
Subuh ini terjadi hal yang sangat menarik, yaitu saat Matsumoto hendak berendam air panas. Pintu terbuka, dan seorang wanita yang terbiasa berpakaian tanpa dalaman berteriak histeris.
“KAU!” kejut Matsumoto yang kaget munculnya Helena.
“Ahhhh... Kecil!” ia pun menutup matanya sesekali mengintip.
“Kutang ajar!” mengambil handuknya dengan cepat.
“Hahahaha aku tidak sengaja Tuan Galak.” Membalikkan badannya.
Matsumoto keluar memakai handuk yang terbelit handuk sepinggang. Ia sangat kesal dengan wanita yang ia tawan dirumahnya. Baru saja keluar dari tahanan, hendak merileksasikan pikiran. Baru terpejam sejanak muncullah Helena yang seenaknya masuk akses pemandian air panasnya.
Saat sarapan pagi, Helena terus tersenyum. Ia mendapatkan kelemahan Matsumoto. Pria yang selalu menjadi lawan bicaranya. Tampaknya Matsumoto tidak menggubris Helena yang duduk saling berhadapan.
“Ehemmbb... Akhir-akhir ini kau sibuk sekali.” Memulai pembicaraan.
“Jangan khawatirkan aku, itu hal yang percuma untuk menarik perhatianku.” Ketus dirinya menjawab.
“Aku merasa tinggal disini seperti rumahku sendiri. Jadi, maaf jika aku melihatmu saat itu hahaha.”
Alis kanan Matsumoto naik dan memicingkan matanya, sinis. “Sudah selesai berfantasinya?”
“Ups.” Menutup mulutnya rapat.
“Aku menampungmu disini tidak gratis, semuanya harus dibayar. Dan mengenai pemandian air panas, aku akan melupakannya. Kelak kau jangan sok kenal, antara kita hanya hubungan Dermawan dan Gelandangan.”
“A-apa maksudmu menyebutku Gelandangan?”
Helena mengejar Matsumoto yang menyudahi sarapannya. Tapi langkahnya tak cukup kencang. Dia terengah-engah mengejar Matsumoto yang sudah pergi menaiki mobil balap.
“Cih, punyamu begitu kecil. Sok-sok an menyatakan diri sebagai Dermawan, dasar biji kesemek!” kutuk Helena.
“Nona, anda harus bersiap. Karena tadi Tuan Matsumoto menyuruh sopir untuk mengantar anda pulang kerumah.”
Seorang pelayan wanita yang memakai yukata menyapa Helena. Matsumoto ternyata memiliki selera yang tinggi terhadap pelayan yang ia pekerjakan dirumahnya. Mungkin inilah alasan kenapa ia masih melajang sampai saat ini. Dikelilingi wanita cantik dan lemah lembut, pikir Helena tentunya.
Berat hati ia meninggalkan rumah ini yang sudah menjadi tempat tinggalnya beberapa hari. Suasana yang nyaman, serta asupan udara yang segar dihasilkan. Membuat otaknya berpikir jernih tentang ide-ide karya baru. Beberapa hasil gambarnya sudah ia tata rapi. Tak ketinggalan ia sebenarnya sudah melukias Matsumoto dengan versi lain. Memiliki rambut, hal yang kurang pada Matsumoto. Lukisan Matsumoto itu dititipkan kepada pelayan dirumahnya. Agar diperlihatkan kepada Matsumoto ketika kembali. Namun sayangnya, pelayan di kediaman Matsumoto menolak menerima apapun dari Helena. Karena Matsumoto berpesan, tidak akan menerima benda apapun dari wanita. Tanpa kecuali, karena ia memiliki prinsip yang mendasar.
Setibanya di Butik, ia kembali melukis ulang gambar Matsumoto dengan rambut yang ia rekayasa bentuknya. Wajah garang dan kolotan berubah, karena rambutnya tumbuh dikepala. Ia tersenyum serta tersipu malu. Bukan, lebih jelasnya Helena bukan membayangkan Matsumoto dengan rambutnya yang tumbuh. Tapi kejadian di pemandian air panas.
“Helena, kau sakit ya beberapa hari ini?”
“Eh Fray, kau baru datang?”
“Iya, apa terjadi sesuatu hal beberapa hari ini. Kata pegawai kau absen kerja?”
“Oh itu, aku sudah tinggal bersama dengan Matsumoto. Sejak kejadian kita tempo hari lalu, ia membawaku ke rumahnya.”
“Tidak mungkin.”
“Aku ingin kau melihat rumahnya, kita bisa kesana saat jam makan siang nanti.”
“Waw apakah orang yang kita bicarakan ini Matsumoto itu?”
“Hehehe iya, aku ingin kau melihat rumahnya saat jam makan siang nanti.”
“Aku tanya sekertaris Suamiku dulu ya, apakah memberiku ijin.”
__ADS_1
“Kenapa harus ijin, dia kan bisa makan siang sendiri atau dengan klien bisnisnya.”
“Helena.” Ucap pelan Frayza seraya mengusap tangan sahabatnya.
“Hemmmb.” Berdehem.
“Suamiku orang yang sangat unik, aku tidak mau membuat masalah. Kau mengajakku kerumah Matsumoto. Salah satu orang kepercayaannya, dan yang terpenting dia seorang lelaki.”
“Ayolah Frayza, dia sudah hidup lama dengan suamimu. Apa Tuan William akan cemburu. Dia sudah memiliki 2 orang anak darimu. Apa yang ia khawatirkan terhadap wanita yang sudah berumur, kau bukan gadis belia.” Ngeyel.
