
Biasanya kedua anak ini pergi dan pulang bersama bis jemputan sekolah. Karena hari terakhir mereka hidup sebagai rakyat biasa. Sekarang Jade dan Seven harus beradaptasi dengan kehidupan super mewahnya.
“Wah Jade...lihatlah mobil ini sangat besar sekali. Kapan ya kita punya mobil seperti ini?”
“Hentikan ini Seven, sebentar lagi kendaraan jemputan kita datang.”
“Huffft bis sekolah yang pengap lagi!” menendang kerikil.
“Bukan, tapi mobil keluarga yang disiapkan Papa.”
“Papa kan tidak punya uang, bahkan uang Mama lebih banyak.”
“Uang Papa selama ini belum menetas di Bank. Makanya kita hidup hemat.”
“Wah jadi di Bank kita bisa menaruh ayam ya Jade?”
“Lebih baik bawa telur saja, jika bawa ayam. Kau harus sediakan kandangnya juga. Nanti uangmu ketika menetas di Bank, berlipat ganda.” Jade kau berdosa sekali Nak membohongi adikmu Seven yang polos.
“Baik-baik nanti aku akan minta Nenek pengasuh beli telur.”
“Kalau bisa telur burung onta Seven.”
“Baik-baik telur burung onta.” Tekad Seven bulat.
Bimm... Bimmm... Mobil mewah berwarna hitam berhenti didepan mereka. Sepasang kaki jenjang dengan sepatu hak tinggi keluar. Wanita itu mengenakan kacamata merah maroon yang senada warna rambutnya.
“Jade-Seven, Mama rindu pada kalian.” Merentangkan kedua tangannya menyambut buah hatinya.
“Mama...” berlari memeluk ibunya.
“Muaachhh... Muaaccchhh... Sayang-sayangku bagaimana perpisahan kalian dengan teman-teman disini.”
“Mereka menangis dan memberiku banyak coklat Mama.” Seven menunjukan segenggam coklat dari kepalan tangannya.
“Dan kau tampan?” mencolek hidung Jade.
“Biasa saja, lagipula mereka melihatku sebagai anak dari pria pengangguran yang naik sepeda ke pasar.” Mengeluh masa lalu Hikashi yang keibu rumahtanggaan.
“Sayang, Papamu begitu karena dia menyayangi kita. Apa kau malu?”
“Kalau Papa memang bangkrut lalu kenapa tiba-tiba menyuruh kami pindah sekolah asrama di istana?”
“Jika kau terus menggerutu dan mencibir pria kolotan itu. Apa seperti ini tampilan Papa yang kau inginkan?” setelah jas berwarna navy dengan dasi silver. Keluar dari mobil balap berwarna hitam adalah ayahnya.
“Waw keren, Papa keren hebat hore!” teriak Seven.
“Terimakasih Nak, kau memang anak yang manis. Muach.” Mencium Seven.
Sedangkan Jade menghentakkan kakinya kesal.”Huh biasa saja, di Inggris sudah sering melihatnya.” Memalingkan wajahnya.
“Istriku, apakah kau mencuci otak anakmu?”
“Hai, aku baru saja datang kemari menjemput mereka. Jangan menuduhku Hikashi!”
“Lalu kenapa Jade uring-uringan sepertimu kalau cemburu?”
“Aku coba tanyakan kepada dirinya ya.”
“Seven lebih baik kita naik bis sekolah saja, aku tidak mau bersama orang tua yang mengabaikan anaknya!”
“Tapi Jade, aku rindu Mama dan Papa. Mereka punya mobil pasti mau memberi tumpangan pada kita hiks.”
“Jangan pasang muka memelas Seven, aku ini saudara tuamu! Kau harus menurut denganku!”
“Huaaa... Huaaa Mama-Papa Maafkan aku. Aku harus menurut kepada Jade kali ini.”
“Sayang, Mama minta maaf sudah bersalah kepada kalian. Makanya Mama datang menjemput kalian pakai mobil.”
“Hai Jade, kau jangan semena-mena mengantua adikmu. Dia bebas ikut orang tuanya.”
