TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
MARTINO SI MULUT BERACUN


__ADS_3

Proses akuisisi perusahaan secara besar-besaran sudah dilakukan. Serta pembagian harta sudah dibalik nama, hal ini untuk kamuflase saja. Pihak kolega bisnis banyak yang menunjukkan sifat asli mereka. Dari yang menjilat dan benar-benar peduli saja. Sekarang tinggal Hikashi seorang diri.


“Tuan,”


“Patrick terimakasih atas kerja kerasamu selama ini. Gaji dan pesangon sudah aku kirim di akunmu. Selamat menikmati hidupmu, maaf selama ini aku banyak merepotkanmu.”


“Tuan William kenapa kau tidak mengajakku pergi bersamamu ini tidak adil?”


“Patrick, aku ingin pergi seorang diri saja. Bahkan anak-anakku saja diasuh oleh mantan istriku.”


“Aku tidak perlu digaji tak apa, asal bisa melayanimu Tuan.”


“Hahaha Patrick, nikmatilah masa pensiunmu dan berliburlah dengan senang. Selama ini kau pasti jenuh dan penat bukan.”


“Tuan William ijinkan aku mengabdi denganmu. Setidaknya aku ikut boyongan ke Jepang. Menjaga orang-orang yang berharga untukmu.”


“Itu hak mantan istriku Patrick untuk mengiyakan atau menolaknya. Aku tidak bisa mengganggu gugat keputusan Frayza. Tapi sebaiknya jangan, karena Jepang adalah negara teraman bagi mereka melanjutkan hidup. Sangat sulit bagimu untuk adaptasi di Jepang.”


“Saya sangat khawatir dengan Jade, sejak kecil dia hidup berkecukupan dan tidak pernah jauh dari saya.”


“Apa kau tidak sadar, jika sejak kehadiran ibunya. Dia bahkan banyak memprotes kebijakan ku. Anak kecil itu seolah memiliki dunianya sendiri bersama ibu dan adiknya hehehe.”


“...” menitikkan air mata.


“Sudahlah, kau akan baik-baik saja tanpaku. Aku harus pergi berkemas dan berpamitan dengan Frayza.”


“Aku antar ya Tuan?”


“Tidak usah, aku mau naik sepeda saja. Mencoba kehidupan yang baru dan membaur masyarakat umum.”


“Tuuaann,” tertahan.


Sekarang tiada perusahaan, jabatan dan kendaraan mewah. Bahkan pengawal yang selalu menempel dirinya pergi. Dengan mengayuh sepedanya, Hikashi memecah keramaian kota London. Ia menikmati kehidupannya sebagai manusia umum.


“Hai, singkirkan sepedamu, itu tempat parkir mobilku!”


“...” geser sedikit.


“Hai, sepeda butut parkirnya disana! Ini jalan tempat orang berlalu lalang.”


Branggg! Melipat sepedanya kemudian memasukkan ke tong sampah.


“Sudah puas?”


“Cih gembel!” berjalan masuk.

__ADS_1


“Hemmmm...” melotot.


Derap langkah kaki menuruni anak tangga, Frayza bergegas pergi keluar. “Hai ini bukan Pasar!” menegur Frayza.


“Maaf aku sedang buru-buru!” bergegas menuju pintu dan keluar.


“Dasar tidak beradap dan tak beretika!” mencemooh.


Kalimat-kalimat buruk yang sering terlontar dari mulut Martino sudah menjadi ciri khas. Setiap orang yang tidak ia sukai dicibir terus.


“Tuan William hhsshhh hssshhh.”


“Hai, kau ngos-ngosan. Tenanglah, aku tidak akan pergi.”


Tidak pergi apanya, setelah menemuiku kau akan pergi jauh bukan? Dasar lelaki pandai berbohong untuk menutupi kesedihannya.


“Aku sangat terkejut sekali waktu kau bilang datang kemari.”


“...” melirik tong sampah.


“Ya Tuhan, orang bodoh mana sih membuang barang mahal seperti ini. Inikan sepeda lipat otomatis yang harganya.”


“Jangan kau pungut, aku sudah membuangnya.”


Diam-diam Martino mengintip dan mengawasi pembicaraan dua orang yang membuatnya jengkel.


“Tidak bisa begitu, jika kau kesal jangan limpahkan kepada benda yang tidak bersalah. Aku mau mengaisnya, lumayan bisa ku gunakan lagi hehehehe.”


Sorot mata tajam Martino memantau dengan jeli. Jika Frayza tampaknya begitu akrab dengan pria asing bertopi.


“Aku kemari hanya ingin menyerahkan berkas perceraian kita. Semuanya sudah aku tanda tangani dan tinggal menunggu sidang putusan Pengadilan saja.”


