
Hikashi harus berdamai dengan hati dan perasaannya. Keberadaan Franda disampingnya sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang Jade. Bagaimanapun juga Jade tetap membutuhkan sosok seorang ibu. Terlebih lagi Franda adalah ibu biologis dari Jade.
“Ayo Nak, kau harus makan lebih banyak lagi. “ pinta Franda saat menyuapi Jade yang susah makan. Balita itu terus menolak bujukan Franda.
Dari meja makan, sekarang Hikashi bersama Takeshi memperhatikan Franda yang kepayahan membujuk Jade. Tiba-tiba Hikashi berdiri dan berjalan menghampiri Jade. Takeshi sempat berpikiran buruk, bila Hikashi akan menghukum Franda. Seperti seorang suami yang menegur istrinya yang tidak lihai mengurus anak.
“Jade, Papa bantu pesawat isi bahan bakarnya. Wuzzzz miuuuuuu haaakkk. “ Hikashi sudah berhasil menyuapi Jade hingga suapan terakhir.
“Lagi Papaaaah, “ celoteh anak kecil meminta kepada Ayahnya.
“Sama ibumu ya, Papa mau berangkat bekerja bersama Paman Takeshi. Jadi anak yang penurut ya, nanti Papa sayang kamu lebih-lebih, muaacchhhh. “ mengecup kening putranya seraya berpamitan berangkat bekerja bersama Takeshi.
Franda terperangah melihat kehangatan seorang Hikashi. Matanya tak bisa berkedip melihat keramahan Hikashi. Baru saja ia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri, bahwa Hikashi ternyata peduli kepada Jade.
“Jade, kau dengar bukan kalau Papamu menyuruhmu untuk menjadi anak yang penurut bukan?”
“Eng,” mengangguk mengiyakan.
“Kalau begitu,kita sikat gigi dan ganti baju. Sebentar lagi kita jalan-jalan ya.”
Franda membawa Jade ke kamar, untuk selanjutnya dbersiap-siap pergi. Namun, ada sepasangan bola mata yang tidak suka melihat suasan pagi ini. Yaitu Matsumoto, dia masih meragukan Franda yang bisa saja memiliki alibi dibelakang. Karena Matsumoto masih belum bisa menerima sikap Hikashi yang menjadi baik. Masih mempertahankan Franda dengan alasan Jade butuh sosok seorang Ibu. Lagipula Jade sudah terbiasa dengan Frayza sebagai orang yang dia sebut Mama.
“Jangan merasa senang dulu, kau hanya selir. Jangan berkhayal lebih tinggi, mungkin sikap Tuan Hikashi bisa lunak karena ada anaknya.” Bisik Matsumoto mengintimidasi Franda.
“Tidak perlu ingatkan aku akan hal itu Ketua Matsumoto, aku paham bagaimana posisiku disini sebagai apa dan siapa.” Tegas Franda.
Mereka masih bersitegang dimanapun berada. Matsumoto kemudian pergi menyusul Hikashinyang lebih dahulu berangkat. Lalu ada Patrick yang membereskan meja makan.
“Pengurus Patrick, apakah Ketua Matsumoto itu oranganya usil begitu?”
“Tidak, dia hanya bersikap berjaga-jaga saja.”
”Sepertinya ia berburuk sangka kepadaku.” Masih memondong Jade dan menepuk-nepuk punggung anak kecil.
“Maaf Nona Frayza, pekerjaanku masih banyak.”
“Oh iya silahkan, aku juga mau pergi bersama Jade.”
Keadaan ini berlangsung hingga masa liburan di Bali selesai. Hingga tiba dimana Hikashi akan kembali lagi ke Inggris Raya. Tentu saja, Franda masih diajak karena statusnya sekarang ada Ibu pengasuh bagi Jade.
*
*
*
Di ruangannya bekerj, Hikashi duduk dan memeriksa laporan dari Takeshi. Ia nampak bingung membaca dokumen yang baru saja diserahkan padanya.
“Laporanku ada salah, apa kau yang sedang gundah?”
“Apa aku tanya pendapatmu apa?” Hikashi fokus memeriksa dokumen.
“Aku rasa kau jangan terlalu keras kepada Franda. Dia sudah menunjukkan perubahan kepada Jade. Dia mau berusaha menjadi ibu pengasuh.”
“Aku tidak peduli, itukan tugasnya. Karena Jade adalah anak kandungnya, memang apa peduliku.”
“Aw, masih bersikap dingin ternyata. Baiklah, aku akan tutup mulut.” Mengunci rapat bibirnya.
“Aku mau pendapatan bulan depan naik 13%, ini revisi lagi beberapa biaya operasional masih tinggi.”
