
...LONDON, INGGRIS RAYA.
...
Berita mangkatnya mendiang Frayza telah sampai di Istana. Pangeran Hiroshi dan Takeshi menyempatkan diri untuk memberikan penghormatan terakhir. Pangeran Takeshi mengenang semua kenangan Frayza semasa hidup, ia sangat terpukul. Terlebih lagi keadaan sepupunya yang koma diatas bangsar pesakitan. Lengkap dengan alat bantu kehidupan yang terpasang diseluruh badannya. Hal serupa dirasakan Putri Aiko, dimana ia tak bisa membendung kesedihannya. Hikashi adalah cinta pertamanya, yang akan selalu membekas dihati.
“Jangan menangisi Hikashi seolah ia tak akan bangun lagi.” Ucap Hiroshi.
“Aku... Hiks hiks hiks...”
Putri Aiko berlari sambil menangis tak tahan melihat kondisi Hikashi yang sudah menunggu ajal saja.
“Kak, apa yang harus kita lakukan? Pangeran Hikashi tinggal seorang diri disini.”
“Aku sedang berpikir, dikepala ku rasanya berkecamuk. Kenapa bisa seorang Hikashi kecolongan begini. Menjaga seorang Frayza saja ia tak mampu.”
“Kak, ini takdir.”
“Bukan, ini bukan tak kehendak Tuhan. Matsumoto meminta bantuan kepada pihak Intelijen Kerajaan.”
“Apakah Matsumoto mengalami kasus yang berat?”
“Seprtinya Frayza mengalami.... “ tak meneruskan ucapannya.
“Apa Kak?” desak Hiroshi penasaran.
“Berjanjilah atas nyawa Hikashi, sebenarnya,”
Diam-diam Jade sudah berada dibalik pintu kamar rawat Hikashi, ia berdiri terdiam menguping pembicaraan kedua pamannya.
“Tuan Muda, Anda sudah tiba?” tegur Patrick.
Kedua pria yang berada didalam kamar Hikashi lantas tidak meneruskan obrolan rahasia. Mereka mengisyaratkan agar segera bersikap biasa saja. Dan menyapa Jade yang baru saja tiba. Keduanya memberikan dukungan dan semangat, agar Jade lebih tegar.
__ADS_1
“Dimana Steven?”
“Steven masih di Korea bersama Helena, sampai program pertukaran pelajar selasai.”
“Hmmb, itu riskan sekali. Bagaimana kalau Steven pindah kemari saja. Dan kalian bisa tinggal bersama?”
“Hiroshi, Steven akan canggung jika harus bersama Jade dan Hikashi. Selama Hikashi dan Frayza berpisah, ia tidak biasa menjalani kehidupan bangsawan. Frayza membesarkan Steven menjadi rakyat biasa.” Sanggah Takeshi.
“Sebaiknya Seven tetap di Korea saja, jika ia tahu Mama meninggal. Aku tak mampu mengurusnya seperti Papa.” Ucap Jade yang penuh pemikiran.
“Jadi Steven belum tahu jika Frayza meninggal?”
“Apakah kau ini tidak waras Jade?” imbuh Takeshi sedikit marah.
“Iya, Aku tidak bisa membiarkan ia terluka. Terlebih lagi, Seven paling dekat dengan Mama. Aku... Hiks hiks hiks rindu Mama, Paman huaaaa.”
Pecah sudah tangisan Jade, ia juga terluka atas meninggalnya Frayza yang mendadak. Mungkin Jade tidak sempat menyatukan keluarga mereka lagi. Karena ajal sudah mendahululi rencananya. Kini Hikashi seolah tidak memiliki harapan hidup lebih lama.
“Jade, ponakanku tabahlah Nak. Paman Takeshi dan Aku akan menjagamu. Kau bisa pulang ke Jepang semaumu.”
“Menangislah Jade, kau sudah hebat melewati masa terberatmu.” Pungkas Takeshi sambil memeluk ponakannya.
