TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
PANTANGAN SAAT RINDU


__ADS_3

--LANJUTAN,


“Kak kau dari mana saja, ini ada paket kilat dari Jepang.”


Sembari menenteng kotak paket, Rose membawanya masuk ke kamar tidurnya. Ia membuka perlahan apa isi didalamnya, ternyata sepucuk surat yang meminta Rose segera ke Jepang. Tak ingin berlarut-larut memikirkan hal baru saja terjadi dengannya. Rose memutuskan untuk mengemasi barang-barangnya.


“Kak, kau mau kemana?”


“Aku akan membeli tiket pesawat ke Jepang.”


“Untuk apa Kak, kita masih dalam suasana berkabung bukan? Nanti aku harus menjawab apa kepada Ibu kalau dia bangun?”


“Katakan saja, aku sedang urusan pekerjaan. Paling lama seminggu aku pergi, tolong jaga rumah dulu ya. Aku mau membeli tiketnya.”


“Hemmbb, baiklah. Hati-hati dijalan ya Kak,”


Rose pergi membeli tiket pesawat penerbangan ke Jepang. Dia mencari jadwal penerbangan yang paling awal. Sepertinya Rose tidak bisa mengontrol akal sehatnya. Kejadian bersama Julian terus mengotori otaknya. Kini Rose bertekad untuk mengalihkan dirinya dari bayangan Julian.


*


*


*


---- INDIA ----


Lahan yang sangat luas dengan sinar matahari yang begitu terik membuat Hikashi sedikit tidak nyaman untuk meninjau lokasi perkebunan bunga Safron. Dia mulai kegerahan dan banyak mengeluhkan cuaca terik ini, Kenzo yang ikut bersamanya harus ekstra bersabar dengan tabiat Tuan Mudanya.


“Lain kai tanami pepohonan di sepanjang jalan, aku kegerahan.”


“Baik tuan muda,”


“Kenapa Mandor disini hanya bekerja saat ada tinjuan saja. Saat buruh mencabut daun dia asik merokok dan bersantai diatas mobil.”


“Akan saya tegur terlebih dahulu.”


“Apa kau bilang Kenzo!” nada tidak puas.


“Baik saya akan segera memecatnya dan menggantinya dengan pegawai yang baru.”


“Huft itu saja?” masih belum puas dengan kinerja Kenzo.

__ADS_1


“Maafkan atas kecerobohan saya, Tuan Muda. Kedepan saya akan menyeleksi lagi calon pekerja disini.”


“Segera adakan rapat usai aku mandi, disini panasnya terlalu parah hah!”


Kenzo melihat Hikashi banyak mengeluhkan hal apapun selama di India ini. Sepertinya Hikashi kurang puas dengan bisnisnya di India, jadi ia meminta diadakan rapat.


Para jajaran pekerja sudah berada di ruangan rapat kerja. Dan ada seorang penerjemah Bahasa yang berdiri disamping Hikashi.


“Karena Tuan Hikashi sudah meninjau langsung Perusahaan dan lapangan. Maka, hari ini akan diambil keputusan baru yang rencananya akan diterapkan mulai bulan depan.”


Semua Pegawai yang menghadiri rapat saling melempar pandangan takut hal buruk terjadi.


“Pertama, Pekerja harus memakai seragam yang sesuai tugasnya. Kedua, Perusahaan tidak memperkerjakan wanita hamil dan sambil membawa anak. Ketiga, Staff khusus akan diseleksi dan diganti dengan yang lebih kompeten. Peningkatan standar hidup dan gaji akan diperhitungkan seiring kenaikan produksi mengingat pangsa besar Dunia.”


Seorang pria mengajukan pertanyaan mengenai kebijakan baru ini. “Maaf, bukannya Pekerja wanita disini bekerja untuk meringankan beban keluarga. Kenapa mereka harus diberhentikan.”


Kenzo hendak menjawab, tapi didahului oleh Hikashi. Dia menjawab santai sambil memutarkan kursinya menatap layar proyektor. “Kau lihat ini tidak!” Seorang Ibu yang menggendong anaknya dipunggung. Dibawah terik matahari yang panas membakar kulit.