“Oke,” mengambil berkas dokumen dan merevisinya kembali.
Takeshi keluar ruangan kerja Hikashi, dan berpapasan dengan Matsumoto. Sembari mengangkat kedua alisnya, “Dia butuh kopi.” Berbisik ditelinga Matsumoto.
“Sip,” mengangkat cup kopi yang ia tenteng sedari tadi.
Matsumoto menyalin wadahnya ke cangkir. Hikashi tidak suka minum langsung dari cup kopi. Ia lebih suka menikmati dengan cangkir, sedikit demi sedikit.
“Silahkan Tuan Muda,” menyodorkan cangkir berisi kopi panas.
“Hemmb,” mengambilnya dari nampan.
Matsumoto kembali bekerja dan mengecek jadwal kerja Hikashi. “Tuan muda, dalam waktu dekat akan diadakan lelang harta milik keluarga Nona Damora.”
“Aset apa saja yang mereka punya, bukankah mereka hanya memiliki bangunan saja setelah dikurangi hutang Bank?”
__ADS_1
“Menurut bocoran, pihak pengelola keluarga mereka akan melelah perhiasan dan beberapa barang antik.”
“Aku tidak minat, aku sudah punya banyak.”
“Dan ada sebidang tanah ladang kokain yang masuk daftar lelangnya juga.”
“Ck, berapa keuntungan yang aku dapat?”
“Menurut data yang sudah mereka keluarkan, hasil dari tanaman kokain itu bisa menembus pasar global. Dan kita akan membutuhkan bahan itu untuk campuran bahan kimia bukan?”
“Huffttt, cek saldoku sekarang. Aku mau mendaftar menjadi peserta lelang.” Hikashi mengancingkan jasnya dan pergi keluar.
“Baik Tuan muda, tapi sekarang anda mau kemana?”
“Aku mau pergi keluar mencari angin segar, jam 2 ada rapat. Ingatkan aku ya kalau sudah jam 1.”
“Baiklah Tuan Muda,”
Hikashi pergi diantar Matsumoto sampai di lobi Rumah sakit. Dan beberapa mobil pengawal mengiringinya. Ditengah perjalanan, Hikashi tiba-tiba berubah pikiran tidak ingin ke pantai. Seperti rencana awalnya, dia ingin ke Villanya.
Setelah tiba di Villa berdarah itu, Hikashi lalu menutup rapat sekelilingnya dengan seng. Ternyata didalam sana sedang ada proyek penataan bangunan. Hikashi mengawasi proyek tersebut dan menyaksikan keruntuhan Villa yang pernah menjadi saksi bisu pahitnya kehilangan bayi.
“Tuan muda, kami mendapatkan kartu memori ini. Ini adalah beberapa rekaman kamera pemantau yang yang mengambil gambar. Salah satu staff melihat jika ada beberapa orang keluar dari rumah dengan membawa kotak besar.”
“Kota besar?” Hikashi penasaran dengan benda yang dimaksut tadi. Tak ingin penasaran mengganggu pikirannya. Ia memutar rekaman tersebut, dan benar. Ternyata ada beberapa orang yang keluar dari Villa membawa kotak yang tertutup kain berwarna Hitam.
“Ternyata mobil yang membawa kotak itu adalah mobil ambulan. Dan terakhir berada di rumah sakit bersalin di Bali.”
“Tunggu sebentar, apa yang tertutup ini adalah kaca?”
“Ini lebih mirip seperti,” mulai menerka-nerka kotak yang mencurigakan.
“Sial! Berikan alamat rumah sakit bersalin itu!”
Anak buah melacak keberadaan rumah sakit bersalin itu dan segera menuju kesana. “ Katakan kepada Matsumoto jika ia pimpin rapatnya lebih dahulu. Aku akan segera kesana jika selesai urusanku.” Hikashi bergegas saat mendapatkan alamat rumah sakit bersalin.
Hatinya berdebar-debar, tidak salah lagi benda iti ada kotak penyimpanan bayi prematur. Jika bayinya mati seharusnya ada jasadnya ditemukan, atau sudah dikubur. Hikashi ingin memastikan jika bayinya memang masih hidup. “Papa datang Nak, beri Papamu pertanda Nak.” Ujar Hikashi panik sepanjang perjalanan menuju rumah sakit bersalin ditunjuk.
*
*
*
“Saat itu, kami hanya dipaksa untuk membawa pergi bayi kecil tersebut.Karena Nona Damora memberikan uang yang sangat banyak. Setelah beberapa hari Nona Damora tidak kunjung memenuhi janjinya kepada kami. Maka, bayi itu terpaksa kami tawarkan saja untuk diadopai orang lain.”
“Apa! Jadi kalian menjual bayiku!” mencekik leher orang yang menjadi saksi kunci.
