
“Patrick, kenapa semua pelayan mengambil karpet merah?”
“Ada kunjungan mendadak dari Pangeran Hiroshi.”
“Kapan?”
Sebelum Patrick menjawab pertanyaan Frayza, rombongan Pangeran Hiroshi sudah tiba dikediam Hikashi. Beberapa iringan mobil datang beserta rombongan dan pengawal turut serta. Pria muda yang turun dari mobil itu menginjak karpet merah dengan membenarkan dasinya.
“Istana yang megah,” puji Hiroshi mengenai kediaman Hikashi.
“Selamat datang Pangeran Hiroshi,” Patrick menyambut saudara sepupu Hikashi yang dari Jepang.
Frayza yang masih berdiri mendekap buku-buku pelajarannya terpanan dengan kedatangan tamu istimewa ini. Dia tercengang karena Ramon ikut hadir di rumahnya.
“Patrick apakah ini saudari iparku itu?”
“Benar, Pangeran Hiroshi.”
“Fiuh, jauh-jauh tinggal di Inggris hanya untuk menikahi wanita ras campuran saja.” Menyeka keningnya seolah merendahkan selera Hikashi.
Dalam hati Frayza sudah menahan amarahnya, jika bukan putra mahkota. Sudah pasti buku-buku pelajarannya melayang cantik menimpuk. Ramon tersenyum kecil melihat wajah kecut Frayza yang dikucilkan Hiroshi.
“Berikan kadonya untuk saudari iparku,” Ramon membawakan kado kecil untuk Frayza.
“Terimakasih Pangeran Hiroshi.” Setidaknya Frayza sudah bisa mengatur emosinya agar tidak meledak.
“Oh iya, karena kau adalah Nyonya dirumah ini. Aku mau jamuan makan malamnya buatan tanganmu. Dan semua pengawalku itu menikmatinya. Disini aku adalah tamu kehormatan, akan sangat baik jika Hikashi memberikan jamuan yang istimewa dari istrinya.”
“Biar saya saja yang kerjakan Pangeran Hiroshi. Nona Frayza masih ada jam tambahan belajar lagi.”
“Sejak kapan istri bangsawan belajar di malam hari. Bukannya mereka memiliki kemampuan yang luar biasa sebelum menikah. Atau jangan-jangan saudaraku sudah salah memilih istri ya, ckckckckck. Sangat tidak mengesankan menikahi wanita biasa saja dan tidak memiliki bakat.”
“Patrick, beritahu koki jika malam ini mereka bisa istirahat lebih awal. Aku sendiri akan turun tangan di dapur untuk memasak untuk tamu kehormatan; Bukan begitu yang dikehendaki Pangeran Hiroshi?”
“Bagus, hufttt perjalanan dari Jepang sangat jauh. Aku mau berendam di air panas untuk menungg hidangan spesial Nyonya Alexander hahaha.”
(Hissss jika bukan karena kau ini keturunan Raja, sudah ku tendang sampai gawang pecah!) melirik tajam rombongan Hiroshi yang tiba dirumahnya.
Di dapur para Koki menyediakan bahan-bahan segar untuk diolah. Frayza tersentuh karena Koki di rumahnya begitu memahami kondisinya yang sedang terintimidasi.
“Nona, biar kami bantu menyiapkan wadahnya.”
“Terimakasih, tolong atur piring dan gelasnya ya. Untuk olahan masakannya biar aku yang tangani.”
“Tapi rombongan Pangeran Hiroshi ada 20 orang, apakah Nona sanggup?”
“Jangan khawatir, ini adalah pertempuran nama baik suamiku Hikashi dimata sepupunya. Kalian, boleh istirahat bila selesai.”
Dari luar Patrick memperhatikan Frayza yang mengolah makanan seorang diri di dapur. Sedangkan pengawal Hiroshi mengawasi Frayza saat memasak. Perasaan gugup dan canggung inilah yang membuat Frayza tidak konsentrasi.
“Ahhh,” menjatuhkan toples berisi garam hingga tercecer di lantai dapur.
__ADS_1
“Biar aku saja yang membersihkan,” Ramon mengelap tumpahan garam dilantai.
“Terimakasih, Ramon.”
“Sama-sama Nona Alexander.”
