TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
PENYATUAN ++


__ADS_3

Petugas kebersihan rutin datang setiap pagi. Bibi Fang mengajak Frayza untuk keluar, namun Frayza menolak. Dia harus patuh kepada Andreas untuk tetap berdiam diri dirumah saja.


“Fray, apa kau yakin akan menikahi Andreas?”


“Kenapa bibi Fang bertanya seperti itu? Kami masih bertunangan.” Dia menunjukkan jari manisnya yang kosong.


“Fray, cincinya!” bibi Fang tidak melihat cincin yang melingkar dijari Frayza lagi.


“Aduh bagaimana ini bibi Fang, aku mencarinya dulu ya.”


“Oh iya, aku akan tanyakan kepada petugas kebersihan jika melihat cincinmu kalau begitu.” Mereka panik dan sibuk mencari cincin tunangan milik Frayza yang hilang. Hingga Seven merangkak keluar mereka masih sibuk mencarinya.


“Nyon... Nyonnn... Nyooonn.” Mengejar bola yang menggelinding keluar.


“Ha, apa ini? Bola, dan apaaaaaa bayiiii!” Franda yang baru saja berolah raga kaget melihat bayi yang merangkak sendirian. “Ya ampun siapa sih orang tuanya bayi ini, apa jangannnn-jangannnn tidakkkk. Hantuuuu!!!” Franda menutup pintunya dengan keras. Sehingga Seven kaget dan menangis di lorong panjang.


“Hemmmmm mamammamaaaaaa heeemmmmmm huueeeeeee hwwweeee.” Bayi itu menangis sendirian tanpa ada yang peduli.


Kenzo baru saja dari hotel tempat Hikashi menginap dan menemukan bayi sedang menangi. “Hai nakkk cup cupp jangan menangis Nak, mana ayahmu? Mana Ibumu?” Kenzo yang mempunyai pengalaman mengasuh Jade langsung menggendong Seven.


Didalam kondominium, Kenzo memberikan air madu sama persih yang ia lakukan kepada Jade. “Minumlah anak kecil kau pasti kehausan karena menangis sepanjang waktu, cup cup sayang. Kau ini tampan sekali mirip asuhanku, jiaaaaaaaaa Jade! Tidak mungkinnnn, kenapa bisa.... Kenapa bisa semirip ini jiaaaaaahhhhaaaaaa.” Kenzo heboh sendiri.


Franda akhirnya menelepon Kenzo yang baru saja menjumpai sesosok bayi. Yang mirip Jade ketika masih bayi. “Apa kau ini tidak bisa membedakan anak manusia dan hantu! Dia ini sekarang bersamaku dan terus meminta makan!” Kenzo memarahi Franda yang tidak peka terhadap bayi yang menangis sedari tadi.


Akhirnya Franda datang ke kediaman Kenzo untuk memastikan jika bayi itu nyata. “Kenapa kau hanya sebentar di Inggris?” tanya Kenzo penasaran.


“Aku hanya diberi waktu 24 jam saja untuk menemui Jade. Setelah itu untuk apa aku berlama-lama disana!”


“Kau kan bisalah berbelanja atau mencari hiburan, kenapa cepat sekali kau kembali?”


“Ada misi khusus dari Matsumoto, makanya aku disuruh kembali. Kali ini aku tidak boleh gagal.”


“Heleh misi, memangnya mantan artis sepertimu bisa apa?”


“Ini berkaitan erat dengan bakatku itu, tapi tunggu kita harus cari tahu siapa orang tua bayi ini dulu.”


“Tidak bisa! Barang apapung yang sudah aku temukan tidak akan aku berikan!”


“Kau pikir bayi ini barang apa! Dia ini pasti memiliki orang tua, ayo kita kembalikan!” Franda menyeret Kenzo untuk melaporkan penemuannya.


“Aku tidak bisa memberikannya pada orang tuanya, mereka sudah lalai. Jadi bayi ini resmi menjadi milikku!”


Pletakkk, kepala Kenzo dipukul dengan tas Franda. “Bicara bodoh lagi ku pukul kau dengan panci!”


“Huhuhu ampun.”