“Uhukkk... Uhukk Tuan, aku susah bernapas.”
“Kepada siapa kalian menyerahkan bayiku?”
“Maaf, kami tidak bisa memberitahukannya kepada anda.”
“Baiklah, jika ini mau kalian. Aku tawarkan uang dan timah panas. Kau pilih yang mana?”
“Maafkan kami sekali lagi, kami sudah menanda tangannya. Jika kami sebutkan profil orang tersebut maka,”
“Dasar tidak berguna!”
Dorrr... Dorrrr... Hikashi melepaskan tembakan peringatan.
“Ampunn, ampuni kamiii.”
“Tuan tolong, jangan tembak kami.”
Kedua tenaga medis itu berjongkok dan mendekam kepalanya ketakutan. Mereka bersikeras untuk tidak membocorkan rahasia siapa pengasuh bayinya. Dan datanglah pengawalnya yang memberitahukan bila Hikashi harus segera menghadiri rapat penting.
“Kali ini kalian bisa lepas begitu saja, aku buat perhitungan dengan kalian!” ancam Hikashi dengan pistol yang masih mengeluarkan asap.
Keduanya masih ketakutan dan ngeri dengan kemarahan Hikashi yang mudah meledak. Segera Hikashi meninggalkan rumah sakit tersebut. Untuk melanjutkan pekerjaannya lagi.
Setelah mobil Hikashi benar-benar sudah pergi, mereka lantas mengirim pesan kepada Julian. Mereka bilang baru saja Hikashi datang dan mengamuk mencari anaknya. Julian yang panik segera mengirimkan uang untuk kedua orang tadi untuk meninggalkan Bali. Agar Hikashi tidak menemui mereka lagi dan mengorek informasi lebih detil tentang anaknya. Hal ini disetujui oleh petugas medis itu, mereka kabur lewat pelabuhan. Selanjutnya mereka menuju Papua untuk pelarian dari kejaran Hikashi.
*
__ADS_1
*
*
---SINGAPURA---
Saat ini Julian menjenguk keponakannya yang masih dirawat intensif. Perkembangannya sangat pesat dan tumbuh sehat. Wajah bayi ini mirip dengan Hikashi. Bahkan tidak ada sedikit yang mirip dari Frayza.
“Hai ponakanku, sekarang kau sudah bisa membuka mata ya. Ini Uncle Joe, ao malaikat kecil.” Sapa Julian ketika membesuk keponakannya.
Bibi Fang yang selalu Setia menemani Julian juga ikut senang terhadap perkembangan bayi Frayza yang sehat. “Apakah Ibunya sudah ada perkembangan belum?”
“Entahlah Bibi Fang, setahuku Dokter Kelvin dan Tuan Ramon sedang berupaya keras menyembuhkan kakakku dari komanya.”
“Jahat sekali ya orang yang melakukan kejahatan itu kepada si malang Frayza.”
“Kita doakan saja, semoga Kak Frayza lekas sadar dan bisa menggendong bayinya.”
“Tentu saja, ku harap Dokter Kelvin berhasil menciptkan obatnya. Agar Frayza bisa hadir ditengah-tengah kita.”
“Benar sekali Bibi Fang, semoga kakakku lekas sadar dari komanya.”
Untunglah Julian dapat diandalkan untuk dititipi bayi Frayza yang prematur. Dengan demikian, Julian ada harapan bisa berkumpul kembali bersama kakaknya. Dan mengembangkan bisnisnya, karena jujur. Sekarang ini rancangan karya Frayza jauh diminati pelanggan butiknya. Ini artinya keuangan Julian dapat terselamatkan juga.
“Aku akan merawat baik-baik anak Kak Frayza ini. “
“Bibi tidak setuju, kau masih bujang dan labil. Lebih baik kau fokus saja mengelola pesanan butik.”
“Lalu bayi ini?”
“Aku sudah berpengalaman mengasuh bayi, dan sepertinya kau perlu merekrut pegawai baru. Untuk membantumu, karena Bibi rasa bayi ini jauh lebih membutuhkan Bibi.”
“Bibi Fang, kau penyelamatku.” Julian memeluk Bibi Fang yang sudah seperti ibunya.
“Dan kau harus ingat, biaya bayi ini tidak murah. Jangan lupa menjenguknya di akhir pekan.”
“Iya Bibi, aku akan rutin mengirim uang dan menjenguk kalian.” Senyum terkembang dari bibir Julian.
Kemesraan Julian dan Bibi Fang ini mengundang komentar negatif orang yang melihatnya. Pasalnya, mereka berpikir kalau Bibi Fang ada wanita tua yang menikahi pria muda.
