
Andreas adalah anak tunggal yang kelahirannya amat dinantikan keluarganya. Selama 10 tahun pernikahan orang tuanya menjalani bahtera pernikahan. Ketika Andreas lahir, semuanya sudah tersedia. Bahkan asuransi pendidikan dan aset milik orang tuanya sudah menjadi miliknya. Selain mewarisi harta orang tuanya, Andreas tumbuh menjadi anak yang baik. Tak jarang ia mendapatkan predikat siswa berprestasi dimana ia menuntut ilmu. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk pindah kuliah keluar negeri. Sempat menempuh pendidikan beberapa semester di Singapura dan menjadi teman Frank di klub basket. Begitulah biodata singkat Andreas.
“Ibumu pasti akan sangat senang karena hari ini kau menyempatkan makan siang.”
“Ibu senang karena aku kedapatan berkencan dengan wanita, huft.”
“Andreas, sampai kapan kau akan menunda pernikahanmu?”
“Terserah ayah-ibu saja mencarikan baiknya calon istriku. Saat ini aku tidak mau direpotkan masalah pernikahan.”
“Teman ibumu sudah memamerkan cucu-cucu mereka yang sudah masuk sekolah dasar. Dia mengalami tekanan batin yang kuat.”
“Makanya ayah carikan saja istri yang mampu memberikan cucu sekaligus. Dengan begitu beres kan?”
“Apa kau pikir ayah tidak tahu trikmu itu. Dulu kau bersekongkol dengan Megan untuk berkencan. Ternyata kalian tidak ada niatan untuk menikah.”
“Ayah, itu karena Meghan tidak mau hamil dan terikat dalam pernikahan. Baginya, karirnya adalah segalanya.”
“Dan kau pun tak ada bedanya dengan dirinya, entah apa yang terjadi pada generasi muda sekarang yang mulai bergeser pola pikirnya.”
Mobil sedan mewah itu memasuki kawasan elit pemukiman orang kaya. Dimanan berjajar bangunan megah dengan tembok yang menjulang tinggi. Sebuah rumah mewah yang memiliki kaca besar pada dindingnya. Dikelilingi pohon tinggi sebagai peneduh halaman.
Isi rumah orang tuan Andreas yang modern ini sangat rapi dan elegan. Tidak banyak hiasan dinding, hanya beberapa piagam penghargaan yang ditata rapi. Pelayan menyiapkan meja makan di taman yang Indah dengan bunga yang bermekaran.
“Ibu, aku pulang muacchh.” Mencium pipi ibunya yang menyiapkan bunga divas.
“Muachh, Ibu sengaja memasak makanan kesukaanmu. Duduklah.” Sambut ibunya hangat.
__ADS_1
“Terimakasih Bu,” Andreas duduk disebelah ayahnya yang sudah duduk terlebih dahulu.
Ibunya melayani putra yang dirindukannya. Karena Andreas lebih memilih tinggal sendiri di Kondominium miliknya sendiri. Hal ini ia lakukan karena tidak ingin terjadi konflik dan salah paham. Ibunya selalu menjodohkannya pada anak kerabat dan kenalannya. Sehingga Andreas sulit menolaknya dan berakhir tidak lancar. Sedangkan ayahnya menekan agar dirinya mencari pasangan hidup agar lebih fokus dalam karirnya. Suatu ketika saat Andreas dan Meghan memutuskan untuk mengakhiri hubungan spesial. Ayah dan ibu Andreas murka, karena Meghan adalah sosok wanita yang sepadan dengan Andreas. Karena hubungan Meghan dan Andreas masih berjalan baik. Perlahan orang tua Andreas mulai melunak dan tidak memaksakan kehendak mereka lagi. Sekarang Andreas dibiarkan memilih pasangannya asal dari keluarga baik-baik.
“Sayang, mengenai pesta ulang tahunmu. Apakah kau sudah memiliki pasangan untuk berdansa?”
“Belum, mungkin aku akan mengajak Meghan sebagai pasangan dansaku.”
“Kau ini tidak malu apa, masih menggandeng mantan pacarmu kesana kemari. Jangan membuat Meghan sulit dapat jodoh, bawa saja wanita yang kau bawa ke klinik! “ bentak ayahnya.
“Ayahhhh, dia adalah wanita yang baru aku kenal. Aku tidak berani mengajaknya untuk pergi. Dan kakinya juga masih cidera.”
“Apa penyebab kakinya cidera itu?”
