
Diatas kapal pesiar mewah, Frayza mencari tempat yang aman untuk menjemur pakaiannya yang masih basah. Ia tak memiliki cukup uang untuk ke binatu, lebih baik ia menyimpan uangnya untuk membeli makanan. Bukannya Ramon dan Digna menelantarkan dirinya, hanya saja Frayza tidak memiliki baju yang cocok untuk dikenakan di jamuan acara formal. Kali ini dia berteduh dibawah bayunya yang mulai mengering dan tersibak oleh angin. Buku kamus kecil Bahasa Jepang ia buka untuk dihafalkan kosakatanya. Hingga dirinya mengantuk lalu tertidur.
Dia merasakan udara yang dihisapnya berubah aneh aromanya, perlahan ia membuka matanya yang tertindih lengan tangannya. Seorang pria muda tampan menghisap rokok memakai kacamata hitam. Rambutnya yang berkilau, pandangannya kearah lautan yang luas seakan dia begitu menikmati hamparan luas laut yang tengah diarungi kapal pesiar megah.
“Wah, benar-benar keajaiban dunia bisa melihat pria tampan.” Frayza duduk dan mengamati objek lelaki.
Naluri wanitanya muncul tanpa disadari, dan akhirnya air liurnya menetes. Perutnya mulai keroncongan kelaparan, dan kerongkongannya mulai kering. Baju yang ia jemur pun sudah kering, saatnya pergi dan kembali ke kabinnya kembali. Sedangkan, pria tampan yang santai menghisap rokok itu melihat Frayza pergi. Kemudian ia asik lagi dengan kegiatan bersantai.
“Kau darimana saja Fred?” tanya Digna.
“Menjemur baju, kenapa?”
“Ramon memberikan buku kuis latihan masuk pelatihan militer.” Frayza membuka buku dan membalikkan halaman demi halaman.
“Aku mau pergi berenang, titip kunci akses kamar ya.” Frayza mengangguk tanda iya.
Didalam kabin kamarnya yang sempit dan engap inilah Frayza mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Dia merasa berada di tempat dimana orang melihatnya sebagai pria bukan wanita. Perut yang semula perih melilit kelaparan sudah terlupakan karena keasikan membaca buku baru yang dititipkan kepada Digna. Frayza ternyata diarahkan Ramon untuk pergi ke pelatihan Militer di Thailand. Ramon hanya ingin membekali Frayza pertahanan diri, jika suatu saat mereka menemukan takdirnya masing-masing.
“Tuan Muda, tadi saya mendengar kabar bahwa Putra Mahkota berada di kepal ini.”
__ADS_1
“Cari tahu dimana keberadaannya, aku ingin menyapanya.” Ucap hikashi.
“Baik Tuan Muda,” Matsumoto pergi menjalankan perintah Hikashi.
*
*
*
Disebuah kamar mewah yang dominan warna emas. Banyak pelayan tengah melayani seorang pria dengan dandanan yang luar biasa. Mulai dari atas hingga ujung kuku kakinya dirawat dan mengenakan produk berkwalitas tinggi. Setelah riasan halus nan elegan diwajahnya selesai. Pria itu tak menunjukkan ekspresi ceria, wajahnya yang masam seolah tak bisa menggambarkan apa yang ada dibenaknya.
“Pangeran, pesta dansa akan segera dimulai. Dari data yang saya terima, ada nama sepupu yang mulia tampaknya akan menghadiri acara yang sama.”
“Benar yang mulia,” ucap pelayan khususnya.
“Atur tempat duduknya agar bisa semeja denganku.”
“Baik yang mulia, akan hamba kerjakan.”
__ADS_1
Dialah Hiroshi Hitanada, Pangeran yang kini menduduki tahta sebagai Putra Mahkota yang digadang-gadang menjadi calon tunggal penerus Raja. Saudara sepupu ini berasal dari Ayah mereka yang kakak dan beradik, dimana mendiang Ayah Hikashi adalah putra sulung yang menjadi putra mahkota. Sedangkan, ayah Hiroshi adalah adiknya dari beda ibu. Mendiang Nenek Hikashi meninggal ketika melahirkan ayah Hikashi. Lalu Raja menikah dengan adik mendiang Ratu. Karena alasan ayah Hikashi yang masih memerlukan asuhan seorang ibu. Maka adik iparnya dipersunting Raja kala itu, selain faktor anak. Ada desas-desus yang menyatakan bahwa dulu Raja sempat menjalin Cinta sebelum menikah dengan Ratu, karena aturan ketat. Dimana saudara yang lebih muda tidak boleh melangkahi saudara tertuanya lebih dulu, maka adik mendiang Ratu itu rela hidup melajang sangat lama. Kini mereka sudah menikah, dan setahun kemudian lahirlah ayah Hiroshi yang kini menjadi Raja.
Dalam pesta dansa ini para gadis berdandan secantik mungkin untuk menarik pria bangsawan dan para pewaris kerajaan. Saat Hiroshi memasuki aula dansa yang luas, orang-orang terkesima dengan senyuman ramahnya. Banyak para pejabat negara dan menteri penting bergiliran berbincang dengan Hiroshi.
“Pangeran muda itu sangat ramah, lihatlah senyumannya sungguh menarik hati.”
“Iya, kelak dia akan menjadi Raja yang akan dicintai rakyatnya.”
“Hihihi iyaya, aku dengar gosip dia belum punya teman dekat wanita. Beliau adalah pria muda yang sibuk belajar seni daripada bersenang-senang bersama teman seusianya.”
“Wah pria yang menarik dan bertalenta ya kalau begitu.”
Beberapa gadis memuji Hiroshi yang tengah jadi pusat perhatian. Tak berselang lama kemunculan Hiroshi, giliran Hikashi masuk dengan tuksedo setelan berwarna hitam. Wajahnya yang kaku, serta tatapan yang tajam membuat kesan dingin semakin kuat. Beberapa wanita melihat sosok Hikashi penuh intimidasi dan angkuh. Karena wajah tampan perpaduan orang tuanya yang memikita, hanya mata para gadis saja yang mampu melirik tapi tak berani berkomentar. Hikashi berjalan yang diikuti oleh Matsumoto pengawal setianya. Dan pengawal lain dibelakang yang mengekor kemanapun Hikashi melangkah.
“Saudaraku, lama tak berjumpa. Apa kabarmu?” sapa Hiroshi saat berpapasan dengan Hikashi.
“Maaf yang mulia, saya sepertinya salah masuk ruangan yang semestinya tidak saya hadiri.” Hiroshi kecewa dengan ucapan yang terlo tar dari mulut Hikashi ini. Dia menarik lagi uluran tangannya yang sengaja Hikashi melipat tangannya di perut dan memberi salam hormat kepada pewaris tahta kerajaan.
“Apa kau tidak mengenali saudara sepupumu?” ucap Hiroshi.
__ADS_1
“Saya sangat mengenali wajah putra Mahkota yang terhormat.” Hikashi masih menunduk dan berbicara lemah lembut.
Orang yang melihat kecanggungan ini menafsirkan bila Hikashi adalah orang yang tidak tahu diri. Ketika putra mahkota mengulurkan tangan hendak bersalaman, namun dia malah melipat tangannya dengan memberi hormat.