
Helena tengah berada di ruang tunggu VIP Bandara. Didepannya terduduk seorang remaja yang memakai kacamata tebal tengah membaca portal berita dengan serius. Klak, Steven mematikan layar tablet pintarnya.
“Huffttt... “ Steven memgehal napas, sepertinya ia bosan.
“Sebentar lagi, penerbangan ke Tokyo.”
“Emmbb, Bibi Helena.” Tak biasanya Steven memanggil Helena dengan sopan.
“Iya, Seven.”
“Apakah Mama akan menjemputku di Jepang? Katakan saja dengan jujur!” dengan nada yang sedikit menekan.
“Tentu hehehe.” Seringai Helena ringan.
“Jangan membohongiku, Mama sudah tiada bukan.” Bocah remaja tampan itu menundukkan kepalanya. Ia menahan napasnya yang terasa berat masuk ke paru-parunya.
Helena menoleh ke sekitaran, diamatinya orang-orang disekitaran. Ia memastikan jika suara Steven tidak sampai terdengar oleh orang.
“Sssttt... Siapa yang bilang?”
Helena memegangi kedua pundak Steven, yang kepalanya masih menunduk.
“Hiks,” isakan lirih Steven.
“Nak, maafkan Bibimu ini sayang.” Helena spontan memeluk Steven yang malang.
__ADS_1
Nasib tak bisa dihindari atau ditukar, semua sudah menjadi suratan takdir yang harus dijalani oleh manusia. Lewat media, berita duka meninggalnya salah satu anggota kerajaan cepat tersebar. Entah atas ijin siapa, jika kematian Frayza disiarkan secara gamblang. Padahal pihak keluarga Alexander belum memberikan wewenang tentang mangkatnya Frayza. Tapi, berita itu tidak menceritakan detail gamblang penyebab meninggalnya Frayza. Karena tidak ingin menciptakan kegaduhan masyarakat umum. Jika kematian sebenarnya diketahui khalayak, maka kredibilitas keluarga tersohor itu dipertanyakan. Terlebih Hikashi dianggap pria yang paling melindungi istrinya.
“Bibi, jika Mama sudah tiada jadi untuk apa aku pulang ke Jepang? Apakah aku tidak memiliki keluarga lagi?”
Helena semakin pusing menjawab pertanyaan Steven. Bukannya ia mencoba memisahkan Hikashi dengan darah dagingnya, tapi ini kesepakatannya dengan Matsumoto agar tetap mengirim Steven ke Jepang.
“Tunggulah disini, aku akan kembali. Ingat, jangan pergi kemana-mana!”
Helena berlari secepat mungkin membelah lalu lalang keramaian Bandara. Steven hanya berharap ia tidak ditinggalkan Helena seorang diri. Karena selain Frayza, hanya Helena lah yang ia kenal. Steven mulai gelisah menghitung waktu kepergian Helena yang katanya sebentar. Kali ini Steven akan sendirian lagi, ia benar-benar merasa sebatang kara.
“Mama, apakah kau tahu jika saat ini lebih baik kau mengajakku pergi saja?” ucap dalam hati Steven yang mulai putus asa.
Ia menatap arah dimana Helena tadi pergi, wanita yang seperti ibu keduanya belum juga nampak. Hingga seorang petugas bandara mendatanginya untuk menayakan keberadaannya. Steven mundur karena takut bicara dengan orang asing, tangannya mengambil gelas dari balik punggungnya. Ketika petugas bandara itu mendekat, sontak tangannya hendak melempar gelas. Dan Helena tiba-tiba datang sambil terengah-engah.
“Seven, pesawatmu sudah bersiap terbang. Kemari Nak.” Ajak Helena yang mengulurkan tangannya.
Didalam pesawat ini Steven memejamkan matanya, masih terlintas jelas wajah Frayza. Wanita yang menyanggul rambut, dengan setelan jas dan rok dibawah lutut. Steven membayangkan kebahagiaan mereka berdua. Ketika akhir pekan berlibur di kebun binatang, dan pergi bersepeda di tepi pantai. Steven hanya bisa memiliki kenangan yang singkat, karena ia sadar ibunya sudah dipanggil Tuhan. Dari Helena ia tahu masih memiliki seorang ayah dan kakak lelaki. Keduanya sekarang berada di Inggris, kediaman Alexander. Steven sedikit canggung, karena sudah berpisah dalam kurun waktu yang lama. Ia sendiri tak ingat bagaimana rupa dan bentuk Hikashi dan Jade.