Sampai menjelang malam Frayza dan bibi Fang mencari cincin itu hingga kebagian yang sudah disisirnya. Namun tetap tidak menemukan, mana Andreas sudah perjalanan pulang. Bibi Fang menyarankan agar Frayza menutupi bekas merah-merah dilehernya.


Ketika Andreas pulang, ia bersikap biasa saja. Dan langsung masuk kamar dan membongkar barang bawaannya. Setelah memastikan semuanya beres, ia keluar dan menyapa tunangannya.


“Bagaiamana hari ini dirumah saja?”


“Eh iya,”


“Tuan Andreas-Frayza, bibi pamit pulang dulu ya. Sampai jumpa besok.” Bibi Fang undur diri karena sudah capek mencari cincin itu. Pikirannya ingin segera sampai rumah dan istirahat.


“Fray, mengenai rencana kita tinggal bersama. Orang tuaku menyarankan agar kita tinggal saja bersama mereka. Selain kita bisa saling mengenal, kau juga bisa akrab dengan orang tuaku bukan?”


“Be-begitukah.” Frayza sudah merasakan kantuk dan nyeri seluruh tubuhnya karena tidak nyaman.


“Sepertinya kau begitu kelelahan, aku mau makan malam dan mandi setelah itu lembur lagi.”

__ADS_1


Mereka masuk ke kamar masing-masing dan melakukan aktifitasnya. Andreas tak menaruh kecurigaan bila semalam rumahnya sudah dibobol keamanannya. Rekaman kamera pemantau juga sudah diretas, jadi kedatangan Hikashi tidak terdeteksi.


Sikap keras kepala Kenzo untuk mempertahankan bayi itu tidak berubah. Franda menyarankan agar Kenzo melaporkan kehilangan bayi pada petugas gedung. Namun, lagi-lagi Kenzo menolak.


“Apa kau tidak melihat kalau bayi ini begitu lengket dan menurut kepadaku!”


“Hiiiiiihhh, dasar kau ini. Itu karena kau keibuan, jadi bayi itu nyaman!”


“Pokoknya aku tidak akan mengembalikannya kepada orang tuanya!”


Sampai-sampai Kenzo membawa pergi Seven keluar mencari makan di restoran. “Lihat saja, aku beritahu Ketua Matsumoto kalau kau menculik bayi.”


Saat asik menyuapi makanan, tiba-tiba pengawal Hikashi datang dan membawanya naik ke kamar Hikashi.


“Tu-tuan muda, ada apa ini?” Kenzo digelandang masuk untuk menghadap Hikashi.


“Ini bayi anda Tuan,” pengawal itu menyerahkan Seven ke pengakuan Hikashi.


“Apaaaa, tidak mungkin!” Kenzo terjerembab ketakutan.


“Semalam aku menemuinya, terimaksih sudah menjaga bayiku. Kenzo, mulai sekarang tugasmu merawatnya.”


“Ba-baik Tuan Muda.” Kenzo tentu saja senang, karena kebetulan sekali ia cocok dengan Seven. Sudah lengkat kepadanya kala bertemu.


Rupanya aduan Franda ini ditanggapi cepat oleh Matsumoto. Dan ciri-ciri bayi yang disebutkan ini mirip dengan Seven. Hikashi lalu melacak kepergian Kenzo yang makan direstoran dekat hotel ia menginap. Sudah diputuskan, jika Hikashi akan pindah ke kondominium tinggal bersama Kenzo.


Pagi harinya, Frayza tersadae ada yang kurang ketika bangun tidur. Ia kelimpungan mencari anaknya berasa. Seluruh petugas dan penjaga gedung ia tanyai. Tak ada yang melihatnya, sampai datanglah Hikashi dengan penampilannya yang lebih klimis. Ia memangkas rambutnya rapi, mencukur kumis dan brewoknya.


“Apa kau kehilangan bayi?” Hikashi menanyai Frayza yang berada di bagian informasi.


“Iya tuan, aku kehilangan bayi sekitar 1.5 tahun. Begini fotonya.” Bibir Hikashi menyeringai kala Frayza menunjukkan anaknya.


Tangan Hikashi dikepal geram dan tulang rahangnya mengeras, ia tidak butuh sedikitpun harta Andreas. Yang ia mau adalah ibu dan anak ini kembali padanya.


