
“Aku membawamu kemari karena keinginan Nona Frayza. Jadi jaga bicaramu, jangan sampai menyakiti hatinya.”
“Iya Ketua Matsumoto,” Franda merasa sedih, akibat kedatangannya membawa petaka dan masalah.
Ceklek, pintu kamar Frayza terbuka. Aroma harus segar menyeruak dan udara begitu hangat. Tampaknya Frayza sudah bangun dan memegang buku. Ia membaca buku itu sesekali bibirnya tersenyum simpul. Rambutnya tergerai Indah, samar-samar warna rambutnya hitam keunguan tampak cocok dengan warna kulitnya yang kuning cerah.
“Selamat pagi Nona Frayza,” tegur Matsumoto terlebiha dahulu.
Frayza menutup bukunya dan menganggukkan kepalanya agar mempersilahkan Franda masuk. Adinya berjalan pelan tertunduk malu, kepalanya terasa berat menanggung malu dan dosa. Sudah banyak kejahatan yang ia lakukan kepada kakak perempuannya ini. Sekarang Franda ingin memohon ampunan, setelah semalam ia introspeksi diri.
Brukk, Franda langsung berlutut dan menangis memohon ampunan. Bibirnya kelu tak mampu berkata-kata lagi, dia sekarang bagaikan dasar lembah jurang yang dalam. Ketika ia tanpa sengaja melihat Frayza menolah, wanita yang dulu ia risak sekarang memiliki wajah yang cantik. Serta bibir hang merah merekah dambaan setiap wanita.
“Ada apa?” tanya Frayza heran tiba-tiba Franda berlutut.
Tak kunjung dijawab oleh Franda, Matsumoto menowel punggung Franda agar segera bicara. Tetapi Franda sudah tak sanggup bicara lagi, ia menggelengkan kepalanya berulang kali. Tanda ketidak sanggupan Franda mengakui perbuatannya. Geram melihat sikap Franda yang tidak ada sopan santunnya kepada istri Bosnya. Matsumoto mengambil alih bicara.
“Nona, maafkan saya bila Nona Franda tidak bergeming.”
“Bawalah ia menemuiku ketika ia sudah siap bicara. Pergilan,” membuka bukunya kembali. Matsumoto membawa keluar Franda yang masih meneteskan airmata penyesalan.
(Bagaimana bisa wanita secantik dan sesempurna Kak Frayza mau memaafkanku ini. Franda, tidakkah kau ingat betapa jahatnya dirimu dulu. Sudah berapa banyak hal berharga yang sudah kau rampas dengan kejam. Bahkan sampai kau buat kematian Frayza adalah hal yang patut dirayakan. Jika aku menjadi Kak Frayza sudah pasti kubunuhh karakterku hingga tak ingin menginjakkan bumi lagi. Dulu aku terlalu sombong dengan yang ku punya. Ternyata Tuhan membalikkan situasiku yang hina ini).
Franda menoleh kebelakang, lengannya dipegangi oleh Matsumoto. Brukk, hidung Franda menabrak pundak Matsumoto. Apa yang membuat pengawal sadis ini berhenti. Seorang pria berdiri memakai setelan baju mahal. Ditangan kanannya memegang ponsel mahal keluaran terbaru.
“Siapa dia Ketua Matsumoto?”
“Dia orangnya Tuan Hikashi, ikut sopir sekarang. Dan jangan kemana-kemana sampai aku kembali.”
“Baik, Ketua Matsumoto.” Franda memperhatikan pria tampan berambut abu-abu terang seperti penyanyi Korea.
Kedua lelaki itu bicara di taman Rumah Sakit, awalnya mereka bicara mengenai pekerjaan dan keadaan majikannya. Itu hanya basa-basi agar suasana mencair.
“Jadi wanita itu ya yang membuatmu sibuk?”
“Dia menjadi tanggungjawabku sekarang.”
“Apakah kau bisa jamin hal itu, diakan cantik dan subur.”
“Kau gila!” tersinggung dengan ucalan Kenzo baru saja.
“Hampir,” celoteh Kenzo.
“Pantas saja, bicaramu ngawur. Kenapa tidak mengabari aku jika kau tiba di Bali.”
__ADS_1
“Tidakkah Ketua Matsumoto mengecek ponselmu.”
“Oh maaf, aku terlalu sibuk akhir-akhir ini.” Barulah ia mengecek ponselnya yang berisi pemberitahuan berita.
“Jika kau sibuk mengurusi wanita itu, ku harap benar adanya. Karena aku kemari untuk berlibur, bukan bekerja.”
“Apakah Tuan Hikashi tahu kau kemari?”
“Dia yang memintaku kemari karena Ketua Matsumoto disini.”
“Kenzo, maafkan aku sudah mengabaikanmu.”