“Apa Papa lupa, orang tua mana yang tega menelantarkan kedua anaknya dibawah umur selama 3 hari!”
Hikashi ingat jika ia selama itu mencukik Frayza. Mata wanita itu meloto “Ini salahmu!”
“Baiklah, kali ini aku yang salah.”
Suasana riuh didalam bis sekolah sontak menjadi lebih tenang. Sekarang orang tua tengah mencari tempat duduk menyusul putranya.
“Permini nak, aku mau duduk disini. Aku Papanya Jade dan Seven.”
“Wah benarkah? Paman tampan ini ayahnya si ketus Jade?”
“Jade terkenal ketus disekolah ya ternyata?” saut Frayza.
“Mirip kau!” lempar Hikashi kewajah Frayza.
“Hah kenapa aku?”
“Karena kau cemburuan!”
“Jika Paman-Bibi masih bicara, aku tidak akan menyerahkan kursi iniloh.”
“Oh baiklah, maafkan kami.”
“Terimakasih Nak,” Hikashi duduk disamping Frayza.
Didepan sudah ada Jade dan Seven duduk. Si bungsu menyapa ibunya dan bercengkrama. Tapi Jade masih kesal dan diam. Sampai akhirnya Hikashi meminta si sopir bis mengantar mereka ke taman hiburan.
“Hari ini kalian semua Paman traktir bermain di taman ini. Akan didampingi pengawal yang menjaga kalian.”
“Hore...” teriak anak-anak kegiranganm
“Cih,” memalingkan wajahnya tak peduli. Jade menarik tangan Seven agar berhenti menyapa orang tuanya.
Taman bermain ini adalah impian anak-anak. Mereka bebas bermain memilih wahana yang disukainya. Frayza naik kuda bianglala bersama Seven.
__ADS_1
“Kenapa tidak ikut naik saja kesana?”
“Tidak ah, Papa lebih suka naik tornado atau kora-kora.”
“Bohong, Papa kan takut sama nyamuk.”
“Hai Papa takut sama nyamuk karena dia menghisap darah Papa. Bayangkan kalau Papa menjadi Zombi?”
“Nyamuk tidak akan menghisap habis darah Papa. Mereka juga tahu darah Papa rasanya asam.”
“Ayah tidak takut apapun kecuali kehilangan Mamamu. Maafkan Papa ya Jade, sudah menyakiti hati kalian. Papa sudah tidak berteman lagi dengan wanita itu.”
“Dannis?”
“Papa lupa namanya!”
“Cih, kalau sudah keciduk Mama baru menyesal. Kemana saja akal Papa saat bersamanya? Apa Papa tahu, setiap malam Mama mengajak kami menunggu Papa pulang.”
“Sejak kapan? Setahu Papa tidak ada yang menyambut pulang?”
“Mama menunggu Papa sampai jam 11 malam. Aku pernah memergokinya tidur diteras digigiti nyamuk.”
Mata Hikashi nanar memandang senyum istrinya yang bahagia. Ternyata beberapa waktu lalu ia sudah menyiksa ibu dari anak-anaknya. Dia terlalu asik dengan kehidupan bersosialnya. Sampai lupa jika ia sudah berkeluarga. Bahkan istrinya yang dipikir acuh dan dingin.
“Oh tidak aku harus minta maaf!” berdiri.
“Kepadaku juga!”
“Iya kepadamu, hai kenapa Papa harus minta maaf kepadamu Jade?”
“Karena Papa sudah membawa petaka tanpa memakai logika. Mama terlalu baik untuk Papa.”
“Papa terkenal diantara teman-teman karena tampan.”
“Mama lebih cantik bahkan seribu kali lebih cantik dari wanita manapun. Apakah Papa lupa, waktu di Inggris setiap malam Papa menangisi baju tidur Mama!”
“Glek.” Untung Jade tidak melihat dirinya saat aneh-aneh.
“E... Itu kesalahan teknis Jade. Sejak kecil Papa tidak memiliki teman. Dan ternyata punya teman itu asik sekali.”
“Pergilah temui teman-temanmu, kami tidak akan ganggu Papa!”
“Jade...”