“Jawab!” bentak Kenzo kepada Pagawai yang tadi.


“Iya Tuan Besar, saya melihat buruh wanita bekerja sambil menggendong anaknya.” Menjawab dengan kepala menunduk takut dibentak Kenzo.


“Dengarkan aku, sebagai seorang ayah dan suami. Aku memiliki tanggung jawab yang besar, tubuhku ini aku korbankan untuk keluargaku. Dimana suami wanita dan ayah anak ini?” Hikashi mencari tahu kenapa ada Pekerja Wanita yang bersusah payah mencari nafkah.


“Ckckckckck, budaya ini harua aku rombak secepatnya. Aku tidak mau mengeksploitasi wanita yang lemah. Mereka harus bekerja keras dan mengasuh anak, apa kau tahu anak kecil diajak bekerja hanya diberi mainan. Dimana otakmu ini sebagai manusia yang berpendidikan hah!” Hikashi murka.


“Saya yang teledor Tuan Besar.”


“Jika kau teledor sudah membiarkan kaum yang lemah, apa solusimu?”


Pagawai yang lain tak luput dari tatapan tajam Hikashi penuh amarah. Mereka tertunduk malu, karena pemimpin besar mereka peduli terhadap hak-hak orang bawahan.


“Mulai sekarang kalian akan dipantau dan diberi pelatih langsung orang staff ahli khusus dari Jepang dan Inggris. Bagi yang tidak lulus kompetisi dalam pekerjaannya selama 3 bulan. Maka Perusahaan akan memberhentikan secara sepihak.” Kenzo membacakan teks peraturan baru dihadapan Pegawai yang menghadiri rapat.


Wajah mereka pucat pasi, saling bertatapan bila nasib mereka berakhir buruk dipecat. Gaji yang sudah Perusahaan gelontorkan tinggi, agar para Pekerja hidup Makmur juga. Namun, kenyataan di lapangan masih saja terdapat kesenjangan sosial.


“Dengarkan aku baik-baik, wanita itu ketika hamil dan memiliki anak jangan diberatkan lagi dengan mencari nafkah. Sekarang aku akan memberikan 2 solusi untuk masalah ini. Yaitu, suaminya rekrut masuk kerja menggantikan istrinya agar dirumahkan. Setelah anaknya besar, dia boleh dipekerjakan lagi. Dengan catatan jam kerja mereka lebih pendek, agar masih ada sisa waktu mengurus keluarga.”


“Lalu bagaimana kalau dia janda atau suaminya menolak?”


“Bangunkan tempat penitipan bayi dan anak untuk Pekerja. Nanti prosedurnya biar Kenzo yang jelaskan.” Kenzo menelan ludah dirinya mendapat tugas baru.

__ADS_1


Wajah Pegawai mulai tenang tak lagi setegang awal. Rapat ini membahas isu-isu ketenagakerjaan di Perusahaan penghasilan Safron milik Hikashi. Setelah meninjau ulang dan memperbaiki sistemnya, maka para Buruh menyambut baik peraturan baru ini.


Dari dalam kantornya, Hikashi melihat para pekerja wanita bersorak bahagia. Nasib dan kesejahteraan mereka diperhatikan oleh Pemimpinnya.


“Kau lihat itu Kenzo, wanita sangat mudah bahagia ketika pria bisa menghargainya seperti Ratu.”


“Benar Tuan Muda, terimakasih sudah memberikan kebijakan baik ini.”


“Aku melakukannya agar tidak dimarahi istriku, jika suatu hari Frayza tahu buruh wanita bekerja keras. Maka aku pasti dibuat sengsara atas hukumannya, hehehe.”


“Tuan Muda bisa saja,”


“Aku harap 2 hari lagi Staff khusus dari luar negeri segera tiba. Dan katakan kepada mereka aku tidak bisa menyambutnya. Karena malam nanti kita akan bertolak ke Afrika Selatan.”


“Hhaaaa, kenapa secepat ini kita meninggalkan negara India?”


“Aku tahu kau sangat menyukai Singa, makanya aku persingkat kunjungan kita disini hahaha.”


