
---ISTANA KERAJAAN, JEPANG ---
Kabar kedatangan Hikashi ke Jepang membuat para Putri kerajaan ingin menemuinya. Tetapi mereka terkadang harus kecewa lantaran aturan ketat yang diberlakukan oleh tim medis yang dipimpin langsung oleh Dokter Kelvin. Bahkan perawat perempuan saja tidak dipekerjakan. Karena Hikashi selalu menganggap wanita itu adalah Frayza.
“Biarkan aku masuk, jangan halagi aku!”
“Putri Aiko, jika terjadi hal yang melecehkanmu bagaimana bisa aku menjawabnya kepada Pangeran Hiroshi?”
“Kau tutup mulutmu saja, jika terjadi sesuatu padaku pengawal istana ini cukup menerobos masuk bukan?”
“Putri Aiko...”
Putri Aiko tidak menggubris larangan Dokter Kelvin. Dia geram karena selama ini dia selalu dipersulit untuk bertemu langsung dengan Hikashi.
“Ya Tuhan, Pangeran Hikashi!” Aiko terkejut melihat Hikashi yang sudah mencelupkan kapalanya di bak berisi air penuh.
“Hosshhh...” Hikashi kehabisan napasnya dan tersengal-sengal.
“Bukan begini caranya Pangeran kecilku, kau tidak boleh seperti ini. Aku sudah datang,” memeluk erat Hikashi dengan rasa haru yang membiru. Sekian lama akhirnya ia bisa merasakan tubuh Hikashi.
“Dinginnn... Dinginnnn.” Hikashi menggigil kedinginan.
“Peluk aku Pangeran, pelukkk! Aiko semakin merapatkan tubuhnya untuk mendekap Hikashi yang basah kuyup.
Pria malang itu kemudian dibawa ketempat yang bersih. Dibantu Dokter Kelvin, Aiko merawat Hikashi yang depresi.
“Berikan handuk dan pengering rambut.”
“Baik,” Dokter Kelvin mengambilkannya.
Dengan telaten Putri Aiko mulai mengelap badan Hikashi yang basah. Lalu memakaikan baju tidur hangat.
“Putri Aiko bajumu basah, sebaiknya kau mengganti bajumu saja. Badanmu nyemplak, uhuk.”
“Ambilkan selimut saja untuk membalut, aku mau bersama Hikashi.”
Sepertinya Hikashi tidak bereaksi ketika Aiko tiba. Mungkin inilah yang dinamakan batin sedari kecil. Dulunya Aiko adalah calon pengantin wanita yang disiapkan oleh istana. Karena tahtanya sebagai Putra Mahkota lengser. Maka Aiko batal menjadi istri masa depan Hikashi. Sejak kecil mereka sudah saling akrab dan cocok sekolah mereka ditempat yang sama. Bahkan Hikashi menjadi satu-satunya pria yang menjadi alasan Aiko tersenyum. Perasaan Aiko kepada Hikashi sudah berkembang sejak kecil, karena Hikashi Cinta pertamanya. Dulunya Hikashi bocah yang periang dan aktif bergaul. Sedangkan Aiko seorang Putri yang kaku dan menjunjung tinggi adab kesopanan. Ia tak bisa menepis pesona Hikashi, hal yang paling ia ingat ialah ketika Hikashi bermain anak panah diatas kuda. Tembakannya tepat pada sasaran, sejak itulah kemampuan Hikashi diakui.
“Mulai sekarang, jangan larang aku untuk merawat Pangeran Hikashi. Mengerti!”
“Tapi kalau Pangeran Hiroshi tahu bagaimana?”
“Ini adalah perintah, selama ini kau hanya mencongoknya dengan ibat bius. Kau ingin menjadikan Pangeran Hikashi ini mayat hidup!”
“Maafkan saya,” Dokter Kelvin mengalah diomeli Aiko.
“Segala yang menyangkut Pangeran Hikashi harus lewati prosedurku. Jika kau melakukan kecurangan dibelakangku, bersiaplah angkat kaki dari Istana ini.”