“Tidak ku sangka, jika pria setampan dia hanya menikahi wanita paruh baya. Dan parahnya lagi wanita itu melahirkan anak yang prematur.”
“Pasti wanita tua itu kaya, mana mau pria muda sperti dia itu menikah karena Cinta. Pasti ada motivasi lain juga.” Balas teman wanita yang bergosip.
Dibarisan kursi tunggu, tampak seorang wanita memakai kardigan berwarna hitam. Duduk mengusap perutnya yang sudah membesar. Ia membenarkan kacamatanya, memastikan siapa orang yang sedang menjadi topik pembicaraan wanita disebelahnya duduk.
“Julian?” sebut Rose ketika melihat Julian bersama Bibi Fang menggendong bayi.
Tidaklah mungkin Julian melakukan hal serendah itu, benar Bibi Fang usianya terpaut beberapa belas tahun saja. Tapi Bibi Fang tidak mungkin melahirkan anak dari Julian. Sedangkan kini Rose tengah hamil anak Julian. Karena penasaran yang besar, Rose akhirnya mengekor diam-diam. Dia hendak menguping pembicaraan Julian dengan Bibi Fang. Tampaknya Julian tidak mengenali penampilan Rose yang sekarang ini.
Saat dia hamil, Rose mengakhiri hubungannya. Dan ia dikeluarkan dari tempat kerjanya di Kedutaan. Sekarang Rose hanya bekerja sebagai agen penyalur tenaga kerja asing. Karena kehamilannya sudah mulai tua. Ia mulai mengurus persiapan persalinannya. Sebernarnya Rose bisa saja menemui Julian untuk dimintai pertanggungjawaban. Namun, ia takut jika merusak kebahagiaan yang kini tengah dirasakan Julian. Mungkin inilah resiko yang harus Rose terima. Ia menjadi pengecut dan memilih mengintai dari jauh saja. Padahal Julian juga diam-diam merindukannya. Ia takut terjadi sesuatu antara mereka saat melakukan hubungan terlarang itu. Pasalnya ketika mereka di Jepang, mereka rutin melakukannya.
Rose akhirnya melihat Julian pulang bersama Bibi Fang. Ia membukakan pintu agar Bibi Fang masuk kedalam mobil. “Hemmb, hampir saja.” Rose bersembunyi di balik tembok saat Julian memergokinya.
“Bibi Fang, apakah kita dirumah sakit ada yang mengawasi kita?” tanya Julian kala melihat sosok wanita hamil besar berlari.
“Tidak ada, oh mungkin itu perasaanmu saja Julian.” Jawab Bibu Fang.
“Oh, tapi aku rasa ada seseorang yang membuntuti kita.”
“Benarkah? Hahaha mungkin dia fans beratmu.”
“Tidak mungkin, aku kan tidak seterkenal dulu.”
Rose membatalkan pemeriksaan kandungannya. Ia bergegas masuk kedalam mobil untuk mengikuti Julian pergi bersama Bibi Fang. Awalnya Julian hanya mengantar Bibi Fang sampai halaman rumahnya saja. Setelah itu, Julian memarkirkan mobilnya di Butij yang sekaligus menjadi rumahnya juga.
“Oooo, jadi mereka tidak tinggal seatap ya. Syukurlah, tapi apakah benar jika Julian menjalin hubungan terlarang juga?” Rose bicara sendiri didalam mobilnya.
Sampai saat ini Rose hanya bisa menebak-nebak saja tentang hubungan Julian. Namun, ia sedikit ada rasa taku kehilangan. Ia masih menyimpan rapat-rapat nama Julian didalam hatinya.
Julian kembali kemeja kerjanya, ia menyalakan ponselnya. Dari layar latar ponselnya masih tersimpan fotonya bersama Rose saat di Jepang.
“Sekarang kau ada dimana Rose?” ucap Julian penuh kerinduan.
Setelah beberapa saat ia larut dalam kenangan, Julian melanjutkan lagi gambar desain koleksi terbaru. Setelah mendapat beberapa gambar tiba-tiba ada panggilan masuk dari Amerika.
__ADS_1
“Aku baru saja melihat kondisi bayi Kak Frayza, sudah ada perkembangan yang signifikan. Dan bulan depan sudah bisa lepas alat bantu, tapi harus dirawat di rumah sakit. Sampai benar-benar sudah mencapai target ideal.”
Orang didalam sambungan telepon dengan Julian adalah Dokter Kelvin. Selain mengurus Frayza di Amerika, ia juga memantau perkembangan bayi Frayza juga. Julian sangat antusias saat memperoleh video jika Frayza sudah pulih dari koma. Sekarang sudah bisa duduk dan belajar sensor motorik pada tubuhnya.