
“Kulihat kau sedari tadi makan seperti sapi, Frayza!” tegus Bibi Aciko yang datang dikantin.
“Nyummm... Nyummm, aku lapar Bibi.”
“Apa kau berencana menjadi beban Istana dengan makan gratis?”
“Uhukkk... Uhukkk, tidak Bi. Aku akan pergi dari sini setelah selesai makan hhheee.”
“Elap nasi yang berada di pipimu, perempuan makan seperti kuli.”
“Hhheeeee sangat lapar dan takut kelaparan setelah keluar dari Istana ini.”
“Memang siapa yang mengijinkanmu angkat kaki dari Istana ini?”
“Hiiiiikkkkkkkkk,” Frayza tersentak dengan larangan Bibi Aciko yang menahan dirinya.
“Setelah kau selesai makan, ganti pakaianmu ini dengan Yukata. Mulai sekarang kau tinggal d Istana!”
“Waw, tidak bisa Bibi Aciko. Aku hanya makan beberapa piring disini. Aku membayarnya saja, jadi kau tidak boleh menahanku.”
“Penjaga, tangkap gadis itu!”
Dua orang penjaga menggelandang Frayza yang duduk di kantin. Ia dibawa ke asrama perempuan dimana Bibi Aciko mengajarkan tata krama Istana.
“Bi, urusanku masih banyak. Aku sudah tidak ada urusan dengan Istana lagi, jadii ijinkan aku pergi ya, hehehe tolong.”
“Enak saja, cepat ganti pakaianmu dan ikut belajar dengan mereka. Kau ini harus ditertibkan dengan cara yang baik.”
“Tidakkk mau, aku tidak mauuuuu.”
“Percuma kau merengek, atau aku yang akan melucuti baju!”
“Hibbbbsss... Biar aku saja yang melakukannya.”
“Bagus, menurut saja jangan banyak membangkang.”
Susah payah Frayza memakai Yukata untuk berjalan dan duduk. Belum lagi belajar menulis dan tata krama. Dirinya seperti kelinci kecil yang terperangkap. Hari-hari kedepan Frayza harus mukai beradaptasi dengan gemblengan Bibi Aciko.
*
*
*
Seperti biasa setiap pagi tiba, Aiko datang membawa sarapan dan berhias secantik mungkin. Dia ingin memperlihatkan bahwa sekarang dia sudah dewasa dan matang.
“Kenapa kau memandangiku?” sambil menuangkan teh ke cangkir Hikashi.
“Kau cantik dengan balutan Yukata ini.”
“Aku sengaja memakainya untukmu.” Tersipu malu.
“Oh begitu ya, aku jadi tersentuh. Seorang calon tunangan Putra Mahkota berdandan khusus untukku. Apa tidak berlebihan?”
“Pangeran Hikashi, mengenai pertunanganku dengan Pangeran Hiroshi ku harap kau jangan membahasnya seolah akan terjadi.”
“Kenapa kau bicara seperti itu? Bukankah kau calon kuat yang disiapkan oleh Raja?”
“Aku ingin menjadi salah satu wanitamu,” Aiko berlutut memohon kepada Hikashi.
“Berdiri, kau seorang putri tidak pantas berlutut kepadaku. Kau adalah calon Ratu masa depan.” Memalingkan dirinya membelakangi Aiko.
“Pangeran Hikashi, sulit bagiku untuk menggeser posisimu yang penting dihatiku. Walaupun kau bukan pria yang menghabiskan seumur hidupmu bersamaku. Ijinkan aku menyerahkan tubuhku ini kepadamu,” menyibak kain yang menutupi dadanya.
“Putri Aiko, kau jangan merendahkan dirimu.” Hikashi menutupnya kembali.
“Aku tahu kau tidak akan tega menyentuhku, biarkan saja aku yang melakukannya.”
Aiko mendorong Hikashi hingga terkapar dilantai, kemudian gadis itu menindih perutnya. Mengunci kedua tangan Hikashi dengan betisnya yang diapit erat dipinggang. Kedua pundak Hikashi dipaku oleh cengkraman tangan Aiko. Gadis itu bertubi-tubi menciumi Hikashi yang terus menolak untuk digagahi.
“Putri Aiko, sadarlah!” teriak Hikashi panik.
“Aku sudah lama memikirkan ini, hanya dengan cara inilah aku bisa mendapatkanmu!”
Biasanya penjaga berada siaga, karena Aiko sudah sering mampir di Istana Hikashi. Jadi penjaga disuruh bersantai di taman untuk beristirahat sambil merokok. Dokter Kelvin yang seharusnya bersiaga malah asik mencari serangga dengan menyumbat telinganya dengan mendengar musik.
__ADS_1
Hikashi terua berontak, namun Aiko seperti sudah tahu cara mengunci tubuh lawannya. Dengan memakai mulut dan giginya, Aiko mencabik-cabik bajunya Hikashi hingga robek. Dan saat Aiko mulai merasakan basahnya, ia hendak memiliki seutuhnya Hikashi.