Patrick mematung, ia tak bisa menyadarkan logikanya yang menolak kedukaan ini. Bahwa Nyonya besar Alexander sudah tiada. Ia yakin bahwa jasad yang dikebumikan itu milik orang lain. Bukan Frayza, bukan Nyonya Alexander dan bukan ibu dari tuan muda Alexander pula. Ini hanya bualan belaka yang mau merusak suasana.
“Saya pamit mengecek Tuan Hikashi, permisi.”
“Silahkan Patrick.” Sahut Jade yang masih sesenggukan.
“Hiroshi, untuk beberapa hari kedepan ijinkan Aku bersama Jade disini. Bagaimana jika kau jemput Steven, dan biarkan dia hidup di Istana?”
“Aku rasa itu ide Bagus, karena Steven adalah keturunan kerajaan juga. Maka keamanannya harus jadi prioritas utama. Baiklah Kak Takeshi, sepulang dari Inggris. Aku akan menjemputnya sendiri, dan membawanya tinggal bersamaku; Bagaimana Aiko apa kau keberatan?”
“Ti-tidak Pangeran Hiroshi, Saya sangat setuju. Saya akan mendukung semua keputusan terbaik Baginda.”
__ADS_1
Sekembalinya Hiroshi dan Aiko dari kediaman Alexander. Takeshi mulai mengunjungi makam Frayza yang sudah dirubah menjadi Indah. Ia menaburkan bunga terbaik yang dipesan secara khusus.
“Sepupuku yang cantik, hai apakabar? Kau tahu akibat kepergianmu ini, sepupuku yang hebat sekarang terbaring seperti jompo hiks hiks hiks.” Rintih takeshi yang menitikan air mata.
Jade menyusul dari arah belakang Takeshi yang tengah berbicara seorang diri. Ia hendak menengok makam Frayza, untuk menyapanya.
“Paman, jika Mama pernah berbuat tidak menyenangkan tolong maafkan ya.”
“Tidak Jade, Mama mu orang yang sangat baik. Mama mu adalah wanita sempurna diantara milyaran manusia. Hanya saja Paman tidak menyukai cara kepergiannya yang pahit hiks hiks.”
“Paman, apakah kau menangis?” tanya Jade.
“Aku tidak menangis Jade, hanya kurang tidur saja diperjalanan kemari. Kesehatanku kurang baik, sedikit pilek kok.” Takeshi mengelak.
“Paman, bisakah Kau pinjamkan sebuah pistol?”
“Ha... Pistol?”
“Mama ku dibunuh orang dengan keji, Paman. Dan Matsumoto tahu soal ini!”
“Jade, kau jangan bercanda Nak!”
“Aku mendengar sendiri, jika bukan Kenzo menculik dan membawaku pulang. Pasti aku bisa mencari pembunuh Mama!”
“Siapa, siapa pelakunya itu!”
“Aku tidak tahu Paman, tapi Matsumoto dan Kenzo sudah mendapatkan bukti. Mereka menyewa Detektif terbaik. Tapi sayang, Aku tak diijinkan untuk ikut terlibat masalah ini.”
“Jade, jangan membunuh jiwa yang kejam. Balas dendam hanya akan memperpanjang rantai permusuhan. Tidak kah kau lihat didalam ini jasad Ibumu yang menjadi korban?”
“Iya Paman, Mama pasti meninggal karena suatu alasan. Bukan karena kebetulan belaka.”
“Percayakan semuanya kepada Pamanmu ini. Memang sejak dulu banyak musuh-musuh yang ingin melenyapkan Frayza. Tapi tidak ku sangka jika akhirnya mereka berhasil melakukannya. Aku janji diatas pusara Frayza ini, akan ku lakukan apapun untuk kalian semua.”
__ADS_1
“Terimakasih Paman, Aku hanya ingin keadilan untuk Mamaku. Serta kepulihan Papa setelah depresinya. Jujur ini terlalu berat bagiku, kehilangan orang yang paling aku rindukan. Mama... “
“Jade, mulai sekarang Paman akan menjadi Ayah angkatmu. Tak akan ku biarkan penjahat manapun menyentuh kalian. Awas saja, siapa pun musuhnya pasti akan mendapat siksaan yang mengerikan.”