
-LANJUTAN,
Walaupun awalnya Martino sangat rasis kepada Frayza. Namun melihat kelihaian memotong pola kain. Menjahit bagian siku dan lingkaran sangat mahir. Bahkan Martino sendiri tidak bisa membuatnya, ia harus berani mengakui bahwa tangan Frayza ini adalah sulap.
“Jangan besar kepala, aku hanya tidak ingin baju pesanan milik pelangganku ini lecek!” Martino menyetrika uap baju setelah yang sudah jadi ini. Tak bisa ia pungkiri bahwa baju ini seolah miliki nyawa. Seperti hidup, dan menyatu walaupun belum dipakai oleh pemesannya.
“Tugasku sudah selesai, jika baju buatanku ini ditolak olehnya. Kau bisa menghubungi nomor ini.” Frayza menulis nomor ponselnya dan mengambil tas selempangnya hendak pergi.
“Hai!” ucap Martino memanggil Frayza yanh berjalan pergi.
“Apa?”
“Semoga besok kau kemari lagi dan aku bisa menyiksamu seperti hari ini!” padahal dalam hati Martino mengagumi hasil karya Frayza yang sempurna. Dia sangat yakin kalau baju pesanan ini akan memuaskan orang yang memesannya.
“Semoga bukan uang ganti rugi yang membawaku kemari hehehe.” Wanit aitu menyeringai menampakkan gigi-giginya.
Seluruh kota London sedang diselimuti awan gelap. Sepertinya akan turun hujan lebat, dan Frayza baru ada waktu. Karena seharian penuh ia bekerja di butik menyelesaikan tantangan dari Martino.
Dengan beberapa sisa uang dalam dompetnya, Frayza nekat naik taksi untuk ke kastil. Dia sudah rindu berat kepada putranya Seven. Terlebih lagi ini adalah hari Jum’at, akhir pekan dimana Jade kembali dari asrama sekolahnya.
“Kenapa berhenti?” Frayza panik taksi itu berhenti.
“Maaf Nona, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi. Air akinya habis dan mesinnya rusak uhukk uhukk!” Sopir taksi itu terbatuk-batuk karena asapnha mengebul.
Saat Frayza hendal membayar ongkos taksinya, si sopir menolak dengan alasan mobilnya rusak. Alhasil Frayza berjalan kaki menuju halte bis terdekat. Dan menghubungi Kenzo untuk menjemputnya, ia baru ingat kalau hanya Kenzo yang bisa ia mintai tolong.
Kenzo yang seperti orang gila mencari-cari Frayza hingga ke kantor perhubungan akhirnya bernapas lega. Ia lansung meluncur ke tempat Frayza berada.
Karena perutnya yang sudah lapar kelewar batas, sembari menunggu Kenzo. Frayza masuk ke gerai makanan cepat saji. Dilihatnya didaftar menu makanan yang ingin ia santap.
Betapa bahagianya Frayza bisa mengisi perutnya yang keroncongan setengah mati. Dan ia juga memesan beberapa makanan untuk oleh-oleh nantinya. Setelah itu ia berjalan lagi menuju Halte bis tempatnya menunggu Kenzo lagi. Tapi tiba-tiba ada suara gaduh seperti perampokan.
“Hai Nak, serahkan jam tanganmu itu. Ku lihat dari baju dan sepatu yang kau pakai semuanya mahal!”
“Ti-tiiidaakkkk!!” bocah kecil itu ketakutan dan tersungkur.
“Hai Nak, kami tidak akan kasar kepadamu. Jika kau mau ikut bersama kami, kau akan menghasilkan banyak uang. Jadilah pengemis dan pencuri kecil, kau pasti kabur dari rumahmu bukan!” para preman-preman tak berguna sampah masyarakat itu berbondong-bondong mengerubungi anak kecil yang terpojok.
__ADS_1
Brangggg...branggg!!! Dua buah tong sampah dari besi dilempar mengenai ketiga preman yang hendak menerkam anak kecil. Mereka merintih kesakitan tertumbuk tong berisi kotoran dan sampah. Dalam kegelapan dan cahaya remang-remang muncullah sosok wanita berambut merah kehitam-hitaman berjala.
Sreeettt...sreeettt... menyeret ranting kayu kering seperti orang yang menggunakan pedang. Sekali ayunan kayu ranting itu ditebas ke badan para preman itu. Frayza seolah memiliki keahlian bela diri yang selama ini ia tak ketahui. Dengan tubuhnya yang lincah ia berhasil membuat ketiga preman itu tersungkur dan luka sabetan kayu ranting. Bahkan anak kecil itu ketakutan melihat Frayza membabas habis tubuh penjahat.
“Maaaammaaaa ...maaa...! Anak kecil itu menutupi matanya dengan kedua tangannya. Mungkin ia memanggil ibunya karena takut Frayza akan melukainya, seperti ia menghajar preman-preman baru saja.
“Tenanglah Nak, kau aman bersama Tante. Aku hanya bersikap adil kepada penjahat-penjahat ini.” Frayza memondong anak kecil ini dan berlari sesegera mungkin. Ia masih membawa kayu itu untuk berjaga-jaga.
Tampaknya Kenzo sudah tiba di halte bis, mobilnya sudah berada disana.