“Pergi kau!” banting Hikashi saat Aiko mulai kelelahan melakukan aksinya.
“Hehehe, kau menikmati juga ya walau sebentar.”
“Kau wanita yang sangat menjijikkan Aiko!”
Dengan puas Aiko tertawa sudah melakukan hal yang semestinya ia perbuat. Hikashi memakai mantel keluar Istana tanpa disadari penjaga. Dengan kesal ia berjalan tak tentu arah, dia sangat merasa jijik dengan tubuhnya sekarang.
“Aku ada dimana ini?” tiba-tiba Hikashi menyadari kalau dia berada di tempat yang asing.
Tampak asap keluar dari cerobong atap, aroma makanan sedap mulai tericum. Perutnya yang sudah kelaparan sedari pagi menginginkan makanan. Di dalam bangunan itu banyak perempuan yang sedang meramu dan meracik masakan. Hikashi mengintip dari jendela dan mengamati dari luar. Ternyata ini dapur Istana, dimana para juru masak mengolah hidangan.
“Hai kau pencuri, tunjukkan wajahmu!”
“Hah pencuri?” pikir Hikashi.
“Iya kau yang mengintip di jendela, ayo tunjukkan wajahmu!”
“Aku penasaran dan melihat keadaan di dalam,”
“Astagahhh, Demi Dewa. Maafkan saya Pangeran Hikashi, bukan maksudku untuk mengataimu demikian.” Bibi Aciko ketakutan.
“Hisss akhirnya kau mengakui diriku siapa, jika aku menghukummu bagaimana?”
“Saya layak untuk di hukum, ampuni saya.”
“Hehehehe,” Hikashi memperoleh akal liciknya kembali untuk bersembunyi beberapa hari dari kejaran Aiko.
Perutnya yang memang lapar ini harua segera diisi. Di kantin inilah Hikashi mulai makan dengan lahap. Bibi Aciko yang memperhatikan Pangeran Hikashi membatin saja tak berani berkomentar.
“Ahhhh... Kenyang.” Selesai makan.
“Pangeran Hikashi, jika sudah selesai silahkan kembali ke Istanamu. Karena sebentar lagi para calon dayang istana akan makan siang.”
“Emmbb tidak peduli, aku masih mau disini. Kalau mereka mau makan ya makan saja. Abaikan saja aku, nanti kalau aku bosan juga pergi.”
Padalah diluar sudah ada calon dayang-dayang yang mengantri untuk masuk kantin. Mereka tampak panik karena menunggu seorang Pangeran yang tersesat.
Dari kejauhan Hikashi tertarik dengan seorang wanita yang memarahi pohon. Gadis itu meninju pohon itu berkali-kali sambil mengumpat.
“Sudah tahu aku tidak menyukai dandanan ini, masih saja dipaksa. Hah Bibi Aciko, kau keterlaluan menahanku beberapa hari ini!” Frayza terus meninju pohon Oaks yang tak bersalah.
Hikashi dari belakang hapal betul suara imut milik Frayza. Tusuk rambut yang menjadi kuncian kondenya mulai miring jatuh. Karena gerakannya yang atraktif, rambut Frayza tergerai tersapu angin. Hikashi melihat cucuran keringat yang mengucur di wajah dan leher Frayza.
“Hai kau, sudah puas menonton kegilaanku?”
“Hihihihi,” pekik Hikashi.
“Kau mau ku tinju ya?” mengepal bogem mentahnya hendak menghantam Hikashi.
“Hai, ketemu lagi.”
“Haaakkkk... Kau? Kenapa kau ada disini? Pergi sana temui wanitamu itu!” usir Frayza.
“Ini masih wilayah Istana, kau mungusir Pangeran apa sudah mau mati?”
“Oh maaf, aku lupa kalau kau salah satu Pangeran penghuni Istana ini. Permisi, aku mau makan siang.”
“Tidak tanya!”
“Hissss, ya sudah abaikan saja. Pokoknya aku mau pergi, jangan mengikutiku!”
Hikashi yang mengekori Frayza ini tak ingin pergi jauh-jauh lagi. “Fray, aku baru saja mengalami pelecehan.”
“Jangan bercanda, di dunia yang mesum ini tidak ada wanita yang agresif!”
“Lihat ini,” membuka jubahnga dan memperlihatkan bajunya yang robek-robek penuh bekas cakaran.
“Siapa yang sudah melukaimu menjadi begini?”
“Aiko, dia baru saja melecehkanku pagi ini. Dia mengusir penjagaku, kemudian menggodaku. Aku mengalami hari terburuk pagi ini.”
“Kau harus segera diobati, kasihan kulitmu ini. Kejam betul Putri Aiko mencabik-cabik tubuhmu.”
__ADS_1
“Tolong rawat aku dulu, setelah itu terserah kalau kau mau pergi.”
“Baiklah, kau ikutlah bersamaku.”