“Aku benci sikap ayah saat menjadi pegawai. Aku benci ayah berteman dengan wanita. Aku benci melihat Mama dan Seven menunggu Papa pulang. Aku benci Papa yang tidak sadar diri!”
“Jade.”
“Jade kenapa kau marah sama Papa?”
“Jika kalian membela Papa terus, jangan cari aku lagi!”
“Jade, tidak ada lagi Papa yang sepeti kemarin. Mulai hari ini dan seterusnya, Papa hanya akan berteman dengan kalian berdua. Jika Papa melanggar janji, kalian boleh...”
“Boleh memiskinkanmu? Oh tidak mungkin, kau miskin saja banyak bertingkah.” Timpal Frayza yang terpancing emosi.
“Ya Tuhan, jangan Jade. Lainnya saja!”
“Hukuman yang lain terlalu Papa sepelekan. Aku akan membawa pergi Mama ke dimensi lain. Hingga Papa tak bisa mencarinya.”
“Jade kau ingin membawa Mama ke Matahari?”
“Tidak Seven, dimana Papa tidak akan bisa melihat Mama lagi untuk selamanya.” Ini jangan-jangan jiwa psikopat Jade nurun dari bapaknya ya. Weh ngeri juga noh.
Si kecil Seven berdiri ditengah-tengah meraih tangan Jade dan ayahnya. Ia menjabat kan kedua tangan yang saling bermusuhan.
“Kita tidak boleh marah-marah, ayo bermain.” Polosnya Seven meminta agar tidak berdebat terus.
“Seven benar, Papa minta maaf Jade. Kedepan lakukan hal yang benar jika Papa salah. Terimakasih Nak, sudah mengingatkan Papa.”
“Hiksss hikssss Paaaaappaaaa...” tangis Jade pecah dan memeluk ayahnya. Keduanya saling berpelukan bermaaf-maafan.
Seven berhasil mendamaikan mereka berdua seperti sahabat yang bermusuhan.
“Maafkan Mama juga ya Jade, sudah menghilang beberapa hari.”
“Mama pergi kemana?” Hikashi memutarkan bola matanya saat Jade menjurus ke pertanyaan itu.
“Mama pergi bersama Papa, melihat rumah baru kita.”
“Ahhh rumah baru, aku mau rumah baru.” Teriak Seven antusias.
“Papa menyediakan kado untuk kalian sebuah kamar masing-masing. Kamar yang besar dan luas.”
“Benarkah? Jadi aku tidak perlu tidur dikamar yang sempit lagi?”
“Tentu Jade, kau memiliki keranjang basket didalamnya. Bermainlah sepuasmu.”
“Ayo Jade bilang apa kepada Papa?”
“Terimakasih Papa.”
“Sama-sama Nak, terimakasih ya sudah jadi anak kami. Maaf ya sudah membuatmu kecewa, tolong ingatkan Papa jika keliru.”
“Hu’um.” Mengangguk.
“Mama, apakah rumah kita ada prosotannya seperti ditaman?”
“Eeee... Kalau itu Mama tidak tahu Sayang. Ada tidak ya?”
“Manti kita beli dari sini, Papa akan meminta Kenzo membelikan prosotan untukmu. Apalagi yang kau ingin?”
“Aku ingin punya kadang ayam Papa.”
“Eh Seven, jangan ayam!” nah ini si Jade mulai panik ngerjain adiknya yang polos.
__ADS_1
“Papa belikan aku ayam banyak ya.”
“Untuk apa ayam Seven, kau mau ayam tepung goreng hheee?” Ibunya bertanya.
“Bukan Mama, aku mau telurnya menetas di Bank. Jade bilang uangnya Papa dari telur ayam yang dierami.” Polosnya kamu Seven, sekarang kau membuat posisi Jade dalam masalah.
“Jadddeeeeee...” Hikashi mengejar si sulung yang ngacir pergi.
“Maaf Papa itu hanya bualanku sajaaa...” berlari.
“Jangan kabur kau, jelaskan ini kepada Papa sekarang!” mengejar sulungnya bangor.
“Mama kenapa Papa mengejar Jade?”
“Jangan dengarkan cerita Jade tentang uang menetas dari telur. Kau dibohongi kakakmu Seven, hahahaha.”
