TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
KETIKA SEMUANYA SUDAH BERUBAH


__ADS_3

Frayza masih ingat tempat tinggal Ramon ketika masih di Batam. Yah, di Kedai makanan yang dikelola oleh Hikmal. Kedai yang dulunya buka sekarang terbengkalai dipenuhi semak belukar. Perabotannya banyak yang rapuh serta rusak. Aroma menyengat di Kedai ini sangat menusuk. Didepan pagar Kedai ada penjual makanan keliling yang mejajakan dagangannya. Pintu pagar kedai masih tergembok, dan Frayza tidak mau ambil pusing. Brangggg (menendang pagar besi reot) sekali tendangan roboh juga.


“Mbak, mau ngapain ditempat horor seperti itu? Kedainya sudah bangkrut.” Teriak pedangang bakso.


“Pemilik kedai ini teman saya, Pak. Tidak usah khawatir hehehe.”


“Oh begitu ya, hati-hati ya. Setannya tidak gigit, tapi bisalah bikin menjerit.” Canda tukang bakso.


“Saya bagian teriak-teriak saja Pak kalau setannya mau nakutin, biar dia seneng ada kerjaan hehehe.”


“Itu setan Mbak, bukan mantan pacar!” jleb kalian tukang bakso.


“Apaan sih ini Bapak, urusan setan ya biar sama saya saja. Kalau mantan biar diurus sama Yang Maha Kuasa agar tenang disisi-Nya ( doakan mantan mati) hahahaha.” Celetuk Frayza memasuki pekarangan Kedai.


Tak berselang lama Hikmal datang, membawakan peralatan kebersihan. Keduanya mulai membabati semak belukar dan membakarnya. Hikmal mereparasi perabot yang rusak. Dan menyingkirkan yang sudah rusak parah. Frayza membersihkan kamar bekas Ramon dahulu. Dan dapur serta kamar mandi mulai ia repikan kembali. Seharian penuh mereka berdua kerja rodi.


“Hikmal, kenapa kau tidak melanjutkan usaha kedai ini?”


“Bagaimana bisa aku mengelola Kedai sendirian, sedangkan aku tidak punya bakat memasak. Dulu ada Ramon dan Digna, aku bagian melayani tamu yanh datang. Sekarang kau tahu sendiri bukan, aku menjadi tukang parkir saja.”


“Pantas,” Frayza tak heran bila Kedai ini tutup.


“Lalu apa rencana kita selanjutnya?”


“Ya makanlah, aku kan kelaparan. Pergi cari mie instant dan air mineral. Kau ini tidak peka, tapi kolot!” mengatai Hikmal yang lelet.


Dengan sepeda capungnya, Hikmal pergi membeli makanan yang dipesankan Frayza. Sembari menunggu Hikmal kembali, hari semakin larut. Sambungan kabel listrik banyak yang terputus dikerat tikus. Frayza menutupnya dengan plastik sementara, besok dia akan belanja alat-alat yang perlu diperbarui. Rasanya dia tidak tega mandi di kamar mandi Kedai, alhasil Frayza mandi di Pengisian bahan bakar minyak. Disana dia mengantri dan memilik kamar mandi yanh bersih dan tidak jorok. Terkadang Frayza memeriksa dinding dan kaca bilamanaada kamera perekam.


“Sepertinya, aku tidak bisa mandi disini. Lebih baik aku mandi di minimarket saja dan sekalian belanja keperluan perbaikan di Kedai. Cih merepotkan sekali untuk urusan mandi saja. Lebih baik jadi ikan, yang berendam di air.”


Hikmal yanh telah tiba di Kedai mencari-cari Frayza. Perasaannya mulai tak enak. Bulu kuduknya bergidik merinding. Sekeliling Kedai sudah sepi tiada orang. Lampu penerangan tiba-tiba meredup dan kedip-kedip. Aroma tak sedap ia cium seperti bau tak sedap menusuk hidung.


“Ini tadi yang bersamaku manusia apa jelmaan setan yak, kok jadi merinding dingin gini sihhhh.” Hikmal mulai ketakutan dan berputar badannya.