Hikashi dibawa Frayza ke sebuah gudang penyimpanan barang. Tangannya meraih jemari Hikashi dan sedikit berlari kecil. “Ayo cepat, sebelum ketahuan orang.”
“Hu’um,” mengangguk.
Keduanya tiba di gudang penyimpanan barang yang dirasa aman. “ Nah, disini aku akan mengobatimu.”
“Tidak mau, pengap dan gelap.”
“Baiklah, tunggu disini sebentar kalau begitu.”
Frayza masuk dan membuka jendela, ia membentangkan karpet. Lalu dilapisi kasur yang empuk, ditambahkan beberapa bantalan agar nyaman.
“Lihat, sudah terang dan nyaman bukan?”
“Tidak begitu angker lagi,” Hikashi masuk kedalam.
Krieettt (menutup pintunya) ruangan ini menjadi redup karena cahaya dari pintu berkurangnya. Hanya pantulan sinar dari jendela saja.
“Ayo buka bajumu, aku olesi obat merah.”
“Tidak, aku malu.”
“Sudahlah, saat ini tinggal kita berdua. Lagipula kita sudah pernah melakukan hal yang lebih dari ini sebelumnya.”
“Fray, jangan sentuh tubuhku ini dengan tanganmu. Aku sudah ternoda dan kotor,”
“Ijinkan aku mengobatinya, aku janji setelah itu akan pergi.”
“Fray, maafkan aku sudah mengecewakanmu. Aku tidak bisa menjaga kehormatanku.”
“Sudah cukup,” megolesi obat merah dan menutup bekas gigitan dan cakaran.
Suasana berubah menjadi hening dan sepi, hanya suara dedaunan dan ranting yang digoyangkan oleh angin.
“Kenapa Putri Aiko menjadi sebuas ini?”
“Jangan sebut namanya, aku mau tahu kenapa kau bisa berada disini dan memakai pakaian aneh?”
“Aku makan di kantin dan ketahuan oleh Bibi Aciko. Sebagai hukumannya aku harus ikut belajar menjadi dayang Istana. “
“Apa saja yang sudah kau pelajari?”
“Tidak banyak, hanya aku lebih suka mengumpat kesal degan Bibi Aciko. Dia begitu bawel dan keras. Sungguh Bibi-bibi berdarah dingin cih.”
“Hehehe kau imut sekali kalau lagi marah.”
“Aku sudah selesai, selamat tinggal.” Tersinggung karena Hikashi tersenyum mendengar ceritanya.
“Jangan tinggalkan aku, tolong jaga aku.” Memeluk tiba-tiba dengan erat.
“Pangeran Hikashi, ini tidak benar.”
“Kita masih sah suami istri, tolong hapus jejak wanita lain ditubuhku Fray. Aku mohon hanya kau yang bisa menyembuhkanku.”
“Aku... Aku... “ gagu bingung.
“Kau istriku, tolong layani aku agar memori burukku terhapus.”
Merengkuh tubuh Frayza dengan erat. Perlahan tangan Frayza mengusap kedua pipi Hikashi lalu menciuminya dengan lembut. Setelah itu, ia membuka satu persatu kancing kemeja gang sudah robek-robek. “Ciumi lukaku ini,” perintah Hikashi dan dituruti Frayza.
Setiap bekas luka goresan di badan Hikashi diciumi rata. Hikashi merasakan nikmat yang luar biasa. Hatinya yang gundah menjadi lebih nyaman karena sentuhan dan kecupan lembut.
“Sayang, aku mau lebiiih.” Pinta Hikashi dengan mata terpejam.
“Siang-siang begini?”
“Iya, aku mau lebih dari ini. Tolong lakukan untukku sekarang, tubuhku harus kau selamatkan.”
Tak tega mendengar rintihan dan paksaan dari mulut Hikashi. Frayza menggerai rambutnya dan melepaskan balutan busana yang menutupi tubuhnya. Keduanya melakukannya dengan perlahan-lahan dan saling memahami kondisi satu sama lain. Hikashi menatap wajah Frayza dari dekat kemudian ******* habis miliknya. Begitupun Frayza yang sudah kelelahan bermain diawal, sekarang hanya terpejam pasrah diperlakukan apapun oleh Hikashi. Cuaca yang begitu panas dan terik ini tak menyurutkan gairah keduanya yang semakin panas. Hikashi terus memaksa Frayza untuk melayaninya berulang kali, hingga Frayza kelelahan. Saat dirinya hendak tidur, Hikashi memainkannya dengan sesuka hatinya. Hingga Akhirnya Frayza dengan keadaan tidur dalam posisi masih bercinta.
“Ahhhh (mengerang panjang setelah pelepasannya) selamat tidur sayang muaaaccchh,” Hikashi akhirnya selesai dan menutupi tubuh keduanya memakai selimut tipis. Tangannya mendekap erat wanita yang sudah memuaskannya secara lahir dan batin.
__ADS_1