TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
BERMAIN SERONG LAGI


__ADS_3

Hari minggu pagi, Frayza tidak menemui Hikashi tidur disebelahnya. Kemudian ia membersihkan diri, lalu membangunkan kedua pangeran tampan miliknya. Ia melihat cermin, sembari menyikat giginya. Tampaknya ia kurang memperhatikan penampilannya sekarang. Bahkan sudah muncul tanda penuaan dini. Mungkin inilah sebabnya Hikashi diam-diam menyelundup.


“Selamat pagi Sayang,” menggendong Seven hendak masuk ke kamar mandi.


“....” wajahnya datar tak menggubris suaminya.


“Sayang, aku sudah siapkan sarapan untukmu dimeja.” Lalu menutup pintu.


Ia berjalan naik tangga terus, sampai pada akhirnya Jade keluar kamar.


“Pagi Mama,” sambil mengucek bola matanya.


“....” mengusap kepala anak sulungnya.


Merapikan tempat tidur anaknya dan menata meja belajar. Kegiatan akhir pekan ini diawali dengan mogok bicara. Tangannya mengambil ponsel yang terus berkedip lampu notifikasinya.


Bip... Menekan tombol daya, ternyata dikunci. “Huuufffttt...” wajahnya menengadah kelangit sembari menarik nafas kuat-kuat.


Banyak pesan dan pemberitahuan masuk. Salah satunya yang membuat hatinya sakit ialah nama beberapa wanita dengan emoticon menggoda. Bukan satu atau dua, namun banyak. Sebanyak Hikashi memiliki aplikasi pertemanan.


Tap... Tapp... Menuruni tangga dan melewatkan menu sarapan diatas meja. Frayza berganti pakaian dan sedikit merias wajahnya agar tidak lusug. Mencatok rambutnya agar lebih berkilau. Ia sengaja memakai sepatu hak sedang untuk menunjang penampilannya.


Slap, menyambar tas selempang yang biasa ia pakai. Frayza menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju pintu utama. Namun, Hikashi keluar bersama Seven yanh sama-sama memakai handuk usai mandi.


“Sayang, hari ini kan libur. Apakah kau ada lembur kerja?”


“Cuph,” hanya mencium pipi Seven sebagai pamitannya.


“Aku?” menyodorkan pipinya untuk dicium. Namun wanita itu sedang tak terterik dengan Hikashi. Walaupun digoda, biasanya Frayza langsung menyambar pipinya.


“Papa,” Jade melihat adegan ibunya mengabaikan ayahnya.


“Jade?”


“Apakah Mama marah kepadaku?”


“Tidak, mungkin Mama mu sedang banyak pikiran. Makanya dia diam.”


“Lalu ini apa?” menyodorkan sepucuk kertas.


“Darimana kau dapatkan ini?”


“Diatas meja belajarku, Mama bilang kalau seharian ini Papa yang menjaga kami.”


“Aneh,” meremas kertas itu dalam genggaman tangannya.


Ia keluar rumah dengan mengenakan handuk setengah pingganya. Tetangga yang melihat pahatan Indah milik Hikashi seolah mendapatkan asupan vitamin mata.


“Papa, pakai bajumu lebih dulu!” teriak Jade dari dalam rumah.


Betapa malunya Hikashi yang mencari-cari keberadaan istrinya yang sudah pergi. Tanpa ia sadari, dirinya menjadi bahan fantasi nakal para ibu rumah tangga yang kebetulan lewat.


*


*


*


Frayza memasuki ruangan gedung bioskop seorang diri. Ia sengaja memilih film romantis. Kisahnya sangat memilukan hingga ia menumpahkan segala kesedihannya. Awalnya ia meringkik, namun lama-lama ia sesenggukan menangis.


Bukan karena filmnya yang menguras air mata. Tapi ia mengalami rasa sakit dikhianati pria yang amat ia cintai. Lelaki yang sudah menjadi dunianya tega meludahi kepercayaannya.


“Nona kau sedang apa?”