“Kau belum mengenal dengan baik Suamiku seperti apa.” Mengangkat teleponnya.
Tampaknya Frayza bicara serius dengan suaminya. Ia pergi meninggalkan Helena, karena pembicaraan mereka sangat rahasia mungkin.
Satu jam sebelum jam makan siang, Matsumoto datang ke Butik. Ia membawa membawa rantang berisi makanan. Hal ini sebenarnya bukam dirinya banget. Membawa rantang, oh yang benar saja. Biasanya dia membawa pistol atau pisau.
Bragh, meletakkan kasar rantang di meja kerja Helena.
“Ada angin apa kau kemari? Ah kau pasti khawatir karena sedang turun salju. Kau pasti mau aku makan dengan baik kan hehehe.” Tebaknya.
“Makan ini, dan jangan bawa Nyonya-ku datang kerumahku!”
“Sayang sekali, aku menolaknya. Ada hal yanh harus aku kerjakan dirumahmu.”
“Enyahlah kau dari hidupku!”
“Hai ‘Kecil’ bisakah kau bersikap santai denganku?” sebutan baru untuk Matsumoto.
“Berhenti memancing emosiku!”
“Jika aku bilang datang kerumahmu ya artinya aku akan kesana. Kau tidak boleh menolak tamu.”
“Aku adalah sahabat dan Bos dari Nyonya mu, aku adalah Bos dari Nyonyamu!”
“Tapi kau Bos dibawah Bosku!”
“Artinya aku seorang Bos dari suaminya Bos mu.”
“Dan Bos ku mempekerjakanmu, yang mengaku-ngaku Bos!”
“Kau bukan Bos!”
“Tapi aku bisa menghilangkan titel Bos mu!”
“Kau tidak bisa mengambil titel Bos ku, karena Frayza akan terus menjadi pegawaiku. Dan akulah Bos dari Bos!”
“Bos bukan Bos lagi!”
Mereka berdua masih berdebat mengenai siapa yang layak disebut Bos. Tidak ada yang mau mengalah, dan menguatkan otot mereka. Baku hantam tak terelakan lagi, Helena yang memiliki gestur badan bule. Sedangkan Matsumoto perawakan pria Jepang. Bergulat dengan wanita bongsor, seling menjepit dan mencekik leher masing-masing.
“Kau bedabah!”
“Kau brengsek!”
“Akan ku buat kau ganti rugi sudah merusak kantorku!”
“Bahkan kandang ayamku lebih baik dari gua mu ini!”
__ADS_1
“Apa katamu!”
“Yah, ini bukan kantor tapi gua purba! “
“Kau!”
“Tampan!” timpal Hikashi.
Akhirnya mereka saling tertawa terbahak-bahak, bagaimana tidak. Bisa-bisanya Matsumoto bilang Tampan, saat suasana tegang. Mereka merebahkan diri dilantai, kertas-kertas putih berserakan dilantai. Sampai akhirnya Matsumoto melihat lukisan pria yang aneh.
“Itu dirimu.”
“Kenapa ada rambutnya?” mengusap kepala plontosnya.
“Aku tidak suka melihat kulit kepala licinmu itu.”
“Aku lebih nyaman plontos.”
“Kau tahu, selama ini aku pikir Tuan William satu-satunya pria garis surga. Ternyata aku bisa melihat sisi lain darimu lewat sentuhan yang berbeda.”
“Aku tidak suka memiliki Rambut.”
“Karena kau bekerja rapi dan bersih bukan? Sebagai pengawal khusus dan orang yang mahir dalam strategi, kau pasti tidak mau meninggalkan barang bukti sedikitpun. Apalagi jika sehelai rambutmu rontok di tempat kejadian perkara bukan.”
“Kau terlalu banyak menonton film mafia-mafiaan. Kehidupan kami sangat sederhana seperti hansip pada umumnya. Hanya saja dari segi dan kemakmuran, aku lebih terjamin hih.” Menyeringai.
“Aku mau tinggal dirumahmu lagi.”
“Aku tidak menerima gelandangan.”
“Berhenti menyebutku gelandangan, Botak!”
“Aku tidak suka kau memanggilku Botak.”
“Baik, itu artinya kau mengijinkanku tingg dirumahmu bukan?” tampak wajahnya riang.
“Jika itu maumu, silahkan.”
“Cihuy terimaksih.” Reflek memeluk Matsumoto.
Ia mungkin tidak paham tentang budaya kesopanan. Namun, Helena memperlakukan Matsumoto sepeti layaknya pria di barat.
“Kau, jangan memelukku.” Melepaskan tangan Helena di leher. Matsumoto terbangun dan membenarkan jasnya. Ia keluar kantor Helena dengan membuang napasnya.
Didalam kantor, Helena melemparkan kertas-kertas desain ke udara seperti salju. Kertas itu menghujani dirinya yang tengah berbahagia.
“Sepertinya Helena akan menikah jika ia tak menyerah.”
“Begitu ya, aku pikir Matsumoto tidak bisa melihat wanita lain lagi.”
“Ayolah Frayza, jangan biarkan Helena sibuk bekerja. Aku tahu dia sebenarnya sedang berusaha menarik hati Matsumoto itu. Pria itu tidak begitu buruk saat malu digoda Helena.”
“Kita lihat saja nanti bagaimana baiknya. Aku harus segera menyusul Suamiku, ia sudah menungguku di parkiran.”
“Haaa suami kaya mu itu.”
“Dia hanya suami, hilangkan embel-embel lainnya.”
__ADS_1
“Hehehe Suami Kaya.” Goda Yuki.