Suasana makin mencekam kala curut menabrak kakinya. Ci... Cicccciiiiccciiittttt... “Hhhhaaaaa setan, demi alas, genderuwo, kuntilanak, pocong ampun Mbah ampunnnn.” Hikmal naik diatas meja meringkuk ketakutan.


Tap... Tap... Tap... Suara langkah kaki dari belakang Hikmal terdengar, aroma bunga yang Wangi mulai semerbak menyeruak hidungnya. Tadinya yang bau busuk sekarang bau wangi segar bunga.


“Duh Miss Kuntilininya malah datang Biyunggggg...” Hikmal meringkuk semakin ketakutan.


Sreggg (pundaknya terasa ada yang memegang) Hikmal kaget dan matanya terbelalak tak berani menoleh kebelakang.


“Haaaaa... Hampun Nyai Kuntilini, saya disini cuma nostalgia bukan minta angka togel. Ampun ya Nyai Kuntilini, saya ini miskin. Kalau saya kenapa-kenapa tidak sanggul bayar. Tabungan saya ya ada di celengan tanah liat saja. Tidak macem-macem lagi saya disiniii.” Ucapnya bergetar ketakutan kepada sosok tak kasat mata.


Aroma daging dibakar terhendus dari lubang hidungnya. Ternyata tangan putih pucat itu membawakannya sate kambing. “Makan!” ucap suara wanita dengan nada ketus.


“Hhhhhhhhaaaaaaaaaaaaa,” Hikmal kabir terbirit-birit meninggalkan Kedai.


Anehnya lagi, lampu Kedai yang byar pet itu padam total. Hikmal yang menoleh ke pekarangan Kedai ngeri dan semakin ketakutan.


“Hhhhiii horor, amit-amit jabang bayi.”


Grusrukkk...


“Hikmallll, kau ini keterlaluan!!!


“Kakkk Frayza... Di Kedai... Kedaiiii... Ada setttt-seettttttt-taaaannnnn!!!”


Sambil memunguti kembali barang bawaannya Frayza mendengarkan cerita horor di Kedai.

__ADS_1


“Ayo kita temui setan yang menakuitimu. Aku akan mengusirnya memakai jimat paling ampuh.”


“Benarkah?”


“Iya benar, jangan percaya padaku. Tapi percayalah pada Tuhan, karena manusia bilangnya Setia tapi biasanya mendua. Eh kok aku ngomongnya nglantur ya hihihi.”


“Eh ngemeng-ngemeng Kak Frayza, ada jimat belinya dimana? Eh bukan ding, itunya anu dapatnya dari Dukun mana?”


“Setiap manusia memiliki jimatnya masing-masing. Percayalah tiada jimat yang bisa menolak bala dalam bentuk apapun jika aku mengeluarkan jimat ini.”


“Aku mau ke Parkiran lahan Pabrik sajalah. Disana manusianya banyak, kalau di Kedai setannya yang banyak.”


“Hikmal, jika kau takut dengan wujud setan itu. Lantas kalau perutmu lapar dan badanmu sakit apa itu bukan termasuk ketakutan selain melihat setan?”


“Otakku macet Kak heheheh, kalau bahas kalimatmu yang sulit. Yang penting kita harus tinggalkan Kedai berhantu itu Kak Frayza, ayo selagi ada kesempataannnnn!!!”


Hikmal terus menarik tangan Frayza agar menjauhi tempat yang angker itu. Frayza tidak percaya adanya hantu, dia hanya percaya arwah penasaran saja.


“Hikmal, yang kau maksut setan itu dia?” menunjuk sosok wanita yang datang dari belakang Hikmal.


Perlahan wajah Hikmal berputas menoleh kebelakang. Matanya sedikit dibuka, redup sayup ia mengintip.


“Hiyaaaaa... Ituuu setannya Ka Frayza. Ayooooo kita kabur!!!” Hikmal benar-benar panik dan tak bisa berkutik.


“Ini (menyerahkan beberpa lembar uang) terimalah.”


“Baik terimakasih, sampai bertemu kembali.”


Hikmal tak berani menoleh setan wanita berada. Saat Frayza menepuk bahunya dan mengatakan setannya telah pergi Hikmal tidak mau kembali ke Kedai.