“Hiks...” melinangkan airmata.


“Fray...” ibu jarinya mengusap butiran permata yang menetas.


“Tuan William, maafkan aku jika sebelumnya sangat merepotkanmu. Jujur aku,” sudah dalam pelukan erat Hikashi. Kalimatnya tertahan karena dadanya sangat sesak. Dirinya hanya bisa membalas pelukan erat mantan suaminya.


“Panggil aku Hikashi saja, Ssyaaa...” mengeratkan pelukannya lebih dalam lagi.


Ini adalah perdananya mereka berpelukan didepan umum. Sebetulnya bisa saja mereka berkata lebih banyak lagi. Tapi bibir masing-masing tidak sanggup berkata-kata lagi. Hanya pelukan yang erat ini, dan kini wajah mereka saling beradu. Jika mau Hikashi bisa saja meregum ranumnya bibir indah itu. Namun ia tak bisa melakukannya, sebentar lagi statusnya akan menjadi duda.


“Jangan lupa datang di Pengadilan ya, aku titip anak-anak kita.”


“Hikasssshhhiii,” entah kenapa saat ia memanggilnya begitu seorang rasa sayangnya muncul. Ia begitu tak rela melepaskan pandangannya.

__ADS_1


“Aku pergi dulu ya, jangan lupa kabari aku tentang perkembangan anak-anak kita. Katakan jika aku menyayanginya dan permintaan maafku.”


“Itu pasti... Pasti akan ku sampaikan hiks hiks hiks...” jemarinya terurai.


Keduanya berjalan berjauhan berbalik arahan. Hikashi tak boleh menangis, karena hatinya sudah runtuh lebih dulu. Sedangkan Frayza menoleh dan berlari mengejar Hikashi.


“...” punggung yang hangat dan tubuh yang tegap kini ia peluk erat.


“Sebentar, sebentar saja. Aku mohon Hikashi sebagai terakhir kalinya.”


Maunya Hikashi ya begitu tapi ia tidak ingin menahan Frayza terlalu lama memeluknya.


“Maaf Fray!” melepaskan lilitan tangan mungil itu dari pinggangnya.


“Hikashiiii hiks hikssss...”


Pria tampan itu berjalan terus dan menghilang diantara lalu lalang orang-orang. Suatu tidak akan Indah dan baik-baik saja dengan adanya perceraian. Selalu ada yang harus dikorbankan dan tersakiti.


Martino lalu sengaja berada di depan pintu agar bisa mencela Frayza. “Rendahan sekali, apakah kau tidak menggaet satu saja pelanggan tua dan kaya disini. Kenapa mengemis gembel miskin, oiya kau saja memungut sepedanya. Kalian serasi mentalnya cuih! “


“Jangan menghina mantan suamiku, banci!”


“Haiii lepaskan tangan berkumanmu dari rambutku yang bermartabat!”


“MINTAAA MAAAFFFF!!!”


“Iyaya aku minta maaf, miskin!”


“Hiaaaahhh!” menarik rambut Martino kuat-kuat.


“Aku bisa saja memecahkan kepalamu dilantai, tapi aku ingat ada anak yang menjadi panutanku. Ini terakhir kalinya kau menghina ayah anak-anakku. Selanjutnya kau dalam bahaya!”


Selama ini Martino sudah salah, ia merendahkan Frayza. Wanita yang tampak ceria dan gila kerja. Ternyata memiliki sisi liar yang menakutkan,”Tidakkkkk!” rambutnya rontok banyak.


Didepan Helena, ia mengadu dan melebih-lebihkan perkara ini. Bahkan ia menyodorkan rontok rambut sebagai bahan bukti. Helena ikut terpancing dan murka dengan sikap Frayza yang frontal.


Ia berniat menegur Frayza yang duduk termenenung di balkon jendela. “Fray, apa kau baik-baik saja? Tadi Martino itu bilang bahwa kau menghajarnya.


“Ini,” menyodorkan berkas sidang perceraian.


Mata Helena terbelalak, ternyata Hikashi orang yang tempo hari ia temui adalah mantan suaminya. Matanya terbelalak dengan isi petikan perkara.


Martino yang tersenyum mendapat dukungan dari Helena mengintip. Menunggu saat-saat Helena memarahi Frayza.


“Kenapa mereka berpelukan!” ia kesal, meninju tembok. Harapannya tidak sesuai keinginannya, dan mencari pelampiasan lain.

__ADS_1


sepeda yang tidak bersalah itu menjadi korbannya. sreeeeettt, merobek ban sepeda. Sekarang Martino puas melampiaskan kekesalannya.


__ADS_2