“Nona, apa yang baru saja terjadi?” Kenzo melihat Frayza panik dengan seorang anak kecil di gendongannya.
“Tidak ada waktu lagi, ayo kita kabur.” Frayza masuk kedalam mobil dan diikuti oleh Kenzo. Ia menginjak gas mobilnya dengan cepat karena ia tak ingin dalam masalah juga.
Anak kecil didalam dekapan Frayza itu masih menutupi wajahnya dengan tangannya. Mungkin ia trauma dan belum percaya kepasa siapapun.
“Kenzo, tolong nyalakan penghangat mobil ini. Anak ini menggigil kedinginan.”
“Mungkin dia lapar juga?” menoleh wajah pucat anak kecil itu.
“Oh iya aku ingat (merogoh tasnya yang berisi beberapa hamburger) makanlah Nak. Mungkin kau lapar, ini tadinya untuk anakku. Tapi kau lebih butuh ini, aku bisa membelikannya lain waktu.”
“Kau mau susu?” menyodorkan susu rasa pisan favoritnya.
“Hu’um,” mengangguk dan menyesap susu pisang kotak.
Kenzo melajukan mobilnya, dan berterus terang jika ia khawatir ketika dirinya tidak berada di hotel. Frayza menjelaskan bila ia mendatangi gerai butik milik sahabatnya. Dan ia seharian ditahan untuk bekerja rodi menyelesaikan baju. Jadi sore hari ia baru bisa bebas. Saar menunggu jemputan dari Kenzo, tiba-tiba ia mendengar kegaduhan dan ternyata anak kecil nan malang ini tengah dirampok.
“Lalu kayu itu?”
“Aku memakainya untuk menghajar mereka.”
“Seorang diri!” Kenzo melotot.
“Tiba-tiba aku merasa mendapatkan keberanian dan kekuatan. Anak ini kasihan, tolong antarkan ia ke kantor Polisi. Siapa tahu orang tuanya mencarinya atau dia tersesat.” Tangan kecil itu mencengkeram kemeja Frayza erat-erat. Ia merasa anak kecil itu ketakutan dan merasa terancam.
Dan tibalah Frayza di Kastil milik Hikashi, ia berpisah dengan anak kecil itu. Sebagai salam perpisahan Frayza mencium kening bocah kecil itu, dan memberikan semua burger kepadanya.
__ADS_1
Patrick menyambut kedatangan Frayza lalu disusul oleh bibi Fang bersama Seven. Ternyata merkea seharian menanti kedatangan Frayza yang tak ada kabarnya.
“Nona untuk apa kayi ini?” tanya Patrick heran.
“Oh ini, aku gunakan untuk menghajar orang. Tolong buang dan bakar sekalian ya, aku sudah mengelap sidik jariku.” Kayu itu diberikan kepada Patrick.
Karena seharian ini Nathalie tidak mendapati Frayza kembali ke kastil. Oleh sebab itu dia pulang ke rumahnya, dan kedatangan Frayza ini dirahasiakan daei Nathalie. Mereka sangat membenci wanita ular itu.
*
*
*
Mobil Kenzo sudah berada didepan kantor Polisi. Ia membukakan pintunya untuk bocah kecil laki-laki.
“Hai Nak, turunlah. Polisi akan mengantarkan kau pulang kerumah orang tuamu.”
Anak kecil bermata hijau ini menatap tajam Kenzo penuh dendam. “Kau pikir dirimu siapa? Kembali kerumah tadi!”
“Hahaha hai Nak, rumah itu milik Bosku. Ayo turun, kau mengotoi jog mobilku dengan remaham roti burgermu itu!”
Bleegghhh! Kaki anak kecil itu menendang dasbor mobil Kenzo. Sontak pria itu melotot mobil kesayangannya ditendang bocah nakal.
“Hai apa kau tidak tahu barapa harga mobil ini hah!”
“Berhenti mengoceh, akan ku ganti mobil bututmu ini. Kembali ke rumah tadi dimana kau membawa wanita itu pergi!”
“Hahaha hai Nak, kau ini tidak bermimpi kan. Dia sudah memiliki anak, kau tidak pantas berharap hal yanglebih.”
“Aku katakan kepadamu! Bawa aku pulang ke kastil Alexander! Aku ini adalah Jade Ryuji Alexander!”
Dyaarrrrr... Tubuh Kenzo terbelah menjadi 2 keping, anak itu adalah putra sulung Hikashi yang beberapa hari membuntuti Frayza.
Dibawah tekanan mental yang mendera, Kenzo mengendarai mobilnya. Jade menunjukkan bukti bila ia adalah putra William dengan menunjukkan kartu identitas pelajarnya. Kenzo dalam masalah besar, dan ia lebih baik dibuang ke Afrika daripada berurusan dengan Hikashi kecil ini!
**-*-*--
__ADS_1
Hallo Readersku, terimaksih ya sudah baca kisah Hikashi dan Frayza. Mohon maaf bila terjadi typo, ya maklum lah Author juga bekerja dan melawan kantur saat proses penulisan naskah.
Oiya, satu hal lagi jika kalian tidak sempat like, vote dan komentar dibawah sini. Cukup share link novel ini di media sosial kalian. Terimakasih.