
Sementara itu, ada seorang pria yang berdiri terpaku menarik tuas kopernya. Ia hendak menganti di loket penjualan tiket menuju Tokyo. Namun, ia urungkan lagi keinginannya itu. Tak pantas baginya masih berusaha mengusik usaha yang akan sia-sia. Awalnya ia berharap bisa mengakhiri status pernikahan Frayza – Hikashi. Namun, keadaan sungguh tak berpihak padanya. Walaupun sekarang ia tahu, Franda selalu berada disampingnya.
“Kenapa? Kenapa kau masih ingin mengejarnya!”
Wanita cantik memakai setelan warna gading memukulkan kepalan tangannya.
“Maaf, aku tak bisa mengontrol diriku Franda.” Ucap pria berkacamata dingin.
“Aku yang bersamamu, selalu disampingmu. Berada dekat tubuhmu, kenapa? Apakah Kakak ku yang selalu mengisi hatimu hah!”
“Bukan begitu Fran.” Menarik napasnya berat.
“Aku hanya menggantikan posisinya dihatimu. Apakah itu sulit, beratkah untukmu untuk membuka hatimu!”
“Aku juga sudah berusaha memulainya denganmu Fran. Tapi semakin aku coba, hanya kebohongan saja. Aku sadari, jika selama ini semuanya tidak lebih dari kepalsuan. Kau hanya mengejarku untuk menarik simpatiku. Tapi bukan untuk menghapus Frayza dari hatiku.”
“Apa kau tahu, sebanyak apapun kau berusaha. Tuan Hikashi tidak akan lebih baik darimu.”
“Bila aku diberikan segalanya, jangankan masa depanku. Nyawa juga akan aku berikan!”
Andreas menarik tangan Franda yang memukulinya seperti wanita arogan.
Kletak! Suara benda jatuh tak jauh dari Andrea dan Franda berdiri.
“Maaf aku tidak sengaja menguping pembicaraan kalian. Permisi.”
Yung Hee memalingkan wajahnya yang sungkan. Berada diantara kedua orang yang tengah berselisih paham. Sebaiknya ia segera pergi meninggalkan Bandara. Takutnya Thomas memerlukan bantuannya.
“Tunggu!”
Andreas menghentikan langkah Yung Hee yang menjauhinya.
“Maaf, jika aku tidak sopan.”
Andreas berjalan dari belakang, dan mengulurkan gantungan ponsel milik Yung Hee
“Ini milikmu, tadi ikut terjatuh.”
“Te-terimakasih Tuan.”
__ADS_1
Menyambar benda kecil itu secepat kilat, lalu kabur berlari. Yung Hee hampir kehabisan tenaga karena berlari. Ia hampir tak percaya, ada wanita yang sangat cantik juga. Wajahnya hampir mirip dengan Frayza, mungkin kembarannya bila sepintas saja.
Franda kesal dengan Andreas, ia memutuskan kembali lagi ke Hotel tempat ia menginap. Namun, ia berubah pikiran. Ia mencari bar yang buka siang hari, ia ingin mabuk melupakan masalahnya.
“Berikan aku segelas Martini.”
“Siang hari begini?”
“Layani saja aku, cepat!”
“Baiklah.”
Menyudahi mengelap gelasnya, dan meramu minuman.
“Kenapa Bar mu buka disiang hari?”
“Karena disiang hari lah aku bisa lebih santai. Malah hari aku bekerja ditempat lain.”
“Jadi kau bekerja disini paruu waktu?”
“Bisa dibilang begitu.” Jawab bartender singkat.
“Kau bisa mabuk!”
“Jika aku mabuk, panggilkan taksi. Aku menginap di Hotel ****.”
“Itukan Hotel mewah, untuk tujuan apa kau kemari?”
“Untuk mengencani pria bodoh berkacamata.”
“Orang yang mata rabun kau kejar cintanya, bagaimana bisa kau meraih hatinya. Ingat, mata hatinya juga lebih rabun dari mata kepalanya.” Nasehat bartender kepada Franda.
“Ck, sok tahu kau!” meneguk minumannya lagi.
“Sebaiknya kau bayar minumanmu, aku panggilkan taksi untuk mengantarmu.”
“Haaiii.. Aku masih kuat ya, jangan remehkan aku hukkk.”