“Aku yang mencelakainya, nyum nyum nyum.” Mengunyah makanan sedikit kesal.
“Jika kau menganggapnya biasa, apa dengan mengosongkan klinik itu wajar?” seorang ayahnya lagi.
“Ayah, aku hanya ingin dia tidak mengantri lama.”
“Ckckc Andreas sayang, kau bisalah minta buat janji dengan Dokter yang ada disana. Sehingga ia tidak perlu mengantri lama.”
“Lain kali ku lakukan,” jawabnya dengan nada rendah.
Kaki ibu dan ayah Andreas saling menendang untuk memberikan sinyal-sinyal terhadap putranya. Mereka bertatap mata seolah bicara lewat telepati mengenai Andreas.
“Aku sudah selesai makan siangnya, terimakasih.” Andreas mengusap pinggiran bibirnya.
__ADS_1
“Putraku, habiskanlah makanan ini.” Pinta ibunya.
“Aku sedang menunggu Meghan menjemputku sekarang, dia sudah dekat. Lima menit lagi sudah sampai, akh mau mengambil barang dikamarku.” Andreas menuju kamarnya saat masih remaja dan mengabsen barangnya yang masih tersusun rapi.
Lalu Meghan masuk kedalam rumahnya menyapa paman dan bibinya. Selama ini Meghan cukup menolong Andreas saat terpojok seperti ini. Meghan tahu, kenapa orang tua Andreas ingin segera menikah. Karena takut jika kesulitan memiliki keturunan seperti mereka waktu dulu. Meghan hanya bisa meredam gejolak orang tuan Andreas dengan mengatakan Andreas akan menemukan wanita yang cocok.
Mendengar perkataan Meghan yang seperti ini, ibu Andreas sedikit tenang. Semoga putranya lekas menikah dan diberi keturunan dengan cepat. Dan suaminya sepemikiran dengan ibu Andreas. Usai kepergian Andreas dan Meghan, ibunya menyuruh ajudan pribadinya untuk mengawasi gerak gerik Andreas. Dengan begitu petunjuk dan titik terang dapat ia kantongi. Latar belakang pekerjaan ibu Andreas adalah kepala kepolisian sektor kota. Wanita ini tidak bisa dianggap remeh, waktu muda sudah banyak rekor dan penghargaan yang ia terima sebagai perwira kepolisian.
Dengan cepat ibu Andreas tahu jika Frayza mengelola butik bersama adiknya. Dan tinggal di apartemen yang sama, dan memiliki asisten rumah tangga seorang wanita paruh baya. Beberapa hari kemudian, ibu Andreas memberanikan diri ke butik. Disana Frayza tengah mengukur badan Andreas. Sebelumnya Andreas meminta Frayza untuk membuatkan baju yang akan dipakai di hari spesialnya nanti.
Hati Andreas berdegub kencang ketika Frayza berdiri tepat didepannya. Wanita yang memiliki kulit wajah yang mulus dan bibir ranum yang merekah. Serta matanya yang sayup manja seperti wanita yang bangun tidur.
“Apa aku sedang mengganggu kalian,” Ibu Andreas berjalan sambil mengatakan hal itu.
Sontak Andreas kaget sekali, ibunya bisa menemukannya sekarang bersama Frayza yang tengah mengukur badannya.
“Ibu,” sebut Andreas kaget.
Frayza melihat wanita yang berpakaian seragam perwira tinggi polisi itu mendekatinya. “Selamat datang di butik, ada yang perlu aku bantu Nyonya.”
“Tidak banyak, aku hanya sedang mengikuti putraku.” Andreas maksutnya.
“Oh Tuan Andreas, saya sedang mengukur badannya.” Masih melilitkan meteran di dada Andreas.
“Teruskan saja, aku akan melihat-lihat kalau begitu.” Ibunya berjalan sambil mengamati koleksi baju yang berada di butik.
Pikiran Andreas langsung kacau, jangan-jangan ibunya sudah tahu kelakuannya selama ini. Beberapa hari ini Andreas menyempatkan diri untuk menjemput Frayza kerja. Dan seusai pulang kerja, ia selalu datang ke apartemennya membawakan makanan. Ternyata Andreas sudah diterima baik dikeluarga Frayza. Ibunya menilai Frayza yang sedang mengukur badan Andreas. Dari tatapan matanya saja sudah seperti memperoleh mangsa yang siap digigit.
__ADS_1