“Tuan Muda Hikashi, ini tidak lucu. Tidakkah kita berada disini selama sebulan mungkin. Dan seminggu saja di Afrika begitu?”


“Aku tahu kau pasti akan menggunakan alasan ini. Karena aku tahu kau memiliki sejarah buruk saar di Afrika, tenanglah Kenzo. Kali ini aku serius bekerja, bukan untuk berburu.” Menepuk bahu Kenzo agar tidak ketakutan.


Dahulu, Hikashi jika berkunjung di tambang mineral. Selalu menyempatkan diri untuk berburu, dia menggunakan untuk bersenang-senang saja. Dan Kenzo pernah tertinggal rombongan ketika usai berburu. Naasnya lagi, dia dikejar singa yang lapar. Sampai harus memanjat pohon agar tidak dimangsa hewan buas tersebut. Kenzo menggelengkan kepalanya jika teringat lagi kejadian yang hampir menghilangkan nyawanya.


Isu tentang keberangkatan Hikashi ke Afrika lebih awal diketahui para Pekerja wanita yang merasa hak-haknya diperhatikan. Malam harinya mereka mendatangi kediaman Hikashi dengan membawa makanan dan rangkaian bunga. Mereka membacakan do’a dan puji-pujian untuk Hikashi.


“Tuan Besar, ini adalah simbol untuk sepasang suami-istri agar Cinta mereka abadi seperti Rama dan Shinta. Kelak kau akan dikarunia anak-anak yang baik.”


Mendengarkan ucapan wanita yang mengalungkan bunga di lehernya Hikashi menjadi terharu. Dia juga menerima gelang merah sebagai hadiah. Perasaan tersentuh Hikashi ini membuatnya rindu kepada Frayza. Dia ingin segera bertemu dengan wanita kesayangannya. Dan konyolnya lagi, ia bisa membuat Frayza hamil usai kunjungan kerjanya ini. Tapi Hikashi tidak boleh egois, karena pernikahan mereka sudah ada Jade. Jadi gelang itu ia masukkan kembali kedalam nakas sebelah ranjangnya.


“Tuan Hikashi, pesawat pribadi anda sudah siap di Bandara. Dari sini kita akan menggunakan Helikopter agar tidak macet.”


“Bagus,” Hikashi memakai kacamata hitamnya.


Dilihatnya para buruh wanita itu melambaikan tangan saat helikopter itu membawanya terbang ke angkasa. Kenzo tak melepaskan pandangannya melihat Hikashi sudah berperasaan terhadap wanita dan anak-anak. Dulu, Hikashi mana mau peduli dengan buruh rendahan dan meninjau langsung ke lapangan. Hal yang tidak mungkin ia lalukan seperti sekarang. Jika ia dulu banyak menghabiskan waktunya diruangan sejuk dan nyaman, sekarang Hikashi banyak melakukan gebrakan-gebrakan yang meruntuhkan peraturannya yang kejam.


“Terimakasih Nona Fray,” Kenzo lirih berucap melihat pemandangan diluar jendela.


Pletakkk, Hikashi menyentil kepala Kenzo. “Wadddaaaahhh, isssh.” Menggosok kepalanya.


“Kau pikir aku tidak dengar nama siapa yang kau sebut baru saja, keluar dari helikopter dan berjalan kaki sampai Bandara.”

__ADS_1


“Tauan Muda, aku hanya bilang terimakasih kepada Nona Fray tidak lebih.”


“Jangan berasumsi macam-macam terhadap istriku. Pikirkan saja pekerjaan yang aku berikan, jika masih ada kesalahan. Makan lembaran kertas laporanmu sampai habis!” Hikashi cemburu hendak menghukum Kenzo yang menyebut nama Frayza. Sebenarnya Hikashi sudah rindu berat ingin bertemu dengan Frayza. Saking rindunya, ia bahkan tidak berani mengirim pesan atau menelepon istrinya. Takut kalau rindunya membawanya terbang ke Jepang. Padahal pekerjaannya banyak diluar negeri. Biarkanlah Hikashi tidak berkomunikasi dulu dengan Frayza, dengan demikian kelak saat bertemu akan ada banyak cerita yang ingin isa sampaikan.


__ADS_2