“...” duduk termangu diayunan sebuah taman terbuka.


“Nona.”


“....” sama sekali tidak bergeming.


Frayza masih duduk diayunan dan melihat kakinya yang hampir saja lecet berjalan seharian. Waktu sudah senja, saatnya kembali kerumah, tapi Frayza belum mau beranjak dari dudukan. Ia lebih memilih untuk tetap berada diayunan. Bahkan ia mengabaikan perutnya yang lapar sedari tadi pagi.


“Nona?” suara sialan memanggil Nona-nona itu terus menjalar ditelinganya.


“Ckh!” berdecit kesal dan langsung berlari dengan cepat pergi dari taman sialan itu.


Sebelumnya ia melihat sebuat mobil sedan hitam terparkir didepan pagar taman. Dengan beberapa orang berdiri disana. Pikirannya mulai kacau, karena orang-orang terdengar bicara ‘kejar!”. Frayza yang sudah hafal daerah ini langsung mencari jalan tikus. Beruntunglah ia mendapati lokasi pembangunan proyek. Disana ada pipa besar, kakinya yang sudah lecet. Tak mungkin sanggup berjalan lagi. Akhirnya ia merebahkan tubuhnya disana seperti gelandangan.


“Huhuhuhu Mama... Mamaaa... Huaaaaa.”


“Seven tenanglah, Mama sebentar lagi akan pulang. Cup cup adik manis, diamlah.”


“Mama... Maamaaa...” tangisan Seven semakin menjadi-jadi.


“Jade, kau berangkatlah ke sekolah, bismu sudah tiba.” Hikashi membawakan tas dan bekal.


“Tapi Seven?”


“Hari ini dia bolos, kau berangkatlah sekolah. Jadilah anak yang baik ya, da-da jagoan.”


“Papa, apa kau bertengkar dengan Mama?”


“Tidak, Mama sedang lembur dikantornya.”


“Jika Papa bohong apa hukumannya?”

__ADS_1


“Nanti Mamamu akan pulang.”


“Aku rindu Mama huft.” Anak itu tampak lesu tanpa ibunya.


Hikashi segera mengemasi barang-barang milik Seven. Ia lalu bergegas pergi manaiki taksi. Hari ini dia ikut ujian pegawai sipil. Tidak mungkin ia melewatkan tes penting ini.


Disebuah aula yang besar, Hikashi mengerjakan soal-soal dengan tidak tenang. Pikirannya berkecamuk dan terus berputar-putar. Akhirnya ia frustasi dengan keadaan dirinya sekarang. Lalu memutuskan untuk mengakhiri mengerjakan soal. Ia berdiri dan memutuskan untuk gugus saja.


“Jangan pergi, sudah sebulan kita belajar bersama.”


Sebuah tangan menahan bahunya untuk kembali duduk kembali. Gadis cantik itu menyeringai karena Hikashi menurutinya.


“Huuuffttt,” mencoba menenangkan dirinya dan konsentrasi mengerjakan soal-soal.


Dirinya sudah larut dalam pertanyaan didepan matanya. Bahkan masalah keluarga yang berat menimpanya sudah tidak menjadi beban pikirannya.


Sementara itu, Frayza mengobati kakinya ditempat kerja. Jari kakinya terbalut plester luka. Dia bekerja seolah tidak terjadi hal apapun. Sepanjang hari itu juga Frayza tak membuka mulutnya. Bahkan ia belum makan apapun, perutnya yang keroncongan pun diabaikan.


Sampai pada titik terlemahnya, ia gemetar dan membeli air mineral. Ia menenggak habis untuk membasahi kerongkongannya. Didalam kereta, ia tanpa sengaja melihat suaminya tengah berbincang-bincang dengan wanita muda. Usianya masih 20 an awal, tampak akrab dan sesekali tatapan tak biasa itu mengarah pada suaminya.