Dokter Kelvin menahan rasa kesalnya terhadap Aiko yang semena-mena terhadapnya. Padahal dirinyalah yang paling paham tentang kondisi kejiwaan pasiennya ini. Tapi benar, setelah Aiko tiba dan merawat Hikashi. Sekarang Hikashi tidur pulas seperti bayi.
*
*
*
Rumon berkembang cepat di kalangan Istana yang menyebutkan bila Putri Aiko rajin menyambangi Hikashi. Hal ini ditakutkan akan menimbulkan omongan negatif, karena Aiko merupakan calon tunangan Hiroshi. Walaupun Hiroshi tidak begitu peduli mau apa dan berbuat apa mereka berdua. Hiroshi hanya peduli dengan posisinya sebagai Putra Mahkota yang mendampingi Raja.
“Apa kau tidak cemburu, calon tunanganmu dekat dengan sepupumu?”
“Ayahanda, saya percaya sepenuhnya bila Putri Aiko sebatas simpati terhadap Pangeran Hiroshi.”
“Tapi kasak-kasuk ini sudah meresahkan, aku tidak mau memiliki calon menantu yang memiliki skandal Buru. Karena citramu sebagai Putea Mahkota sudah dibangun dengan susah payah.”
__ADS_1
“Baiklah, jika begitu lain kali saya akan menemani Putri Aiko ketika berkunjung ke Istana kediaman Pangeran Hikashi.”
“Hemmmmb,” Raja mengangguk.
Hal yang paling tidak disukai dari Aiko ialah dia orang yang cuek kepada dirinya. Walaupun Aiko cantik seperti bunga teratai, tapi isi kepala dan hatinya miril danau yang tak beriak.
Dihari berikutnya Hiroshi sengaja datang ke Istana Hikashi. Dia datang lebih awal untuk duduk-duduk saja sambil membaca buku. Tak berselang lama, datanglah Aiko dengan wajah cerianya membawa bekal di keranjang.
“Pagi yang Indah, dengan senyum yang cerah. Selamat pagi Putri Aiko.” Sapa Hiroshi.
“Selamat pagi Pangeran Hiroshi, senang bertemu disini. Apakah Pangeran Hiroshi sedang santai? Biasanya menyibukkan diri dengan banyak urusan.”
“Aku kemari karena kabar saudara sepupu kesehatannya membaik, ternyata ada perawat yang jenius hohoho. Hebat sekali Putri Aiko.”
“Pangeran Hiroshi kau terlalu banyak memuji, aku hanya berempati kepada Pangeran Hikashi. Karena dialah teman dekatku ketika kecil.”
“Teman kecil atau Cinta masa kecil? Lebih tepatnya?”
“Pangeran Hiroshi, apa pantas seorang calon tunangan mencurigai sepupunya sendiri yang sedang sakit. Bila Pangeran Hikashi sehat kembali, bukankah Citra baik kerajaan akan terjaga?”
“Hemmmb, begitu ya. Ku harap kau tidak memiliki niatan lain. Aku hargai kemualiaan hatimu yang murni, Putri Aiko.”
“”Terimakasih atas sanjungannya Pangeran Hiroshi.”
Dari dalam jendela Hikashi melihat Aiko dan Hiroshi sedikit berdebat mengenai dirinya. Saat mereka sudah mendekati pinti masuk kamarnya. Hikashi duduk dan membuka buku, pura-pura membaca.
“Selamat pagi Pangeran Hikashi,” sapa Aiko dengan ceria.
“Selamat datang, Pangeran Hiroshi dan Putri Aiko.” Menutup bukunya yang mempersilahkan tamunya untuk duduk.
“Sepupuku bagaimana kabarmu sekarang?”
“Sudah lebih baik, ini berkar bantuan Putri Aiko yang telaten merawatku.”
