
Dari Hotel tempat menginap sekarang Kenzo menjemput keluarga kecil Hikashi. Ia sudah menyiapkan perjalanan jauh ke Negara tujuan yaitu Afrika Selatan. Wajah Hikashi menjadi sorotan karena tampak lemah lesu gundah gulana muram durja. Ia berjalan paling belakangan tidak seperti kebiasaannya. Bahkan ia dengan santainya memakai celana dan kaos pendek. Ia tampaknya lupa dengan jati dirinya siapa. Berani-beraninya menampakan bagian tubuhnya ditempat umum.
Tampak otot-otot kaki bahkan lengan tangannya sangat kuat. Diselimuti bulu halus yang menambah kesan perkasa. Tapi wajahnya seolah menunjukkan ia tengah malas menjalani hari ini. Sedangkan kedua putranya dengan riang gembira. Mereka tampak menggandeng tangan ibunya sembari berjalan. Loncatan kecil mengirim keriangan kedua anak ini. Sangat lucu dan menggemaskan, Frayza bahkan beberapa kali menegur Jade dan Seven agar tidak banyak bercanda. Tumbenan juga Hikashi tidak banyak berkomentar.
“Semangat pagi Tuan, hehehe.”
“Cih!”
“Semalam tidurnya nyenyak ya, heheheh.”
“Cih!”
“Ngomong-ngomong soal persiapan makan siang yanh romantis apakah anda menyukainya?”
“Kau tahu!” menarik kerah kaos Kenzo agar telinganya mendekat.
“Pasti anda sangat bergairah ya sampai lesu begini hehehe.”
“Matamu! Kenapa kau membiarkan kedua kecebong itu merusak kamarku!”
“Hah! Apa!” melotot!
“Kau tahu, mereka mensabotase kamar yang akan aku gunakan dengan istriku. Kau benar-benar payah Kenzo!”
“Ta-tapi aku sudah menyiapkan kamar untuk mereka Tuan!”
“Semalam karena ketidak becusanmu, aku tidur dikamar kecebong itu!”
“M-maaf Bos, aku tidak tahu kalau ini akan terjadi.”
“Menjengkelkan, jika saja Matsumoto yang mengurusnya pasti tadi malam menjadi momen mengharukan.”
Kenzo mengelus dada saat membuka pintu, ia diomeli Hikashi. Blep, pintu mobil ditutup dan melaju ke Bandara. Di sepanjang perjalanan ini Hikashi diam melihat keluar, sesekali ia menggigiti bibirnya. Ia melihat istrinya memakai rok selutut bahan ceruty motif bunga. Menguncirnya ekor kuda membuatnya seperti gadis masih sekolah. Tiba-tiba ia sangat merindukan waktu bersama Frayza.
Lagi-lagi gelak tawa canda kedua putranya membuat keinginannya pupus, dia mendengus dan beberapa kali berimajinasi kalau semalam ia bisa bercinta. Oh itu mungkin bisa merubah mimik wajahnya yang kusut. Seharusnya sekarang ia yang berda dipangkuan paha empuk istrinya.
Bugh, kaki Seven menimpa perutnya.”Maaf Sayang, apa sakit?” Frayza bukannya mengelus perut tapi menarik kaki Seven.
“Hemmmbb,” melengos membuang mukanya.
“Seven tidak bisa tidur dengan baik, harus dipangku kalau begitu.”
Mendengar kata-kata ‘dipangku’ Hikashi mengambil Seven kemudian memangkunya. Enak saja tubuh istrinya tidak akan rela ia bagi dengan siapapun. Termasuk kedua anaknya ini juga, “ Biar aku pangku saja.” Ucapnya.
“Mama aku mau tidur dipangkuanmu.” Rengek Jade.
Yang benar saja Jade! Saat ini ayahmu sedang memusuhimu. Kenapa kau memancing amarahnya lagi sih Jade. Cukup Jade untuk mengerjai ayahmu, dia sudah amat frustasi.
“Kemarilah Nak, kau pasti ingin dimanja seperti adikmu bukan?”
“Kemari, kau ingin Papa pangku kan seperti Seven!” tangan Hikashi secapat macan menyambar tubuh imut Jade.
“Tapi aku mau dipangku Mama? Turunkan aku Papa...”
“Semalam kau sudah bersama Mama mu, Papa kangen sama kalian.”
“Ahhh Papa kau terlalu kuat menekanku. Ini pemaksaan! Lepaskan!” teriak Jade heboh dalam mobil.
“Jade, tenanglah Nak. Kita sudah dekat Bandara, jika kau rewel nanti Seven bangun. Tenang ya Nak, jangan rewel ya. Ikut Papa mu sebentar ya, Mama mau menghubungi kantor kalau mau iji cuti kerja.” Mengangkat ponselnya.
