TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
TIDAK BOLEH IKUT!


__ADS_3

“Oke Sayang, karena kau sudah ada disini. Katakan kau mau aku melakukan apa?” bertumpu dipaha Frayza yang duduk dihadapannya.


“Suamiku Sayang...” membelai kepala Hikashi seperti kucing pada majikan.


“Hmmm apa, mau bilang apa katakan saja.”


“Papa-Mama bisakah kalian melihatku sebentar saja?”


“Jade.” Jawab kompak mereka berdua.


“Baiklah... Baiklah, lanjutkan saja. Anggap saja aku lalat atau debu.”


Melanjutkan percakapan yang terpotong oleh Jade. Hikashi meletakkan kepalanya dipaha Frayza sambil menciumi aroma tubuh istrinya.


“Suamiku, bisakah kau beri aku alasan kenapa Jade harus melanjutkan sekolah keluar Negeri?”


“Jadi kau kemari menipuku bilang rindy padaku, hanya demi anak itu!” menunjuk Jade yang bermain dipojokan.


“Apa? Apa salahku lagi, aku main dipojokan menjauh biar tidak mengganggu. Apa salahku?” sanggah Jade yang merasa menjadi sasaran ayahnya.


“Suamiku?” memutar wajah Hikashi dan mendekatkan wajah keduanya.


“Hmmmbb...” termangu melihat keindahan istrinya yang luar biasa.


“Menurut ya apa kataku.” Hikashi mengangguk.


“Cih kalau begitu saja nurut, kalau aku atau Seven yang meminta diabaikan. Dasar Papa manja!” gerutu Jade dipojokan kantor Hikashi.


Dengan kelembutan dan kasih sayang Frayza yang meminta Hikashi melunak. Akhirnya suaminya setuju untuk mendengarkan keluh kesah istrinya.


“Jade keberatan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.”


“Aku keberatan membiayainya sekolah kalau begitu.”


“Aku yang akan biayainya sekolah yang ia sukai.”


“Tidak ku ijinkan kau bekerja, sehingga kau berdiam diri dirumah menunggu nafkah dariku saja.” Bibir Frayza cemberut.


“Aku sudah putuskan masa depan mereka seperti apa. Tugasmu menyenangkanku saja Istriku.”


“Tapi bagaimana jika putra kita tertekan disana jauh dari keluarga?”


“Aku akan lebih tertekan jika ia menyelonong masuk kamar kita.”

__ADS_1


“Ya Tuhan, ku pikir apa.” Memijat pelipisnya.


“Frayza, aku adalah ayah mereka.”


“Dan aku iby mereka juga kan.”


“Diatas anak ada ibu, ibu rumah tangga harus taat kepada suami. Dan akulah kepala keluarga yang berkuasa.”


“Lalu aku memintanya sebagai istrimu.”


“Mintalah hal lain, jangan mengutak-atik jalur pendidikan yang harus ditempuh Jade. Penerusku tidak boleh mengenyam harta warisan saja. Aku juga mau melihat kapasitasnya sejauh mana layak memimpin perusahaan nanti.”


“Aku mengerti.” Memalingkan wajahnya menatap lantai.


“Sayangku...” menarik dagu istrinya yang membuang wajah.


“Hmmmbb.” Ngambek.


“Kita akan sering mengunjungi Jade, tidak ada yang namanya perpisahan. Biarkan putra kita belajar kehidupan secara mandiri dan alami. Dia seorang pria yang harus tumbuh memiliki karakter yang kuat. Janganlah kau menuruti semua keinginannya karena terlalu sayang. Oke?”


“Oke.”


“Jawabnya jangan begitu dong, aku tidak suka. Yang manis, yang nurut, yang imut kenapa sih.”


“Nanti selepas dari sini kita melepas rindu ya dikamar hihihi.”


“Nakal!” mencubit pipi Hikashi.


“Jade kemari, jangan dipojokan seperti tuyul.”


“Apa itu tuyul Papa?”


“Anak yang cari uang untuk orang tuanya hahaha.”


“Ih nakal, kau samakan anakmu dengan anakan setan!” protes Frayza.


“Bercanda Sayang, habisnya dia mengadu pada dirimu. Dia pikir aku akan melunak apa karena kau mendukungnya.”


“Namanya anak usaha, seorang ibu bisa apa.”


“Usahamu cukup senangkan aku saja nanti, kau sudah kepalang bilang rindu. Nanti kita tuntaskan dirumah.” Mulai menagih janji.


“Kau ini, kalau bab 1 itu tidak bisa ditolerin.”

__ADS_1


“Kebutuhan wajib Sayang, tapi kau tidak menolak bukan hehehe.”


“Aku terima dan mendesah saja hihihi.”


“Istri pintar, ayo kita pulang.”


“Jadi apa keputusannya terhadap sekolahku?”


“Kau tetap melanjutkan pendidikan di Inggris sampai selesai tingkat pertama. Setelah tingkat akhir Papa pikirkan lagi kemana kau melanjutkannya.”


“Mamaaa....” merengek


“Kau akan senang Jade, maafkan Mama. Kali ini Mama setuju dengan Papa mu mengirim ke luar negeri.”


“Tapi... Tapi... “


“Jade, putraku.”


“Apa Ma.”


“Seorang anak bangsawan harus mengenyam pendidikan yang tinggi. Karena kau bukan dari keturunan sembarangan. Keistimewaanmu inilah yang akan membuka jalanmu kelak menjadi pria hebat. Tanpa atau dengan dukungan Papamu. Mama hanya bisa memberiku semangat dan doa agar sekolahmu menyenangkan.”


“Apakah kalian membuangku karena alasab suka mengganggu dirumah.”


“Bukan... Bukan seperti itu Jade. Ini murni agar kau bisa berkembang menjadi lebih matang.”


“Jangan mulai perdebatan lagi Jade, Paman Hiroshi akan menikah. Sebaiknya kau cari kado bersama Seven sana!”


“Pengalihan topik pembicaraan.”


“Bawalah kartu ini dan ajak serta Matsumoto mengawal kalian.”


“Lalu Mama dan Papa mau ngapain?”


“Ya tentulah kami bekerja keras, pekerjaan yang hanya bisa Papa dan Mama kerjakan berdua.”


“Ikuttttt.”


“Eh kok ikut, tidak boleh!”


“Hikashi, jangan mancing-mancing rasa penasaran anakmu sendiri kenapa sih.”


“Heheheh maaf Sayang, habisnya dia menyebalkan sih.”

__ADS_1


“Kau juga rese, sama anak dikerjai terus.”


__ADS_2