
WANITAMU, WANITAKU JUGA.
Akhirnya Kelvin muda menikmati liburannya. Berjemur ditepi pantai Okinawa, merasakan hangatnya sengatan matahari pagi. Tiba-tiba ada bayangan menutupinya, membuatnya terperanjat.
“Tuan besar memanggil Anda.”
Kepalanya menoleh kiri-kanan, takutnya ada orang salah bicara. Tetapi pria berkacamata hitam dengan setelan jas rapi memberikan amplop putih. Disana tertulis namanya memakai huruf Kanji.
“30 menit dari sekarang waktu untuk mempersiapkan diri Anda.” Mulai berhitung.
“Ba-baik.” Ia berlari dengan cepat diburu waktu yang terus berjalan.
Cha Kelvin masuk kembali ke Kamar hotel. Ia melakukan semua ritualnya dengan cepat dan kilat. Selama 3 bulan penantian, akhirnya mendapat undangan resmi. Perasaannya sangat campur aduk, karena ini kali pertama ia bertemu dengan Tuan besar.
Cha Kelvin yang tiba di perusahaan besar ini kagum. Sebab hampir seluruh orang yang bekerja orang yang kompeten dibidangnya. Bahkan ia beberapa kali bertemu dengan teman sekolahnya yang sudah berhasil lebih dahulu. Tiba disebuah ruangan yang berada dilantai paling atas gedung pencakar langit ini. Ia berjalan mengikuti pria yang menjemputnya di Pantai pagi ini. Dirinya dibawa berjalan terus melewati beberapa bagian. Hingga melewati koridor gelap minim cahaya.
Ada beberapa pintu akses yang memakai pengamanan terbaik untuk melewatinya. Ting, suara pintu baja terbuka lebar menampakkan isi tempat yanh baru ia singgahi. Ruangan bernuansa Jepang kuno dan beberapa ornamen khas. Ia merasa takjub ada rumah didalam gedung tinggi ini di Tokyo.
“Ketua.”
“Hemmmb, kau boleh pergi!” usirnya.
Pria berkepala plontos itu duduk bersila di sofa warna hitam. Sepertinya ia tengah menunggu kedatangan Cha Kelvin.
“Silahkan duduk. “
Cha Kelvin dengan nurut duduk di sofa yang arahnya saling berhadapan. Ia sangat gugup, saat mendapatkan undangan bertemu Tuan besar.
“Tuan Kami sedang ada urusan yang hampir selesai. Sebentar lagi Beliau akan menemui Anda secara langsung.”
“Baik.” Tergagu.
Keduanya tak mengeluarkan sepatah kata pun. Tiba-tiba terdengar suara jeritan wanita disalah satu kamar. Sepertinya jeritan itu terjadi beberapa kali, sehingga Cha Kelvin sempat berpikir macam-macam.
“Abaikan saja, kau harus terbiasa dengan keadaan ini.” Ucap Matsumoto santai.
“Fiuhh.”
“Tuan Kami tidak berselera dengan Pria, beliau hanya melakukan hobinya.”
“Hobi?”
“Iya, lihatlah.” Mempertontonkan wanita yanh keluar diseret dua orang pria bertubuh tegap.
“Ini penyiksaan!” tercekat.
“Ssstttt tidak boleh bicara asal, mereka yang menawarkan diri secara suka rela. Tetap duduklah dengan tenang.”Matsumoto berdiri.
Kedua pria membawa keluar wanita yang sedari tadi menjerit. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan bagi siapa pun yang melihatnya. Isblis macam apa yang tega menganiaya wanita sacantik itu. Rambutnya acak-acakan dan wajahnya sudah menjadi pucat pasi. Rasanya Cha Kelvin sangat geram melihatnya. Matsumoti mengisyaratkan agar Cha kelvin tetap duduk kembali.
__ADS_1
“Tuan, bocah itu sudah tiba.” Memakaikan jubah panjang bersulam emas.
“Bawakan dokumennya juga.” Ucap dingin seorang Hikashi dimasa lalu.
Pria iti sudah memiliki tabiat buruk didalam jiwanya. Pagi ini ia mencampakkan seorang wanita penghibur. Setelah semalam ia menyiksanya untuk memuaskan hasrat jiwanya. Ketika pagi, wanita liar itu naik ketubuh Hikashi hendak mencium bibirnya. Namun, kesadaran Hikashinyang langsung merespon. Melemparkan tubuh wanita itu ke lantai. Tak hanya itu, Hikashi menampar wajah wanita bayaran tersebut karena hendak mengakalinya. Ia sangat jijik dengan wanita yang sudah ia pesan, mereka dipakai untuk disiksa. Bukan dinikmati tubuhnya.
Cha Kelvin berperang dengan pemikirannya dan naluri kemanusiaan. Ia tidak bisa bekerja dibawah manusia bejat. Hobi menyiksa wanita, Cha Kelvin sangat mengagumi wanita cantik. Tapi kenapa pria jahanam ini menyiksanya dengan keji! Pria edan! Geramnya.
“Kau mau kemana?” Matsumoto menghentikan Kelvin yang berjalan menuju pintu keluar.
“Aku tidak bisa bekerja dengan orang yang kejam!”
“Lancang sekali mulutmu!” gertak Matsumoto.