Beruntunglah Hikashi tak menyadari ada Frayza duduk diam memperhatikannya. Jika dibandingkan dengan Hikashi yang dulu, sekarang Hikashi sudah menjadi pria normal kebanyakan. Dirinya berbicara dengan pikirannya sendiri. Mencoba menelaah tentang perilaku lelaki yang mudah bosan dengan rumah tangganya. Apakah lebih cenderung mencari pelarian diluar sana.


“Papa pulang, Jade-Seven dimana kalian?”


“Sssttt...” Jade menyuruh Hikashi untuj hening.


“Ada apa?”


“Mama dan Seven baru saja tidur.”


“Owhh...” membulatkan bibirnya.


Hikashi makan malam bersama Jade berdua. Kemudian ia hendak tidur, tapi istrinya sudah mengunci didalam kamar bersama si bungsu. Akhirnya ia tidur bersama si sulung. Mungkin besok saja ia menanyakan perihal perginya istrinya. Sekarang ia lelah dan ingin tidur secepatnya.


Pagi harinya Jade berada di meja makan bersama Seven. Mereka sudah menyantap hidangan sarapan.


“Pagi anak-anak Papa muachh... Muacchhh.” Menciumi kedua anaknya bergiliran.


“Papa ini sarapanmu, kami akan menunggu bis jemputan kami. Selamat pagi.” Pamit Jade bersama Seven. Kedua bocah itu melihat ibunya bangun pagi dan bergegas berangkat bekerja.


Sudah 2 hari Hikashi tidak melihat wajah istrinya. Ketika ia pulang, istrinya tidur. Saat pagi hari ia bangun, istrinya berangkat bekerja. Ia makan sarapan yang sudah disiapkan olehnya.


Hikashi pergi keluar untuk pergi ke pasar belanja. Tanpa sengaja gadis yang menjadi teman dekatnya menyusulnya.


“Dannis, kenapa kau kemari?”


“Aku bosen, jadi lebih baik aku ikut kau berbelanja saja kan.”


“Apa kau tidak cemas menunggu hasil pengumuman?”


Dannis adalah gadis yang santai. Memakai kaos warna putih dan celana training hitam panjang adalah gayanya. Tak lupa ia menggerai rambutnya yang hitam lurus. Bibir gadis itu merah ranum seperti buah ceri matang.


Seharian penuh Hikashi menghabiskan waktunya bersama Dannis. Usai belanja mereka pergi ke perpustakaan dimana mereka berdua pertama kali bertemu. Hal ini terus berlanjut hingga tanggal pengumuman penerimaan pegawai sipil dirilis.


“Wah kita makan enak hari ini hore!”


“Hore... “


“Kalian berdua makan yang lahap ya, Papa mau menyiapkan baju untuk besok bekerja.”


“Semangat Papa.”


“Papa semangat!”


“Hahaha pasti anak-anak Papa, kalian penyemangat Papa.”


Datanglah Frayza dengan kondisi basah kuyup, ia langsung masuk kamar mandi. Hari ini sudah sekian lama ia tak saling tegur sapa dengan suaminya. Perlahan ia menjadi orang yang dingin dan acuh.


“Mama makan dulu?”


“Mama-maaammmaaaa.”


“....” tersenyum tipis dan berlalu.


Usai mandi ia terus masuk ke kamar Seven untuk tidur. Padahal Hikashi sedang menyiapkan baju untuknya berdinas besok. Ia sengaja menunggu lama Frayza untuk mendapatinya di kamar. Namun, sekali lagi ia harus kecewa. Frayza sudah tertidur dan menyimpan bajunya satu lemari bersama milik Seven. Hikashi masih bisa menahan amarahnya, karena istrinya masih mau pulang. Daripada tidak sama sekali. Sebenarnya Hikashi ingin memberitahukan secara langsung bahwa ia diterima bekerja didepartemen pemerintahan.


“Sayang, Mama berangkat kerja dulu ya. Muaaachhh... Muacchhh...” menciumi kedua putranya yang sudah rapi memakai seragam sekolah.


Ia melihat Hikashi yang memakai setelan jas dan menuruni tangga. Namun, lagi-lagi Frayza melengos dan mengabaikannya.