“Ah namanya juga teman kecil, aku tidak masalah melakukannya. Pangeran Hikashi jangan sungkan begitu.” Mengusal punggung tangan Hikashi secara reflek. Dan mata Hiroshi melihatnya jelas.
“Ehemmb, aku masih ada disini.” Hiroshi berdehem.
“Pangeran Hiroshi terimakasih sudah membawaku pulang ke Jepang.”
“Ya-ya-ya cukup basa-basinya dengan kalian, aku mau pergi bekerja. Selamat menikmati hari yang cerah ini, semoga kalian bahagia.”
Hiroshi sepertinya ketinggalan kemajuan hubungan Hiroshi dan Aiko. Tampaknya Aiko lebih agresif kepada Hikashi. Ini tanpak saat Hiroshi memutar kembali dan melihat Aiko menyuapi salas buah ke mulit Hikashi.
“Teman masa kecil, cuih. Cinta masa kecil tumbuh kembali iya, dasar lidah bercabang.” Umpat Hiroshi kesal.
Tiba-tiba Dokter Kelvin datang membawa peralatan medisnya dan mendengar kalimat terkahir yang diucapkan Hiroshi. “Apa lidah bercabang? Ular?”
“Ashhh kau ini mengagetkanku saja, tidak bisakah kau menghentakkan kakimu dengan bersuara. Jangan senyap laku muncul tiba-tiba. Kau mengagetkanku, mengesalkan.”
“Maaf Pangeran Hiroshi, sepertinya anda sedang fokua terhadap sesuatu sehingga tidak menyadari ada manusia yang datang.”
“Kau, kenapa kau membantahku. Kau pikir aku ini pikun dan tuli, jangan merendahkan kemampuanku yang diatas normal. Mentang-mentang kau Dokter kerajaan seenaknya saja mengataiku. Ku transfer ke Papu Nugini habis kau!”
“Xixixixixixi iya yaaa aku yang salah, lain kali akan kubuat hentakan yang kuat biar bumi ini bergoyang.”
“Kau pikir kakimu Mammot gajah, mereka itu hidup jaman prasejarah. Pergi sana urusi majikanmu, hhhhuuuu!”
“Pangeran Hikashi?”
“Iya siapa lagi, mereka sedang suap-suapan tuh di sana. Menjijikkan sekali, makanya aku tidak mau sakit biar tidak seperti bayi. Dasar pria kesepian yang manja, makan saja disuapi.”
“Pffffttttt,” Dokter Kelvin menahan tawanya karena Hiroshi tanpak iri Aiko memperlakukan Hikashi dengan manis.
__ADS_1
Berkat Aiko, Dokter Kelvin tidak perlu menyuntikkan obat penenang lagi. Sekarang Hikashi menjadi lebih kalem dan mau merespon perkataan. Walaupun dia sesekali menyahut seperlunya jika mau.
“Putri Aiko, sudah jangan suapi aku. Nanti aku makan sendiri.”
“Hhhhhhhhhmmmmm tidak mau, habiskan dulu.” Memanyunkan bibirnya.
Hikashi tersenyum kecil melihat tingkah konyol Aiko yang manis dan imut ini. Lalu ia membuka mulutnya, sehingga suaoan demi suapan masuk kedalam mulut Hikashi. Setelah itu mereka berjalan-jalan ditaman. Aiko menggandeng lengan Hikashi. Mereka bercerita tentang masa kecil yang memisahkan mereka. Hikashi juga masih ingat bila Aiko adalah gadis yang periang.
“Aiko, kenapa kau selalu mengirim surat?”
“Apa kau sudah membacanya? “
“Hu’um, walaupun kau tak menyebut namamu tapi tulisan tanganmu sudah aku kenali. Sebaiknya kau bersikap dewasa. Jangan terjebak di perasaan masa kecil kita.”