“Setibanya kita di Inggris, mungkin Matsumoto akan mengkerangkengku dipenjara bawah tanah.” Menggerutu.
“Tidak akan, Aku kan melindungi Bibi. Jika Bibi dihukum karena Aku, maka dipenjara itu kita bersama.” Ucap Steven polosnya.
“Anak baik, kau mirip seperti Mama mu. Sangat mirip, Bibi akan melawan Matsumoto itu sekuat tenaga.”
Helena nekat membawa Steven terba g ke Inggris, karena Steven jauh lebih baik jika bersama ayah kandungnya. Helena bahkan berani menentang anjuran kerajaan Jepang untuk menyerahkan Steven. Hal yang seharusnya Frayza lakukan ketika masih hidup. Yaitu membawa Steven dihadapan Hikashi. Andai saja kedua ego orang yang pernah saling mencintai ini turun. Mungkin nasib nahas tak akan menghampiri Frayza. Namun, inilah kenyataannya. Belum sempat terjadi perdamaian, Frayxa pergi dengan tiba-tiba.
__ADS_1
INGGRIS,
Melihat Helena dan Steven dari jok kursi dibelakang mobil Taksi. Otomatis pagar hitam nan tinggi itu terbuka pelan-pelan. Untuk menuju kastil Alexander, harus melewati taman dan beberapa pos pengawasan yang super ketat. Pengawal yang berjaga memberitahu Patrick jika Tuan muda kedua telah tiba di Kastil bersama Helena. Wanita yang menjadi peri bagi Frayza. Segera ia menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamar dan segela keperluan Steven nantinya.
Dokter yang memeriksa keadaan Hikashi menyatakan jika kesadaran pria itu sudah mulai kembali. Jade tersenyum bahagia, akhirnya ia tidak kehilangan lagi salah satu orang tua.
“Tuan Besar Hikashi, Tuan Muda Steven sekarang tiba.” Ucap Patrick.
Sambil berlinangan air mata, Hikashi terharu putranya tiba disini. Jade yang duduk disebelah Hikashi juga terenyuh. Jika kedatangan saudara kandungnya ini seperti ikatan batin. Yang membangunkan tidur panjang Hikashi. Namun, sayangnya tidur panjang Frayza sudah dialam yang beda.
Patrick membawa Helena dan Steven menuju kamar pribadi Hikashi. Kamar yang bergaya mewah serta elegan ini luas & Indah. Steven yang hidup sangat sederhana terkesima melihat sekeliling kamar yang luar biasa bak didalam dongeng. Ia terbelalak melihat foto Frayza dan Hikashi. Tampak bahagia dan serasi, dulunya Cinta itu pernah membara sebelum padam karena ego.
“Kemarilah Nak, ini Papa mu. Kemarilah...” Hikashi merentangkan kedua tangannya untuk menyambut putra bungsunya.
Steven menurutinya, dan ia mendapatkan pelukan dari seorang ayah. Pelukan yang tak pernah ia dapatnya selama beberapa tahun sebelumnya.
“Akhinya Kau pulang juga Nak, Papa sangat merindukanmu.” Hikashi memeluk erat tubuh Steven. Ia menciumi putra bungsunya itu sepeti bayi.
Kebahagiaan itu disaksikan langsung oleh Jade, ia melihat jika ayahnya yang kejam, garang, kasar dan arogan bisa sentimentil juga.
Jade mendekat agar bisa menyapa Steven, “Dan aku Jade, Kakakmu.” Ia memperkenalkan dirinya sendiri.
“Aiya ini adalah Kakakmu Jade, ia adalah pelindungmu setelah Papa. Jangan keras kepala dan boros seperti dia ya.” Nasehat pertama dari Hikashi saat memperkenalkan Jade pada Steven.
Hari ini Frayza pasti tersenyum bahagia, melihat ketiga pria hebatnya sudah berkumpul. Ia memang sudah meninggal dunia, namun raganya yang disemayangkan tetap bersama mereka juga.
__ADS_1
‘Akan tetapi tidak ada yang terlambat, hanya saja waktu yang belum tepat saja untuk mempertemukan keutuhan keluarga.’ Frayza