Franda sudah tk bisa mengendalikan dirinya lagi. Ia semponyongan dan mulai ngelantur bicaranya. Bartender itu melemparkan celemeknya diatas meja. Dan memapah Franda masuk ke Taksi, tapi keadaan Franda yang kacau mengharuskannya menutup Bar lebih awal. Bartender itu ikut mengantar Franda mencarikan Hotel asalnya menginap.
__ADS_1
Butuh perjuangan dan usaha keras agar Franda masuk ke kamarnya lagi. Si Bartender itu terpaksa ikut masuk kedalam sana. Sambil terus meracau, tangan Franda mulai menggerayangi tubuh pria asing yang baru dikenalnya.
Matanya sudah menggelap, pandangannya mulai blur. Dia membayangkan sosok pria yang sangat ia rindukan selama ini. Disesapnya bibir pria asing dari Bar, hingga terjadilah pergumulan singkat diantara keduanya. Pria itu tak kuasa melawan godaan yang menarik dirinya dilembah surgawi yang nikmat. Saking nikmatnya ia dapat merasakan tubuh wanita begitu sayang untuk diabaikan.
“Aissshh kepalaku...” menepuk-nepuk kepalanya yang pusing.
“Hemmmmbb...”
Tiba-tiba ada tangan berurat memeluknya dan kaki menimpahi tubuhnya. Franda menoleh, alangkah terkejutnya dirinya dan pria asing itu tanpa sehelai benang menempel.
“Jelaskan padaku, kenapa kau kemari!” menendang kaki pria yang terbaring disampingnya.
“Aduuhhhh...” meringkuk jatuh daei ranjang.
“Siapa kau!”
“Kau, kau! Kau yang harusnya kutanya, kenapa kau merobek bajuku!”
Franda mengais onggokan baju dilantai, benar. Kemeja kerja pria itu robek bagian depannya. Dialah yang mabuk dan tak sadarkan diri.
“Hikashi.... Oh Hikashiiii.... Huhuhu mentragiskan, kau bercinta denganku. Tapi nama pria lain yang kau sebut, kurang ajar.”
“Leluconmu murahan, ambil upahmu dan keluar dari kamarku!”
“Kau pikir aku ini penjaja diri!”
“Cepat katakan berapa hargamu!”
“Jangan sembarangan ya!”
“Kenapa, apa masih kurang? Untuk orang rendahan sepertimu harga segitu setimpal.”
“Kau akan menyesal Nona!”
Bartender itu mengambil beberapa cek yang Franda sebar dilantai. Bukannya, murahan dan mata duitan. Memang sekarang, ia butuh uang untuk menyambung hidup. Tapi anggapan Franda yang merendahkan dirinya seharga angka.
“Tidak mungkin, tidak benar jika aku memanggil namanya lagi. Hal itu sudah lama, bahkan aku bersama Andreas beberapa waktu terkahir ini. Kenapa saat pria lain mencumbuku, bayangannya yang hadir dalam imajinasiku. Tuan Hikashi Alexander, kenapa kau belum hilang dari diriku hiks hiks hiks.”
Franda menangis dibawah guyuran air kran kamar mandi. Ia merasa kotor sudah dijamah pria yang tidak ia kenali. Bahkan, inilah kecerobohannya yang paling bodoh. Menyerahkan tubuhnya tanpa kesadaran penuh. Sekarang ia menyesali perbuatannya. Bahkan mengurung diri dikamar Hotel. Ia kembali memesan minuman keras. Memabukkan diri lagi sampai hilang kesadarannya. Franda masih mencintai Hikashi, itulah karmanya terdahulu. Seperti ia dicintai oleh Frank yang terikat hubungan kasih dengan Frayza. Sekarang, Franda menyadari betapa sakitnya Cinta sendiri. Meraih tak bisa, membayangkan sungguh memilukan.
__ADS_1
Sekarang rambut yang dibelai dengan jari jemari Hikashi ialah Frayza. Senyuman manis dan kerlingan mata menawan hanya kepada satu wanita. Ia mencium kening dan bibir wanita lain. Yah, wanita yang pernah menjadi boneka permainannya dulu. Kini menjadi pemenang di akhir kisah cintanya. Hikashi, adalah karma seumur hidup bagian Franda yang tak akan bisa diraihnya. Bahkan untuk berandai-andai saja, ia sudah sangat malu. Tubuhnya sudah penuh tanda percintaan singkat. Dirinya tak lagi bisa menolak bahwa takdir sedang memainkan perannya.