Ternyata Patrick sedang menelepon seseorang sambil mengawani situasi di dapur. Patrick tidak mengijinkan para Koki untuk pergi dari dapur. Karena dia khwatir bila istri tuan mudanya mengalami kesulitan.
Suara alat-alat masak saling bersahutan seperti irama yang tak beraturan. Kini Hiroshi menduduki kursi meja makan sambil menunggu hidangan yang disajikan. Sambil menikmati anggur tahun 1865 yang nikmat. Dia mengamati hiasan dinding Hikashi yang masih kosong.
“Sepertinya dia tidak begitu bahagia menikahi gadis Desa itu. Sampai foto pernikahan saja tidak punya hehehehe.”
Sambil mendorong meja makanan Frayza menarik napasnya panjang. Berharap diberi kesabaran dan ketabahan atas ucapan Hiroshi.
“Ada apa dengan tanganmu?” memegangi jari Frayza yang tersayat pisau dan capit kepiting.
“Hanya luka kecil saat memasak, silahkan dinikmati hidangannya.”
“Hemmbb, hanya ini saja ya kemampuanmu?” melempar sendok enggan menyicipi masakan Frayza.
Sambil memalingkan wajah Frayza yang benar-benar menahan capek. Dia masih memasang wajah ramah didepan Hiroshi. “Pangeran Hiroshi jika tidak berkenan maafkan ketrampilan memasak saya. Karena ini yang bisa saya sajikan.”
“Jika kau menyediakan makan seperti ini apa kau pikir aku seorang wisatawan. Hai kalian coba cicipi makanan ini, sepertinya gosong.”
“Ini adalah olahan daging yang sangat empuk dan rasa rempahnya sangat cocok untuk lidah semua orang. Apakah ini rendang?” ucap Ramon yang masih mengunyah daging berwarna coklat pekat.
“Benar, ini adalah daging rendang. Bukan daging gosong!”
“Silahkan Pangeran Hiroshi,” menyodorkan bakso.
“Apa ini? Telur apa ini jelek sekali, dan aroma ini huekkk. Ramon, makan ini.”
“Slrrruuppp ah, aroma kuahnnya sangat tepat. Ada rasa tulang lunak dan daging has dalam yang lezat. Ini bakso tangkar bukan?”
“Pengawal Ramon ternyata masih ingat dengan makanan yang terjual di kedai.”
“Kedai? Aku adalah seorang penerus kerajaan beraninya kau menyajikan makanan kedai pinggiran jalan. Keterlaluan, ini benar-benar pelecehan terhadap anggota kerjaan. Hikashi lebih baik menikahi wanita bangsawan lain yang lebih layak daripada dirimu. Cih wanita tidak cantik dan pendek begini apa istimewamu!”
“Ttterimakasih atas penilaiannya terhadap saya Pangeran Hiroshi, jika tidak berkenan untuk menyantap hidangan ini. Biar koki rumah tanggaku yang memasakannya. Permisi,” Frayza menanggalkan apronnya dan pergi.
“Heh dasar sombong, baru masak begini saja tidak terima; Hai kalian, jawab jujur apa masakannya tidak enak?”
Pengawalnya tidak ada yang berani menjawabnya, mereka yang sudah lapar menahan air liurnya hanya pasrah diam. “Haih dasar tidak berguna, kalian makan saja semua makanan ini. Aku sudah hilang nafsu makan!”
Pesta dimulai dimeja maka, Pengawal yang tadinya hanya berdiri kini bisa menikmati hidangan. Ramon sangat ingat tentang kedainya saat masih di Batam. Ini adalah menu andalannya dulu, ternyata Frayza berhasil membongkar ramuan rahasianya. Dia tersenyum sambil menikmati makanan rendang dan bakso. Beberapa makanan laut juga ia cicipi, pantas saja jari Frayza terluka. Karena cangkang kepiting begitu tajam. Ditambah ekor udang yanh tajam.
Didalam kamar, Frayza meluapkan emosinya. Dia melempar apron ke tembok dengan sisa kekuatannya. “Hhhhhhhhhaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” berteriak didalam bak berisi air. Patrick dari luar hanya bisa menunggu Nona mudanya keluar. Karena dia masih memegang telepon dan terhubung komunikasi. Dia lalu mengunci kamar Frayza dari luar, agar tidak ada seorang pun yang berani mengganggu Nona mudanya.