“Sayang, berhenti hai!” teriak Hikashi.


Tap tap tap... Kali ini langkah kaki Frayza lebih cepat karena memakai sepatu pantofel. Ia sengaja mempercepat langkah kakinya sedikit berlari. Sudah terlalu sakit hatinya dengan keadaan rumah tangganya.


“Sayang!”


“....” berhenti.


“Aku ada salah padamu?”


“....” menaikkan tangannya sebahu agar Hikashi berhenti.


“Fray, kanapa kau menjauhi?” berjalan maju.


“....” mendorong tubuh Hikashi lalu ia berlari menjauh.

__ADS_1


Hoosshhhh.....


Hhiiiiiissshhhh....


Keduanya saling berkejaran seperti lomba 17an. Frayza yang memiliki kaki lebih pendek akhirnya diraih dengan mudah sekali terkaman.


“KAU KENAPA HAH! AKU SALAH APA KENAPA KAU MENGABAIKANKU!” menggoyang-goyangkan tubuh ramping didekapannya.


“....” matanya berkaca-kaca dan memalingkan wajahnya.


Ya Tuhan istri secantik ini kenapa bisa begitu dingin. Apa yang membuat Hikashi baru menyadari bahwa istrinyalah wanita tercantik dan sempurna. Perlahan-lahan ia merenggangkan dekapannya. Lalu Frayza berjalan pergi menjauhinya. Hikashi rasanya ingin meledak dan menghancurkan apapun disekitarnya. Namun itu tak mungkin, sekarang waktunya ia berangkat ke kantor.


Hikashi nyaris terlambat, dan beruntunglah Dannis datang dari arah yang selalu dengan dirinya. Akhirnya mereka pergi bersama menuju kantor.


“Kau kenapa tampak murung, tidak pantas dengan setelan jas yang kau pakai.”


“Belum sarapan.”


“Baiklah kita mampir dulu di kedai kopi membeli sarapan.”


“Tidak usah, jangan mengulur waktu. Aku tidak ingin memberikan kesan buruk dihari kerjaku!”


“Baiklah Pangeran tampan. Aku turuti kemauanmu.” Membanting setirnya ke jalur perkantoran.


Hikashi tidak mengerti kenapa Frayza tak mau mengeluarkan suaranya sedikitpun. Tetapi ia bersikap manis terhadap anak-anaknya. Pikirannya berkecamuk dan uring-uringan.


Ia mengirimi pesan kepada Frayza tapi sepertinya ia sudah diblokir. Sangat memalukan jika sepasang suami-istri memblokir nomor telepon. Hikashi mondar-mandir pusing tak karuan. Kenapa Frayza melakukan itu padanya.


“Kau disini ya rupanya, nanti malam setelah pulang kerja kita mau adakan perjamuan keakraban dengan pegawai baru. Sebagai pegawai baru kita eajib datang!”


“Tapi aku,”


“Sssttt... Aku sudah memutuskan kalau kita akan datang bersama. Nanti aku akan pulangnya. Jangan khawatir ya.” Mengedipkan matanya genit.


Lagi-lagi Hikashi harus merelakan waktunya untuk beramah- tamah dengan kerabat kerja dan atasannya. Malam telah tiba, saat untuk mengadakan jamuan makan bersama. Merayakan pesta ditempat karaoke dan klub malam.


Ketika pulang sampai rumah, lagi-lagi ia datang dalam keadaan penuh bau asap rokok dan alkhohol. Hikashi sempoyongan dipapah Dannis memasuki rumahnya. Tentu saja suara berisik ini terdengar oleh Frayza yang belum tidur. Ia juga mengintip dari jendela kamar Seven kalau mobil dannis sudah terparkir. Wanita yang sama pernah ia lihat sebelumnya. Frayza menangis menitikkan air matanya tanpa bersuara. Begitu tabah hatinya melihat suaminya sering pulang telat larut malam.