“Terimaksih Tuan, aku akan menantikan tawaranmu. Semoga kau tidak keberatan dengan syarat yang aku ajukan. Karena aku juga mau melaporkan, ada bayi yang terlantar. Sekarang ia diurus dengan baik oleh anak buahku.”


“Benarkah?” Andreas antusias.


“Tentu saja, jika kalian mau tahu bayinya seperti apa datanglah ke tempatku.”


“Baik, kami akan melihatnya.” Jawab Andreas.


“Kami? Hohoho tidak, aku mau ibunya yang datang. Bagaimana?”


“Maaf Tuan, bisakah kau sebutkan atau minimal beritahu aku bagaimana bayi yang kau maksut itu?”


“Hemmb, ternyata anda meragukan saya.” Hikashi melakukan panggilan video dengan Kenzo yang sedang menjaga Seven.


“Itu Seven!” Frayza akhirnya menemukan anaknya.


“Iya benar, Tuan terimakasih sudah menemukan anak kami.”


“Cih, terimaksihnya nanti. Ingat datanglah ke nomor **** seorang diri.” Berbisik ditelinga Frayza.


Andreas dikacangin oleh Hikashi yang lebih condong menekan Frayza. Mau tidak mau Frayza harus mengikuti permintaan Hikashi. Dia harus datang seorang diri bila mau Seven kembali kepadanya.


Perdebatan terjadi saat Frayza meminta ijin kepada Andreas. Pria itu tak bisa menampik bila ia khawatir terjadi hal yang buruk. Belum selesai urusan dengan Frank, sekarang urusan dengan penemu Seven. Andreas berpesan kepada Frayza agar berhati-hati dan segera menghubunginya jika terjadi masalah.


Setelah menekan bel, pintu itu terbuka. Ia masuk kedalam, alangkah kagetnya ruangan ini disulap seperti taman bermain untuk anak kecil. Kenzo dengan telaten mengajak bayi itu bermain. Frayza menitikkan airmatanya, sudah lalai menjaga anak semara wayangnya. Hikashi yang diam-diam menuruni anakan tangga memperhatikan kedatangannya.


“Ada sebagian hal terpenting dari kehidupan ini yang hilang. Namun, akan kembali lagi dengan cara yang tidak terduga sebelumnya.” Ucapan Hikashi ini mengisyaratkan bila takdir mereka harus bersatu lagi.

__ADS_1


“Tuan,” Frayza terkejut dengan pria arogan yang tadi ia temui. Kesan pertamanya kepada Hikashi ialah orang sombong dan angkuh. Tapi setelah ia masuk dan melihat isi ruangannya disulap begitu Indah. Ia mulai merubah sedikit penilaiannya.


“Duduklah, aku mau berbincang-bincang denganmu.” Hikashi mengajak Frayza duduk di sofa dekat Kenzo mengasuh Seven.


Tatapan mata Frayza tak bisa lepas dari Seven yang tampak ceria dan bahagia.


“Siapa nama bayimu?”


“Steven, panggilannya Seven.”


“Lalu pria tadi ayahnya?”


“Bukan, dia adalah tunanganku.”


“Oh,” Hikashi sedikit kesal karena Frayza sudah bertunangan.


“Apakah ada masalah?”


“Iya, kau ada masalah denganku dan mengharuskanmu untuk tinggal disini jika kau ingin bersama putramu.”


“Syarat apa ini, tidak masuk akal! Tuan, sebaiknya kau periksakan dirimu ke Dokter. Aku akan membawa pergi putraku darimu. Dan aku akan memberikan imbalan atas kebaikanmu, permisi!” Frayza langsung menggendong Seven yang tengah bermain bersama Kenzo.


“Baik Tuan, “ Kenzo memperoleh aba-aba agar merebut Seven lagi.


Beberapa anak buah Hikashi langsung memegangi Frayza agar tidak kabur. “Apa-apaan ini Tuan! Ini tindakan ilegal, kau bisa dituntut masuk penjara. Ingat, tunanganku seorang pengacara dan orang tuanya orang berpengaruh!” Frayza berontak frontal karena dirinya ditahan anak buah Hikashi.


“Jika aku lebih memilih menyitamu selamanya kau bisa apa?” tantang Hikashi.


Frayza berusaha kuat untuk menghubungi Andreas, namun ponselnya dibuang kedalam saluran pembuangan.


