mereka semakin intens setiap. Hari Dannis sengaja menyempatkan waktu agar bisa bertemu Hikashi. Sempat ia ingin menyerah untuk belajar lagi. Mengingat keinginan besar Hikashi lolos ujian ini. Semangat Dannis untuk belajar terpompa.
Dannis adalah tipe wanita yang banyak memberikan perhatian kepada Hikashi. Bahkan ia terang-terangan memberikan sentuhan kecil saat mereka tengah besenda gurau. Hal ini membuat nyaman Hikashi yang hubungannya kala itu renggang dengan Frayza. Ia merasa diabaikan oleh istrinya, dan diluar menemukan teman yang asik. Dannis bisa diajak ngobrol apapun. Anaknya asik, sehingga Hikashi merasa jika bisa berteman dengan Dannis.
Tak tahunya, keakraban Hikashi ini digunakan Dannis untuk merusak pernikahannya yang mulai retak. Ia terus membuat topik cerita lewat pesan pendeknya. Dan saat itulah Frayza memergoki pesan nakal. Dari Dannis. Mungkin menurut Hikashi perempuan seperti Dannis tomboy. Tapi bagi Frayza itu sangat menjijikan wanita memancing hasrat pria dan bicara hal tak senonoh.
“Aku ingin mengkloning akun milik suamiku, apakah bisa?”
“Tentu saja Nyonya, anda biaa mengecek data panggilan dan pesan dari ponsel anda.”
“Apakah ini aman?”
“Hal semacam ini sudah lumrah dijaman sekarang untuk menangkap basah perselingkuhan. Ups maaf.”
“Terimaksih.”
Dari pesan yang dikirim Dannis maupun balasan dari Hikashi semua bisa dibaca Frayza. Mereka membahas apapun Frayza ketahui. Inilah sebabnya Frayza tak ingin bersuara. Baginya bukti yang sudah ia kantongi lebih dari cukup. Harus ia akui, bahwa Hikashi tak memiliki harta berlimpah. Tapi aura dan karismanya begitu kuat. Jujur Frayza merasa lelah dengan semua ini. Harapannya untuk kelangsungan rumah tangganya seolah hancur.
*
*
*
Matsumoto membawa kekediamana mewah milik Hikashi yang sebenarnya. Rumah mewah yang dulu ia siapkan untuk hidup bersama keluarganya.
“Dimana dia?”
“Saya sudah mengikatnya dikamar anda Tuan.”
“Bagus,” Hikashi melonggarkan dasinya dan naik lift menuju kamar utama.
Ruangan kamar ini bernuansa hitam dan abu-abu. Aroma kamar tidur ini sangat harum dan menenangkan. Membuat siapapun yang berada disana bisa tidur pulang.
“Jangan berusaha keras lagi Sayang.”
“...” kaget bukan main dada Hikashi sudah tidak memakai kemeja.
“Kenapa kau tidak bilang sudah menyadap ponselku hemm. Jadi kau mogok bicara karena membaca isi percakapanku ya hemmm? Nakal,plakk.” Memukul pantat Frayza.
“Ahhh...”
“Hanya itu saja hemm,plakk!” lebih keras menampar paha Frayza.
“Uahh...” kenapa kau merintih seperti mendesah Frayza! Ih kau ini macam mancing-mancing birahi suamimu!
“Aku tidak akan meniduri wanita murahan yang berganti-ganti pasangan pria. Kenapa kau tidak mau bicara jika kau terluka Fray!”
“...” menunduk dan diam.
“Jawab! Atau aku akan memperkosamu dengan kasar dan brutal!” membuka paha istrinya lebar-lebar.
“Aahhh...” tersentak kaget Hikashi membuka lipata kakinya yang rapat.
“Jadi kau memilih diam ya, baiklah. Kesabaranku sudah habis, sudah lama kau mengabaikan benda tumpul milikku ini istriku!”
Tanpa pemanasan Hikshiks sudah merobek ****** *****. Dan melemparnya ngawur dilantai. Tak hanya itu pakiannya compang-camping direnggut paksa. Frayza merasa sangat sakit dan nyeri dibagian inti miliknya yang kering. Milik Hikashi dihantamnya kedalam dengan sangat kasar. Ukurannya yang besar dan kokoh membuat Frayza gelagapan menerima hukuman yang memborbardir.
“Sssaaaakitttt... Uhhh...” air matanya menetes.
“Iya, seeesaaakit ini rasanya kau abaikan diriku!” maju mundur dengan kasar didalam.
“Hennnttt... Hentikan ini aku mohoonnn.” Tubuhnya terguncang-guncang karena hentakan kasar mengoyaknya. Rasanya miliknya terbelah dan robek.
“Aku akan memperkosamu sampai puas! Jangan harap kau akan bertemu anak-anakmu lagi jika belum ku jinakkan.”
Betapa panasnya memenuhi rahimnya. Frayza tak bisa lagi berpikir jernih lagi. Setan apa yang merasuki Hikashi hingga dirinya menjadi sasaran. Sekarang sudah larut malam, bagaimana nasib kedua putranya sekarang. Apakah mereka mencari ibunya dan kelaparan. Oh tidak, membayangkan hal ini saja membuatnya ingin pulang.
“Hikashi, apakah kau sudah puas dengan tubuhku?”
“Hemmbb minta tambah lagi?” pria itu terbangun dan mendekatkan wajahnya.
“Aku ingin pulang kerumah, aku rindu anak-anak.”
“Kau jangan merengek begitu Sayang, ini juga rumah kita. Mereka tidak akan aku apa-apakan selama kau memuaskanku diranjang ini. Ayo kita mulai lagi percintaan panas kita!”
Dan permainan kasar Hikashi berubah lembut temponnya. Rasanya tak lagi menyakiti miliknya, tapi rasanya sangat nikmat. Frayza mulai mengimbangi tempo yang dimainkan Hikashi. Ia paham betul bagaimana caranya membuat Hikashi sampai ke puncaknya.
“Akkhhh kau selalu sempit istriku ihhhh...” kepalanya menghadap keatas mengigiti bibir bawahnya.
“Ahhh... Ahhh... Aku mau keluarrrrr.”
“Sama-samaa ahhhh.”
Dan percintaan panas itu berakhir pada pukul 2 Fajar. Hikashi melepaskan borgol agar jari-jarinya menyatu. Ia menindih tubuh ramping istrinya dengan paha kanan. Membuat wanita ini dipaku tubuh pria besar. Ia sangat lelah dan mengantuk. Dan tak memiliki energi lagi, semuanya terkuras habis tak bersisa.
“Aku hanya mencintaimu Fray, tubuhmu adalah surga duniaku...” bisik Hikashi merapatkan tubuhnya.
“Besok tolong pulangkan aku ya, ku mohon.”
“Puaskan aku dulu, masa bodoh dengan hal lain!” menjepit tubuh istrinya.
“Kenapa bisa kurang, kau tidak capek?”
“Tidur sebentar nanti kita main lagi, sudah lama kita tidur terpisah. Aku sering insomnia tanpamu disampingku.” Hikashi terus mengeratkan tubuhnya agar istrinya berhenti merengek.
__ADS_1