“Aku tadi pesan makanan di penjual sate. Karena pembelinya banyal, jadi istrinya yang mengantar kemari. Sudah jangan takut, dia itu manusia. Wanita sudah biasa memakai masker, kau ini keterlaluan sekali Hikmal hehehehe.”


“Ya mana aku tahu kalau kau takut begitu, tadi sebelum ke minimarket. Aku melewati pedangan sate, jadi aku minta pesanan antar ke Kedai ini. Kau pikir dia iu setan beneran? Dasar payah hahahah.”


“Lalu jimat-jimat yang Kak Frayza bicarakan tadi apa?”


“Oh itu jimat segala jimat, uang.”


“Ya Tuhannnnn...” menepuk jidat.


Awalanya frayza hanya ingin makan mie instan saja. Tapi dirinya tegoda untuk makan sate, potongan daging yang ditusuk. Lalu dibakar dan dilumuri saos bumbu yang nikmat. Kegiatan sambung-menyambung kabel dan memperbaiki saluran air selesai pada malam hari. Dan Hikmal bagian kebersihan masih sibuk dengan sapu, lap dan kemoceng. Katika Fajar mulai menyingsing, mereka ambruk kelelahan dan tertidur dilantai. Frayza mulai terbangun saat kulit tubuhnya merasa lengket karena keringat. Semalam ia tertidur disembarangan tempat bersama Hikmal.


“Mal-Mal Kumal, bangun!”


Hikmal masih asik tidur dan menggeliat keenakan tidurnya. Frayza yang kepayahan membangunkan Hikmal, memilih untuk segera mandi di kamar mandi. Dan tiba-tiba Hikmal berteriak-teriak histeris lagi.


Byuurrrrr (menyiram seember penuh air) ke badan Hikmal yang masih tertidur dilantai.


“Huffftttt berrrrr dinginnnnn.”


“Oh sudah balik lagi ya nyawanya, heboh kali kau Hikmal tidurnya. Mimpi setan lagi? Mimpi dikejar kunti lagi?”


“Bukan Kak, mimpi ketemu mantan yang tewas tertabrak mobil.”


“Sekarat enggak?”


“Boro-boro sekarat, dia yang tertabrak eh yang sakit hatiku sendiri.”


Ternyata Hikmal bermimpi bertemu dengan mantan kekasihnya. Frayza mendapat hiburan baru di Batam Bersama Hikmal yang humoris ini, bisa menjadi obat amnesia atas kehidupannya yang sulit.

__ADS_1


Kegiatan mereka hari ini mengecat dan menata ulang Kadai ini agar menjadi lebih minimalis dan modern. Anggaran yang Frayza miliki tidaklah banyak, uang yang dipakainya ini merupakan uang pensiun dari Matsumoto saat dirawat sakit. Waktu demi waktu yang sudah Hikmal dan Frayza habiskan akhirnya bisa mengubah wajah baru Kedai.


“Wah jadi keren gini Kak, kau memang memilik ide brilian.” Mengacungkan 2 jempol.


“Bisa saja kau ini, aku hanya mengerjakannya karena ingin modalku cepat pulih. Kau pikir apa hahaha?” Frayza berpindah lokasi dari Hikmal berada.


“Haiii... Haii... Kau jangan sombong begitu, tinggal kata saja jika kita ini hebat bukan. Kenapa bawa-bawa uang dan keuntungan.”


“Aku berencana akan membuat Kedai minuman yang bermacam-macam. Bagaimana kau siap kan?”


“Aku? Kenapa harus aku lagi coba, yang lain saja kenapa. Hisss tidak adil dan diperlakukan semena-mena.” Hikmal menggerutu.


“Jika usaha Kedai kita jalan, kau tak perlu menjadi tukang parkir. Dan usaha ini kelak untuk siapa, ya kamulah. Kau harus berubah pola pikirnya soal pandangan bisnis. Jangan asal ikut saja dengan atasanmu. Lebih baik memulai bisnis kecil milik sendiri, karena asetnya punya sendiri.”


“Dan kau sendiri bagaimana Kak?”