Tengah malam Hiroshi tidak bisa tidur, dia berguling-guling dari sisi lain ke sisi pojok ranjang. Perutnya berdendangkan lagu kenangan jaman penjajahan. “Haiiiiisssh lapar!” melempar bantal.
Diatas meja ada segelas air putih, berharap mampu menghilangkan dahaga dan laparnya. Tapi Hiroshi salah, dia semakin lapar. Akhirnya dia mengendap-endap mencari biskuit kalau ada di dapur. Klotak-klotak... Suara berisik Hiroshi mencari makanan ringan di dapur. Hanya ada sisa makanan di kulkas, ternyata bakso dan kuah yang didinginkan. Ia tersenyum memperoleh harta karun, sejak awal ia sudah naksir dengan bakso. Ia panaskan lagi, sambil mencari kudapan lain. Ia berhasil menemukan rendang di lemari. Ia icipi sedikit, ternyata rasanya sangat luar biasa enak. “Ya ampun, lembut sekali. Nasi, mana nasi?” Hiroshi mencari dimana nasi, dan dirinya beruntung. Dimesin penanak nasi ada sedikit nasi yang dihangatkan. Hiroshi mengambil panci nasi, dan menuangkan daging rendang kedalamnya. Ia tambahkan sayuran sebagai acara. Mulutnya penuh dengan makanan yang sudah ia cela. Saat bakso sudah selesai dipanaskan, Hiroshi menyicip kuahnya yang segar. “Seharusnya ada saos atau sambal, ah ada krupuk hahaha.” Bahagianya Hiroshi memperoleh harta karun didapur. Perutnya kenyang, tidurnya pun tenang. Walaupun perabotan didapur berantakan.
__ADS_1
“Heh, hanya makanan Kedai begini. Cukup baik untuk selera pengawalku, tetap saja tidak enak. Aaaaarrrgggghhhhh!” Hiroshi menutup mulutnya karena bersendawa begitu keras. Dia takut dipergoki penghuni rumah, mengendap-endap ia kembali kekamarnya.
*
*
*
Frayza sudah mandi berkali-kali agar dirinya berubah menjadi cantik. Dan tidak bau asap dapur, tapi usahanya sia-sia. Dia akhirnya tertidur berendam dibak kamar mandi. Semua parfum sabun mandi ia tuang agar mampu menghilangkan aroma yang pekat. Perlahan dia merasa mengantuk, dan berbantalkan handuk yang mengikat rambut basahnya.
Hari sudah menjelang siang, kastil ini masih sepi. Pelayan memulai aktifitasnya membersihkan rumah. Para koki mengeluh karena dapur berantakan. Padahal setelah Nona muda mereka memasak, sudah dicuci dan dibereskan. Mereka bergunjing siapa pelakunya. Patrick yang mendengar keluhan pegawain di Kastil ini hanya terdiam. “Sebentar lagi Tuan Hikashi William tiba, jangan malas-malasan. Cepat sajikan menu makan siang.” Karena pagi ini tidak ada yang keluar untuk sarapan.
Hiroshi yang sudah bahagia dengan perut kenyangnya, enggan bangun tidur. Dia masih merasa sangat kenyang, dan melanjutkan tidurnya hingga merasa laparnya muncul lagi. Sedangkan Frayza bersin-bersin menggigil kedinginan karena kebodohannya tertidur dalam bak masih berisi air. “Emmmbbb hueekkkk huekkkkk!” ia muntah masuk angin. Semua karena keusilan Hiroshi yang sudah merendahkan dirinya. Dilihatnya bekas luka sayatan dijari jemarinya. Belum pernah ia dimaki-maki sebegitu hinanya. Seolah dirinya manusia yang rendahan, tak layak untuk seorang Hikashi. Dia melihat tumpukan buku-buku pelajarannya. Lembar demi lembar ia baca dan hapalkan. Diatas ranjang inilah Frayza belajar bahasa asing dan bisnis. Tubuhnya dibalut selimut untuk menghangatkan tubuhnya. Beberapa kali kepalanya pusing karena memaksakan diri untuk belajar. “Dia bilang aku ini apa, hoaammmbbb.” Menguap kantuk.