Senyum kemenangan terlihat diwajah Hikashi. Jade mengerucutkan bibirnya kesal, ia turun dari pangkuan ayahnya. Memilih untuk duduk dan bersidekap. Frayza tampaknya asik berbicara dengan temannya dalam sambungan telepon. Membuat Hikashi dan Jade terua menatapnya cemburu.
“Eee... Kenzo bisakah kau hangatkan udaranya. Aku kedinginan.”
“Baik Nyonya.” Menaikkan suhu dalam mobil.
“Tapi kenapa masih dingin juga ya?”
Barulah ia sadari tenyata ada dua orang pria menatapnya curiga. “Astagfirullah...” berjingat.
“Siapa?” tanya keduanya.
“Hel-Helennaa.”
“Sini ponselnya!”
“Berikan ponsel Mama! “
“Tapi ponsel inikan milikku, kenapa kalian tidak memakai ponsel kalian sendiri?” menyerahkan ponselnya dengan terpaksa.
Powww... Ponsel itu sudah dilempar keluar lewat kaca jendela mobil.” Beres!” menepuk kedua tangannya.
“Sip!” mengacungkan jempol.
Tossss! Ayah dan anak itu langsung menjadi akrab usai melempar ponselnya yang tak bersalah.
“Kalian ada masalah apa denganku? Aku kan butuh alat komunikasi.”
“Mulai sekarang kau hanya boleh berkomunikasi memakai ponselku!”
__ADS_1
“Benar kata Papa!”
“Tapi Suamiku, disana ada kontak Helena dan beberapa orang penting?”
“Papa akan mengurusnya, Mama tinggal memberikan e-mail saja. Maka semua datanya digandakan.”
“Siiipp!!” mengacungkan jempol kepada Jade lagi.
“Ka-kalian jahilnga kelewat batas!” Frayza membanting tubuhnya keras dan diam.
Tak apalah membuang ponsel istrinya, itu sangat baik. Lagipula dari ponselnya nanti ia leluasa mengecek kegiatan istrinya. Nasib baik mulai berpihak pada dirinya.
*
*
*
AFRIKA SELATAN,
Sepanjang mata memandang terhampar gurun dan tanah tandus. Belum lagi suhunya yang bukan main panasnya.
“Mama apakah akan turun hujan matahari?”
“Tidak Seven, disini memang sangat panas suhunya.”
“Mama kenapa panasnya bukan main begini, aku jadi haus Mama.”
“Sebentar aku carikan airnya ya Jade.”
“Ini.” Menyodorkan air dingin kemasan.
Hikashi menurunkan kacamatanya “Hiroshi?”
“Aku juga ada disini.”
“Takeshi?”
“Hahaha kau curang mau berlibur meninggalkan kami. Untung saja Matsumoto memberitahu kami meminta tumpangan pesawat. Jadi kami putuskan untuk menyusul kalian saja.”
“Sejak kapan kalian tiba kemari?”
“Selisih 2 jam dari kedatangan kalian. Apakah tidak sopan membiarkan kami menginap di Hotel sedangkan kau memiliki istanan disini?”
“Oh ayolah Takeshi, apa kau tidak tahu tabiat Hikashi seperti apa.”
“Apa rumor kau pelihara satwa itu benar?”
“Mama apakah Papa punya anak lain selain kami?”
“Entahla Jade, Mama juga baru pertama kali ikut kemari.”
“Mama, aku tidak mau punya saudara lagi hiks hiks hiks.” Seven jongkok menangis sedih.
“Seven, ayo bangkit Nak. Kamu jangan menangis dijalanan. Nanti orang-orang pikir kau anak yang diperlakukan buruk.”
“Aku tidak mau punya saudara lagi, aku hanya mau Jade saja huaaaa.” Tangisannya pecah.
Ketiga pangeran tampan itu asik bercengkrama berbincanga.” Hikashi, anakmu menangis.” Takeshi memotong pembicaraan.
“Sepertinya dia merajuk, bukan?” Imbuh Hiroshi.
“Kenapa Seven?”
“Itu karena Papa punya anak bernama Spion!”
“Seven tidak sengaja mendengarnya, lalu menangis.”
“Spion siapa? Spinx kali ah, yang ada di Mesir bukan?”
“Papa bilang Spion sudah remaja.” Celetuk Seven.
“Ehhemmmbb,” Takeshi berdehem.
“Xirion.” Bisik Hiroshi.
“Owhhh...” baru paham yang dimaksud Spion.
Hikashi tidak memberikan penjelasannya terlebih dahulu. Ia mengajak kedua sepupunya untuk datang ke kediamannya. Setelah kembali makam siang ke Hotel. Karena ia dadakan kembali, makan rumah tersebut dibersihkan ulang. Jadi yang berada disana adalah Kenzo dan Matsumoto.
Saat ini Hikashi menginap di Hotel sampai urusan rumahnya selesai. Dia membicarakan mengenai bisnisnya disini. Ia sengaja tidak lagi tampil menonjol. Karena kedepan bisnis inilah akan diwarisi salah satu putranya.