“Borgol dia dan masukkan kedalam kamar!” mulut Frayza dilakban dan kalinya diikat. Kedua tangannya diborgol pada sisi ranjang. Ia berontak hingga tubuhnya lemas tak bertenanga.


Selanjutnya Kenzo diperintahkan untuk menidurkan Seven, dan tidak ada yang boleh mendekati kamarnya sebelum ada perintah darinya. Karena malam ini Hikashi ingin memberi pelajaran Frayza yang menurutnya sudah keterlaluan.


“Tunanganmu bilang dia akan memberikan imbalan yang setimpal. Baiklah, aku akan minta imbalannya sekarang.” Ia membuka kancing kemejanya satu per satu. Dadanya yang bidang dan padar itu sangat kekar. Ia berjalan kemudian merangkak naik keranjang. Ia menyusuri ujung jemari Frayza. Bibi Hikashi mulai bergerilnya menyesap setiap bagian kulit Frayza. Suatu sensasi yang luar biasa rasanya. Tangan Hikashi menyingkap rok selutut Frayza, sehingga paha mulus dan bersih itu nampak bersinar serah. Lagi-lagi Hikashi mencium dan menyesap paha Indah mantan istrinya.


“Hhmmmmppplhh,” Frayza mendesah dalam keadaan mulut tersumpal.


“Aku sedang memulainya Sayang, nikmatilah pertemuan tubuh kita hehehe.” Hikashi merobek baju hingga tertinggal pakaian dalam saja. Kakinya dilipat agar tidak terpampang nyata.


“Hmpppphhhh,” ia menggelengkan kepalanya agar Hikashi tidak melangkah lebih jauh lagi.


“Maaf Sayang, aku tidak rela membagimu dengan pria lain jadi aku ingin menyatukan tubuh kita lagi.”


Dengar cepat Hikashi melepaskan penutup terakhir yang menempel di badannya. Air mata Frayza sudah meluber membasahi pipinya. Percuma saja ia berontak kini dia sudah dalam kungkungan pria bertubuh besar. Ia merasakan bagian intinya disesap dan dibelai dengan lidah. Bola matanya berputar keatas karena sudah merasa diawan-awan. Ia merasakan basah sudah bagian yang diprakaryakan oleh pria asing tadi. Selanjutnya lakban penutup mulutnya dibuka,”hhhhaaaahhhh,” ia mendesah lemas.


“Mulutmu menolak, tapi tubuhmu mengingkan lebih dari milikku.” Hikashi menyuarakan suara erotisnya.


Tubih Frayza sudah panas dan ingin mendapatkan hal yang lebih. Ia ingin permainan yang sebenarnya, matanya terbelalak saat pria itu menunjukkan miliknya.


“Akhhhhhmmmm,”sekali hentakan sudah masuk memenuhinya. Senyum licik Hikashi sudah berhasil menembus pertahanan terakhir. Walaupun kakinya terikat, gaya inilah yang paling luar biasa nikmatnya.


“Akhhhh... Aaakkkkhhh...” begitu suara desahannya menerima kenikmatan yang sudah lama hilang.


“Bagaimana Sayang, kau mau lebih kan?” giliran ikatan tali kakinya di buka. Kali ini rasanya sungguh bukan main, rahimnya seolah diaduk-aduk hingga perutnya mual.


“Hemmmbbbbbbbb.... “tubuhnya bergetar dan bibirnya meracau. Kali ini dia harus mengakui kehebatan lelaki ini memuaskan miliknya.


“Apa Sayang, mau apa?” goda Hikashi memainkan peran dominan.


Lelaki ini sungguh luar biasa diatas ranjang, entah berapa wanita dibuatnya mabuk kepayang. Setelah beberapa kali menikmati puncaknya, Hikashi melepaskan tangan kanannya yang terborgol. Ia menyisakan tangan kirinya agar tetap diborgol. “Tidurlah Sayang, aku tahu ketika kau bangun pasti meminta lagi hihihi.” Dengan nakalnya Hikashi berkata demikian. Ia membersihkan diri untuk bersiap menemui Andreas. Sedangkan Frayza masih dibawah selimut tertidur pulas kelelahan.

__ADS_1


__ADS_2