Esok paginya, Hikashi masih tertidur pulas. Dannis dengan berani mendatangi rumah Hikashi untuk menjemputnya. Hal ini tidak digubris Frayza. Dan acuh dengan keberadaan wanita muda itu. Untung saja Jade dan Seven tidak melihat rekan kerja ayahnya datang.


“Maaf Tante, apakah Hikashi ada?”


“...” Frayza berjalan merunduk berlalu tanpa menjawab Dannis.


“Dasar sombong!” cibirnya pelan.


Bukannya Frayza tak mau bersikap sopan, ini adalah batas dari kesabarannya. Ia sudah lelah berurusan dengan wanita manapun. Jika wanita itu dan Hikashi memang cocok. Ya sudah ia tak ingin terlibat. Yang penting kebutuhan kedua anaknya tercukupi.


Hari demi hari Dannis semakin berani berkunjung kerumah. Entah untuk urusan pekerjaan atau hanya sekedar membawakan oleh-oleh. Kadua anak tampan mereka bermain dikamar tidak mau menyapa Dannis. Jade dan Seven sudah larut dalam dunianya.


“Apakah kau tinggal disini bersama kedua anakmu?”


“Aku memiliki istri. Dia bekerja.”


“Oh... Yang seperti apa?”


“Aku sampai lupa memajang fotonya. Dia wanita yang tidak suka difoto, yang jelas dia sangat cantik.”


“Hikashi, kalau boleh jujur. Sejak kita bertemu hingga kini ijinkan aku berkata jujur. Sebenarnya aku menaruh hati kepadamu. Alasan kenapa aku mau ikut ujian pegawai sipil. Dan meninggalkan dunia gelapku karena kau.”


“Hehehe...” tertawa kecut.


“Hikashi,” mengusap tangan pria tampan yang menyesap minuman dingin.


“Pulanglah, kau sudah selesai menyusun laporan. Aku mau istirahat.”


“Aku mau menginap disini.”


“Apa kau gila hah!”


“Istrimu belum pulang, dan anak-anakmu semuanya masuk kamar. Ayo kita lakukan sekarang, kau pasti butuh kehangatan bukan?” membuka blazer bajunya.


Ternyata Dannis hanya memakai dalaman renda ya g transparan. Sehingga warna branya yang kontras itu tercap jelas. Mata Hikashi melotot melihat pemandangan Indah itu. Ia menelan salivanya. Dan ingin menyentuh benda menantang tersebut.


Saat tangannya hendak menyentuh bagian tubuh yang disodorkan secara sukarela. Muncullah Frayza yang baru pulang kerja memergoki mereka berdua


“Akkhh...,” Dannus terjerembab mengbil blazernya dilantai.


“Sayang...” Hikashi mengejar Frayza.


“....” tangannya menahan Hikashi agar tidak mendekat. Sorot mata tajam wanita itu seperti roket.


Frayza berdiri diluar, menunggu sampai urusan keduanya selesai. Dengan perasaan malu dan canggung Dannis berpamitan dengan Frayza. Namun, uluran tangan gadis cantik itu ditangkis mentah-mentah. Frayza masuk kedalam rumah dan membanting keras daun pintu.


“Kau sebaiknya pulang cepat!”


“Hikashiiii.” Suara binalnya manja.


“Aku tidak berdebat, pulanglah!” menutup pintu mobil Dannis.


Hikashi ingin menjelaskan kepada Frayza apa yang terjadi secepatnya. Ini adalah salah paham. Rupanya Frayza sedang berada dikamar mandi. Ia menunggu sampai selesai, didalam sana ada wanita yang menangis memegangi dadanya yang pilu. Matanya melihat sendiri kelakuan bejat keduanya, dirumah yang ditempati dirinya dan anak-anaknya. Seperti apa hubungan keduanya bila ditempat kerja atau saat jamuan diluar. Frayza menangis hingga tuntas dan keluar dengn wajah memerah.


“Sayang, aku ingin bicara 4 mata denganmu.”


“...” melambaikan tangannya keudara untuk penolakan. Ia sudah terlanjur sakit hati.

__ADS_1


__ADS_2