“Ssstttthhh!” Hikashi muncul dari belakang Matsumoto. Ia juga mendengar ucapan Kelvin baru saja.
Pria yang mengenakan jubah berjalan mendekatinya. Dadanya terekspos dengan jelas. Otot-otot bidang yang membalut dagingnya membuat mata Cha Kelvin terbelalak.
“Kau ku pekerjakan untuk masuk ke Laboratorium. Wanita tadi hanya mainanku.”
“....” mengepal kedua tangannya geram.
Hikashi begitu sombong mengatakan jika wanita adalah mainan. Ah yang benar saja, itu manusia dan seorang wanita. Mahkluk lembut dan lemah dianggapnya barang? Otak pria itu sudah rusak!
“Aku akan berikan semua fasilitas yang kau butuhkan jika masih kurang. Tanda tangani dan besok kau mulai bekerja! “
“Pakailah.” Matsumoto menyerahkan bolpoin.
Cha Kelvin ragu-ragu untuk menyetujuinya, namun ia sudah dekat dengan tujuannya. Akhirnya ia menorehkan tanda tangannya, sambil memejamkan matanya.
Setelah mendapatkan tanda tanga Cha Kelvin, Hikashi si Raja tega itu berdiri pergi. Diikuti beberapa pengawal yang selalu mengawalnya.
“Tidak usah takut, Tuan kami adalah orang yang menjunjung tinggi integritas dan loyalitas. Teruslah bekerja dengan baik, kami akan memberikan dukungan penuh kepadamu.”
“Iya,”
Setelah selesai pertemuan pertama itu dengan sosok Hikashi. Cha Kelvin menjadi agak ngeri-ngeri sedap. Pria yang memiliki segalanya ternyata mempunyai kekurangan juga. Kadang ia tertawa terpingkal-pingkal membayangkannya. Tanpa ia sadari, sekarang Cha Kelvin tengah istirahat di taman tempat penelitiannya.
“Hihihi...” kekehnya.
“Apa yang lucu?”
“Hemmb tidak.”
“Tuan besar sudah tiba, ia ingin melihat hasil uji coba penemuanmu.”
“Baiklah,” memasukkan buku note kedalam saku jasnya.
Saat berjalan, tanpa Cha Kelvin sadari buku kecil itu merosot dan jatuh. Matsumoto memungutnya dan menyimpannya. Siapa tahubada informasi penting yang dapat ia gali.
__ADS_1
Selama pertunjukan diruang penelitian, Hikashi terus memperhatikan kinerja virus dan antibodi temuan Cha Kelvin. Ia puas dan menyetujui program tersebut.
“Apa itu?” melototi buku kecil yang dipegang Matsumoto
“Ini?” mengangkat buku yang ia pegang.
Slap... Cepeta kilat buku kecil itu disambar Hikashi.
“Aku tidak suka kau membaca komik!” dipikirnya komik, padahal itu buku sketsa milik Cha Kelvin.
“Itu milik Kelvin.”
“Hemm, apa?”
“Aku memungutnya ketika jatuh, sekarang akan ku kembalikan lagi kepadanya.”
“Oh iya, tapi aku penasaran!”
Buku itu sekarang berada ditangan Hikashi, pria itu mulai membuka lembaran demi lembaran kertas. Ternyata isinya merupakan gambaran tangan asli milik Cha Kelvin. Bakat melukisnya tidak diragukan lagi. Sangat mengesankan dan rapi. Didalam hati, Hikashi memuji sosok wanita disalah satu halamana. Yang diberi judul Dah Yee, wanita yang menggetarkan hatinya. Walaupun masih berupa sketsa mentah gambar, Hikashi sudah luluh begitu saja.
“Kau melihat buku milikku?”
“Tidak?”
“Sial!” menggaruk kepalanya.
“Bentuknya bagaimana?”
“Warnanya hitam, hanya sebuah buku sketsa saja.”
“Coba kau tanyakan kepada petugas kebersihan dan keamanan. Siapa tahu mereka menemukannya.”
“Ah begitu ya.”
“Karena mereka yang biasa bertugas menyisir tempat ini secara menyeluruh. Memang kau menulis apa didalamnya?”
“Tidak ada.”
“Kalau tidak ada untuk apa kau begitu panik.” Temannya menggerutu.
Kabar kehilangan buku note nya telah diumumkan. Bahkan Cha Kelvin bersedia memberikan imbalan berapa pun bagi yang menemukannya. Hal ini yang membuat Matsumoto harus menemuinya.
“Buku itu sekarang ditangan Tuan Hikashi. Jika kau ingin memperolehnya kembali, kau harus memenuhi persyaratan yang ia inginkan.”
“Apapun akan kelakukan.”
“Tuan muda Hikashi tidak meminta uangmu yang sedikit itu. Ia hanya meminta, kau mencarikan wanita didalam gambarmu menjadi wujud yang nyata!”
Bak tersambar petir saat berteduh dibawah pohon. Cah Kelvin tidak menyangka jika Hikashi naksir juga dengan sosok Dah Yee wanita kayalan. Ini bodoh dan gila, pria itu ikutan tidak warasnya seperti ia. Mana ada wanita yang seperti Dah Yee dikehidupan nyata. Baiklah, wajah atau rupa bisa dirubah. Lalu bagaimana dengan sikap dan karakternya. Bos ini memang suka mencari ribut!
__ADS_1