“Hhhaaa Jade membohongiku? Jadeeeee kau nakallll!” ikut mengejar kakanya.
Hikashi dan Seven mengejar Jade yang gesit, hingga akhirnya Frayza turun tangan.
“Sudah, damai saja. Dan akui kesalahanmu Jade. Ayo minta maaf ke Papa dan adikmu.”
“Hehehe iya Mama,” menurut.
Hingga malam mereka berempat diba dikediaman baru. Seven sudah tertidur di gendongan Hikashi. Lalu Jade digandeng Frayza masuk kedalam rumah. Mereka disambut oleh pelayan yang menyambut kedatangan mereka.
“Aku ingin setiap malam mereka tidur bersama begini.”
“Hanya untuk malam ini saja! Selanjutnya mereka harus tidur dikamarnya!” membelakangi Frayza yang diapit kedua anaknya yang tidur.
“Mereka belum bisa beradaptasi dengan kamar besar. Nanti kalau tengah malam mereka haus atau pipis gimana.”
“Tinggal tekan tombol saja, panggil Patrick atau Bibi Fang bisa. Pokoknya besok malam mereka tidur dikamarnya sendiri-sendiri titik.”
“Suamiku, kenapa kau bicara membelakangiku? Apakah kau tidak mau memeluk salah satu diantara darah dagingmu?”
“Mereka sudah menyabotase dirimu, aku ingn panggil Patrick untuk memindahkan mereka ke kamarnya!”
“Ayolah Hikashi, mereka anak-anak wajar jika merindukan ibunya. Kau sendirikan yang menculikku.”
“Mana ada suami menculik istri!”
“Oh baiklah, aku mengalah.”
“Fray, apa kau sudah memaafkanku?”
“Sudah.”
“Hah?” terduduk kaget.
“Iya, sudah. Aku sudah memaafkanmu, dan itu yang terakhir kalinya. Karena aku akan ingat sampai mati perbuatanmu.”
“Celaka aku!” meninju kepalanya.
“Hihihih siapa suruh kau ganjen.”
“Fray, aku menganggapnya hanya teman biasa tidak lebih. Aku bicara selayaknya dengan pria sajaaaa.”
“Ssssttttt... Suaramu berisik, kelaur dari kamar ini.”
“Jangan usir aku ya.” Memelas.
“Jika kau berisik, tidurlah diluar.”
“Jangan! Kumohonnnn!”
“...” memejamkan matanya dan tidur.
“Frayyy... Hei bangun.”
“Hmmmmbbb...” mulutnya sudah dibekap tangan Hikashi.
Secepat kilat ia pindah posisi disamping Frayza.
“Sayang, aku mau memasukimu.”
“Jangan gila Hikashi, ini sudah larut malam. Anak-anak kita berada disini.” Jawabnya lirih.
“Sekaliiii saja Sayang, aku sudah pengen sejak menjemput ke sekolah. Yah sedikit saja yah.”
“Besok malam sajalah.”
“Sekarang ya sekarang ah.” Menarik bahu istrinya dan membopongnya pindah kekamar lain.
Diam-diam Jade mengerjapkan mata kanannya. Ia melihat ayahnya membawa ibunya pergi diam-diam.
“Seven, bangun Seven. Papa membawa pergi Mama lagi. Jika kau tidak bangun, Mama akan hilang lagi!”
“Hah Mama!” sontak anak polosnya itu bangun menendang selimut.
“Ayo kita susul Papa membawa Mama pergi.”
“Tapi rumah ini besar Jade, aku takut.”
“Aku punya ini hehehehe.”
Bipp... Tombol memanggil ke Patrick.
“Antar aku kemana Papa membawa Mama pergi sekarang!”
“Tuan Hikashi dan Nyonya?”
“Paman Patrick, Papa mencuri Mama lagi.”
Masak dalam hal ini Patrick harus terlibat lagi. Ya kalau Hikashi hanya pindah tempat tidur. Seandainya melakukan hal itu lagi dan dipergoki anak kecil kan masalah!
__ADS_1
“Haduhhh.” Menepuk jidat pusing.