“Awas kepalamu,” tangan Hikashi menangkup kepala Frayza.
“Heee, siapa ini?”
“Aku malaikat ketampanan yang turun dari langit.” Menunjuk helikopter yang masih berputar baling-balingnya.
“Hehehe tampan sekali sih kamu malaikat, tapi kamu harus tahu. Suamiku pandai bermain pedang, dia bisa menebas apapun. Huffftttt.” Matanya terpejam karena sudah kantuk berat. Hikashi tersenyum geli, saat tidak sadar istrinya masih mengagumi dirinya.
Kedatangan Hikashi ini karena laporan Patrick, karena Hiroshi sudah merundung Nona muda mereka dengan tidak bermoral. Tidak seorang pun boleh mengganggu istrinya, karena Hikashi sangat menghargai Frayza melebihi jabatan Hiroshi.
“Apakah saya perlu membereskan buku-buku ini Tuan,”
“Tidak perlu, aku mau pindah kamarku yang bersebelahan dengan Hiroshi.” Menggendong istrinya didepan seperti bayi.
Hikashi terus menciumi leher istrinya yang harum, dia begitu menikmati aroma tubuh istrinya. Sudah lama ia tidak melakukan hubungan suami istri sejak mereka resmi menikah. Karena kesibukan bisnis Hikashi yang sempat tertunda selama di Swiss. Akhirnya dia memutuskan kembali dari Paris lebih awal. Karena tak tahan mendengar laporan dari Patrick yang menceritakan penderitaan istrinya.
Hikashi membuka kancing baju Frayza mulai dari atas, dada yang putih ini begitu menggiurkan sepeti anggur. Ia seperti mencari kehidupannya disana. Rasa geli yang ia terima ini membuatnya menggeliat menggoda. Hikashi tidak mungkin melakukannya ketika Frayza tidur. Hal ini sangat tidak menyenangkan, ia ingin istrinya lekas membuka matanya.
“Hoaaaahhh,”
“Aku pikir kau tidak akan bangun,” Hikashi bertelanjang dada duduk disebelahnya.
“Tampan sekali sih, ya ampun aku merindukan suamiku sampai segila ini hehehe.” Jarinya menutupi wajahnya.
“Hai kenapa jarimu ini?” Hikashi mendapati jari istrinya terbalut perban dan plester.
“Asss sakit, jangan dipegang.”
“Kenapa kau merusak jarimu Sayang? Aku tidak pernah menyuruhmu untuk melukaimu. Jangan kau ulangi lagi ya, biarkan si tikus Hiroshi itu kelaparan. Jangan beri dia makan, aku tidak mau jarimu ini terluka. Aku pulang lebih cepat agar bisa dimandikan olehmu. Dan lihatlah, kalau jarimu rusak begini bagaimana kau melayaniku!”
“Sayanggg,” menindih Hikashi.
“Glukkk,” menelan salivanya.
“cup cup cup muaachhh, aku mau kamu lindungi aku.” Frayza menciumi seluruh wajah Hikashi dan mebibiri lelakinya dengan penuh gairah. Hikashi tak bisa berkutik diterapi gairahnya. Gejolak darahnya naik, dia membanting tubuh Frayza kebawah. Dan melucuti celana panjangnya yang sudah tidak ada pembungkusnya lagi.
“Akhhhh,” Frayza memperoleh serangan yang menohok tanpa aba-aba. Pemanasan yang singkat sudah menaikkan birahi Hikashi yang sudah memuncah, akhirnya dia melenguh dan merintih kenikmatan. Beberapa kali ia bisa merasakan kejantanan Hikashi menghajarnya tanpa ampun. Semakin panas permainan, hujaman itu semakin dalam dan lama menyatu. Telinga penghuni kamar sebelah itu akhirnya pengeng mendengar suara turnamen bela diri sepasang pengantin baru. Tidurnya terganggu dan perutnya sudah lapar, karena kebanyakan makan sambal. Maka terjadilah mencret yang menyiksa. Hiroshi sempoyongan keluar masuk kamar mandi. Dikamar Hikashi sedang kehabisan benihnya, dikamar lain kehabisan cairan tubuhnya karena diare. Cukup sekian mari tidur, sodara-sodara. Jangan lupa bagi Vote ya, muacchhh.
__ADS_1