“Tidak! Aku menolaknya, susah payah aku menerima ini semua. Dengan mudahnya kau mau menyuruhku untuk menghentikanku sejauh ini. Hikashi, aku masih mencintaimu heemmm cupphhh!” dengan spontan Aiko mencium bibir Hikashi. Kakinya terjinjit untuk meraih bibir itu, bahkan Hikashi tak menyangka sekarang bibirnya dicium Aiko.
Dokter Kelvin yang melihat ini lantas menjatuhkan alatnya. Bunyinya membuat Aiko menyudahi ciumannya. Dia mengelap bibirnya yang basah dengan sapu tangannya. Sedangkan Hikashi mematung karena kejadian luar biasa baru saja. Matanya terpijar seperti listrik yang menyala memperoleh daya energi.
“Tidak apa, mungkin kau tidak berniat demikian.”
“Hikashi, aku mencintaimu!” kali ini Aiko dengan lantang menyatakannya.
“Aku juga menyayangimu,” dan Hikashi membalas dengan berkata demikian.
Telinga Dokter Kelvin dijewer-jewer takutnya salah dengar. Dia merasa kalau Aiko sudah mampu membuat Hikashi lupa terhadap Frayza.
“Hari semakin siang, aku mau cuci muka.”
“Baik, aku akan siapkan kudapan segar untukmu.”
“Kau memang yang terbaik hehehe.”
Mereka masuk kedalam ruangan, ternyata diatas meja sudah ada puding coklat dan teh mentol. Aiko sepertinya tidak menyuruh pelayan membuatkan ini. Dia curiga apakah makanan ini beracun atau tidak.
“Kenapa ada makanan diatas meja?” tanya Hikashi.
“Jangan dimakan, aku akan membuangnya. Siapa tahu ini beracun, kau tunggulah disini. Aku akan membuatkan puding yang jauh lebih enak dari ini.”
Aiko keluar dan membuang makanan yang sudah disiapkan itu. Dokter Kelvin pun tidak tahu siapa yang menyajikannya. Lalu Dokter Kelvin meracik obat untuk dikonsumsi Hikashi.
“Aku sudah tidak butuh obat-obatan itu lagi. Sekarang aku sudah membaik, simpan saja obat-obatanmu. Aku mau tidur sejenak, pikiranku lelah.
Dokter Kelvin keluar dan bersantai di taman. Dia mencari belalang dan kupu-kupu yang bisa ia tangkap. Dan Aiko berada di dapur sibuk membuat puding untuk Hikashi. Semuanya sibuk dengan urusannya sendiri. Hikashi membaca buku dan duduk dikursi goyang yang menghadap langsung ke taman. Ayunan kursi membuatnya terbuai, matanya terpejam. Dia merasakan sesuatu yang nyaman dan damai dihatinya sudah kembali. Ketika ia membuka matanya, ada kepala yang bersimpuh di pahanya.
“Kau?” mengusap kepala yang berada di pahanya.
Rambut halus nan lembut itu aromanya sangat segar dan Wangi. Wajah yang selalu menghiasi fantasinya memberikan senyuman.
“Aku pulang Sayang,” ucap Frayza menyapanya.
“Huhuhuhu...” tak mampu menahan air matanya, ternyata yang disentuhnya tadi bukan ilusi. Tapi nyata, iya Frayza sudah tiba di istana sejak tadi.
“Aku sudah pulang, siap menerima hukuman.” Menjulurkan kedua tangannya yanh terikat tali.
“Hikss... Pergilah, bagiku kau sudah tiada. Jangan temui aku lagi, aku sudah bangkit dan menemukan kebahagianku. Jangan datang dan sakiti aku, sekalipun ini kau hantunya Frayza.”
“Sayang, aku masih hidup.”
Hikashi berdiri dari kursi goyang dan berjalan menjauhi Frayza. Dia membuka pintu lebar-lebar. “Pergilah, kau sudah mencampakkanku.”
“Sayang?”
“Pergi, cepatlah pergi!” usir Hikashi dengan nada yanh berat.
__ADS_1
“Baiklah,” Frayza menuruti kemauan Hikashi dan keluar.