“Jangan tanyakan hal yang masih misteri, aku sendiri tidak tahu bocorannya. Kedepan kita harus yakin, bahwa Kedai ini bisa menghidupi kita.”


Setelah bekerja keras beberapa hari akhirnya Kedai mereka lun jadi. Sehari sebelumnya mereka ke Percetakan membuat brosur iklan. Hikmal sangat antusias dan bersemangat, walaupun awal-awal buka tidak begitu ramai. Berkat kegigihan Frayza mengembangkan ide masakannya, setelah jalan 3 bulan Kedai ini sudah memiliki langganan tetap.


*


*


*


----INGRIS----


Setelah beberapa bulan lamanya menjalani pengobatan mental, akhirnya Hikashi menunjukkan perilakunya yang baru. Apapun hal yang dulu ia sukai, menjadi hal yang paling ia benci. Begitu juga sebaliknya, sekarang Hikashi menjadi pria yang perasa dan penyayang. Berbeda sekali dengan sosok dingin dan kejam, bahkan Hikashi sangat tidak nyaman dengan Damora. Dan Hikashi mulai akrab dengan gadis-gadis, terutama ras Asia. Saat berada di Inggris, Franda gagal mengikuti dan mencari jejak Matsumoto dan Kenzo. Hingga akhirnya dia kembali ke Singapura lebih awal. Dan melanjutkan karirnya sebagai Selebriti. Iklannya mulai menjajahi beberapa Negara di Benua Eropa. Wajahnya mulai wara-wiri mengisi iklan. Terkadang Franda terlibat iklan Internasional yang mengharuskannya berkeliling Dunia.


“Kenapa kau terus memandangi iklan itu berulang kali. Aku bosan kau abaikan terus-terusan!”


“Nona Damora, jangan mengganggu Tuan Hikashi.”


“Kenapa? Sekarang kau membelanya? Ingat Matsumoto, kau juga terlibat dalam pencucian otak ini. Jadi jaga mulutmu!” berbisik ditelinga Matsumoto.


Hikashi yang merasa terganggu dengan kehadiran Damora memilih pergi.


“Patrick, siapkan mobil; Aku mau bermain golf dengan Matsumoto.”


“Baik Tuan, segera saya siapkan.”


Damora diacuhkan kembali oleh Hikashi, keberadaannya benar-benar tak dihargai lagi.


“Permisi Nona Damora,” Marsumoto meminta agar Damora tidak memghalangi jalan Hikashi.


Diruangan ini Hikashi sedang bersantai, ada layar plasma besar. Biasanya Hikashi melihat iklan produk yang sedang terkenal, tetapi akhir-akhir ini Hikashi sedang menjadi ikon baru untuk model iklan.


Saat ia melihat beberapa nama acak, Hikashi seolah melihat ada yang beda dari model wajah Asia. Yang salah satunya adalah Franda, wajahnya hampir mirip Frayza. Itulah yang membangkitkan perasaan tertarik terhadap lawan jenis Hikashi mulai tumbuh.


“Apakah kita bisa membuat jamuan pesta?”


“Tentu saja Tuan muda,” jawab Patrick.


Selama tinggal di Inggris, Hikashi tinggal di kastil bangsawan. Patrick adalah kepala rumah tangga yang mengurus segala keperluan Hikashi. Selain menjadi ketua pengamanan, jabatan Matsumoto merangkap sebagai tangan kanan Hikashi untuk menjalankan bisnisnya. Lalu dimanakah Kenzo, ya Kenzo sekarang menjadi pelaksana tugas dilapangan. Yang perannya diatur oleh Matsumoto dan dibawah kendali Hikashi.


------Author------


Maaf ya Pembacaku yang setia dan selalu menunggu up date Novel ini. Berhubung Author sibuk bekerja dan memiliki kegiatan lain diluar hobi. Maka Author mohon diingatkan kalau belum up date ya, jangan sungkat untuk ketik komentar kalian. Agar kita sebagai Penulisa dan Pembaca bisa tetap berkomunikasi dengan baik. Tetap jalani kehidupan nyata kalian, dan miliki kehidupan imajinatif di Novel ini. Semoga Novel ini bisa mengispirasi kalian selalu...

__ADS_1


__ADS_2