“Jadi selama ini Ketua Matsumoto tidak mempertimbangkan perasaanku ya. Jika mudah minta maaf tanpa memperbaikinya, untuk apa?”
“Sudah, sudah jangan marah. Aku tahu belum bisa mengerti status hubungan kita ini apa. Jujur, aku yang salah bila kau memiliki perasaan yang berbeda kepadaku. Biarkan aku fokus dulu, dan...”
“Dan? Artinya kau gamang begitu? Ck, kau membuatku kecewa sekali.” Mendorong Matsumoto kesal.
Padahal Kenzo sudah percaya diri dengan memberikan kejutan untuk Matsumoto. Penampilan barunya ini agar lebih tampil beda dan baru. Namun, ia merasa perasaan Matsumoto sudah berubah. Ia tak lagi ingin memaksakan diri agar bisa dihargai keberadaannya. Bila hadirnya sudah tak diakui, jadi untuk apa? Seperti tujuan awalnya yaitu menjenguk Frayza, Kenzo yang tanpa sengaja bertemu Matsumoto ini seperti patah hati. Ia menemui Nona Bosnya, dan mulai curhat soal hubungannya. Cukup lama juga Kenzo berkonsultasi dengan Frayza hingga jam makan siang tiba. Perawat dan petugas Rumah Sakit masuk mereka membawa makanan lebih banyak dan bunga yang segar.
“Apakah ini layanan kamar VVVIP?”
“Biasanya tidak seperti ini, apa ini salah kamar ya?”
Hikashi masuk tepat saat Kenzo hendak keluar dari pintu. Wajah mereka saling berpapasan bertatap muka. Dipergoki langsung oleh suami wanita yang baru saja ia besuk. Seperti maling yang terciduk si pemilik lahan. Hikashi menarik kerah belakang Kenzo seperti kucing liar.
“Ada urusan apa Kucing ini?” menanyai Frayza.
“Dia datang membesukku Sayang, itu.” Melirik buah tangan bawan Kenzo.
“Apaa ini?” benda unik berwujud binatang.
“Itu kucing hoki Sayang,”
“Kecil sekali seperti kerikil.” Cela Hikashi.
“Ya memang kecil, kan aku mau menaruhnya di dasbor mobil.”
“Mobil siapa?”
“Salah satu mobil yang kau miliki mungkin, jika kau ijinkan hehehe.”
“Benar begitu?” menanyakan kepada Kenzo.
__ADS_1
“Hu’um iyayaya Tuan Muda.” Mengangguk.
“Kau suka benda ini?” gilirannya Frayza yang ditanyai.
“Itukan hadiah Sayang, jadi aku suka.”
“Pasang di mobilmu sendiri, jangan di mobil milikku.” Ngambek.
“Ha~~~ aku kan tidak punya mobil Sayang.”
“Aku belikan sebagai kado membesukmu.” Menjawab ketus.
“Miniatur mobil kecil ya?”
“Hiiissss,” Hikashi berjalan mendekati Frayza dengan tangan menjulur tepat diwajahnya.
Frayza memicingkan matanya takut jika disentil Hikashi. Tapi, Hikashi mengusap rambutnya dengan lembut. “Aku akan berikan mobil terbaik untuk istriku, kau boleh mengisinya dengan aksesoris kesukaanmu.”
Sudah berpikiran buruk, ternyata Hikashi hendak memberikannya mobil sungguhan. “Apa kau serius?”
“Kenzo, pergilah ke Dealer mobil dan carikan mobil yang memiliki tingkat keamanan yang baik.”
Yang benar saja, seberuntung ini Frayza memperoleh mobil dengan mudah. Kenapa Hikashi membelikan ia mobil baru. Padahal Frayza bisa memilih mobil manapun yang ia mau kan. Hikashi memiliki mobil banyak, jika salah satunya ia minta pasti tidak masalah bukan.
“Tunggu apalagi? Kau mau mengganggu makan siangku?” usir Kenzo.
“Oh iya baik, saya akan segera belanjakan mobilnya Tuan Muda.”
“Mengganggu saja,” bibirnya komat-kamit kesal.
Sekarang tinggal Hikashi dan Frayza dikamar pasien. Suasananya berubah seperi Restoran mahal. Tanpa basa-basi Hikashi mengajak Frayza untuk makan siang. Diperlakukannha dengan baik istrinya. Ia menyuapinya serta mengelap bibir istrinya.
“Jangan banyak bergerak, aku akan membantumu.”
“Terimakasih Suamiku,” menambahkan bantal pada punggungnya.
“Makan yang baik, kita disini untuk berlibur dan bersenang-senang.”
“Maafkan aku sudah merusak rencanamu.”
“Tak apa, lekaslah sembuh agar kita memiliki banyak waktu berkeluarga. Nantinya aku juga akan sibuk bekerja lagi kok.”
“Hemmm,” mengunyah makanan lezat yang disuapkan.
__ADS_1