Di Hotel ini Frayza banyak menghabiskan dikamar tidurnya. Ia beremdam tak tahan panasnya terik. Begitupun kedua anaknya yang asik main pancuran air. Sepertinya pikirannya mulai terganggu dengan sosok Xirion ini. Apakah dia anak dari hasil hubungan lain Hikashi?
Aaarrrggghhhhhh... Suara auman singa yang kelaparan.
“Ya Tuhan.... Rakus sekali kau ini.”
“Sepertinya dia cukup Makmur dipelihara.”
__ADS_1
“Jika dia dilepas di alam bebas pasti kurus ceking, iya bukan.”
“Mana aku tahu, aku kan manusia. Mungkin kau yang paham dengan sebangsamu hahaha.” Ejek Matsumoto.
“Kenapa kau ikut kemari, bukannya kau sudah bertemu Bintang film panas idolamu.”
“Tutup mulutmu, aku sudah bertobat.”
“Heleh, bilang saja kau tidak percaya diri karna sudah tua bukan?”
“Yang ia sukai Tuan Hikashi, aku tiada seujung kukunya.”
“Tapi Dannis berselera jika kau pria perkasa. Ayolah ketua Matsumoto hehehe.”
“Aku bukan seorang maniak!”
“Jadi kau masih perjaka?”
“Jangan keras-keras!”
“Ups,” menutup rapat mulutnya.
“Aku pikir zaman sekarang perjaka sudah musnah. Ternyata hahahaha.”
Setelah menjelaskan kepada Seven siapa Xirion adalah Singa betina. Ia sudah salah paham kepada ayahnya. Saat ini kandang Xirion sedang diperbaiki agar aman.
“Aku ingin melihatnya Papa, boleh?”
“Iya boleh, sedang diperbaiki kandangnya.”
“Papa apakah dirumahmu ada kolam renangnya beratap?”
“Jade!” potong ibunya.
“Kenapa Mama, aku kan hanya bertanya.”
“Jangan ganggu Papa mu terus. Biarkan Papamu bersama paman kalian.”
“Ah Mama begitu.”
“Kenapa dengan Mama, Jade?”
“Mama banyak cemberut dan bibirnya lancip.” Tambah Seven.
Hikashi tidak tahu kenapa Frayza sepertinya jengkel dengan orang-orang. Ia melihat istrinya masuk kedalam Hotel, menyudahi makan siang bersama.
“Hikashi sepertinya kita sudah berbincang banyak sepanjang hari ini. Aku mau undur diri dulu, ada urusan.”
“Kau memang memiliki agenda ke Negeraan lagi?”
“Iya, aku kemari sedang membahas hubungan diplomatik. Lanjutkan saja perbincangan kalian.” Hiroshi menarik kursinya beranjak.
Sekarang tinggal Takeshi yang duduk didepannya. Menikmati potongan daging panggang.
“Kenapa memutuskan datang kemari? Apakah hubungan kalian sudah berdamai?”
“Hiroshi akan meresmikan hubungannya, hari bahagia itu akhirnya tiba juga.”
“Oh jadi kau menyemangati adikmu yang sebentar lagi melepas masa lajangnya ya?”
“Hehehe,” memotong dagingnya sambil tersenyum getir.
“Apa perlu aku kenalkan gadis baik?”
“Jangan bercanda, aku tidak semenyedihkan itu Hikashi. Aku dengan rumor kau mengencani Dannis ya.”
“Ah rumor itu lagi, hampir membuat rumah tanggaku berantakan. Makanya aku membawa istriku kemari.”
“Oh jadi kau jauh-jauh memboyong keluargamu kemari untuk menjauhkan berita miring itu?”
“Yap betul.”
Obrolah lelaki dewasa tadi tidak jauh dari wanita dimasa lalu mereka. Frayza tidak menyukai hal itu, bagaimanapun juga ia juga cemburu. Sekalipun hal itu sudah berlalu cukup lama.
Mulai dari latar belakang dan karir, jelas ia tidak dapat disandingkan dengan keturunan bangsawan bahkan Putri Ayako.
“Sayang, apakah kau tidak enak badan?”
“Tidak!”
“Ini ponselku, kau bisa memakainya.”
“Tidak perlu!”
“Aku letakkan diatas meja, jika kau berminat mandi bersamaku ayo.”
“Aku mau menghubungi Helena!”
“Hai ayolah, tadi katanya tidak perlu ponsel kenapa diambil juga. Temani aku mandi Sayang hahaha.”
__ADS_1
Lelaki kadang jika asik mengobrol ia lupa tengah membicarakan siapa. Termasuk wanita yang ia taksir sedari kecil, walaupun mereka sudah tidak memiliki perasaan itu. Namanya wanita jika mendengar cerita kisah Asmara lelakinya pasti panas. Sepanas hawa digurun pasir ini.